Sekolah

1149 Kata
Gue baru mengetahui arti kekeluargaan yang sebenarnya dari kalian. Kalian yang selalu mensupport satu sama lain, menghibur dan bahkan memiliki jadwal tidur bersama di dalam kelas. Gatau lagi gue harus bilang apa tapi yang jelas kalian terbaik. -Ophelia Erina Bintari. Pukul 07.00 Kring......kring....kring.... "Gila udah bel aja, mana ni kelas masih sepi lagi. Ini yang lain pada kemana?" keluh Nazla sambil melihat sekitar kelasnya tidak ada orang sama sekali. "Gak ada niatan hidup ini mah, sepi bener kelas ini hadeh. Pada ketiduran di rumah ini kayaknya," lanjut Nadin sambil mengeluarkan bukunya. "Dah sih, kalo sepi berarti gak belajar Ce. Kita bisa tidur kalau sepi mah, gurunya juga males ngajarnya. Apalagi ini hari pertama sekolah," timpal Sinta sambil tertawa kecil. "Dah tunggu aja paling juga rame bentar lagi mereka semua pada dateng," ucap Lia sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, semua anak-anak kelas masuk ke dalam ruangan secara berombongan membuat mereka kaget. "Assalamualaikum," ucap mereka serempak. "Wa'alaikumsalam, buset dah lorang ini ceritanya mau demo apa gimana? Gila, ko ramean jangan-jangan janjian ya mau datang telat?" tuduh Sinta. "Dih, gabut amat janjian. Ketemu di parkiran ini," jawab Vanesha. "Ya, nama nya juga ketemu di parkiran ya ramean lah masuk kelasnya Sin. Masa gak barengan," celetuk Danti. "Kan apa gua bilang Sin, bentar lagi juga nyampe diorang tuh gak usah ruwed lah. Udah fokus lagi sana lo," ucap Lia. "Dah, woi doa bentar lagi katanya Bu Ani mau masuk kelas. Duduk yang rapi," ucap Adiba. "Iya Dib," ucap mereka serempak. Mereka semua pun langsung berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Setelah selesai berdoa mereka semua pun langsung mengeluarkan mata pelajaran yang akan di pelajari hari ini. Tok....Tok...Tok..... Fenita pun langsung membuka pintu kelas gue dan menampilkan seorang cowo tinggi dan putih dengan tampang datarnya. "Ketua kelas nya mana?" tanya cowo itu dengan datar. "Ojannnnnn!" teriak Fenita memanggil Ojan dengan sangat menggelegar. "Ada apaan Fen?" tanya Ojan sambil menghampiri Fenita. "Ada yang nyariin lo tuh," ucap Fenita sambil meninggalkan Ojan dan laki-laki itu. "Itu siapa?" bisik gue ke Nazla. "Lo gak tau dia siapa Lia?" tanya Nazla heran. "Iya, gue gak tau dia siapa? Emang dia siapa lah ko bisa banyak anak-anak yang natap dia kek natap Kim Bong Do, cowo yang ada di drakor yang gue tonton. Kalau gak terkenal males ngeliatnya," ucap Lia santai. Nazla pun yang melihat tingkah Lia hanya bisa menepuk jidatnya dengan pelan. "Lo itu kudet apa gimana sih?" tanya Nazla. "Ya, lo tau sendiri gue gimana. Gue tipikal orang yang males untuk keluar kelas. Kalo keluar ya kalo ada urusan aja," ucap Lia santai. Nazla pun memutar bola matanya dengan malas. "Dia itu ketua OSIS di sini. Dia itu terkenal banget lah di sekolah ini dengan julukan cold boy. Dia salah satu cowo yang jarang banget deket sama cewe, tapi banyak cewe yang pingin di dekati sama dia. Dia juga deket sama Fajar, Leo, sama Kevin," jelas Nazla. "Oh. Gue gak pernah liat dia soalnya," jawab Lia santai. Nazla pun menatap Lia bingung. "Btw bukannya lo deket sama Fajar, Leo, sama Kevin ya? Di ig aja follow follback sama mereka. Ko bisa lo gatau sama Raihan? Kan lo terkenal juga di sekolah ini. Ko gatau?" tanya Nazla kepo. "Lo itu manusia terkepo yang pernah gue temuin. Gue kenal sama mereka bertiga dah lama lah. Gue bukan tipikal cewe yang suka kepoin temennya sendiri. Ngapain kepoin dia lebih baik gue kepoin Rian Ardianto, Fajar Alfian, Iqbaal Ramadhan, Sehun, Harry," ucap Lia santai. "Emang anak gila. Kalo misalnya lo kepoin diorang ya memang dasarnya lo tukang halu oncom. Dah lah tuh lo liat aja mukanya si Ojan dah sumringah berarti ada udang di balik rempeyek dah," ucap Nazla. Pletak! Satu jitakan mulus mendarat di kepala Nazla. Lia pun menggelengkan kepalanya melihat Nazla mengusap kepalanya dengan pelan. "Sakit Lia!" ringis Nazla. "Itu lah ngasal kalo ngomong. Di mana-mana itu udang di balik batu, lo mah ada udang di balik rempeyek sama aja pikiran lo makanan mulu!" jawab Lia santai. Nazla pun hanya memutar bola matanya dengan malas. "Kalo bukan temen dah gue takol daritadi lo," dumelnya dalam hati. Raihan pun keluar dari kelas Lia dengan muka datarnya. Ojan pun langsung berteriak agak seluruh anak anak di kelas Lia kumpul dan merapat. "Woi kumpul!" teriak Ojan. Semua orang yang berada di kelas Lia pun langsung duduk di tempatnya masing-masing. "Hari ini ibunya gak masuk. Kita cuma di kasih tugas dan ngerjain. Nanti siang di kumpul!" ucap Ojan. "Jan yang penting ngumpulkan?" tanya Renal. "Iya," jawab Ojan. "Alhamdulillah akhirnya bisa sleeping!" teriak Danu heboh. "Masih pagi Danu!" teriak Vania. "Heh, Danu malu-maluin aja. Kan kita punya jadwal sendiri untuk tidur bersama. Kenapa sekarang malah mau duluan?" ucap Raffy. "Ya kan lumayan Fy. Kalo misalnya selesai kerjaan kita sekarang. Nanti kita bisa tidur lebih lama lagi," ucap Danu santai. "Danu lo mah di otaknya tidur, makan, game. Itu itu mulu. Belajar Danu, udah mau lulus juga masih aja santuy!" teriak Ojan. "Jan, si Sinta aja yang rakyat santuy aja biasa aja. Kan gue belajar kayak dia. Hidup itu jangan di bawa serius banget nanti lo bisa stres Ojan," ucap Danu dengan nada dramatis. Semua orang pun tertawa melihat tingkah mereka berdua. "Udah woi kerjain nanti kan katanya pada mau tidur. Udah selesain dulu kerjaannya nanti kita tidur bersama. Inget perbanjar ya. Kita bisa bagi dua. Yang cewe sebelah kanan yang cowo sebelah kiri," teriak Raffy. "Oke!" ucap mereka semua. Lia dan teman-temannya pun mengerjakan tugas dengan tenang. Setelah selesai mereka semua mengumpulkan tugasnya ke meja guru. "Hari ini lo ikutan tidur?" tanya Nazla. "Gak lah, lagi gak ngantuk. Kalian aja dah gue yang bangunin kalo ada guru," ucap Lia dengan santai. "Oke. Gue ikut sama Sinta, Nadin, Nisa sama Reni deh. Katanya mereka mau tidur," ucap Nazla. "Oke," ucap Lia. Nazla pun langsung pergi ke belakang menemui Reni dan teman-temannya. Lia pun tersenyum simpul melihat kesolidaritasan teman temannya. Mereka itu terkenal dengan murid yang sombong, gak pernah kenal orang, gak pernah akur sama yang lain, biang onar dan masih banyak lagi. Tapi sebenarnya mereka adalah murid murid terbaik di sekolahnya. Kelasnya Lia selalu di kenal sebagai dengan orang-orang yang berprestasi. Mereka bisa memenangkan medali emas cerdas cermat tingkat nasional. Mereka bukan hanya bisa di bidang akademik melainkan di bidang non-akademik pun mereka hebat. Salah satunya Lia. Lia adalah seorang siswi peraih medali emas di kejuaraan Karya Ilmiah di tingkat Nasional. Lia sangat pandai dalam merakit roket air dan membuat karya tulis ilmiah. Bukan hanya karya ilmiah. Lia pun pandai dalam hal apapun, maka dari itu ia selalu di pandang murid teladan oleh teman temannya. "Lia lo gak tidur?" tanya Leni. "Engga, lo sendiri gak tidur Len?" tanya Lia. "Engga lagi males gue tidur. Ya, lo tau sendiri lah mood-moodan gue kalo tidur siang," jawab Leni. Lia pun tersenyum tipis dan mengangguk pelan mendengar jawaban Leni dan langsung memasang earphone ketelinganya dan membuka novelnya. Ia pun larut dalam cerita di buku novelnya tanpa mempedulikan di sekitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN