BAB 3: Di Balik Pintu Suite 909

1276 Kata
Mobil mewah Keisha meluncur membelah kemacetan Jakarta seperti predator di tengah hutan beton. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kayu cendana itu, Widya hanya bisa terdiam. Ia meremas ujung gaun birunya, sesekali melirik Keisha yang fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengelus lutut Widya secara posesif. "Jangan tegang begitu, Little Bird. Kamu tidak sedang menuju tempat eksekusi," ucap Keisha tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Aku hanya... tidak pernah berada di tempat seperti ini," jawab Widya lirih. "Mulai sekarang, biasakan dirimu. Semua yang mewah, semua yang indah, akan menjadi duniamu," balas Keisha tegas. Mereka tiba di sebuah hotel bintang lima yang menjulang tinggi. Keisha tidak membawa Widya lewat lobi utama, melainkan melalui lift pribadi yang langsung menuju lantai teratas. Saat pintu lift berdenting terbuka, Widya disambut oleh suite luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana. "Masuklah," Keisha menutup pintu suite dengan bunyi klik yang bagi Widya terdengar seperti pintu penjara yang paling indah di dunia. Widya terpana melihat kemewahan di depannya. Lantai marmer, lampu kristal, dan sebuah tempat tidur king size yang tampak sangat empuk. Namun, perhatiannya kembali tersedot pada Keisha yang kini mulai melepaskan blazer hitamnya, menyisakan kemeja satin tipis yang membalut tubuh atletisnya sebagai seorang model. "Mandi dan bersihkan dirimu, Widya," perintah Keisha sambil berjalan menuju bar kecil dan menuangkan wine merah ke dalam gelas kristal. "Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu di sana." Widya mengangguk patuh. Di dalam kamar mandi yang luasnya hampir separuh dari luas rumah pamannya, ia melihat dirinya di cermin. Wajah yang lelah, mata yang sembab, dan ketakutan yang masih membekas. Ia mandi dengan air hangat, menggosok tubuhnya berkali-kali seolah ingin meluruhkan noda dari paman-pamannya. Namun, kali ini ia merasa berbeda. Ia merasa sedang bersiap untuk seseorang yang benar-benar 'menginginkannya'. Setelah selesai, Widya memakai pakaian yang disiapkan: sebuah gaun tidur sutra berwarna merah marun yang sangat tipis dan lembut. Saat ia keluar, lampu suite sudah diredupkan. Hanya ada cahaya kota dari balik jendela dan beberapa lilin aromaterapi yang menyala. Keisha berdiri di dekat jendela besar, menatap pemandangan kota. Saat mendengar langkah kaki Widya, ia berbalik. Matanya berkilat gelap saat melihat Widya dalam balutan sutra itu. "Sini," Keisha mengulurkan tangannya. Widya berjalan mendekat, kakinya yang telanjang terasa dingin di atas marmer. Keisha menariknya ke dalam pelukan, membiarkan tubuh mungil Widya bersandar pada tubuhnya yang lebih tinggi. Keisha menghirup aroma sabun dari leher Widya, membuat gadis itu bergidik. "Kamu wangi... dan sangat murni," bisik Keisha. Tangannya mulai bergerak, mengelus rambut Widya dengan sangat lembut. "Di rumah itu, mereka memperlakukanmu seperti sampah. Tapi di sini, di tanganku, kamu adalah berlian yang paling berharga." Keisha menuntun Widya untuk duduk di tepi tempat tidur. Ia berlutut di depan Widya, sebuah posisi yang seharusnya merendah, namun tetap terasa sangat dominan. Keisha menggenggam kedua tangan Widya. "Aku tahu apa yang mereka lakukan padamu, Widya. Aku tahu setiap inci luka yang mereka torehkan," suara Keisha bergetar karena amarah yang tertahan. "Malam ini, aku ingin kamu melupakan semua sentuhan kasar itu. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya disentuh oleh seseorang yang memujamu." Keisha mengecup jemari Widya satu per satu. "Maukah kamu membiarkan aku menghapus jejak-jejak itu?" Widya menatap mata Keisha yang penuh dengan obsesi dan gairah. Ia merasa seperti sedang berada di tepi jurang, namun ia tidak lagi takut untuk jatuh jika Keisha yang menangkapnya. "Tolong... bantu aku melupakan, Keisha," bisik Widya sambil terisak. Keisha tersenyum. Ia bangkit dan menarik Widya ke dalam ciuman yang dalam—ciuman pertama yang tidak terasa seperti pemaksaan bagi Widya, melainkan sebuah janji pembebasan. Keisha membaringkan Widya di atas seprai sutra, tubuhnya menindih Widya dengan lembut namun mengunci. "Aku akan memberikan segalanya untukmu, Little Bird," gumam Keisha di sela ciumannya. "Tapi sebagai gantinya, hatimu, tubuhmu, dan napasmu... semuanya harus menjadi milikku. Hanya milik Keisha Aura. Tidak ada ruang untuk orang lain, tidak ada ruang untuk masa lalu. Mengerti?" Widya hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan wanita yang kini menjadi dunianya. Di luar sana, Jakarta tetap bising, namun di dalam suite 909, Widya akhirnya menemukan tempat di mana ia tidak lagi perlu melarikan diri—meski ia baru saja masuk ke dalam sangkar emas yang takkan pernah membiarkannya pergi. Di bawah temaram lampu yang kian meredup, Widya merasa dunianya menyempit hanya sebatas ruang di antara tubuhnya dan tubuh Keisha. Sentuhan Keisha di kulitnya terasa begitu berbeda—tidak ada kekasaran, tidak ada bau napas yang memuakkan. Yang ada hanyalah aroma parfum berkelas dan kehangatan yang perlahan-lahan mulai mencairkan kebekuan di dalam dadanya. Namun, saat tangan Keisha bergerak menyentuh area di dekat bahunya, Widya tiba-tiba tersentak. Tubuhnya menegang, dan napasnya menjadi pendek serta patah-patah. Sebuah memori kilat tentang tangan kasar pamannya yang pernah mencengkeram bagian itu terlintas begitu saja. "Jangan... tolong jangan di sana," bisik Widya dengan suara gemetar, matanya terpejam rapat seolah menunggu hantaman yang biasa ia terima. Keisha segera berhenti. Ia tidak marah. Ia justru menumpu tubuhnya dengan kedua sikutnya, menatap Widya dengan pandangan yang sangat dalam dan penuh pengertian. Ia mengelus pipi Widya dengan punggung jarinya, sangat pelan, seolah sedang menyentuh porselen yang retak. "Lihat aku, Widya. Buka matamu," perintah Keisha lembut namun tak terbantahkan. Widya perlahan membuka matanya, menatap manik mata Keisha yang berkilat gelap. "Aku bukan mereka," ucap Keisha lirih, suaranya sedalam samudera. "Aku tidak akan mengambil apa pun darimu tanpa izinmu. Di ruangan ini, kamu adalah ratu, dan aku adalah pengabdimu. Tapi aku juga pemilikmu. Aku akan mengajarimu bahwa tubuhmu ini indah, bukan sebuah aib." Keisha kemudian menunduk, mengecup bekas luka kecil di bahu Widya dengan sangat lembut. Kecupan itu berlangsung lama, seolah Keisha sedang mencoba menyedot rasa sakit yang tertanam di sana selama bertahun-tahun. Widya merasakan air mata hangat mengalir di sudut matanya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa. "Rasakan ini," gumam Keisha di telinga Widya. "Rasakan bagaimana caraku memujamu. Biarkan sensasi ini menggantikan semua ingatan burukmu." Tangan Keisha kembali bergerak, kali ini dengan kepastian yang lebih besar. Ia mulai menjelajahi lekuk tubuh Widya, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Widya merasa dihargai sebagai seorang wanita. Keisha sangat tahu di mana harus menekan dan di mana harus membelai, menunjukkan pengalamannya sebagai seorang model yang paham betul akan estetika dan gairah. Widya mulai kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Rasa takut yang selama ini membentengi hatinya runtuh satu per satu. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma Keisha memenuhi indranya. Untuk pertama kalinya, Widya memberanikan diri untuk membalas sentuhan itu. Ia melingkarkan lengannya di leher Keisha, menarik wanita itu lebih dekat. "Terima kasih... Keisha," bisik Widya di sela isak tangisnya yang perlahan berubah menjadi desahan halus. "Jangan berterima kasih padaku dengan kata-kata," balas Keisha dengan senyum misterius di bibirnya. Ia kemudian membisikkan sesuatu yang membuat wajah Widya merona merah hebat. "Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku untuk menjagamu selamanya." Malam itu, suite 909 menjadi saksi bisu transformasi seorang gadis yang hancur menjadi sosok yang mulai menemukan keberaniannya kembali—meski keberanian itu ia dapatkan dengan menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan seorang Keisha Aura. Keisha tidak hanya memberikan perlindungan fisik; ia mulai membangun penjara emosional yang begitu nyaman sehingga Widya tidak akan pernah ingin melarikan diri darinya. Di pelukan Keisha, Widya merasa ia telah menemukan rumah yang selama ini ia cari, tanpa menyadari bahwa sang penyelamatnya adalah seorang wanita yang tidak akan pernah membiarkannya melihat cahaya matahari tanpa izin darinya. Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta, Widya tertidur lelap dalam dekapan Keisha, untuk pertama kalinya tanpa mimpi buruk. Sementara itu, Keisha tetap terjaga, membelai rambut Widya sambil menatap ponselnya yang bergetar. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari nomor paman Widya. Keisha tersenyum dingin, lalu mematikan ponsel itu dan melemparnya ke lantai. "Permainan baru saja dimulai, b******n kecil," gumamnya pelan sebelum kembali mengecup kening Widya dengan posesif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN