Melihat orang yang kita sayang menderita itu sangatlah menyakitkan. Banyak hal yang kita harus sadari bahwasannya semua orang memiliki perasaan yang berbeda-beda dan kekuatan yang berbeda-beda. Pahamilah itu semua.
-Raihan Adnan Reifiansyah.
"Bukan urusan lo itu semua," jawab Mas Dwi dengan sangat datar.
"Baik lagi ke pertanyaan tadi. Kenapa bisa Lia pakai bis ke sekolah padahal lo beneran udah fasilitasin dia beneran lengkap?" tanya Raihan dengan sangat datar.
"Gue beneran gatau apa-apa, gue juga gak tau kalau dia pakai bis selama ini. Jangan menyalahkan gue terus" jawab Mas Dwi dengan sangat datar.
"Selama ini yang seharusnya tau dia menggunakan transportasi apa ke sekolah seharusnya lo, kenapa sekarang lo gatau kalau dia menggunakan bis?" tanya Raihan dengan datar.
"Gue sibuk," jawab Kak Dwi.
"Sesibuk apapun lo, lo gak boleh melupakan adik kandung lo sendiri. Lo suka hidup sendiri? Lo senang hidup tanpa saudara?" tanya Raihan dengan sangat lembut.
"Gue sayang sama Lia jangan lo pikir gue gak peduli dan gak sayang sama Lia," jawab Mas Dwi.
"Kalau lo beneran sayang, Lia gak akan selalu menangisi apa yang tidak seharusnya dia tangisi saat ini. Gue tau ko apa yang dia rasakan karena gue merasakan apa yang dia rasakan," ucap Raihan.
"Gue tahu itu semua, tapi kalau kita gak ada uang mau makan pakai apa? Kenapa lo gak paham juga dengan masalah utamanya? Ini masalah uang dan makan," jelas Mas Dwi dengan sangat kesal.
"Makan bisa di cari, tapi keselamatan adik lo gak bisa di ulang kembali. Dia cewe kalau ada apa-apa sama dia di jalan lo mau tanggung jawab? Lo mau lihat dia menderita seumur hidup? Keterlaluan lo sekarang ini Mas," ungkap Raihan.
"Gue beneran sibuk cari uang demi kebahagiaan Lia saat ini," bantah Mas Dwi.
"Lo mau tahu apa yang menjadi kebahagiaan kami selama ini? Keluarga! Keluarga yang buat kami beneran bahagia, keluarga yang selalu membuat kami tersenyum selama ini. Kalau bukan karena keluarga kami gak akan seperti ini. Sudahlah lo gak akan merasakan yang namanya kesepian karena lo egois," cecar Raihan.
"Sekarang jelasin sama gue kenapa lo bisa bilang gue egois? Padahal tanpa uang kita gak akan bisa makan enak, gak akan hidup enak dan masih banyak lagi. Kalian yang egois kalau seperti ini terus," cecar Mas Dwi.
"Lo salah, kami gak butuh uang yang terlalu berlimpah kalau gak punya keluarga. Kami kesepian, kami butuh keluarga, kami butuh kasih sayang. Jangan berpikir kalau uang adalah segalanya. Jangan mikir kalau semuanya bisa di beli pakai uang."
"Memang kenyataannya sekarang apa-apa yang," jelas Mas Dwi.
"Ya memang, tapi kasih sayang gak bisa di beli pakai uang! Begitu pula dengan perhatian. Lo sadar gak sih kalau selama ini kurangnya perhatian kalian ke Lia itu membuat dia merasa gak bahagia? Kalian sadar gak untuk hal itu?" tanya Raihan dengan sedikit meninggi.
"Bahkan lo sendiri aja gak bisa ngomong apa-apa tentang ini semua. Lo beneran keterlaluan gak sih? Coba renungkan sekarang bagaimana perasaan lo ketika lo sendirian di rumah padahal lo lagi butuh perhatian dan support sistem dari keluarga lo. Coba lo sedikit aja bayangin jadi gue dan Lia, please jangan menilai kalau uang adalah segalanya Mas," jelas Raihan dengan lirih.
Mas Dwi yang mendengar apa yang Raihan katakan langsung terdiam dan merenungkan apa yang telah di katakannya.
"Cukup gue yang merasa hancur karena kesendirian, Lia jangan. Sudah waktunya lo harus kasih kesenggangan waktu untuk Lia, temani Lia dalam hal apapun minimal seminggu sekali ajak dia jalan. Dengan adanya lo ajak jalan dia merasa kalau lo itu beneran sayang sama dia," jelas Raihan dengan pelan.
"Gue udah merasakan semuanya dan rasanya sangat sakit. Kita merasa kalau kita gak di anggap dan gak di butuhkan oleh keluarga kita sendiri. Apalagi kalian tidak pernah mengekspos tentang Lia selama ini. Kalian hanya berdiam diri di zona nyaman saja."
"Orang banyak yang tahu kalau Lia hidup sebatang kara di sini. Padahal kenyataannya adalah Lia adalah seorang anak yang memiliki keluarga yang lengkap. Jaga keluarga lo baik-baik saat ini, jangan sia-siakan apa yang lo punya."
"Pesan gue cuma satu sama lo, jaga keluarga lo untuk tetap utuh. Karena jika lo gak bisa jaga keluarga lo tetap utuh maka lo akan berhasib sama seperti gue. Jangan buat kehancuran itu Mas pada keluarga kalian," ungkap Raihan lagi.
Mas Dwi yang mendengar semua perkataan dari Raihan diam seribu bahasa dan menatapnya dengan sangat dalam. Banyak rasa sakit yang dia sembunyikan di balik senyuman manis dan muka datarnya saat ini. Semua senyuman hanya sebuah topeng belaka yang menutupinya.
"Jadi, hubungan lo sama bokap?" tanya Mas Dwi dengan menatap Raihan tidak percaya.
"Hubungan gue masih sama dan tidak berubah sama sekali. Seandainya gue tau kalau dia Erin, gue akan bahagian dia. Kenapa harus sekarang gue tau dia Erin?" ucap Raihan dengan sangat lirih.
"Maaf gue gak nyari lo selama ini. Gue juga gatau kalau lo ada di sini Enan," ucap Mas Dwi mulai melemah.
"Thanks udah mau jujur, setidaknya gue tau sekuat apapun gue mencari Erin kalau udah sampai waktu gue ketemu maka gue akan menemukan dia. Dan sekarang terbukti Erin sendiri yang manggil gue di dalam alam bawah sadarnya," ucap Raihan dengan santai.
"Dia sayang sama lo, gue perhatiin dia selalu menatap langit kalau malam. Dia sedu teh, ambil novel kesayangan dia dan duduk di depan balkon. Lo paham kalau angin malam gak baik untuk cewe, tapi dia selalu melakukan itu agar semua rasa rindu dia ke lo bisa berkurang."
"Kenapa Erin gak bisa inget gue?" tanya Raihan dengan singkat.
"Erin inget sama muka kecil lo. Lo udah dewasa jadi dia gak paham dengan lo. Lo kapan pindah ke sini?" tanya Mas Dwi.
"Gue udah lama. Cuma Erin baru liat gue akhir-akhir ini bareng sama Leo dan yang lainnya. Itu yang bisa buat dia gak paham sama apa yang terjadi juga. Temenan sama Leo dan yang lainnya dari SMP Lia itu, sedangkan gue gak sama mereka pada SMP. Gue sibuk di Australia," jawab Raihan dengan sangat santai.
"Gue sudah menangkap garis besar semuanya. Tapi, gue gatau itu ada masalah apa yang terjadi. Lo bisa cerita sama gue kalau lo sanggup," tawar Mas Dwi.
"Gue akan cerita dan pulang ke rumah. Mama akan selalu meluk gue Mas, lo gak usah khawatir tentang gue. Jika suatu saat nanti gue gak ada juga papi gue sendiri juga gak akan nyariin kemana anaknya pergi," ucap Raihan.
"Gak boleh ngomong gitu, dia sayang sama lo," ucap Mas Dwi.
"Gak usah di bahas," ucap Raihan dengan tegas.
Semua orang yang berada di sana hanya mengernyitkan dahi mereka dengan sangat bingung melihat interaksi antara Mas Dwi dan Raihan. Ini adalah kali pertama mereka semua melihat interaksi Raihan sampai seperti ini. Raihan yang marah tapi menahan rasa kecewanya dan masih banyak lagi.
"Gue masuk ke dalem dulu. Mama butuh gue di sampingnya. Gue tinggal ya," pamit Mas Dwi.
Raihan dan yang lainnya hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan membiarkan Kak Dwi masuk ke dalam ruang rawat Lia. Raihan mengusap wajahnya dengan sangat kasar dan menutup matanya dengan pelan.
"Apa yang terjadi?" tanya Leo dengan sangat dingin.
"Pikirin cewe yang suka sama lo itu. Kasih tau dia kalau Lia gak ada hubungannya dengan penolakan lo ke dia. Leo, gue tau lo sayang sama Lia, tapi gue lebih sayang sama dia karena dia udah gue anggap adik gue sendiri. Please, tolong banget ini lo jaga jarak sama dia untuk sementara waktu dulu."
"Apa maksud lo bilang jaga jarak sama Lia? Lo mau nikung gue beneran Raihan? Lo beneran keterlaluan!" ujar Leo sedikit meninggi.
"Gue udah anggap dia adik gue. Jangan melebih-lebihkan saat ini Leo. Diam jika memang gak tahu apa-apa. Jangan marah terus dengerin penjelasan gue sampai selesai. Baru kalau udah selesai lo mau marah atau apapun lo bisa ungkapin semuanya," jelas Raihan dengan sangat santai.
"Lia sangat trauma akhir-akhir ini. Dia beneran gak sanggup melihat dunia luar untuk sementara waktu. Tugas kita sebagai teman dan sahabatnya adalah membantu dia untuk mendukung dan membuatnya sembuh dari semua itu."
"Evelyn telah menambah trauma masa lalunya saat ini. Lia punya trauma akan gelap tapi Evelyn menaruhnya di tempat gelap dan menyiksanya saat itu."
"Kenapa traumanya bisa sangat parah banget? Apakah Lia pernah mengalami trauma berat?" tanya Nadine.
"Lia pernah di culik dan ada masalah yang gak bisa gue jelasin sama kalian semua. Dari situ dia trauma dengan orang-orang asing yang ada. Namun, seiring berjalannya waktu dia bisa bangkit dari semua itu. Tapi, hari ini semuanya kembali seperti semula. Kita akan mendukung dia lagi dari awal dan membangkitkan semuanya dari nol lagi," jelas Raihan.
"Kenapa lo gak mau ngasih tau kita semua tentang yang di alami oleh Lia?" tanya Leo dengan nada tak suka.
"Gue gak punya hak dalam membicarakan sebuah peristiwa yang di alami oleh orang lain. Gue gak mau dia benci sama gue karena hal itu. Kebahagiaan Lia adalah yang terpenting saat ini, bukan latar belakang yang menjadi yang utama untuk di bahas. Kalau mau bahas latar belakang sama saja kita mengucapkan sebuah aib orang yang kita sayang," jelas Raihan.
"Maaf gue bukan nikung lo, tapi rasa sayang gue ke Lia sudah dari kita masih kecil. Gue sama Dwi sampai kapanpun akan tetep jadi kakak dari Lia. Kalau lo mau sama Lia, Lo harus minta izin sama Dwi dulu. Karena Dwi gak akan mudah merestui seseorang," lanjutnya.
Leo yang mendengar penjelasan Raihan hanya mengepalkan tangannya dengan sangat kuat dan menatap Raihan dengan tatapan yang sangat tajam. "Bilang aja kalau lo cinta sama Lia," tuding Leo dengan sangat keras.
"Gue gak cinta sama Lia, dia hanya adik gue. Gue kasih tau lo supaya lo gak kaget kalau ketemu sama Dwi. Lo liat sikap dia tadi? Dia kayak gitu kalau sama gue atau sama orang yang benar-benar melakukan kesalahan. Jika dia bersama orang yang benar-benar tidak memiliki masalah maka dia akan menerima semuanya dengan baik."
"Maksudnya lo ngomong gini sama gue apa? Gue tau lo punya rasa sama Lia mangkanya lo selalu cari tahu tentang dia. Lo selalu pulang terakhir setelah kelas Lia pulang dan masih banyak lagi. Gue diam bukan berarti gue gak tau apa-apa Raihan," tuding Leo.
"Leo! Tenangin ego lo sekarang ini. Raihan udah jelasin semuanya, gue tau lo sayang sama Lia tapi please persahabatan kita lebih berarti. Gue tau lo banyak pertanyaan sama Raihan. Coba pikirkan perasaan Raihan juga, dia juga sama kagetnya sama kita semua."
Raihan hanya menghembuskan nafas dengan kasar dan meninggalkan mereka semua. Leo hanya menatap punggung Raihan dengan sangat datar dan membiarkan dia pergi saat ini.
"Lo liat? Liat dia beneran pergi dari sini. Kita semua gatau apa yang terjadi di antara mereka semua. Kita juga gatau apa yang mereka semua lakukan dan masih banyak lagi. Kita hanya bisa menunggu jawaban itu semua dari Lia. Kita lihat semuanya secara langsung jangan kayak gini," jelas Fajar menengahi semuanya.
"Gue setuju sama apa yang di bilang sama Fajar. Kalau kita semua harus menurunkan ego masing-masing. Kita gatau apa yang di alami oleh Raihan dan yang lainnya. Bahkan kita juga gatau apa yang sebenarnya terjadi, apa yang terjadi di sebelumnya. Jangan terbawa emosi, lo boleh cemburu tapi jangan berlebihan. Gue gak masalah lo mau punya perasaan yang seberapa besar sama sahabat gue itu bukan urusan gue. Lia lebih penting saat ini di bandingkan yang lainnya," jelas Nadine.