BAB 23: Bayangan di Galeri

1049 Kata
Malam pembukaan pameran tunggal Widya di L'Aura Gallery seharusnya menjadi puncak kejayaannya. Karpet merah terbentang di trotoar Paris yang bersalju, dan deretan mobil mewah mulai menurunkan para kolektor seni serta kritikus ternama. Widya berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, mengenakan gaun hitam backless yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat elegan namun dingin. Matanya yang sembab karena tangisan semalam telah ditutupi dengan riasan smokey eyes yang tajam. Ia tidak lagi tampak seperti gadis desa yang polos; ia tampak seperti seorang dewi yang terluka namun tetap berkuasa. "Mademoiselle Widya, pameran sudah dimulai. Semua orang menantikan Anda," ucap Pierre, asistennya, dengan nada kagum. Widya menarik napas panjang. Ia meraih segelas champagne, meneguknya hingga habis, dan melangkah keluar menuju aula galeri. Cahaya lampu sorot menghantam wajahnya, disambut oleh riuh tepuk tangan. Namun, di tengah kerumunan orang-orang kaya Paris itu, mata Widya terus mencari satu hal: jawaban. Tiba-tiba, seorang pria tua dengan setelan jas vintage yang sangat rapi mendekatinya. Pria itu tidak membawa katalog pameran, melainkan hanya menatap lukisan 'The Gilded Wing' dengan mata yang berkaca-kaca. "Ibumu pasti sangat bangga melihat ini, Widya," ucap pria itu dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih, meski aksen Prancisnya kental. Widya terpaku. "Anda... mengenal ibu saya?" Pria itu tersenyum sedih. "Nama saya Jean-Paul. Saya adalah pemilik butik dalam foto yang Anda terima semalam. Dan saya adalah pria yang seharusnya menikahi ibumu, jika saja ayah Keisha tidak datang dan merusak segalanya dengan uang dan kekuasaannya." Dunia seolah berhenti berputar bagi Widya. Suara musik klasik di galeri itu mendadak terdengar seperti dengungan yang menyakitkan. Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, ponsel di tas kecilnya bergetar. Sebuah panggilan video dari Keisha. Widya tidak mengangkatnya. Ia mematikan ponselnya dan menatap Jean-Paul dengan tajam. "Ikut saya ke ruang privat. Ceritakan semuanya." Di dalam ruang kerja galeri yang kedap suara, Jean-Paul membongkar rahasia yang selama ini ditutupi dengan rapi. Ayah Keisha ternyata pernah mencintai ibu Widya secara obsesif saat mereka masih muda di Paris. Namun, karena perbedaan status, ayah Keisha melakukan hal yang keji: ia memfitnah keluarga ibu Widya hingga mereka bangkrut dan terpaksa pulang ke Indonesia dalam kehinaan. Uang yang selama ini dikira Widya sebagai "dana pendidikan" sebenarnya adalah uang bungkam agar ibu Widya tidak pernah mengungkapkan perselingkuhan dan skandal masa lalu ayah Keisha. "Keisha tahu ini," Jean-Paul menambahkan dengan suara rendah. "Dia mencarimu bukan hanya karena wasiat, tapi karena dia takut kamu akan menemukan kebenaran ini dan menghancurkan reputasi keluarganya." Widya merasa mual. Setiap kenangan manis, setiap ciuman panas, dan setiap perlindungan yang diberikan Keisha kini terasa seperti racun yang dilapisi madu. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia percayai. Tepat saat itu, pintu ruang privat terbuka dengan kasar. Keisha berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya pucat karena panik. Ternyata dia telah terbang dengan jet pribadi dan langsung menuju galeri begitu panggilannya diabaikan. "Widya!" seru Keisha. Matanya beralih ke Jean-Paul, dan seketika kilat amarah sekaligus ketakutan muncul di sana. "Keluar kamu dari sini, Jean-Paul!" Widya berdiri, menatap Keisha dengan pandangan yang paling dingin yang pernah ia berikan. "Jadi, benar? Kamu membeliku agar aku tetap bungkam tentang kejahatan ayahmu?" Keisha mencoba mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh Widya. "Tidak, Widya... tidak seperti itu. Aku mencintaimu! Aku melakukan ini semua agar kamu tidak perlu merasakan sakit yang aku rasakan karena dosa ayahku!" "Jangan sentuh aku!" bentak Widya. Ia memundurkan tubuhnya, menatap Keisha seolah wanita itu adalah orang asing yang mengerikan. Namun, Keisha tidak akan membiarkan Widya pergi begitu saja. Obsesinya kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang hebat. Ia mengunci pintu ruang privat itu, menatap Widya dengan pandangan yang sangat intens dan panas. "Kamu boleh membenciku, Widya. Kamu boleh memukulku. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi setelah apa yang kita lalui," desah Keisha, suaranya pecah. Keisha menarik Widya ke dalam pelukannya dengan paksa, menciumnya dengan rasa lapar yang liar dan penuh keputusasaan—sebuah ciuman yang mencoba menghapus kenyataan pahit dengan gairah yang menyiksa. Di dalam ruang privat yang kedap suara itu, suasana terasa begitu menyesakkan. Widya mencoba mendorong d**a Keisha, namun kekuatannya seolah hilang saat ia mencium aroma parfum Keisha yang begitu akrab. Air mata Widya tumpah, membasahi jas mahal yang dikenakan Keisha. "Kenapa, Keisha? Kenapa kamu tidak jujur padaku sejak awal?" bisik Widya dengan suara yang pecah oleh isak tangis. Keisha tidak melepaskan dekapannya. Ia justru semakin erat memeluk Widya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Karena aku pengecut, Widya. Aku takut jika kamu tahu betapa kotornya sejarah keluargaku, kamu akan melihatku sebagai bagian dari monster itu. Aku takut kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupku. Aku mencintaimu bukan karena wasiat itu, tapi karena kamulah satu-satunya orang yang membuatku merasa berharga." Keisha mengangkat wajah Widya, menangkup pipinya dengan kedua tangan yang gemetar. "Dokumen itu... aku sudah ingin menghancurkannya sejak lama. Aku ingin membangun dunia baru bersamamu, di mana hanya ada aku dan kamu. Bukan sebagai penebusan dosa, tapi sebagai masa depan." Tatapan mata Keisha yang penuh keputusasaan dan kejujuran itu meruntuhkan pertahanan Widya. Widya menyadari bahwa meskipun awalnya hubungan mereka dimulai dari bayang-bayang masa lalu, gairah dan ikatan yang mereka bangun selama ini adalah sesuatu yang murni milik mereka berdua. Widya menarik kerah baju Keisha, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat intens. Ini bukan lagi ciuman penuh kemarahan, melainkan ciuman penebusan dan pengampunan. Gairah yang muncul di antara mereka di ruang privat itu terasa sangat sensasional; sebuah penyatuan dua jiwa yang sedang berusaha menyembuhkan luka satu sama lain. Keisha mengangkat Widya ke atas meja kerja mahoni yang besar, menyingkirkan katalog-katalog pameran hingga berserakan di lantai. Di tengah kekacauan rahasia yang baru saja terungkap, mereka bercinta dengan sangat luar biasa. Setiap sentuhan Keisha terasa seperti permohonan maaf, dan setiap balasan dari Widya adalah tanda bahwa ia memilih untuk tetap mencintai Keisha, terlepas dari apa pun yang dilakukan orang tua mereka di masa lalu. "Jangan pernah tinggalkan aku, Widya... tolong," desah Keisha di sela-sela napasnya yang memburu, saat ia memberikan kenikmatan yang begitu dalam pada Widya. "Aku tidak akan pergi, Keisha. Kita akan menghadapi ini bersama," janji Widya sambil memeluk kepala Keisha erat-erat. Malam itu, di balik pintu galeri yang terkunci, mereka membuktikan bahwa cinta mereka lebih besar daripada skandal mana pun. Mereka memilih untuk saling memiliki, mengubah rasa sakit menjadi gairah yang menguatkan ikatan mereka. Masa lalu mungkin kelam, tapi di tangan Widya dan Keisha, masa depan mereka akan dilukis dengan warna yang paling indah dan jujur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN