Rumah Sakit

1843 Kata
Menatap orang yang kita sayang itu benar-benar sakit di situlah kita akan merasa kalau kita akan meminta di berikan rasa sakit mereka semua. Kita selalu rela memindahkan rasa sakit yang di rasakan oleh orang yang kita sayang agar mereka baik-baik saja. -Athena Leo Saputra. "Gue gak tau ya, apa yang lo kodein. Lo aja gak ngomong apa-apa," ucap gue gak terima. "Ternyata buta dengan bodoh hampir sama. Gue gak abis pikir sama pikiran lo saat ini Leo. Lo gak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Gue gak masalah kalau masalah ini dan itu. Tapi, please pahami satu hal kalau di saat lagi di sekolah. Jaga jarak dengan orang yang lo sayang," ucap Raihan dengan lembut. "Lo gak ada urusan saat ini. Gue tau lo punya rasa sama Lia udah gak usah di tutupin kalau itu semua gue udah tau," tuding gue. "Stop dulu kalian ini. Jangan main marah aja, sekarang kalian berpikir tentang apa yang terjadi oleh Lia dulu. Kita selesaikan baik-baik ini semua," ucap Fajar menengahi kami berdua. "Sekarang omongin baik-baik di mana letak kodenya. Jangan main pake emosi. Sekarang gue tanya kalau misalnya lo beneran pake emosi apa yang kalian dapet? Ada gunanya pake emosi? Semua masalah itu gak harus pake amarah lah sekiranya," ucap Fajar dengan sangat kesal. Semua orang yang ada di sana terdiam dan mendengarkan apa yang ingin di jelaskan oleh Raihan. Gue bener-bener saat ini pengen marah sama apa yang terjadi saat ini. Rasanya gue ingin menghabisi Raihan. Karena sekarang Raihan yang berkuasa dan Raihan pemenang semuanya. "Dimana letak lo kodenya?" tanya Fajar dengan menengahi. "Gue kode di bagian udah lagi gak usah kalian itu gombalin cewe terus. Di situ kode yang gue maksud tapi kalian ya beneran gak pada peka sama kalimat itu," ucap Raihan dengan penuh penekanan. "Jadi, yang lo kodein itu karena mereka semua?" tanya Fajar dengan sangat serius. "Iya," jawab Raihan dengan santai. "Gue gatau kalau selama ini lo diem merhatiin banyak orang Han. Setahu gue lo orang yang lempeng dan gak peduli sama apa yang ada di sekitar lo." "Tanpa kalian ngomong gue udah tau segalanya. Mungkin dengan adanya lo berbicara seperti ini gue beneran bisa berubah dengan semua orang. Selama ini gue diam bukan berarti gue gak tau apapun. Bukan berarti gue sombong dalam berbagai hal. Ada kalanya gue berbicara yang sebenarnya dan ada kalanya gue terdiam mendengarkan semuanya," jelas Raihan. Ceklek! Pintu ruangan terbuka menampilkan wajah sumringah dokter pas keluar dari ruangan. Kami semua langsung mendekat ke arah dokter itu dan mempertanyakan keadaan Lia. "Bagaimana dengan keadaan teman saya dok?" tanya gue dengan sangat khawatir. "Pasien mengalami sebuah trauma yang sangat besar. Trauma di masa lalu membuatnya kembali takut bertemu dengan orang lain. Hanya ada satu nama yang dia sebut dalam keadaan tidak sadarnya," ucap dokter itu dengan bingung. "Siapa nama orang itu?" tanya gue dengan penasaran. "Pasien memanggil nama Enan di dalam tidurnya. Saya gak tau apa yang terjadi sebelum. Tapi, dia terus memanggil nama itu. Jika memang ada yang bernama Enan kalian bisa menyuruhnya ke dalam," ucap dokter itu. "Apakah saya boleh melihat keadaan pasien? Nama saya kebetulan sama dengan apa yang pasien panggil," tanya Raihan dengan sangat pelan. Gue langsung menatap Raihan dengan tatapan yang tidak percaya. Dia melakukan banyak hal yang di luar batas saat ini. Gue beneran gak suka sama sikap dia yang terlalu berlebihan. Dokter itu tersenyum dan menatap Raihan dengan tatapan yang sangat lembut. "Silakan. Siapa tau dengan adanya bapak masuk ke dalam membawa dampak yang baik bagi pasien. Oh ya, pasien akan mengalami hal-hal sulit setelah ini. Dari bertemu dengan orang banyak dan masih banyak lagi itu akan sulit sekali." "Itu karena apa?" tanya gue dengan bingung. "Adanya trauma masa lalu dan di tambah dengan trauma baru yang di alami pasien membuat dia tidak percaya diri dan bahkan kehilangan kepercayaan diri di depan khalayak umum. Dia sangat sulit berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Tak hanya itu, dia juga takut bertemu orang baru dan masih banyak lagi." "Separah itu?" tanya gue. "Iya, itu lumayan sangat parah. Di tambah kalian harus bisa sabar menghadapi apa yang di rasakan oleh dia. Jika kalian gak sabar kalian akan kehilangan dia," jelas dokter itu. "Kira-kira dia benar-benar bisa sembuh gak dok dari sakitnya itu?" tanya gue. "Bisa, asalkan kalian semua mau sabar dan mau membantunya untuk sembuh. Kalian bener-bener harus melakukan segalanya dan selalu berusaha keras untuk membantu dia bangkit. Mungkin dengan adanya banyak orang yang sangat dekat bisa sedikit membantu dia untuk terus bangkit dari semuanya," jelas dokter. "Yang penting kita buat dia selalu senang dan selalu bahagia bisa gak sih dok?" tanya gue dengan sangat hati-hati. "Bisa jadi," ucap dokter. "Baiklah terima kasih atas infonya dok," ucap gue. "Saya permisi ya, maaf jika mengganggu kalian semua," ucap dokter itu sambil berlalu meninggalkan kami semua. "Gue masuk duluan. Setelah gue kalian masuk ke dalem dan kasih dukungan satu sama lain. Jangan sibuk sama diri sendiri aja yang lain gak di pikirin," jelas Raihan dengan nada yang santai. "Gue gak nyangka ternyata lo beneran begini. Gue gak nyangka kalau sahabat baik gue menikung gue dari jauh. Lo temen gue apa bukan? Tapi, kenapa kalau temen gue lo malahan merebut Lia?" tanya gue dengan kesal. "Gue melakukan ini semua ada maksud dan tujuan. Sekarang gue gak akan berbicara satu katapun tentang hal apapun. Gue gak suka membuka privasi gue dalam hal yang sepele," jelas Raihan dengan santai. Raihan masuk ke dalam ruangan dengan santainya meninggalkan kami semua di depan ruangan. Gue mengepalkan tangan dengan sangat kencang. Gue beneran gak bisa menahan emosi gue lagi saat ini. Karena Raihan beneran di luar batas. "Jangan mengeluarkan emosi di sini. Jika memang lo gak mau di ganggu atau gak mau melakukan interaksi sama Raihan gak usah ke sini. Ini tempat kita untuk kumpul dan kita melakukan banyak hal," jelas Fajar. "Gue masih gak nyangka dengan apa yang dia lakukan. Secara gak langsung dia menghianati gue gitu aja. Gue benaran gak suka ya," jelas gue dengan kesal. "Udah jangan kebawa emosi lagi, sekarang tenangin diri kalian masing-masing gue gak peduli saat ini dengan apa yang terjadi, lo harus bisa damai sama Raihan. Karena gue gak mau masalah kecil bisa menjadi sebuah masalah besar," ucap Fajar. "Dia yang mulai, gue gak mulai kecuali ada yang memulai duluan. Gue gak suka kalau apa-apa harus yang pertama. Gue sadar kalau gue gak bisa melakukan yang terbaik untuk Lia. Tapi, ingat satu hal gue beneran sayang dan beneran cinta sama Lia dalam hal apapun," ucap gue dengan tegas. "Gue paham sama apa yang lo katakan. Sekarang kita mulai semuanya dari awal. Kita bantu Lia keluar dari zona nyamannya. Gue gak mau nantinya dia akan sulit mendapatkan teman atau dia malahan gak mau sekolah karena takut oleh teman-temannya," jelas Fajar. "Seharusnya yang ada di dalam itu gue, bukan Raihan. Bisa apa Raihan di dalam? Bisa apa Raihan? Raihan sama sekali tidak tahu tentang Lia. Kenapa justru malahan Raihan yang masuk ke dalam?" tanya gue dengan sangat marah. "Lo gatau maksud dokter tadi. Kemungkinan dengan nama yang bisa membuat Lia cepat sembuh begitu. Kita bisa," jelas Fajar. Gue beneran sangat kesel mendengar banyak sekali pembelaan mereka kepada Raihan. "Kenapa rasanya begitu sakit ketika melihat orang yang kita sayang bersama sahabat kita sendiri," gumam gue. Gue hanya terduduk dengan pelan dan mendengarkan apa yang mereka semua katakan. Hati gue beneran sangat hancur melihat apa yang terjadi di dalam. "Tuhan bantu aku untuk benar-benar kuat menghadapi ini semua," gumam gue. Nadine yang berdiri di depan kamar Lia hanya tertunduk pelan dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia memejamkan matanya dengan pelan. Tring! Tring! Tring! Semua orang langsung menoleh menatap Nadine dan melihat mimik wajah yang sangat khas pada mukanya. Nadine membuka ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. "Halo," ucap Nadine dengan sangat lesu. Gue bisa melihat wajah khawatirnya di raut mukanya saat ini. Gue hanya memperhatikan dia dari kejauhan. "......." "Gue ada di rumah sakit sekarang. Kalian ke sini aja bawain baju ganti gue. Untuk keadaan Lia beneran gak usah khawatir lagi. Dia beneran gak kenapa-kenapa, dia baik-baik aja sekarang ini." "........" "Yaudah ke sini aja. Dia sekarang lagi di tanganin sama dokter. Untuk Mama Lia di jemput aja minta tolong sama Kak Dwi supaya gak kaget nantinya. Kalian yang ngiring ke sini mobil mereka," jelas Nadine. "......" "Iya, sekarang lo ke sini dan bawa makanan. Kita semua belum makan," ucap Nadine. "......." Nadine langsung menutup telponnya dengan pelan dan memasukkan handphonenya ke dalam saku roknya. Ia menggigit jarinya dengan pelan sambil melihat apa yang terjadi di depannya. "Gue gak tau apa yang terjadi. Gue beneran sayang sama lo. Jangan melakukan banyak hal gila lagi kita semua sayang sama lo," ucap Nadine dengan sangat lirih. Leo POV Off. Raihan POV On. Mendengar semua penjelasan dari mereka semua membuat gue berpikir keras saat ini. Gue beneran merasa khawatir sama Lia saat ini, tapi di sisi lain jika Papi mengetahui semuanya gue yang akan menjadi orang pertama kena damprat sama Papi. Papi memang orang yang santai. Tapi, dia bener-bener sangat tegas dalam hal apapun. Gue bener-bener kecewa sama dia, tapi sampai kapanpun gue gak mau selalu terbawa di kehidupannya yang baru karena Papi dan gue sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Papi dengan kehidupannya yang baru dengan anak dan istrinya. Sedangkan gue saat ini tinggal dan hidup bersama Mami yang sedang sakit. Tidak ada yang tahu tentang keluarga gue sebenernya. Yang ada mereka hanya mengetahui kalau gue dan Papi tinggal berbeda rumah. Gue yang memilih tinggal sendiri dan sebagai anak yang kurang ajar sama orang tuanya karena tidak mau tinggal bersama mereka. Gue beneran gak habis pikir dengan apa yang terjadi hari ini. Banyak sekali teka-teki yang terjadi di balik ini semua. Gue kenapa sekarang lebih merasa Erina adalah Lia. Kenapa rasa itu begitu dominan yang gue rasakan saat ini. Bukannya gue gak percaya atau gimana dengan keadaan Lia adalah Erina. Jika Erina adalah Lia, kenapa dia tidak mengenali gue sama sekali. Gue terdiam mendengar apa yang di katakan oleh dokter. Sudah dua kali Lia mengucapkan nama Enan di setiap kalinya. Gue gatau apa yang terjadi saat ini. "Lia memanggil nama Enan? Apakah Enan gue? Atau Enan yang lain?" gumam gue. Gue beneran sangat bingung dengan ingin semua. "Saya harap yang namanya Enan bisa masuk terlebih dahulu. Karena kalau tidak masuk ke dalam justru keadaan Lia akan benar-benar sangat tidak meyakinkan," jelas dokter itu. "Saya yang bernama Enan dok," ucap gue mengajukan diri. Semua orang yang ada di sana menatap gue dengan tatapan yang sangat bingung. Karena selama ini mereka semua tidak pernah tahu tentang nama Enan selama gue berteman dengan mereka. Mereka saling menatap satu sama lain dengan sangat bingung. "Sebenarnya siapa yang namanya Enan? Kenapa nama Enan sangat dominan saat ini?" tanya Leo dengan bingung. "Gue memiliki nama kecil yang sama dengan nama yang di sebut oleh Lia. Jadi, lebih baik gue masuk ke dalam dulu untuk memastikan keadaan Lia untuk baik-baik saja." "Bener apa yang Raihan katakan. Siapa tahu dengan adanya dia masuk ke dalam Lia bisa lebih tenang dari sebelumnya," ucap Fajar. "Bener banget sama apa yang di omongin sama Fajar," bela Nadine. Raihan POV Off.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN