Langkah kaki Widya terasa berat, seolah setiap inci aspal yang ia pijak mencoba menahannya untuk kembali. Ia mengenakan terusan selutut berwarna biru pudar—baju terbaik yang ia miliki, meski warnanya sudah lama kehilangan binar. Dengan rambut yang dibiarkan terurai untuk menutupi bekas luka kecil di leher belakangnya, Widya berdiri di depan pintu kaca besar bertuliskan 'The Glass House'.
Tempat ini terlalu mewah untuknya. Orang-orang di dalam sana terlihat bersinar, tertawa dengan gelas-gelas cantik di tangan mereka. Widya merasa seperti noda hitam di atas kanvas putih yang bersih. Ia hampir saja berbalik dan lari pulang, sampai sebuah getaran di ponselnya menghentikannya.
Keisha_Aura: Aku melihatmu di depan pintu. Masuklah, Little Bird. Jangan biarkan aku menjemputmu ke sana.
Widya menelan ludah. Bagaimana wanita itu bisa melihatnya? Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu kaca itu. Lonceng kecil berdenting, dan seketika aroma kopi mahal serta parfum berkelas menyambutnya. Matanya menyisir ruangan, mencari meja paling pojok seperti yang dijanjikan.
Di sana, di bawah temaram lampu gantung yang elegan, duduk seorang wanita yang seolah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu.
Widya terpaku. Napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Wanita itu—Keisha—jauh lebih menakjubkan daripada apa pun yang ia bayangkan. Keisha mengenakan blazer hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan lekuk bahu yang tegas namun anggun. Rambutnya hitam legam, jatuh sempurna membingkai wajah yang memiliki garis rahang tajam dan bibir merah yang memikat.
Saat Widya mendekat, Keisha perlahan menurunkan kacamata hitamnya, menampakkan sepasang mata elang yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwa Widya.
"Duduklah, Widya," suara itu tidak lagi lewat ketikan. Suaranya rendah, serak, dan memiliki otoritas yang membuat lutut Widya lemas.
Widya duduk dengan kaku di kursi beludru di depan Keisha. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung sosok yang begitu bercahaya di depannya. "K-kamu... Keisha?"
Keisha tidak langsung menjawab. Ia justru memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan sambil terus memperhatikan setiap detail wajah Widya yang pucat. "Kamu lebih rapuh dari yang aku duga," gumam Keisha. Jarinya yang lentik dengan kuku yang terawat rapi bergerak di atas meja, seolah ingin menyentuh tangan Widya yang gemetar. "Dan jauh lebih cantik saat kamu ketakutan."
"Aku... aku harus pulang sebelum malam," bisik Widya lirih. "Paman akan marah kalau aku tidak ada di rumah."
Mendengar kata 'Paman', sorot mata Keisha yang tadinya menggoda berubah menjadi dingin sebeku es. Ia meraih tangan Widya—sebuah sentuhan yang sangat tiba-tiba. Widya tersentak, mencoba menarik tangannya karena refleks traumanya, namun genggaman Keisha sangat kuat. Hangat, namun tak tergoyahkan.
"Mulai detik ini, Widya, berhenti menyebut nama pria itu di depanku," perintah Keisha. Ia mengelus punggung tangan Widya dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang seharusnya menenangkan tapi justru membuat perut Widya bergejolak aneh. "Rumah itu bukan rumahmu lagi. Itu hanya penjara. Dan aku tidak suka melihat barang milikku berada di dalam penjara."
"Milikmu?" Widya memberanikan diri menatap mata Keisha. "Kita baru saja bertemu."
Keisha tersenyum tipis, sebuah senyuman predator yang sangat memikat. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci kartu hotel mewah. Ia menggesernya di atas meja ke arah Widya.
"Pertemuan di game itu bukan kebetulan, Widya. Aku sudah mengamatimu lebih lama dari yang kamu tahu," Keisha merendahkan suaranya hingga hanya Widya yang bisa mendengar. "Malam ini, kamu tidak akan pulang ke rumah neraka itu. Kamu akan ikut denganku. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya tidur tanpa harus merasa takut."
Widya menatap kunci kartu itu, lalu menatap Keisha. Pilihan di depannya sangat gila: kembali ke paman-pamannya yang kejam, atau menyerahkan dirinya pada wanita asing yang terlihat begitu terobsesi padanya.
"Kenapa aku harus memercayaimu?" tanya Widya dengan suara bergetar.
Keisha bangkit berdiri. Tubuhnya yang tinggi dan semampai sebagai seorang model membuat Widya merasa kecil. Keisha berjalan memutar dan berhenti tepat di belakang Widya, membungkuk hingga napas hangatnya menerpa telinga Widya.
"Karena hanya aku yang berani menghancurkan siapa pun yang menyakitimu," bisik Keisha. "Dan karena jauh di dalam hatimu yang hancur, kamu sangat menginginkan aku untuk melakukannya, bukan?"
Tangan Keisha turun ke bahu Widya, meremasnya lembut namun posesif. Widya memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, rasa takutnya kalah oleh rasa penasaran yang membara.
Widya merasa seolah oksigen di sekitar mereka menipis. Sentuhan Keisha di bahunya terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya. Ia tidak pernah disentuh seperti ini—bukan dengan kekerasan, bukan dengan niat untuk melecehkan, melainkan dengan sebuah klaim kekuasaan yang terasa... protektif.
"Aku... aku tidak bisa," bisik Widya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mereka akan mencariku. Paman... dia punya koneksi. Jika aku menghilang, dia akan menyiksa siapa pun yang membantuku."
Keisha tertawa kecil, suara tawa yang terdengar dingin namun berkelas. Ia melepaskan bahu Widya dan kembali duduk di hadapannya, lalu menyesap kopinya dengan tenang seolah ancaman paman Widya hanyalah lelucon murahan.
"Koneksi?" Keisha menaruh cangkirnya kembali ke piring porselen dengan denting pelan. "Widya, sayang. Di kota ini, uang dan nama bisa membeli segalanya. Termasuk diamnya polisi atau hilangnya seseorang tanpa jejak. Menurutmu, siapa yang lebih punya kuasa? Seorang pria mabuk yang hanya berani memukul wanita di dalam kamar gelap, atau aku, yang wajahnya ada di setiap papan reklame jalan protokol?"
Keisha merogoh ponselnya, menekan beberapa tombol, lalu menunjukkan layarnya pada Widya. Itu adalah sebuah foto—foto paman Widya yang sedang berada di sebuah tempat perjudian gelap, tertawa dengan botol minuman di tangan.
"Aku sudah memiliki semua 'kartu' mereka, Widya. Satu telepon dariku, dan paman-pamanmu itu akan membusuk di tempat yang tidak pernah kamu bayangkan. Aku tidak hanya menawarkan perlindungan, aku menawarkan pembalasan dendam," lanjut Keisha, matanya berkilat tajam.
Widya terpaku. Ia merasa seperti sedang melihat malaikat maut sekaligus dewi penyelamat dalam satu wujud yang sama. Keisha begitu sempurna, namun di balik kesempurnaan itu, ada kegelapan yang sangat pekat.
"Kenapa aku?" tanya Widya lagi, suaranya nyaris hilang. "Kenapa kamu melakukan semua ini untuk orang seperti aku?"
Keisha berdiri, kali ini ia benar-benar mendekat hingga jarak di antara mereka hilang. Ia mengangkat dagu Widya dengan ujung jarinya, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang mempesona.
"Karena aku melihat diriku yang lama di dalam matamu yang ketakutan itu," bisik Keisha dengan nada yang tiba-tiba melunak, namun tetap terasa mengancam. "Hanya saja, aku tidak memiliki 'Keisha' saat aku hancur dulu. Sekarang, aku sudah menjadi cukup kuat untuk menjadi penyelamat bagi seseorang. Dan aku memilihmu. Karena kamu indah dalam kerapuhanmu, Widya."
Keisha mengelus pipi Widya yang pucat. "Pilihanmu sederhana. Tetap menjadi korban dan menunggu mereka masuk ke kamarmu malam ini, atau ikut denganku, menjadi milikku, dan melihat dunia dari atas sana bersamaku. Aku tidak suka penolakan, Little Bird. Dan aku tidak akan bertanya untuk ketiga kalinya."
Suasana kafe yang tadinya terasa bising seolah hilang ditelan keheningan di meja mereka. Widya menatap kunci kartu hotel di atas meja. Kartu itu terlihat seperti tiket menuju kebebasan, sekaligus gerbang menuju dunia baru yang belum tentu aman baginya. Namun, melihat sorot mata Keisha yang begitu menginginkannya, Widya merasa untuk pertama kalinya ia memiliki nilai.
Dengan tangan yang masih gemetar, Widya perlahan mengulurkan tangannya. Jarinya menyentuh permukaan kartu plastik yang dingin itu, lalu menggenggamnya erat.
Keisha tersenyum puas. Ia menarik tangan Widya, mengecup punggung tangannya dengan lembut namun lama, seolah memberikan tanda permanen di sana.
"Pilihan yang cerdas," ujar Keisha. "Ayo. Mobilku sudah menunggu di depan. Malam ini, aku akan mengajarimu cara melupakan setiap sentuhan yang pernah menyakitimu."
Saat mereka berjalan keluar kafe, Keisha merangkul pinggang Widya dengan sangat posesif, menunjukkan pada dunia bahwa gadis di sampingnya adalah wilayah kekuasaannya yang tak boleh disentuh siapa pun. Widya menoleh sekilas ke arah jalanan yang menuju ke arah rumah pamannya, lalu ia membuang muka.
Jejak-jejak luka itu belum hilang, namun di samping Keisha, Widya merasa ia punya kesempatan untuk menghapusnya—meski ia harus menukar kebebasannya dengan pengabdian pada wanita yang baru saja menjadikannya "milik pribadi".