Mencari

1809 Kata
Semua orang akan terus mencari keberadaan orang yang mereka sayang. Salah satunya adalah Lia, mau sejahat apapun dia kalau dia merasa kau itu temennya tanpa di sadari dia juga akan tetap ikut mencari temannya untuk membantu yang lainnya. -Nadine Fahreza. "Hanya ada satu ruangan yang belum kita cari saat ini yaituuu ruangan yang ada di taman belakang itu," ucap Fajar. "Kayaknya gak mungkin deh di sana, bukannya gak pernah ada yang buka ya itu gudang. Itu juga di taman belakang tempat banyak orang buat nongkrong di sana. Ya kali dah di sana. Gue gak yakin," bantah Leo dengan sangat tegas. "Kira-kira siapa yang melakukan ini semua?" tanya Raihan. "Dugaan sementara Evelyn dan teman-teman. Karena dari sebelum kita pulang mereka terus melihat ke arah Lia beneran kayak musuh bebuyutan. Gue yakin mereka sih," ucap gue dengan santai. "Jangan ngomong kayak gitu, lo belum ada bukti yang kuat jangan suka menjudge dan bahkan menuduh orang sembarangan. Gak mungkin Evelyn begitu," ucap Leo. "Udah, kalau lo mau bela Queen lo silakan. Gak usah ikut pencarian Lia, daripada lo ribut dan terus bela Evelyn. Kalau misalnya lo ikut lo harus diem gak boleh ngomong satu katapun," ucap Fajar dengan kesal. "Bela aja terus bela, anggep aja kita ini hanya sebuah pajangan semata. Oh, iya gue lupa. Kalau sekolah ini milik mereka aja yang lain cuma ngontrak," ucap Raihan dengan pelan. Gue melihat kenarah Raihan yang sudah jengah dengan sikap Leo yang selalu membela Evelyn di hadapan kami semua. Hati gue beneran bilang kalau ini semua adalah kerjaannya Evelyn. Karena sebelum kita pergi dari kantin itu hanya Evelyn yang menatap kita seperti seorang musuh. Mungkin Leo gak merasakan itu semua. Tapi, gue dan yang lainnya beneran bisa merasakan kalau Evelyn adalah dalang dari semua ini. Saat gue beneran sangat takut terjadi apa-apa dengan Lia. Karena setahu gue Lia punya trauma yang besar dengan gelap. "Gue khawatir sama keadaan dia sekarang. Kita lebih baik ke sana deh. Soalnya Lia beneran punya trauma sama kegelapan," jelas gue. Raihan mengernyitkan dahinya dengan bingung dan mulai mencerna apa yang gue katakan saat ini. "Takut kegelapan?" tanya ulang Raihan. Gue hanya menggangukkan kepalanya dengan pelan sebagai jawaban. Gue beneran takut dan beneran sangat khawatir saat ini. "Kenapa lo baru ngomong sekarang? Itu beneran fatal banget kalau kita telat dalam hitungan menit?! Kita harus secepatnya cari dia sampai ketemu. Kalau misalnya dia di kurung di kegelapan beneran Lia akan pingsan atau yang lebih parah lagi karena ketakutan," ucap Raihan dengan nada yang sangat khawatir. Gue beneran bingung saat ini dengan reaksi Raihan yang sangat berlebihan. Gue beneran gak tau tentang dampak dari semuanya itu. Mangkanya gue barusan bilang karena gue baru ingat dengan traumanya Lia. "Han tenangin diri lo, jangan kayak gini. Lia gak kenapa-kenapa kok," ucap Fajar menenangkan Raihan. Raihan mengepalkan tangannya dengan kencang dan berjalan di depan untuk mencari Lia di gudang atau di sekeliling sekolah. Gue dan yang lainnya mengikuti Raihan dari belakang. Nadine POV Off. Author POV On. Nadine dan yang lainnya terus mencari keberadaan Lia di sekolah. Hingga akhirnya mereka semua kepikiran untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di taman belakang sekolah mereka. Raihan berjalan mengendap-endap ke dalam sana. Wajah Raihan benar-benar sangat datar dan khawatir tentang keadaan Lia saat ini. Brak! Terdengar suara gaduh di dalam ruangan itu. Membuat mereka semua kaget sekaligus semakin penasaran yang ada di dalam sana. Mereka perlahan berjalan ke arah ruangan itu dengan cara mengendap-endap. "Fajar siapin handphone lo untuk perekam suara, rekam semuanya sekarang juga," suruh Raihan dengan tegas. "Untuk apa?" tanya Fajar. "Cepet lakukan apa yang gue suruh," titah Raihan. Fajar mengikuti apa yang di katakan oleh Raihan. Mereka semua kembali menguping di depan gudang. Raihan membiarkan Fajar melakukan tugasnya untuk mengambil sumber suara itu. "Kenapa? Kenapa lo kayak gini?!" teriak seseorang dari dalam sana. "Lo beneran gak puas apa lihat kita semua menderita? Lo gak puas apa melihat gue di marahi abis-abisan sama bokap gue?" "Gue diam bukan berarti gue ini bisa lo injek-injek kayak gini. Denger ya gue beneran sangat kecewa sama lo. Lo beneran penghianat!" "Lo tau? Raihan gak mau pulang saat ini. Raihan gak mau ketemu sama bokapnya. Raihan selalu hidup sendirian di luaran sana. Gara-gara lo, Raihan gak mau melihat gue sama sekali. Raihan gak mau sayang atau ngertiin gue dan yang lebih parahnya semua orang lebih peduli dengan muka lo yang sok cantik ini." "Gue beneran sangat jijik lihat lo ada di sini. Kenapa lo gak mati aja sih!" Nadine yang ada di luar ruangan benar-benar sangat emosi mendengar temannya sedang di bentak-bentak oleh wanita lain. "Bener-bener mereka semua ini. Mereka beneran gak mikir kalau mereka juga belum sempurna sebagai manusia. Gue beneran gak respect sama mereka lagi," ucap Nadine dengan sangat kesal. "Syut, jangan ada yang ngomong keras. Kita harus melihat keadaan Lia yang sebenarnya," ucap Raihan dengan pelan. "Apa maksud lo deketin Raihan dan Leo! Lo gak deketin Raihan cuma lo deket banget sama Leo! Sok kebagusan emang hidup lo ini." "Kenapa? Kenapa lo takut sama kegelapan? Iya! Iya kan!" teriak seseorang dari dalam. "Gue akan membuat lo akan menderita lebih dari ini. Gue akan menaruh lo di ruangan yang sangat gelap bahkan lebih gelap dari ini. Gue akan merubah semuanya yang ada di muka lo juga saat ini," ancam perempuan itu. Raihan yang mendengar suara itu mengepalkan tangannya dengan keras dan menahan amarahnya. Mereka terus menguping apa yang terjadi di dalam demi menyelamatkan Lia dari mereka semua. "Heh! Denger ya sekali lagi. Gue gak mau lo deketan sama Leo. Doa itu milik gue, jadi gak ada satu orangpun yang bisa merebut dia dari gue. Kalau misalnya lo mau ambil dia, Lo harus langkahin gue dulu," ucap wanita itu. Raihan yang sudah tidak tahan dengan semuanya akhirnya mendobrak pintu itu dan masuk ke dalam sana. Dia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling mereka. Mendengar suara dobrakan pintu mereka yang ada di dalam merasa panik dan mulai bersembunyi di balik barang yang ada di sana. Raihan yang merasa mereka semua bersembunyi di balik barang-barang itu hanya tersenyum kecil dan menendang dengan kencang meja yang ada di ruangan ini. Brak! "Leo, Fajar ambil alih mereka semua!" teriak Raihan dengan sangat panik. Fajar dan Leo langsung menangkap mereka semua dengan cepat. Raihan menatap mereka dengan sangat datar dan sangat dingin. "Ternyata kalian lebih hina dari seekor binatang. Gue beneran udah menduga ini semua. Bahkan untuk lo sebut nama gue saja gue udah gak sudi. Oh ya, ingat satu hal. Sampai kapanpun gue gak akan mau kalau lo bawa nama gue kemanapun itu," bisik Raihan dengan kasar. Lia semakin ketakutan melihat itu semua. Tubuhnya bergetar dan sangat lemah mendengar semua itu. "Kalian berdua urus mereka semua. Gue dan Nadine akan membawa Lia pulang ke rumah," ucap Raihan dengan sangat dingin. Raihan berlari ke arah Lia dan menatapnya dengan tatapan yang lembut. "Lia," panggil Raihan dengan lembut. Raihan tidak mendapatkan jawaban dari Lia sama sekali. Tubuhnya sangat gemetar dan sangat lemah sekali saat ini. Raihan yang menatapnya hanya bisa tersenyum miris melihat Lia yang seperti ini. Raihan mencoba menepuk pelan pipinya Lia dengan sangat pelan. "Lia," panggil Raihan dengan sangat pelan. Ia terus menepuk pelan pipi Lia a agar segera tersadar. Lia perlahan membuka matanya dengan pelan dan menatap Raihan dengan tatapan yang sangat takut. Ia mencoba menjauhkan tubuhnya dari Raihan, namun Raihan terus mendekapnya dengan pelan. "Jangan takut," ucap Raihan dengan lembut. "E---eng---engga. Kamu pulang aja, semuanya pulang kalian semua sama aja. Kalian hanya mau menyiksa aku. Aku mau pulang, izinin aku ketemu sama mama. Aku sayang sama mama," ucap Lia dengan sangat lirih. "Kita gak akan ngapa-ngapain kamu Lia, kamu tenang ya," ucap Nadine menenangkan Lia. "Kalian pergi aja dari sini. Aku mau di peluk Mama, aku mau Mama yang menolong aku sekarang. Kalian pulang aja aku gak papa," ucap Lia dengan penuh ketakutan. "Lia beneran kita gak akan ngapa-ngapain kamu. Aku anter ke Mama ya. Kamu jangan kayak gini," ucap Raihan dengan sangat lembut. Lia semakin memundurkan tubuhnya dengan sangat takut saat ini. Nadine menitihkan air matanya dengan sangat sedih saat ini. "AKU BENERAN GAPAPA. KALIAN PERGI AJA DARI SINI. AKU MAU SAMA MAS DWI DAN MAMA. Mama tolong Lia ma," ucap Lia dengan sangat histeris. Raihan dengan pelan mendekat ke arah Lia dan ingin menolongnya. "Pergi, pergi, pergi, aku beneran gak mau. Aku mau sama Enan, aku gak mau sama kamu. Kamu siapa pergi kamu dari sini. Pergi sekarang pergi!" teriak Lia semakin histeris. "Lia tenang ya. Kita keluar dari sini, Enan nanti akan datang ke tempatnya Lia." "Gak kamu akan bohong tentang Enan. Saya benci penghianat, saya benci kebohongan. Gue benci kalian semua!" ucap Lia. Leo yang melihat sikap Lia yang seperti itu benar-benar sangat hancur melihat orang yang dia sayang saat ini malahan seperti ini. Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Orang yang depresi dan orang yang stress dengan ketakutan yang ada di dalam diri dia. "Pergi sekarang, pergi, pergi, pergi!" teriak Lia dengan sangat histeris. Nadine yang melihat Lia dengan tatapan seperti itu hanya menahan tangisnya saat ini. Raihan langsung menggendong Lia dan membawanya keluar dari ruangan ini. Nadine yang melihat Lia keluar langsung menyusul Lia dan Raihan yang berjalan di depannya. Fajar dan Leo mereka membawa Evelyn dkk masuk ke dalam ruangan guru BK. Author POV Off. Leo Pov On. Gue mengikuti jejak langkah Raihan yang sangat cepat. Raihan terlihat sangat khawatir dengan keadaan dari Lia. Gue beneran gak tahu apa yang di khawatirkan. Selama ini gue yang terang-terangan mengungkapkan sayang gue ke Lia. Kenapa sekarang dia yang berbuat seperti ini? Gue benar-benar gak nyangka sama Raihan ternyata dia memiliki rasa yang sangat khusus kepada Lia. Gue juga selama ini beneran gak sadar akan hal itu. Gue beneran gak abis pikir kalau dia beneran mau nikung gue saat ini. Benar-benar di luar dugaan gue. Gue mengepalkan tangan gue dengan pelan dan menatap tubuh Raihan keluar dengan tatapan yang panik dengan tatapan yang tak suka. "Leo, sekarang kita harus kirim mereka ke Bu Ani biar di tindak lanjuti. Kalau kita tunda bisa bahaya," ucap Fajar dengan santai. "Oke," jawab gue tanpa menoleh ke arah Fajar. Gue dan Fajar langsung membawa mereka semua masuk ke dalam ruangan BK. "Leo maafin aku, aku beneran gak suka ya kalau kamu sama dia. Dia itu beneran cuma menghasut semua orang untuk menjatuhkan aku di hadapan orang lain aja. Aku gak suka cara dia," ucap Evelyn membela diri. "Hmmm," balas gue dengan deheman singkat. Gue terus menarik tangan Evelyn dengan kasar menuju ruang BK saat ini. "Bu!" panggil Fajar dari kejauhan. Bu Ani yang terlihat ingin pulang menoleh ke arah kami berdua dan menatap kami dengan bingung. "Loh, ada apa Fajar, Leo?" tanya Bu Ani dengan tatapan bingungnya. "Bu saya mau laporan, boleh ibu buka pintunya dulu? Soalnya ini urusan mereka bertiga," ucap Fajar dengan dingin. Bu Ani langsung membuka pintu ruangan BK dan memberikan kami semua akses masuk ke dalam ruangan. Gue langsung menarik Evelyn dengan kasar ke dalam ruangan BK.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN