Ruangan BK

1838 Kata
Semua orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa di dunia ini. Justru semua manusia banyak sekali dosa di bandingkan pahalanya. -Athena Leo Saputra. Leo Pov On. Gue mengikuti jejak langkah Raihan yang sangat cepat. Raihan terlihat sangat khawatir dengan keadaan dari Lia. Gue beneran gak tahu apa yang di khawatirkan. Selama ini gue yang terang-terangan mengungkapkan sayang gue ke Lia. Kenapa sekarang dia yang berbuat seperti ini? Gue benar-benar gak nyangka sama Raihan ternyata dia memiliki rasa yang sangat khusus kepada Lia. Gue juga selama ini beneran gak sadar akan hal itu. Gue beneran gak abis pikir kalau dia beneran mau nikung gue saat ini. Benar-benar di luar dugaan gue. Gue mengepalkan tangan gue dengan pelan dan menatap tubuh Raihan keluar dengan tatapan yang panik dengan tatapan yang tak suka. "Apa yang terjadi sebenarnya ini Tuhan? Kenapa sangat menyakitkan ketika mengetahui ada yang lebih sayang sama Lia?" "Leo, sekarang kita harus kirim mereka ke Bu Ani biar di tindak lanjuti. Kalau kita tunda bisa bahaya," ucap Fajar dengan santai. "Oke," jawab gue tanpa menoleh ke arah Fajar. Gue dan Fajar langsung membawa mereka semua masuk ke dalam ruangan BK. "Leo maafin aku, aku beneran gak suka ya kalau kamu sama dia. Dia itu beneran cuma menghasut semua orang untuk menjatuhkan aku di hadapan orang lain aja. Aku gak suka cara dia," ucap Evelyn membela diri. "Hmmm," balas gue dengan deheman singkat. Gue terus menarik tangan Evelyn dengan kasar menuju ruang BK saat ini. "Bu!" panggil Fajar dari kejauhan. Bu Ani yang terlihat ingin pulang menoleh ke arah kami berdua dan menatap kami dengan bingung. "Loh, ada apa Fajar, Leo?" tanya Bu Ani dengan tatapan bingungnya. "Bu saya mau laporan, boleh ibu buka pintunya dulu? Soalnya ini urusan mereka bertiga," ucap Fajar dengan dingin. Bu Ani langsung membuka pintu ruangan BK dan memberikan kami semua akses masuk ke dalam ruangan. Gue langsung menarik Evelyn dengan kasar ke dalam ruangan BK. Bu Ani menyusul kami masuk ke dalam ruangan dan menatap kami dengan sangat bingung. "Ada apa ini? Kenapa kalian ke sini bersama Evelyn dan teman-temannya?" tanya Bu Ani dengan bingung. "Saya ingin mengajukan laporan tentang mereka semua Bu, mereka telah melakukan pelanggaran-pelanggaran yang di langgar oleh sekolah," ucap Fajar dengan nada dinginnya. "Bukannya mereka anak baik? Kenapa bisa melakukan banyak pelanggaran?" tanya Bu Ani. "Seorang manusia letaknya salah, jika Ibu bilang mereka anak baik yang gak pernah melakukan pelanggaran-pelanggaran Ibu salah. Karena mereka beneran melakukan pelanggaran yang di langgar oleh sekolah ini," bantah gue dengan santai. "Saya beneran tidak percaya sama kalian semua. Karena selama ini kita tahu bahwa Lia dan Evelyn tidak memiliki masalah. Kenapa sekarang malahan seperti ini? Saya beneran tidak percaya," ucap Bu Ani. "Gak ada gunanya ibu bilang seperti itu. Mungkin bagi ibu dia adalah anak yang baik-baik tapi bagi saya dia adalah seorang wanita yang tidak bisa bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepada dia." "Dia benar-benar sangat tidak tahu di untung untuk semuanya. Memang mereka tidak memiliki masalah sebelumnya sama seperti yang kita tahu. Tapi, satu hal yang harus di ingat saat ini. Dia adalah penyebab Lia terbaring lemah." "Saya semakin gak paham dengan ucapan ngaco kalian ini. Karena saya tahu banget mereka dari keluarga yang mana. Mereka gak mungkin melakukan hal yang keji apalagi pembullyan." "Ternyata ibu bisa di buatkan oleh uang mereka. Katakan berapa yang mereka bayar untuk bisa membuat ibu bungkam dan tidka peduli dengan kebenaran dan kebajikan saat ini!" tanya gue dengan sangat dingin. "Jaga ucapan kamu Leo. Saya tidak pernah melakukan hal ini. Saya benar mengatakan semuanya, mereka berasal dari keluarga yang baik-baik tidak mungkin kalau mereka melakukan hal keji seperti itu," jelas Bu Ani dengan tidak percaya. "Tidak mendapatkan uang saya dan Leo ke sini Bu. Saya ke sini karena teman kami semua benar-benar hampir kehilangan nyawanya. Kejiwaannya sangat kami takutkan saat ini. Ibu guru BK seharusnya ibu tahu," jelas Fajar dengan sangat dingin. "Selama ini saya percaya dengan ibu, saya percaya kalau ibu bisa membantu kami semua dalam setiap masalah yang ada. Kenapa sekarang ini malahan sangat berbeda. Ibu membela wanita yang sudah membully orang ini," tuding gue di depan mata Evelyn. "Leo, kamu gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tahu ketika aku udah membela diri aku. Padahal sebelumnya dia yang menyerang aku," ucap Evelyn membela diri. Gue hanya memutar bola mata dengan sangat malas. Malas banget gue mendengar banyak alasan palsu dari mereka semua saat ini. "Jangan membela diri kalau udah ada bukti yang kuat. Diam atau kalian akan mendapatkan banyak masalah setelah ini," ucap gue dengan nada datar. Evelyn langsung terdiam dan mendengarkan apa yang gue lakukan. Gue memperlihatkan keadaan Lia yang di kirimkan oleh Nadine tadi. "Ini kondisi Lia yang terakhir, sekarang Lia sedang di bawa ke rumah sakit oleh Raihan dan Nadine. Saya harap Ibu liat bagaimana kondisi Lia saat ini," ucap gue dengan sangat datar. "Apa ibu sekarang bisa percaya dengan apa yang saya katakan? Apa ibu beneran udah bisa menerka apa yang terjadi saat ini. Apa ibu bisa melihat kebenaran yang ada?" tanya Fajar dengan sangat dingin. "Sekarang terserah ibu kalau ibu gak percaya sama kami, kami beneran gak masalah sama sekali. Saya harap ini bisa menjadi pertimbangan para guru-guru untuk mempertahankan mereka," jelas gue. Bu Ani mengambil handphone gue dan menatap kondisi Lia dengan sangat prihatin. Ia menutup mulutnya dan matanya kembali berkaca-kaca melihat kondisi Lia saat ini. "Ada apa dengan Lia? Kenapa dia bisa seperti itu? Lia setahu Ibu tidak pernah melakukan hal yang aneh," ucap Bu Ani. "Semua itu penyebabnya adalah mereka bertiga. Mereka suka sama Leo membuat mereka buta akan segalanya. Lia siang tadi makan bersama kami semua, mereka memperhatikan apa yang di lakukan Lia dan teman-temannya saat bersama kami." "Saya memang tidak memiliki bukti, tapi saya bisa merasakan hal itu. Selama ini saya diam karena mereka sudah sering meneror Lia dari segi barang. Saya tidak suka cara mereka dalam hal seperti ini," ucap Fajar. "Saya gak percaya dengan apa yang kalian lakukan. Kalian itu murid teladan, kenapa bisa melakukan hal yang keji seperti ini. Kalian tahu apa dampaknya?" tanya Bu Ani dengan nada yang sedikit meninggi. Evelyn dan teman-temannya langsung menundukkan kepalanya dengan pelan. Bu Ani langsung menghela nafas dnegan panjang melihat anak-anaknya yang dia didik justru melakukan hal yang sangat keji. "Mental Lia akan kena setelah ini. Sangat sulit membangkitkan mental seseorang untuk bangkit dan kembali ke awal. Kalian? Kalian merusak semuanya, nanti Lia akan menyendiri dan tidak mau bergaul dengan banyak orang," ucap Bu Ani dengan sangat marah. "Kalian Ibu skors sampai waktu yang di tentukan. Sampai kalian melanggar Ibu gak akan segan-segan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah ini. Ibu akan memanggil orang tua kalian untuk datang ke sekolah." "Sampai orang tua kalian yang tidak datang Senin besok menemui Ibu, maka jangan harap kalian masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran. Sekarang Leo dan Fajar boleh pulang. Yang lainnya tidak boleh pulang," ucap Bu Ani dengan sangat tegas. Gue dan Fajar langsung keluar dari ruangan BK. Gue menatap lurus ke arah depan dan membayangkan apa yang terjadi tadi. "Gue tau lo kaget. Gue gak mau hubungan lo sama Raihan akan renggang setelah ini. Gue harap lo bisa dewasa dalam menentukan pilihan. Saat ini bukan hanya Raihan saja yang khawatir, semua orang juga khawatir." "Kalau dari gelagat lo beneran marah sama Raihan. Gue gak membela siapapun di sini. Gue hanya meluruskan, Raihan bukan siapa-siapa dari Lia, dia juga gak menaruh rasa sama Lia. Lo gak usah takut di tikung," ucap Fajar dengan nada santainya. "Lo gatau apa-apa lebih baik diam. Kalau lo masih mau ngomong panjang gak usah sama gue. Lo ke masjid aja sekalian khutbah Jum'at," ucap gue dengan kesal. Fajar meninggalkan gue dan berjalan ke arah parkiran. Di depan mobil, dia menelepon seseorang di sebrang sana. "Lo dimana?" "......." "Gue ke sana sekarang. Kita harus melakukan tindakan awal karena gak mungkin kita biarin kayak tadi," ucap Fajar dengan tegas. "......" "Oke" Gue hanya memperhatikan Fajar dan masuk ke dalam mobil gue. Setelah selesai telponan Fajar langsung masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Gue pelan-pelan mengikuti mobil Fajar dari belakang. Fajar masih tidak paham dengan apa yang gue lakukan. Gue terus mengikuti mobilnya dari belakang. Sampai akhirnya kita semua sampai di depan sebuah rumah sakit yang tak asing bagi gue. "Lia masuk rumah sakit?" gumam gue dengan sangat pelan. Fajar keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit itu. Gue langsung mengikuti jejak langkah kaki Fajar masuk ke dalam ruangan. Selama di perjalanan tingkah takut Lia terdengar sangat jelas di telinga gue saat ini. Seperti tole film yang sangat indah terngiang rasa ketakutan Lia di otak gue. Gue merasa saat ini gue beneran gagal menjaga Lia selama ini. Gue merasa kalau selama ini sikap gue yang sibuk dengan diri gue sendiri beneran sangat gak berguna di hadapan semua orang. "Maafin aku Lia, maaf. Karena aku beneran kamu seperti ini. Lia aku harap kamu sembuh setelah ini," ucap gue dengan sangat lirih. "Gue beneran sangat gak suka dengan apa yang terjadi saat ini. Raihan menang akan segalanya. Raihan menang di hadapan semua orang," gumam gue dengan sangat lirih. "Lia maaf kalau misalnya aku beneran telah menyakiti kamu secara tidka langsung. Aku selama ini beneran sayang sama kamu dengan tulus, aku beneran cinta sama kamu dengan sepenuh hati. Maaf karena aku gatau apa-apa tentang hal ini. Aku juga gatau apa yang kamu rasakan selama ini." Gue menahan tangisan gue saat ini dan berpikir tentang apa yang terjadi sama Lia setelah di bawa oleh Raihan. "Mungkin di bawa ke rumah sakit yang ada di dekat rumahnya," gumam gue. Gue beneran mengernyitkan dahi dengan sangat bingung melihat arah jalan mobil Fajar bertolak arah dari jalan ke arah rumah sakit yang dekat dengan rumah Lia. Gue merasa penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Fajar di dalam rumah sakit itu semakin mengikutinya dari belakang. Kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan berhenti di depan ruangan yang serba putih. Gue bisa melihat ada Raihan dan Nadine yang masih setia berada di ruangan depan kamar Lia. Fajar menghampiri mereka semua dengan muka khawatirnya. "Bagaimana keadaan Lia?" tanya Fajar dengan sangat khawatir. Nadine yang dari tadi menahan tangisnya hanya menghembuskan nafas dengan kasar di hadapan Fajar. Ia berjalan ke arah kaca depan ruangan Lia dan melihat keadaan di dalam. Gue langsung berlari menghampiri mereka semua. "Raihan gimana keadaan Lia sekarang?" tanya gue dengan sangat panik. "Jangan panik dulu. Dokter lagi nanganin Lia di dalam. Kita semua masih menunggu kabar dari dokter. Dia sedang menangani Lia dengan sangat baik," ucap Raihan dengan sangat lembut. "Gue gak nyangka kalau mereka sejahat itu. Gue gak abis pikir kalau rasa suka bisa membuat mereka buta akan sebuah cinta yang abadi saat ini. Gue gak suka akan semuanya," jelas gue dengan pelan. "Lo terlalu percaya dengan orang lain di bandingkan sama kawan lo sendiri. Gue gak suka sama lo karena hal itu. Lo beneran gak peka dan gak paham sama apa yang gue kodein. Udah dari tadi gue ngomong untuk berhenti. Tapi, lo malahan tetep lanjut melakukan itu," jelas Raihan dengan nada tak sukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN