Sebuah Teka-teki yang sangat sulit di pecahkan akan menjadi sebuah tanda tanya besar di hadapan banyak orang. Mungkin belum banyak yang menyadari tentang banyak hal singkat atau kode dari sekitarnya. Jangan salah meskipun banyak yang tidak peduli justru ada beberapa orang yang paham dan peduli tanpa ngomong banyak hal sama kalian.
-Raihan Adnan Reifiansyah.
"Bener apa yang di katakan oleh Nadine, setidaknya kita bisa tahu apa yang seharusnya kita lakukan saat ini. Bukan waktunya kita lagi untuk melakukan hal-hal seperti ini. Gue sadar kalau mereka juga kurang terbuka sama kita semua tentang apa yang mereka rasakan. Mangkanya kita semua gatau apa-apa tentang mereka," timpal Nazla.
"Gak semua orang bisa terbuka dan bisa mengungkapkan semuanya kepada orang yang berada di sekitarnya. Gue juga terkadang gak bisa ko mengungkapkan apa yang gue rasakan ke orang lain, jadi jangan pernah memukul rata semua orang."
"Benar itu, kalau lo memukul rata semua orang itu gak baik. Karena semua orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita gatau kalau nantinya bisa saja Raihan bisa melakukan hal yang lebih dari lo dan sebagainya. Jadi, stop buat memukul rata dalam menilai perilaku orang."
"Kalian gak tau apa-apa tentang ini lebih baik diam saja," ucap Leo dengan dingin.
"Lo berarti beneran egois saat ini Leo. Kalau memang Lia punya perasaan sama lo, seharusnya nama yang pertama dia panggil adalah nama lo bukan namanya Raihan. Jika memang lo yang dia cintai setidaknya dia juga menyebutkan nama lo setelah nama Raihan. Tapi, see? Lia sama sekali gak manggil nama lo sama sekali."
"Hanya kebetulan saja itu. Karena gue yakin kalau Lia juga punya perasaan yang sama kayak gue," bantah Leo dengan sangat tegas.
"Jika memang dia memiliki perasaan yang sama seperti lo, dia gak akan risih ketika lo deketin. Tapi, selama ini dari sorot mata dia yang selama ini gue perhatiin itu sangat risih dengan sikap lo. Mungkin semua orang akan bahagia jika di perlakukan sama seperti Lia kalau bersama lo."
"Tapi, itu semua beneran gak berlaku bagi Lia. Lia beneran setia sama seseorang. Gue juga pernah natap sorot mata dia pas melihat Raihan pertama kalinya. Dan itu tatapan kasih sayang dan tatapan kerinduan yang selama ini dia pancarkan."
"Benar apa yang Nazla katakan, bahkan Lia saja banyak menghindari lo selama ini. Kalau logikanya dia memiliki perasaan yang sama pasti dia akan meladeni semua yang lo lakukan. Dia juga akan selalu memahami lo saat ini. Bisa saja doa selalu nempel sama lo dan cari perhatian juga. Tapi, semuanya berbanding terbalik."
"Dari yang gue tangkap dari omongan mereka semua adalah bahwa Raihan adalah orang yang Lia cari selama ini. Gue gak mau menjatuhkan mental lo apa gimana ya Leo, setahu gue Lia selalu menutup hatinya untuk semua laki-laki yang ada di sekitarnya. Jangankan lagi sama lo sama Renan sama Revan yang kakak sepupunya aja dia jauh," ucap Reni.
"Jauh? Bukannya mereka sangat dekat ya? Gue pernah mergokin mereka jalan bareng di salah satu mall kemarin," ucap Leo dengan tidak percaya.
"Itulah, lo taunya dia deket sama yang lain tanpa tau apa yang terjadi pada mereka di dalamnya. Jika memang kalau lo gamau dengerin apa yang dia katakan cukup lo cari tahu sendiri tentang semuanya sebelum terlambat. Gue yakin kalau Raihan itu bener," bela Sinta.
"Begini ya, kalau dari sudut pandang gue. Sepupunya Lia aja jarang yang namanya deket sama dia apalagi cowo yang notabennya asing bukan siapa-siapa dia," jelas Nisa.
Leo hanya menundukkan kepalanya dengan pelan dan menghembuskan nafas dengan kasar. "Lebih baik kita memikirkan gimana caranya untuk Lia gak ada masalah sama Raihan," ucap Fajar dengan sangat lembut.
"Bukan urusan kita lagi untuk itu. Gue gak mau ya kalau gue ikutan kalau untuk masalah ini. Seharusnya dia lebih bisa dewasa lagi dalam melakukan sesuatu atau membuat keputusan," ucap Leo dengan santai.
"Jangan egois dan jangan pernah mau menang sendiri. Karena apa? Lo itu gak sendirian di dunia ini. Banyak yang selalu membantu lo saat ini. Jika memang lo malahan begini Raihan akan pergi secara perlahan dari kita semua," jelas Fajar dengan sangat kesal.
"Dia yang mulai semuanya jadi gue gak masalah kalau memang harus menjauhi mereka berdua. Gue ingin membahagiakan Lia udah itu aja bukan yang lain," ucap Leo.
"Terserah, gue gak nyangka ternyata lo beneran egois. Cinta beneran udah buat lo buta dan buat lo lupa tentang pertemanan kita sekarang ini. Sekarang terserah sama lo," jawab Fajar dengan sangat datar.
Tak lama kemudian Mas Dwi dan Tante Vanya keluar dari ruangan Lia yang ada di dalam. "Di mana Raihan?" tanya Tante Vanya dengan sangat bingung.
"Raihan tadi ada urusan ke depan dulu Tante. Mangkanya dia gak ada di sini sekarang," jawab Leo dengan sangat santun.
Tante Vanya menoleh ke arah Mas Dwi. "Dwi kamu telpon Enan terus kamu bawa dia tinggal di rumah. Mama udah tau semuanya," ucap Tante Vanya.
"Mama harus jelasin semuanya sama Dwi apa yang terjadi. Aku gak mau jadi orang paling bodoh yang gak tau apa-apa tentang mereka semua. Sudah cukup kemarin Dwi gak tau tentang Erin," ucap Mas Dwi.
"Itu hak kamu, Mama gak pernah melarang atau memaksa kamu dalam melakukan semua itu. Kamu yang gila kerja sampai kamu lupa tentang adik kamu sendiri. Sekarang Mama gak mau tau, tanggung jawab kamu menjaga Erin sama Enan. Kalau kamu memang gak bisa jangan bilang kamu anak Mama," ucap Tante Vanya.
"Iya, nanti Dwi hubungi Enan. Sekarang kita tunggu aja dulu nanti juga dia balik lagi ko ke sini," jawab Mas Dwi dengan pasrah.
Semua orang menatap Tante Vanya dengan tatapan yang bingung. "Maaf Tante aku mau tanya, sebenarnya Raihan siapa kalian ya?" tanya Leo.
"Raihan sudah Tante anggap sebagai anak Tante sendiri. Soalnya orang tua Raihan itu adalah sahabat baik Tante. Sampai akhirnya seperti ini. Maaf ada masalah yang tidak bisa Tante ucapkan kenapa bisa seperti ini karena ini adalah masalah keluarga kami semua," jelas Tante Vanya.
"Dari kapan Raihan kenal dengan Lia, Tante?" tanya Leo lagi.
"Mereka mengenal satu sama lain dari saat mereka sangat balita. Mereka bermain bersama sampai dewasa. Raihan yang selalu menganggap Erin sebagai adiknya memiliki peran yang khusus di kehidupan Erina. Kamu menyukai Erin?" tanya Tante Vanya dengan to the point.
Leo langsung menegakkan badannya dan menatap Tante Vanya dengan sangat kaget. Fajar yang berada di sebelahnya juga merasa kaget dengan apa yang di katakan oleh Tante Vanya.
"What?!" seru teman-teman Lia dengan sangat heboh.
Tante Vanya hanya terkekeh kecil dan menatap Leo dengan sangat intens. "Jangan marah ke Raihan, dia gak kayak gitu ko orangnya. Tante tau banget tentang bagaimana Raihan itu setianya. Sekarang kalau kamu memang sayang sama Lia buktiin ke Tante atau Mas Dwi," tantang Tante Vanya.
"Kalau memang lo sayang sama adek gue, gue harap kejadian ini gak akan terulang lagi. Bilang sama semua fans lo untuk gak mengganggu adik gue lagi. Kalau itu beneran masih terjadi, mereka masih mengganggu Lia jangan harap mereka semua dan lo akan aman," ancam Mas Dwi.
"Iya Mas," jawab Leo.
Mas Dwi menatap Leo dengan tatapan yang tajam dan dingin. "Aku cabut dulu ada hal yang harus aku kerjakan saat ini," ucap Mas Dwi dengan wajah datarnya.
"Jangan lupa cari Enan dulu di bawah. Mama gamau ngomong sama kamu kalau amanah Mama gak kamu kasih tau ke Enan," ujar Tante Vanya dengan tegas.
"Iya Ma, jangan khawatir pasti aku kasih tau ko ke Raihannya. Mama jangan banyak pikiran, sekarang Mama harus jagain Erina aja pas aku berangkat kerja. Mama harus senyum terus ya," pinta Mas Dwi.
"Iya itu pasti Mama lakukan," jawab Tante Vanya.
"Yaudah, kalau gitu Dwi berangkat dulu sekarang. Jangan khawatir lagi ya," ujar Mas Dwi sambil menyalami Tante Vanya.
"Hati-hati di jalan," ucap Tante Vanya.
Mereka semua menatap kepergian Mas Dwi dengan senyuman di wajahnya. Tante Vanya juga kembali masuk ke dalam ruangan Lia untuk menjaga anak perempuannya itu. Fajar menghampiri Leo dan menatapnya dengan tajam.
"Gue harap lo beneran gak melakukan apapun nanti sama Raihan. Percaya aja sama dia sekarang, lo gak usah bantah apa yang gue katakan saat ini."
"Lo gatau apa-apa sekarang sama perasaan gue. Jadi, diam lebih baik dari pada berbicara yang tidak-tidak," jelas Leo dengan sangat dingin.
"Lo bahkan beneran gak berubah sama sekali. Lo beneran sangat egois saat ini. Bagaimanapun juga dia teman lo. Lo gak bisa melakukan yang di luar batas," jelas Fajar.
"Di luar batas? Gue sama sekali gak pernah ya melakukan hal apapun ke dia. Emang dasarnya kalian lebih sayang sama dia di bandingkan sama gue. Mangkanya kalian beneran bela dia seperti ini," ungkap Leo dengan sangat sinis.
"Lo emang beneran gak bisa bedain yang mana yang mana namanya sayang dan gak sayang. Masih aja mikir kalau gue selalu membedakan yang lainnya," cibir Fajar.
"Gue bisa membedakan semuanya. Mangkanya gue bisa berkata demikian. Selalu yang menang Raihan, Raihan, Raihan, dan Raihan. Mau apapun itu selalu Raihan yang utama. Baik di OSIS, di kelas, ataupun di mana saja selalu dia yang menang."
"Gue gatau lagi apa yang akan terjadi sama gue nantinya. Seharusnya dia gak boleh berada di dekat gue. Karena dia adalah salah satu orang dan penghalang gue untuk mendapatkan semuanya," jelas Leo.
"Leo! Jaga ucapan lo. Selama ini Raihan selalu membantu kita dalam hal apapun. Kita bersama karena kita saling mengerti satu sama lain, lo jangan ngomong seolah-olah dia selalu menghalangi jalan lo."
"Seharusnya lo sadar kalau selama ini yang menghalangi jalan Raihan adalah kota. Seharusnya dia sudah mendapatkan beasiswa ke Australia kemarin. Tapi, karena dia mikir berat banget meninggalkan kita, mangkanya gak dia ambil itu semua."
"Lo masih mau bilang dia penghalang? Lo masih mau dia beneran menjadi benalu di kita?" tanya Fajar dengan sangat tegas.
Leo terdiam dan menelaah apa yang Fajar katakan saat ini. Nadine dan teman-temannya hanya terdiam dan mengabaikan mereka yang sedang bertengkar saat ini.
"Gue hanya membicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika Raihan gak ada maka gue akan lebih di sayang," ujar Leo kekeh dengan pendapatnya.
Fajar menghela nafas dengan kesal dan menatapnya dengan datar. "Lo beneran gak tahu di untung saat ini. Lo gak bisa berterima kasih sedikit pun sama orang yang telah membantu lo. Lo gak akan menang jadi ketua OSIS kalau bukan Raihan."
"Maksudnya?" tanya Leo dengan tak terima.
"Memang itu kenyataannya. Raihan yang membantu semua keperluan lo dari segi bagaimana tata cara bicara dan masih banyak lagi. Bahkan visi misi saja lo masih konsultasi sama beliau. Lo masih mengelak kalau dia gak berarti apa-apa buat lo? Beneran keterlaluan tau gak sih," sarkas Fajar.
"Sudahlah Jar, lo beneran buat mood gue tambah jelek saat ini. Lo selalu membela Raihan. Udah sana lo sama dia aja jangan sama gue lagi," usir Leo.
Fajar menghela nafasnya dengan panjang dan mencoba meredam emosinya saat ini. Sikap teman-temannya semuanya sangat berbanding terbalik. Hanya harus dengan kesabaran ekstra dan menurunkan sedikit ego agar mereka bisa mengerti dengan apa yang kita katakan saat ini.
"Lo beneran ngusir gue? Kalau Kevin sama Rian juga tau ini lo beneran abis sama mereka Leo. Turunkan egois lo. Jangan seperti ini, buka mata lo, buka hati lo. Jangan melihat dari air yang berkeruh. Karena jika lo selalu melihat dari air yang berkeruh lo gak akan pernah bisa melihat apapun di dalamnya."