BAB 24: Aliansi dalam Gairah

1009 Kata
Setelah badai emosi di ruang privat galeri mereda, Widya dan Keisha duduk berdampingan di sofa beludru, merapikan pakaian mereka yang sempat berantakan oleh gairah penebusan. Widya menyandarkan kepalanya di bahu Keisha, sementara jemari Keisha bermain di sela-sela rambut Widya, memberikan ketenangan yang selama ini hilang. "Jean-Paul masih ada di luar," bisik Widya, menatap pintu yang terkunci. "Dia pikir dia bisa menghancurkan kita dengan cerita itu." Keisha mengecup pelipis Widya, auranya kembali menjadi dingin dan penuh perhitungan, namun kali ini ada kelembutan yang hanya ia berikan untuk Widya. "Dia salah besar, sayang. Dia tidak tahu bahwa kita sudah tidak memiliki rahasia lagi satu sama lain. Kekuatan terbesarnya adalah kebohongan, dan sekarang kebohongan itu sudah hancur." Keisha berdiri, mengulurkan tangannya pada Widya. "Mari kita hadapi dia sebagai satu kesatuan. Biarkan dia tahu bahwa hartanya yang paling berharga—cerita masa lalu itu—sama sekali tidak berharga di depan cinta kita." Mereka keluar dari ruang privat dengan tangan yang saling bertautan erat. Jean-Paul masih berdiri di dekat lukisan utama, tampak menunggu dengan senyum kemenangan yang prematur. Namun, senyum itu memudar saat melihat Widya tidak lagi menangis, melainkan menatapnya dengan pandangan yang tajam dan berwibawa. "Jean-Paul," ucap Widya dengan suara tenang namun tegas. "Terima kasih atas ceritanya. Tapi Anda terlambat tiga puluh tahun. Apa pun yang dilakukan ayah Keisha adalah sejarah yang tidak ada hubungannya dengan siapa Keisha sekarang bagi saya. Jika Anda pikir bisa menggunakan ini untuk memeras kami atau menghancurkan pameran saya, Anda salah." Keisha maju selangkah, menatap pria tua itu dengan tatapan predator. "Aku tahu butikmu di Paris sedang mengalami kesulitan keuangan, Jean. Jika kamu pergi dari sini sekarang dan tidak pernah muncul lagi, aku akan mempertimbangkan untuk tidak membeli seluruh gedungmu dan meratakannya dengan tanah. Tapi jika kamu berani membocorkan sepatah kata pun pada media... aku akan memastikan namamu hilang dari sejarah fashion Paris." Pria tua itu gemetar. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang gadis malang dan pelindungnya, melainkan dua wanita yang sangat kuat dan saling memiliki. Dengan wajah pucat, ia segera meninggalkan galeri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keberhasilan mereka mengusir bayangan masa lalu itu memicu adrenalin yang sangat tinggi. Widya menarik Keisha menjauh dari kerumunan tamu pameran, menuju balkon galeri yang menghadap langsung ke Menara Eiffel yang bercahaya. Di bawah rintik salju yang tipis, Widya membalikkan tubuh Keisha dan menekan tubuhnya ke arah pagar balkon. Gairah yang muncul kali ini terasa sangat murni dan penuh kemenangan. Widya mencium Keisha dengan sangat berani di tempat terbuka itu, tidak peduli jika ada orang yang melihat dari kejauhan. "Malam ini, kita menang, Keisha," desah Widya di depan bibir Keisha. "Kita selalu menang selama kita bersama," jawab Keisha. Ia mengangkat Widya, membiarkan kaki Widya melingkar di pinggangnya. Di tengah udara Paris yang dingin, kehangatan tubuh mereka menciptakan sensasi yang luar biasa panas. Penyatuan mereka di balkon itu terasa sangat sensasional dan penuh kebebasan—sebuah perayaan atas cinta yang baru saja melewati ujian api yang paling berat. Kini, tidak ada lagi bayang-bayang. Hanya ada Widya sang seniman, dan Keisha sang pelindung, yang bersama-sama siap melukis masa depan mereka di atas kanvas kehidupan yang baru. Udara malam Paris yang menggigit seolah tak mampu menembus panas yang terpancar dari tubuh Widya dan Keisha. Di balkon yang tersembunyi dari pandangan tamu di dalam aula, namun terbuka luas ke arah gemerlap Menara Eiffel, Widya merasa hidupnya baru saja dimulai kembali. Ia menatap Keisha—wanita yang sempat ia ragukan, namun kini ia yakini sebagai pelabuhan terakhirnya. Widya menarik kerah jas Keisha, memaksa wanita itu menunduk agar mata mereka sejajar. "Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku lagi karena rasa bersalah, Keisha. Dosa ayahmu bukan milikmu. Dan aku bukan lagi korban yang butuh dikasihani. Aku adalah wanitamu." Keisha terpaku, matanya berkaca-kaca mendengar ketegasan Widya. Tanpa kata, ia mengangkat tubuh Widya dan mendudukkannya di atas pagar balkon yang lebar dan dingin. Widya melingkarkan kakinya di pinggang Keisha, menarik tubuh wanita itu agar merapat sempurna pada dirinya. Di bawah temaram cahaya bulan dan kerlip lampu kota, mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang sangat dalam—sebuah ciuman yang tidak lagi mengandung rahasia, hanya kejujuran yang membara. Gairah yang meledak di balkon itu terasa sangat sensasional dan liar. Keisha memberikan sentuhan yang sangat posesif, tangannya bergerak di balik gaun hitam Widya yang terbuka, sementara Widya membiarkan kepalanya terdongak ke belakang, menikmati sensasi dingin salju di wajahnya dan panasnya bibir Keisha di lehernya. Suara desahan Widya berbaur dengan sayup-sayup musik klasik dari dalam galeri, menciptakan simfoni gairah yang hanya milik mereka berdua. "Aku mencintaimu, Widya... lebih dari apa pun yang bisa aku katakan," bisik Keisha di sela-sela napasnya yang terengah-engah. Ia memberikan stimulasi yang luar biasa berani, membuat Widya gemetar dalam pelukannya. Widya merasakan aliran kebahagiaan yang sangat murni. Ia tidak lagi peduli pada Jean-Paul, tidak peduli pada masa lalu ibunya yang kelam, dan tidak peduli pada pendapat dunia. Di tangan Keisha, ia menemukan rumahnya. Di atas balkon yang menghadap simbol cinta dunia itu, mereka merayakan kemenangan cinta mereka dengan cara yang paling intim dan panas. Penyatuan mereka terasa seperti sebuah janji suci yang lebih kuat dari sumpah apa pun; sebuah pengakuan bahwa mereka telah saling memilih, melewati segala rintangan dan kebohongan. Setelah gairah itu perlahan mereda, Keisha memeluk Widya erat-erat, menyelimuti tubuh Widya dengan jas besarnya agar gadis itu tidak kedinginan. Mereka tetap berada di sana untuk waktu yang lama, menatap Menara Eiffel yang sesekali berkedip indah. "Besok, kita akan mulai merencanakan masa depan kita yang sebenarnya," ucap Keisha lembut sambil mencium puncak kepala Widya. "Bukan di Jakarta, bukan di bawah bayang-bayang keluargaku. Tapi di sini, di mana kamu bisa menjadi seniman besar, dan aku akan menjadi orang yang paling beruntung karena memilikimu." Widya tersenyum, merasa beban berat di pundaknya telah luruh sepenuhnya. "Dan kita akan membangun galeri ini menjadi tempat yang paling ditakuti musuh-musuh kita, Keisha. Karena di sini, kejujuran adalah satu-satunya hukum yang berlaku." Malam itu, Paris menjadi saksi bisu lahirnya sebuah aliansi cinta yang tak terhancurkan. Widya dan Keisha kembali masuk ke dalam galeri dengan kepala tegak, siap menyapa dunia sebagai pasangan yang paling kuat dan paling harmonis yang pernah dilihat kota itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN