BAB 22: Kanvas Kehidupan Baru

1062 Kata
Widya berdiri di tengah-tengah galerinya sendiri, L'Aura Gallery, di Paris. Aroma cat minyak dan bunga lili segar memenuhi ruangan. Melalui jendela kaca besar, ia melihat salju pertama mulai turun di tepi Sungai Seine. Ia tidak lagi merasa kesepian. Di tangannya, ia memegang katalog pameran tunggalnya yang akan dibuka besok malam. Keisha berada di Jakarta untuk menyelesaikan kontrak terakhirnya sebelum pindah sepenuhnya ke Paris untuk menemani Widya. Jarak kali ini tidak lagi terasa seperti siksaan bagi Widya, melainkan ruang untuk bernapas dan berkarya. "Mademoiselle Widya, kurator dari Museum Louvre sudah mengonfirmasi kehadirannya besok," ucap asisten galerinya, seorang pria Prancis muda yang sangat mengagumi karya-karya Widya. Widya tersenyum tipis. "Terima kasih, Pierre. Pastikan semua pencahayaan tepat pada lukisan 'The Gilded Wing'." Lukisan itu adalah mahakaryanya—sebuah lukisan yang menggambarkan seorang wanita yang sedang mematahkan jeruji emas dengan tangan kosong, sementara di kejauhan tampak bayangan seorang wanita lain yang menunggunya dengan tangan terbuka. Itu adalah representasi dirinya dan Keisha. Malam harinya, Widya memutuskan untuk merayakan keberhasilannya sendiri. Ia mengenakan gaun sutra merah darah yang sangat berani, memesan meja di restoran mewah, dan menikmati makan malamnya dengan penuh percaya diri. Saat ia berjalan di jalanan Paris, banyak mata yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Ia bukan lagi sekadar "simpanan rahasia" atau "gadis malang" yang diselamatkan. Ia adalah Widya, sang pelukis jenius dari Timur. Sesampainya di apartemen, ia melakukan panggilan video dengan Keisha. Wajah Keisha muncul di layar, tampak sangat bangga namun juga ada gurat kecemasan yang ia coba sembunyikan. "Kamu terlihat luar biasa, Widya. Paris benar-benar cocok untukmu," ucap Keisha. "Aku merindukanmu, Keisha. Tapi aku juga menikmati menjadi diriku sendiri di sini," jawab Widya jujur. Namun, di tengah percakapan itu, Widya melihat sebuah amplop cokelat tua yang terselip di bawah pintu apartemennya. Seseorang baru saja meletakkannya. "Sebentar, Keisha. Ada sesuatu di pintu." Widya mengambil amplop itu dan membukanya di depan kamera. Isinya adalah beberapa lembar dokumen lama yang sudah menguning dan sebuah foto usang. Di dalam foto itu, tampak seorang wanita yang sangat mirip dengan Widya sedang berdiri di depan sebuah butik mewah di Paris, tiga puluh tahun yang lalu. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang tampak sangat dikenal Widya... ayah Keisha. Widya membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Surat Perjanjian Rahasia: Pengalihan Hak Asuh dan Dana Pendidikan. "Keisha... apa ini?" suara Widya bergetar. "Kenapa ada nama ibuku di sini? Dan kenapa ayahmu memberikan uang dalam jumlah besar kepada ibuku sebelum mereka meninggal?" Wajah Keisha di layar ponsel seketika berubah pucat pasi. Ia mematikan kamera sejenak, membuat Widya terjebak dalam keheningan yang menyesakkan. Saat kamera menyala kembali, mata Keisha tampak berkaca-kaca. "Widya... ada alasan kenapa aku mencarimu sejak awal. Ada alasan kenapa aku begitu obsesif ingin memilikimu," bisik Keisha serak. "Pertemuan kita di hotel malam itu... bukan sebuah kebetulan sepenuhnya." Widya merasa dunianya runtuh. Selama ini ia mengira Keisha adalah penyelamatnya karena cinta, tapi mungkinkah semua ini hanyalah bentuk penebusan dosa atas sesuatu yang dilakukan keluarga Keisha di masa lalu? Malam yang seharusnya menjadi perayaan kesuksesan Widya, berubah menjadi malam penuh tanya. Rasa lapar akan kebenaran kini lebih besar daripada rasa lapar akan gairah. Widya menyadari bahwa rahasia terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai. Tangan Widya gemetar hebat saat ia memegang foto usang itu. Foto itu seolah berbicara lebih keras daripada ribuan kata. Di sana, ibunya tampak begitu muda, cantik, namun dengan raut wajah yang menyimpan beban berat. Sementara pria di sampingnya—ayah Keisha—menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Keisha, jawab aku!" teriak Widya ke arah layar ponselnya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang tadi dipoles make-up mahal. "Apakah selama ini aku hanya proyek penebusan dosamu? Apakah cinta yang kamu berikan padaku hanya karena rasa bersalah keluarga kamu?" Keisha di seberang sana tertunduk. Keangkuhannya sebagai seorang ratu fashion seolah luruh seketika. "Widya, dengarkan aku dulu... Awalnya, memang benar. Ayahku meninggalkan surat wasiat yang memintaku mencari keturunan dari wanita itu. Dia merasa berutang nyawa dan kehormatan pada ibumu. Tapi apa yang terjadi di antara kita... gairah itu, cinta itu... itu nyata, Widya! Itu melampaui dokumen apa pun!" "Nyata?" Widya tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh luka. "Bagaimana bisa nyata kalau dibangun di atas kebohongan? Kamu membeliku dari pamanku, Keisha! Kamu tahu persis siapa aku sebelum aku tahu siapa diriku sendiri!" Widya merasa sesak. Ia merasa seperti lukisan yang selama ini ia banggakan ternyata hanyalah hasil jiplakan. Ia merasa identitasnya sebagai seniman mandiri kembali terancam oleh bayang-bayang kekuasaan keluarga Keisha. Dalam kemarahannya, Widya mulai merobek gaun sutra merahnya di depan kamera, bukan karena gairah, melainkan karena rasa muak terhadap kemewahan yang diberikan Keisha. "Apakah ini yang kamu inginkan? Melihatku hancur?" Widya melepaskan gaunnya hingga ia hanya berdiri dengan pakaian dalamnya, menantang tatapan Keisha melalui layar. "Lihat aku, Keisha! Apa yang kamu lihat sekarang? Korban ayahmu? Atau wanita yang kamu cintai?" Keisha mengerang frustrasi di seberang sana. Ia tidak bisa menyentuh Widya, ia tidak bisa memeluknya untuk menenangkan badai itu. "Widya, jangan lakukan ini pada dirimu sendiri. Aku mencintaimu lebih dari nyawaku! Jarak ini membunuhku, aku ingin berada di sana, di sampingmu!" Melihat kerapuhan Keisha, kemarahan Widya perlahan berubah menjadi rasa haus yang aneh—rasa haus akan validasi yang menyakitkan. Ia mulai menyentuh dirinya sendiri dengan kasar di depan kamera, matanya menatap tajam ke arah Keisha. Ini adalah bentuk protes sekaligus kerinduan yang sangat menyiksa. "Kalau begitu, lihat aku, Keisha. Lihat apa yang kamu buat padaku," bisik Widya dengan suara yang parau. Momen itu berubah menjadi sebuah sesi cyber-s*x yang paling gelap dan paling emosional yang pernah mereka lakukan. Tidak ada kata-kata manis. Hanya ada desahan penuh luka dan instruksi-instruksi suara Keisha yang terdengar seperti rintihan permohonan ampun. Widya melakukannya dengan liar, seolah-olah dengan mencapai puncak kenikmatan, ia bisa melupakan fakta pahit yang baru saja ia temukan. Gairah yang meledak malam itu di apartemen Paris terasa sangat sensasional namun meninggalkan rasa pahit di lidah. Begitu mereka berdua mencapai klimaks yang penuh dengan keputusasaan, Widya langsung mematikan panggilannya tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia terduduk di lantai yang dingin, memeluk lututnya, dikelilingi oleh dokumen-dokumen yang membongkar masa lalunya. Besok adalah hari pembukaan pamerannya. Harusnya itu menjadi hari terbaik dalam hidupnya. Namun kini, Widya sadar bahwa ia harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi di antara orang tuanya dan keluarga Keisha tiga puluh tahun yang lalu. Ia tidak akan membiarkan Keisha mendikte kebenaran untuknya lagi. Widya menghapus air matanya, bangkit, dan menatap pantulannya di cermin. "Aku akan menemukan jawabannya, Keisha. Dengan atau tanpamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN