Semua orang heboh ketika melihat mereka berlima, sebenarnya mereka berlima siapa? Kenapa semua orang mengagung-agungkan nama mereka? Gue yang katanya terkenal aja masih biasa aja disini.
-Ophelia Erina Bintari.
Setelah bosan dengan cerita yang sedang di bacanya Lia pun langsung menutup ponselnya dan memasukkan nya ke dalam kantong seragamnya. Ojan pun menghampiri Lia dengan membawa bukunya.
"Lia," panggil Ojan dengan lembut.
"Iya Jan. Kenapa?" tanya Lia.
"Lo mau ngerjain tugasnya Bu Ani ya?" tanya Ojan basa-basi.
"Iyalah. Ngapa emangnya?" tanya Lia.
"Kerjain bareng yuk. Gue juga sekarang mau ngerjain tugasnya Bu Ani," ucap Ojan. Lia pun hanya mengangguk setuju mendengar jawaban Ojan.
"Tugasnya emang suruh ngapain?" tanya Lia sambil mengeluarkan bukunya.
"Kita di suruh ngerjain tentang Relasi sama Fungsi. Tuh soalnya," ucap Ojan sambil menyodorkan ponselnya.
Lia pun dengan segera mengambil ponsel Ojan dan melihat materi yang di berikan oleh Bu Ani.
"Relasi fungsi? Temen sama pacar dong," celetuk Lia.
"Ha? temen sama pacar apaan?" tanya Ojan dengan nada bingungnya.
"Temen itu ibarat relasi dan pacar itu ibarat fungsi. Kalo gue gak suka belajar kalo fokus dan monoton mangkanya gue punya julukan sendiri," jelas Lia. Ojan pun hanya mengangguk paham dengan ucapan Lia.
"Lo beneran suka sama matematika ya ternyata," ucap Ojan dengan sangat kagum dengan apa yang di sukai oleh Lia.
"Gue beneran gak seberapa ko sukanya sama matematika. Palingan juga gue baca ulang, terus coba-coba aja. Bukan berarti gue pakar ya sama apa yang gue kerjakan dan masih banyak lagi. Gue beneran suka aja kalau liat soal begitu," ucap Lia dengan senyuman manisnya.
"Gue bingung deh, ada ya cewe kayak lo. Selama ini kata banyak orang lo itu beneran orang yang jutek, orang yang sombong dan masih banyak lagi, padahal nyatanya beneran berbeda daripada aslinya," ucap Ojan dengan senyuman manisnya.
"Mereka banyak menilai orang dari luarnya aja. Gue ini biasa aja gak seperti apa yang kalian pikirkan. Mungkin kalau kalian lihat gue dari depan ya kalian pasti menilai gue banyak yang negatif. Gue juga gatau kenapa," jawab Lia dengan tertawa kecil.
"Hahahaha, Iya bener juga ya. Gue juga awalnya mikir kalau lo beneran sombong dan beneran gak suka berbaur. Tapi, makin kelamaan gue lihat lo itu beda. Meskipun muka lo sangar dan menakutkan tapi lo gak kayak gitu ko," ucap Ojan.
"Jangan menjudge seseorang dari depannya aja. Belum tentu apa yang kalian lihat di depan itu sama seperti yang di dalamnya. Sama seperti sebuah buku Don't judge a book by cover," jawab Lia.
"Lo selain matematika suka pelajaran apa?" tanya Ojan sambil memainkan ponselnya.
"Gue lebih suka baca buku yang kayak psikologi gitu sih. Gatau kenapa gue suka aja sama yang kayak gitu. Padahal mah gue ini orangnya bobrok," ucap Lia dengan tertawa kecil.
"Hahaha bisa aja lo. Lo itu pinter tau, gue bisa melihat dari bagaimana lo berbicara, bertingkah laku, dan sifat lo menunjukkan kalau lo itu benar-benar orang yang baik. Gue beneran deh gak nyangka kalau lo bisa sebobrok ini," ucap Ojan.
Lia hanya menggelengkan kepalanya dan mendengarkan apa yang temannya katakan. "Lo orang kesekian kalinya bilang kalau gue ini orang yang kayak gitu. Jan, gue ini orangnya ngikut arus. Kalau misalnya gue melakukan banyak hal yang membuat banyak orang sakit hati itu gue beneran gak mau deh," jawab Lia.
"Apa alasannya?" tanya Ojan.
"Karena semua manusia itu sama, gue gak mau kalau sampai suatu saat nanti gue melakukan hal yang jahat, gue kena dampak di kemudian hari. Gue selalu percaya dengan sebuah roda yang berputar. Jika kita selalu menyakiti orang lain maka kita akan merasakan hal yang sama seperti itu."
"Bukan hanya itu saja, sebuah roda akan berputar terus. Kita hidup selalu membutuhkan orang lain dan yang lainnya. Jika kita lihat ya dari sudut pandang manusia biasa, kita pasti membutuhkan orang yang berada di sekitar kita," jelas Lia.
Ojan terdiam dan kaget mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Lia. Karena selama ini banyak orang yang di kenal oleh Ojan tidak seperti Lia. Mereka lebih mementingkan diri sendiri. Apapun yang mereka inginkan juga harus di turutin.
"Lia, gue beneran seneng bisa ngobrol banyak dan bisa kenal lo kayak gini. Karena selama ini banyak orang yang gue kenal gak seperti lo. Gue banyak menemukan orang yang justru mereka ini selalu mementingkan diri sendiri," ucap Ojan.
"Jangan seperti itu, mereka juga pasti memikirkan perasaan orang lain ko. Kalau misalnya lo berpikir mereka gak memikirkan perasaan orang lain lo salah. Coba kenali dia lebih dekat lagi pasti ada sesuatu di balik semuanya," ucap Lia menengahi.
"Apa mungkin semua itu ada alasan di baliknya?" tanya Ojan.
"Iya, seorang perempuan yang bilang gapapa aja memiliki alasan di baliknya. Kenapa mereka sering bilang kata gapapa di hadapan banyak pria, mereka tidak ingin kalian menghawatirkan kalian. Mereka akan tetap pura-pura tegar meskipun hati mereka sangat rapuh. Coba pahami dia dari dalam maka lo akan mengetahui apa yang dia inginkan selama ini," tutur Lia.
Ojan terdiam dan memikirkan apa yang di katakan oleh Lia. Banyak hal yang benar dan membuka matanya saat ini. Ojan beneran gak percaya, kalau selama ini orang yang dia anggap orang yang sombong dan angkuh malahan mengingatkan dirinya.
"Sekarang kita kerjain tugas dulu aja deh ya. Barusan kalau udah selesai tuganya kita sharing tentang banyak hal lagi," ajak Ojan.
Ojan dan Lia pun mengerjakan tugas dari Bu Ani. Mereka saling bekerja sama agar bisa cepat menyelesaikan tugas tersebut. Setelah selesai mereka pun mengumpulkan buku mereka ke meja guru.
Kring.....kring....kring.....
Bel istirahat pun berbunyi. Ojan dan Lia pun membangunkan teman temannya yang lagi tidur.
"Woi bangun dah istirahat. Makan dulu yok nanti ngerjain tugas abis itu tidur lagi!" seru Ojan dari depan kelas.
Semua orang yang tidur pun terbangun kaget mendengar seruan Ojan. Mereka semua terperanjat kaget dan bangun dari tidurnya.
"Lo mah Jan kebiasaan. Bisa gak sih gak ngagetin orang. Bangunin itu pelan kek pake perasaan, jangan ngagetin yang lagi tidur ngapa," dumel Leni dengan kesal.
"Ya lo tidur kayak kebo. Di bangunin susah. Pas gue teriak lo kaget kan. Mangkanya tidurnya jangan kebo Len," ucap Ojan dengan santai.
"Heh Marjan. Ngasal aja kalo ngomong. Dah lah awas jangan ngalangin jalan gue. Gue mau kebawah mau makan," usir Leni yang sudah merapikan pakaiannya.
"Dih pundungan. Enek nya Len," ucap Ojan dengan kesal.
"Marjannnnnnnnn jangan suka bikin kesel ngapa sih!" teriak Leni.
“Dih, orang lo duluan yang mulai gue terus yang kena marah sama lo,” ucap Ojan dengan nada tak terimanya.
Mereka semua pun tertawa melihat tingkah Leni dan Ojan. Ojan dan Leni sama sama gak bisa diem kalo di kelas. Ojan terkenal jail dan Leni terkenal heboh. Jadi cocok jika mereka berdua ketemu. Rame kelasnya kalo mereka berantem.
"Awas Jan, jangan-jangan lo jodoh sama Leni lagi," ucap Lia sambil tertawa kencang.
"Mata lo lah Lia. Amit-amit gue jodoh sama nenek lampir kayak dia. Tobat gue kalo sama dia," ungkap Ojan sambil bergidik ngeri.
"Heh Marjan lima ribuan. Emang gue mau sama lo yang tampangnya biasa aja. Gue juga kagak mau kali sama lo. Mendingan gue sama Kim Bong Do daripada lo!" ucap Leni sambil mendelik sebal.
"Lo itu---------" ucapan Ojan terpotong oleh ucapan Danu.
"Kalo lorang mau berantem jangan disini. Nanti lorang dua gue bawa ke KUA baru tau rasa lo. Biarin aja gue nikahin langsung di sana," ancam Danu.
Ojan pun langsung menatap Leni dengan tatapan menusuk, begitu pula dengan Leni. Mereka berdua pun saling menatap tak suka antara satu sama lain. Hingga akhirnya Leni di tarik sama Audrey untuk meninggalkan kelas. Lia dan teman temannya pun hanya bisa menahan tawanya ketika melihat kejadian itu.
Lia PoV on.
Setelah melihat drama di kelas tadi, gue dan teman-teman memutuskan untuk pergi makan kekantin. Gue dan yang lain milih bangku di sudut kanan agar tidak terganggu dengan orang-orang di sekitar kita.
"Mau makan apa?" tanya Nazla kepada kita semua.
"Makan tekwan Mang Ujang aja Naz," ucap Nisa dan di balas anggukan oleh yang lainnya.
Nazla dan Sinta pun pergi meninggalkan meja gue dan memesan tekwan Mang Ujang. Tak lama kemudian Sinta dan Nazla pun kembali ke bangku gue dan duduk di sebelah Nisa. Dari kejauhan gue pun melihat postur tubuh Kevin mendekat kearah meja gue.
"Btw itu Kevin, Leo, Raihan, Rian sama Fajar bukan sih?" tanya Nazla bingung.
"Iya, eh ko jalan ke arah meja kita ya?" tanya Nadin bingung.
"Lah iya. Aduh matekan rame ini kalo beneran terjadi," dumel Nisa.
"Eh, beneran ke meja kita woi, gimana ini?" tanya Sinta heboh.
"Apasih Sin heboh amat, di bawa santuy aja kali. Kalau ke sini ya tinggal usir," ucap gue dengan santai.
“Enak banget lo kalau ngomong,” ucap Nadin dengan kesal.
“Ya masa mau teriak-teriak alay sih kalau di samperin sama mereka,” ucap gue dengan kesal.
"Di mana-mana orang heboh kalau ketemu sama mereka, ini mah santuy banget pas mau di samperin sama mereka berlima. Heh Lia, semua cewe di sini pengen kali di samperin sama 5 cogan kayak mereka berlima. Lo mah malah kayak gak perduli di datengin sama kelima pangeran tampan di sekolah ini," cibir Nazla alay.
"Engga sekarang gue tanya emangnya mereka berlima itu kenapa? Ko bisa banyak yang mengagung-agungkan mereka gitu? Padahal setau gue si Leo anaknya diem-diem nganyutin. Si Fajar heboh sendiri. Kalo si Rian kalem banget plus pendiem tapi murah senyum. Kalo Kevin kailnya nauzubillah," jelas gue.
“Terus si Raihan-Raihan itu siapa lah gue gatau dia, itu juga gue baru liat mereka main sama mereka semua,” lanjut gue.
"Ini nih. Contoh orang terkudet yang pernah gue temuin di dunia. Emang ya kalo orang pinter itu suka lupa sama sekitar. Heh sadar ngapa sih mereka itu The Most Wanted di sekolah ini. Noh garis bawahin supaya lo inget terus sama omongan gue. Mereka itu jarang banget yang namanya nyamperin cewe. Yang ada mereka yang di samperin sama cewe," jelas Nazla heboh.
"Bisa biasa aja gak ngejelasinnya. Gue malahan risih liat lo heboh gitu," ucap gue dengan santai.
"Hadeh emang susah kalo ngomong sama orang yang kutu buku. Lo kan suka baca w*****d pastinya lo paham lah sama yang begituan," ucap Nazla dengan kesal.
"Ahahahaha Nazla percuma jelasin sama si Lia mah. Lo kalo mau ngomong sama dia tentang badminton dah, gue jamin lo di jelasin secara detail. Jangan kan ranking atletnya. Perolehan score kemarin aja dia apal," ucap Nadin sambil tertawa.
"Iya juga. Salah gue kalo ngomong sama orang kek dia. Memang harus di ruqyah anak ini biar gak lemot tentang cogan," ucap Nazla.
"Dih gak usah ruqyah gue. Lo mau cogan yang kayak gimana? Yang tajir? Yang mobilnya keren? Yang sekali turun main juara? Yang duitnya 3M apa yang gimana? Kalo lo mau nanya sini sama gue banyak," ucap gue dengan nada yang sangat santai.
"Kebanyakan halu sama atlet jadinya agak gila. Btw mereka nyamperin kita dah diem aja lorang," ucap Nisa.
Mereka berlima pun menghampiri gue dan yang lainnya. Banyak tatapan tak suka melihat kearah gue. Mereka berlima dengan santainya duduk di bangku kosong yang ada di meja gue. Fajar pun menatap gue dengan tatapan meledek. Gue yang melihat nya pun langsung mendelik sebal.
“Untung temen lo Jar. Kalo bukan dah gue julek tu mata,” batin gue.
Fajar dkk pun memunculkan senyum misterius nya di hadapan gue dan yang lain. Dan membuat pertanyaan bagi banyak orang.
“Sebenernya mau apa sih mereka kesini,” batin gue.