Ayah Tiri

1007 Kata
Sadar-sadar aku sudah berada di dalam kamar di kerubungi banyak orang. Ibu yang khawatir kepadaku bertanya mengapa aku bisa pingsan. Ibu:" Nak kamu kenapa kok bisa pingsan di depan pintu?". Tanya ibu. Aku:" Tadi aku mau ke wc, pas sampai di depan pintu tiba-tiba badanku terasa lemas dan aku kepleset dan kepalaku kejedot tembok". Ibu:" Kamu kepleset apaan? Aku:" Ngga tahu, tadi rasanya emang kayak kepleset". Ibu:" Ya sudah buat istirahat, kamu dari pagi sudah makan belum?". Aku:" Belum bu'. Ibu:" Ya pantesan lemes, orang seharian belum makan". Aku:" Aku tadi pagi mau sarapan tapi lupa". Ibu:" Kamu tu ya, ada-ada saja, ya sudah ibu ambilkan makan". Aku:" Iya bu, makasih". Sembari menunggu ibu mengambilkan makanan aku minta tolong ke saudaraku untuk membantu aku jalan ke kamar mandi karena badan ini masih sempoyongan. Aku masuk ke kamar mandi dan saudaraku aku suruh menungguku di luar. Setelah selesai dari kamar mandi, aku bergegas menunaikan kewajibanku dan selepas itu kembali berbaring di kamar. Derap langkah kaki ibu menuju ke kamarku seraya memanggilku. Ibu:" Raisa,, Suara ibu dengan nada tinggi. Aku:" Iya bu, Kenapa?". Ibu:" Ini makananya sudah ibu bawakan untukmu". Aku: "Raisa masih nggak kuat buat jalan, tadi saja ke kamar mandi di bantuin". Ibu:" Ibu masuk ya kalau begitu". Aku:" Iya bu". Ibu:"Mau di taruh di mana makananya?". Aku:" Kasur sini saja bu, biar ngga kejauhan ambilnya". Ibu:"ya sudah kalau begitu, ibu taruh di atas kasur". Setelah makanannya ibu antarkan kepadaku, aku mencoba menghabiskanya meskipun lidahku tidak bisa merasakan rasa dari makanan ini. Supaya aku bisa cepat sehat dan bisa melakukan aktifitas seperti hari-hari biasanya lagi. Sehabis makan aku kembali istirahat, hingga aku tertidur dan bangun-bagun sudah jam lima sore. Badanku sudah terasa jauh lebih segar dan enteng di bandingkan tadi. Seharian waktuku hanya kuhabiskan di dalam kamar, untuk memulihkan tenaga ini yang sudah terkuras habis-habisan akibat bersedih dan menangis terus. Di malam harinya aku tiba-tiba teringat sosok ayah yang biasa bercanda kepadaku. Seakan-akan dunia ini tiba-tiba menjadi gelap dan sunyi tanpa kehadiran sesosok ayah. Agar tidak terlarut dalam kesedihan, aku mencoba untuk tidur. Suara ayam berkokok menyambut pagi hariku. Kubuka perlahan mataku untuk melihat indahnya dunia yang fana ini. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku mencoba izin kepada ibu untuk pergi ke sekolah, akan tetapi ibu tidak mengizinkanya. Akhirnya aku pergi ke kamar dan melanjutkan tidur. Setiap harinya rutinitasku sudah berjalan kembali normal meskipun tanpa kehadiran sosok ayah. Hingga tiba di suatu hari, aku sedang duduk di teras rumah. Tiba-tiba ibu dari belakang duduk membersamaiku. Kami mengobrol santai dan menikmati suasana, tapi di sela-sela pembicaraan kita, ibu meminta izin kepadaku untuk menikah lagi. Perkataan itu, membuatku kecewa baru genap 40 hari ayah pergi meninggalkanku. Namun posisinya sudah mau di gantikan orang lain. Aku mencoba bicara kepada ibu. Aku: "Bu, aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaan dari ibu". Ibu:" Iya tidak apa-apa nak, ibu tunggu jawaban dari kamu". Aku:" Iya bu, makasih". Dalam fikiranku masih tidak terima jika sosok ayah harus tergantikan oleh orang lain, disisi lain aku tidak boleh egois. Aku juga harus memikirkan kebahagiaan ibu. Akhirnya aku memutuskan untuk memperbolehkan ibu menikah lagi. Aku mencoba mencari keberadaan ibu untuk memberikan kabar bahwa aku setuju kalau ibu menikah lagi. Bu, ku panggil nama ibu dengan suara lantang, terdengar sahutan suara ibu dari dapur. Aku bergegas menuju dapur untuk menemui ibu. Sesampainya di dapur aku ajak mengobrol ibu. Aku : Bu, kalu ibu mau nikah lagi ngga apa-apa kok". Ibu:" Beneran kamu setuju dengan keinginan ibu?". Aku:" Iya bu, tidak apa-apa kalau ibu mau nikah lagi". Ibu:" Ya sudah kalau begitu, makasih ya nak". Aku:" Iya bu, sama-sama". Dengan raut muka yang begitu bahagia ibu langsung memelukku. Seminggu kemudian acara pernikahan di laksanakan, dan bersyukur semua berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun". Ayah tiriku ikut tinggal ke rumah yang dulu ayah bangun. Waktu itu, pagi hari setelah hari pernikahan pertama, kami sarapan bersama di ruang makan. Aku selesai makan duluan dan hendak berangkat ke sekolah. Tiba-tiba ayah tiriku menawariku berangkat bersama karena sekolahku dan kantor tempat kerja ayah tiriku searah. Aku awalnya menolak akan tetapi ibu memaksaku untuk berangkat bersama ayah tiriku. Ya sudah aku turuti keinginan ibuku. Di sepanjang jalan aku berbincang-bincang dengan ayah tiriku. Ayah Tiri:" Nama kamu siapa nak?". Aku:"Namaku Raisa melati yah". Ayah Tiri :"Namamu bagus juga". Aku:" Iya, Ayah yang ngasih". Ayah Tiri:" Owlh, Sekarang kamu kelas berapa?". Aku:" Kelas dua SMA". Ayah Tiri:" Pantesan sudah besar dan cantik". Aku:" Iya yah, makasih". Mendengar perkataan yang di lontarkan oleh ayah tiriku, tidak tahu kenapa tiba-tiba rasanya geli dan juga risih. Matanya mulai jelalatan memandangi tubuhku. Aku mulai merasa tidak nyaman dan minta di turunkan dari mobil. Aku:" Turun di sini saja". Ayah Tiri:" Kok turun sini kan belum sampai". Aku:" aku udah di tunggu temen disini soalnya". Ayah Tiri:" Beneran mau turun di sini". Aku:" Iya nggak papa kok". Ayah Tiri: Ya sudah kalau begitu". Setelah mobilnya berhenti aku langsung bergegas membuka pintu dan keluar. Seluruh badanku masih gemetar karena ketakutan. Habis itu aku memesan ojek untuk pergi ke sekolah. Sekitar sepuluh menitan menunggu, akhirnya ojek pesananku sudah datang dan langsung menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku sudah ditunggu temanku untuk segera masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran. Sepulang sekolah, di depan gerbang terparkir mobil Ayah tiriku. Tidak lama kemudian, ayah tiriku memanggil namaku dan mengajak pulang bersama. Ayah Tiri:" Ayo pulang sama ayah". Aku:"Ngga deh yah, aku pulang sama teman-teman saja". Ayah Tiri:" Sudah, tidak papa kok". Aku:" Aku ada kerja kelompok, jadi tidak bisa bareng yah". Ayah Tiri:" Ya sudah, ayah duluan". Temanku yang mendengar percakapanku dengan ayah, bertanya kepadaku. Ranti:" Laki-laki tadi, ayah kamu?". Aku:" Iya, Baru dua hari menikah sama ibuku". Ranti:" Tapi kok gelagatnya seperti mencurigakan gitu". Aku:" Emang, tapi semoga saja dia orang baik". Ranti:"Amiin". Aku:" Ya sudah, ayo pergi ke depan sekalian nunggu angkot lewat. Bergegas meuju depan untuk menghadang angkot sebagai tumoanganku dan teman-teman. Sembari menunggu angkot, kami mengobrol tentang pekerjaan rumah yang di berikan oleh guruku. Pekerjaan rumah yang satu ini perlu di obrolkan karena cukup menyulitkan kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN