Raihan?

1826 Kata
Melihat orang yang lo sayang terbujur lemah di atas kasur membuat gue sadar kalau gue udah salah dan bahkan gue gak bisa menjaga dia dengan sangat baik. Gue merasa bersalah dan hanya bisa menyesali apa yang telah gue buat. -Athena Leo Saputra. Leo POV On. Gue dan Fajar langsung saling tatap dan melihat jelas kesedihan yang ada di mimik wajah Nadine. Bagi gue itu sangat wajar sekali Nadine menangis menatap Lia seperti itu. Fajar mendekat ke arah Nadine dan mengelus pundaknya dengan sangat pelan. "Jangan kayak gini, dia gak kenapa-kenapa. Sekarang kita duduk dulu sambil istirahat bentar lagi yang lain juga dateng. Udah gak usah di sesalin lo gak salah," ucap Fajar sambil menuntun Nadine untuk duduk di bangku tunggu. "Kenapa semua ini terjadi sama Lia? Kenapa gue gak bisa jagain dia dengan baik? Kenapa semuanya berjalan seperti ini?" tanya Nadine dengan sangat lirih. "Semuanya akan indah pada waktunya, tugas kita saat ini adalah fokus dalam sebuah hal yang memang harus di fokuskan. Gue gak bilang kalau lo harus mengenyampingkan apapun, yang jelas jika memang lo udah merasa lelah saat ini hanya menangis sebagai jawabannya," ujar Fajar dengan lembut. "Gue beneran masih gak nyangka dengan apa yang terjadi saat ini. Karena ini sangatlah cepat bagi gue pribadi. Lia orang baik, dia gak pantes dapetin ini semua," gumam Nadine dengan lirih. Fajar hanya mengelus pundaknya dengan pelan dan mencoba menguatkan Nadine saat ini. Gue yang melihat interaksi keduanya hanya terdiam dan mengabaikan mereka semua. Tak lama terdengar suara gaduh dari depan lift dan jalan cepat ke arah kami. Suara itu semakin mendekat dan semakin jelas. Terlihat sosok wanita paruh baya, seorang laki-laki yang sedikit dewasa dan teman-teman dari Lia. Mereka berjalan mendekat ke arah kami dengan sangat buru-buru. "Bagaimana keadaan Lia?" tanya Nazla dengan heboh. "Gak usah khawatir Naz dia udah gak papa. Tante," panggil Nadine dengan sangat ramah. Gue langsung menatap Nadine dengan tatapan yang tak percaya. Ternyata orang yang ada di depan gue saat ini adalah orang tua dari Lia. "Lia beneran gak papakan? Gimana ini bisa terjadi Nadine?" tanya wanita paruh baya itu. "Lia beneran gak papa. Nanti Tante bisa masuk ke dalam ko," ucap Nadine dengan sangat lembut. "Jelasin Nadine?" tanya seorang wanita paruh baya dengan sangat tegas. "Ini insiden di sekolah Tante, Lia mendapatkan sebuah pembullyan. Mangkanya ini semua bisa terjadi." "Siapa yang melakukannya?" tanya wanita itu dengan sangat tegas. "Ada teman kami." Gue dan Fajar yang merasa mereka semakin panas mendekat ke arah Ibunda Lia dan menyalaminya dengan ramah. "Tante, Kak," sapa gue dan Fajar secara bersamaan. "Tante ini Fajar dan Leo, mereka yang menolong Lia tadi bersama Nadine. Ada satu orang lagi di dalam yang menolong Lia, dia juga yang paling khawatir smas keadaan Lia saat ini. Orangnya lagi di dalam namanya Raihan. Nanti Tante bisa kenalan langsung sama dia," ujar Nadine sambil memperkenalkan gue dengan Ibunda dari Lia. "Halo, terima kasih ya Nak udah mau nolong Lia. Tante beneran gak tau kalau Lia mengalami hal yang seperti ini. Ini di luar dugaan Tante," ucap Mama Lia dengan sangat lirih. "Iya Tante, sama-sama. Dwi Mama mau nemuin Lia," pinta Mama Lia dengan sangat lembut. "Tadi, kamu bilang Raihan? Raihan itu siapa?" tanya Mamanya Lia dengan sangat bingung. "Dia adalah salah satu teman kami juga Tante di sekolah. Nanti juga Tante akan tahu semuanya," jelas Nadine. "Kenapa namanya gak asing?" tanya Mas Dwi dengan sangat pelan. "Iya, Mas?" tanya Nadine dengan bingung. "Eh, engga ko. Hanya berpikir aja tadi masalah di kantor," jawab Mas Dwi dengan sangat gelagapan. Mamanya Lia menatap anaknya yang berada di sampingnya dengan dalam. Saat ini gue bisa melihat bagaimana rasa khawatirnya seorang Ibu ketika mendengar apa yang terjadi pada anaknya. "Dwi, Mama mau ketemu sama Lia sekarang. Mama mau masuk ke dalam," pintanya dengan sangat lirih. Gue dan yang lainnya saling menatap satu sama lain dan terdiam karena kami semua bingung ingin menjawab apa. "Mama sabar ya, nanti kita masuk tunggu yang di dalam keluar dulu. Gak boleh begini, Lia gak apa-apa dia gadis yang kuat. Dwi tau ko kalau anak kecil kesayangan Dwi beneran sangat kuat," ucap Kakak yang bernama Dwi itu. "Tante maaf kita gak bisa bolehin masuk dulu karena kapasitasnya boleh masuk satu aja kata dokter tadi. Mangkanya ada seseorang yang dia selalu sebut namanya di suruh masuk duluan," jawab gue dengan sopan. "Siapa yang di panggil oleh Lia?" tanya Mamanya Lia dengan bingung. "Yang di panggil oleh Lia adalah Enan, dia selalu bergumam nama itu saja. Nah, kebetulan nama teman kami sama seperti nama yang di panggil oleh Lia mangkanya dia masuk duluan." "Enan?" gumam mereka berdua membuat kami semua mengernyitkan dahi dengan bingung apa yang terjadi. Tiba-tiba sebuah pemikiran masuk ke dalam otak gue mengenai siapa sebenarnya Enan ini? Kenapa dia selalu di panggil oleh Lia dan membuat bingung semau orang saat ini? Otak gue terus berputar untuk menerka-nerka apa yang terjadi saat ini. Leo POV Off. Author POV On. Leo terus menatap interaksi antara Ibu dan anak itu dengan sangat intens. Tante Vanya dan Mas Dwi saling bertanya satu sama lain saat ini membuat keduanya berdiam diri dan saling menatap satu sama lain. "Tante sama Kakaknya bisa duduk dulu," ucap Leo dengan sangat ramah. Mendengar apa yang gue katakan mereka langsung tersadar dari tatapan mereka masing-masing sehingga membuat semua orang yang berada di sana saling tatapan dengan bingung. Leo bangkit dari duduknya dan memilih untuk berdiri. Ia membiarkan mereka berdua duduk di bangku tunggu itu. Tante Vanya menggenggam tangan kak Dwi dengan sangat erat. Ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan gadis kecilnya. Ceklek! Suara pintu kamar inap Lia terbuka menampilkan Raihan yang baru saja keluar dengan mata yang memerah. Mendengar suara pintu terbuka, Tante Vanya dengan Kak Dwi langsung bangkit dari tempat duduknya dan hendak masuk ke dalam ruangan Lia. Kak Dwi, Tante Vanya, dan Raihan menghentikan langkah mereka semua dan saling menatap satu sama lain. Kak Dwi menatap Raihan dengan tatapan yang tidak percaya. Tubuh Tante Vanya langsung melemas melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. "Mama," panggil Raihan dengan lirih. Mendengar panggilan itu Tante Vanya menutup mulutnya tak percaya. Ia benar-benar menatap Raihan dari atas sampai bawah tanpa terlewatkan sedetikpun. Raihan berjalan mendekat ke arah mereka dan langsung memeluk Tante Vanya dengan sangat erat. "Aku beneran gak percaya bisa ketemu Mama di sini. Mama, I miss you so bad. Aku beneran kangen mama," ucap Raihan di dalam pelukan Tante Vanya dengan sangat erat. Tante Vanya menitihkan air matanya dan membalas pelukan Raihan dengan sangat erat. Mereka saling menyalurkan kerinduan satu sama lain. Kak Dwi yang melihat kejadian itu hanya tersenyum kecil dan menahan air matanya. "Ma, masuk dulu ke dalam ya. Erin butuh mama juga, di sini bukan Enan doang yang rindu Mama," ucap Kak Dwi menengahi semuanya. Tante Vanya langsung melepaskan pelukannya kepada Raihan dan menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam. "Mama masuk ke dalam dulu ya nak, kamu punya hutang penjelasan sama Mama sekarang ini. Mama gak mau tau semuanya harus jelas," ucap Tante Vanya dengan sangat menuntut. "Enan pasti cerita semuanya sama Mama, sekarang Mama ke dalam dulu," ucap Raihan dengan sangat lembut. Raihan merangkul pundak Tante Vanya dan mengantarkannya ke dalam ruangan Lia. Semua orang yang melihat interaksi mereka bertiga saling menatap dengan bingung antara satu sama lain. "Lo gak masuk Kak?" tanya Raihan dengan sangat lembut. "Gak, gue butuh penjelasan lo. Erin ada Mama, gue bisa lepas dia untuk sebentar. Sekarang jawab pertanyaan gue," ucap Kak Dwi dengan nada dinginnya. "Selagi gue bisa jawab maka akan gue jawab dengan baik," ucap Raihan dengan santai. "Lo tau dia Erin?" tanya Kak Dwi. "Bahkan gue taunya pas dia manggil nama gue tadi. Di saat dia gak sadar dia memanggil nama gue dengan lirih. Gue berpikir kalau teman dia sama namanya dengan nama panggilan gue tapi, ternyata dia beneran Erin," jawab Raihan. "Kemana aja lo selama ini?" tanya Kak Dwi dengan dingin. "Apa lo butuh jawaban gue kak?" tanya balik Raihan. "Gue tanya gak usah lo malahan tanya gue balik. Jawab!" ucap Kak Dwi dengan tegas. "Lo beneran gak berubah," ucap Raihan dengan singkat. "Gak usah banyak alasan, gue tanya kemana aja lo selama ini?" tanya Kak Dwi dengan tegas. "Gue ada di sini, kalian yang pergi dari kehidupan gue. Bukan gue yang pergi," jawab Raihan dengan santai. "Lo yang pergi, bukan kami. Kami ada di sini terus," ucap Kak Dwi membela diri. "Kemana kakak selama ini? Kalau kalian semua gak pergi gak mungkin gue gak tau muka Erin dong? Oleh, gue gak permasalahin itu. Tapi, yang akan gue tanya adalah kemana lo selama ini? Kenapa Erin selalu sendirian? Kalau selama ini gue lihat Erin, eh salah maksud gue Lia selalu datang sekolah sendiri. Bukannya selama ini gue taunya Lia anak bungsu yang di manja ya? Kenapa sekarang selalu berangkat sendiri menggunakan bis kadang?" tanya Raihan dengan singkat. "Maksudnya? Erin gak pernah pergi menggunakan bis," bantah Kak Dwi. "Maaf kak, tapi gue tau apa yang di lakukan Erin. Gue selalu melihat dia di halte bis," ucap Raihan dengan santai. "Lo tau dari mana? Bukannya selama ini lo gatau kalau Lia adalah Erina? Apa lo selalu mengikuti dia?" tanya Mas Dwi dengan dingin. "Gue tahu semuanya. Gue selama ini merasa nyaman sama Lia sama seperti gue bersama Erina. Kalau lo tanya gue mengikuti Erina maka jawabannya adalah Iya. Gue selalu mengikuti dia dari belakang selama ini. Karena rasa nyaman itu yang buat gue gak mau dia kenapa-kenapa nantinya," jelas Raihan. "Kenapa bisa lo memutuskan untuk melakukan itu semua? Erina tahu tentang ini?" tanya Mas Dwi. "Engga ada yang tahu karena selama ini beneran gue selalu diam jika memang dia mirip sama sahabat gue. Gue beneran gak pernah yang namanya membicarakan apapun tentang Erina pada mereka. Yang mereka tahu gue hanya mencari sahabat gue, tapi mereka gak tahu kalau itu Erina." "Yang menjadi pertanyaan gue adalah kenapa dia bisa naik bis? Kenapa gak di anterin aja ke sekolahnya? Bukannya lo punya supir pribadi buat anter jemput Erina? Kenapa malahan seperti ini?" tanya Raihan dengan sangat kesal. "Gue beneran punya supir pribadi buat Erina. Gue selama ini menggajinya. Gak main-main gue selalu kasih dia fasilitas. Kenapa malahan seperti ini." "Kurangnya kepedulian lo yang buat seperti ini. Lo selalu sibuk, lo selalu gak peduli, lo selalu mengabaikan apa yang dia inginkan. Gue selalu melihat dia menangis, gue selalu melihat dia bersedih, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia beneran kangen sama kehangatan kalian," jelas Raihan. "Lo gak pernah tahu apa-apa jadinya lebih baik lo diam saja saat ini. Gak usah ikut campur dan gak usah sok peduli lagi sama Erina. Lo aja udah jelas gak pernah temuin dia, gak pernah ada buat dia, gak pernah selalu ada dalam hal apapun." "Jadi, lo beneran gak berhak mengatur gue dan keluarga gue dalam hal Erina," sarkas Mas Dwi. Raihan yang mendengar sarkasan itu hanya tersenyum kecil dan menatap Mas Dwi dengan tatapan yang meremehkan. "Lo bisa bilang begitu? Bukannya selama ini lo yang menyembunyikan semua identitas dari Lia? Bahkan kalian semua mengganti panggilan dia menjadi Lia bukan Erina lagi saat ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN