Genit

1015 Kata
Karena pekerjaan rumah yang di berikan cukup rumit, akhirnya kami mengerjakanya bersama-sama di rumah ranti. Kami mengerjakanya begitu lama kisaran dua jaman, sehingga membuatku pulang ke rumah kesorean. Sesampainya di rumah, ku ketok pintu seraya berkata. Aku:" Assalamu'alaikum bu". Ibu:" Wa'alaikum salam nak". Suara derapan kaki menghampiriku seraya membuka pintu". Ibu:" Kok kamu baru pulang, dari mana saja". Dari ruang televisi terdengar sahutan suara dari ayah tiriku. Ayah Tiri:" Tadi pas aku jemput pulangnya, katanya mau kerja kelompok". Ibu:" Apakah benar nak, yang di katakan ayah?". Aku:" Emang iya kok bu, makanya aku pulangnya kesorean". Ibu:" Ya sudah, sekarang pergi ke kamar mandi , bersih-bersih sekalian mandi saja. Aku:" Siyap bu". Sebelumnya aku pergi ke kamar terlebih dahulu untuk menaruh tasku dan juga mengambil handuk. Sampainya di kamar mandi aku membuka baju dan langsung mandi. Di pertengahan mandi, aku melihat ada sesorang yang mengintip dari lubang kunci. Pas aku buka pintunya tidak ada siapa-siapa, akan tetapi aku yakin jika ada yang mengintip dan bukan sekedar halusinasi. Untuk kedua kalinya aku melihat lagi orang yang mengintipku, dengan spontan aku langsung berteriak" Siapa ya??". Tiba-tiba orang yang mengintip pergi, dalam pikiranku pelaku yang mengintipku langsung tertuju kepada ayah tiriku karena dia satu-satunya laki-laki di rumah ini. Selesainya mandi aku aku ganti baju dan bergegas menemui ibu dan menceritakanya. Aku:" Ibu, tadi pas aku mandi kayak ada orang ngintip". Ibu:" Ah dari tadi ibu sama ayah di rumah, ngga ada orang lain masuk kok". Aku:" Beneran lo bu, dua kali ketahuan aku". Ibu: " Ah, kamu yang halusinasi paling". Aku:" Engga lah bu, orang jelas-jelas risa melihat dengan mata kepala sendiri kok". Ibu:" Ya terus siapa?". Ayah Tiri: " Sedang ngomongin apa kalian? kayak serius amat". Pertanyaan yang di lontarkan ayah tiriku seketika berhasil memutuskan obrolan kami. Ibu:" Tidak ada apa-apa kok". Ayah Tiri:" Yang bener tadi kayak bicara serius amat'. Aku:" nggak ada apa-apa, aku mencoba menutupi pembicaraannya karena aku takut nanti kalau aku bercerita secara gamblang kalau yang mengintipku saat mandi adalah ayah nanti yang terkena imbasnya malah ibu. Ayah Tiri: " Ya sudah kalau begitu, bu bikinin kopi ya !". Ibu:" Iya yah, sebentar ya ibu ke dapur dahulu. Ayah Tiri:" Iya bu, ada apa sih tadi cantik?". Lagi-lagi aku merasa tidak nyaman dan jijik apabila bersama ayah tiri ini. Dalam hatiku bergumam " Sialan pura-pura tidak tahu ni orang padahal jelas-jelas dia tadi yang ngintip aku pas mandi". Aku: " Tidak ada apa-apa kok, cuman ngobrol doang sama ibu". Ayah Tiri" : Iya percaya kok, sambil memegang tanganku, aku langsung menarik tanganku dengan cepat". Aku:" Jangan macam-macam ya kamu". Ayah Tiri: " Macam-macam gimana? Masak seorang ayah tidak boleh megang tangan anaknya sendiri?". Aku:" Kalau sama aku ngga boleh". Tidak lama kemudian ibu selesai membuat kopi dan menghampiri kita yang sedang duduk di ruangan televisi. Lega rasanya ketika ibu sudah datang, tidak seperti sebelumnya yang rasa ini diliputi ketakutan dan cemas apabila si tua tadi berbuat macam-macam kepadaku. Aku merubah posisi dudukku yanng tadinya agak berdekatan dengan si tua tadi, sekarang agak berjauhan supaya ibu bisa duduk di tengah-tengah kita. Si tua itu, merangkul ibuku akan tetapi tanganya jelalatan mecoba memegang pundakku. Aku langsung berterik " Apa-apaan tangan ayah". Ibu langsung menoleh ke arahku seraya betanya". Ibu: " Ada apa sih nak?". Aku:" Tangan ayah bu, masak megang-megang pundakku". Ibu:" Enggak lah, orang dari tadi ayah merangkul ibu terus kok". Ayah Tiri:" Iya nih, kesenggol doang tadi malah teriak-teriak". Seketika emosiku memuncak, aku langsung meninggalkan mereka berdua dan berlari menuju kamar. Kututup rapat-rapat semua jendela dan pintu agar suara tangisanku tidak terdengar sampai luar. Tok,tok,tok, suara sesorang mengetok pintu kamarku, di susul suara yang memanggilku. Dari suaranya, aku tahu kalau ibu yang berada di luar. Ku usap air mata yang mengalir di pipiku, agar tidak katahuan kalau aku habis menangis. Berjalan ke pintu, dan membukakanya untuk ibu. Ibu tahu kalau aku habis menangis meskipun air mata ini sudah aku usap. Tiba tiba ibu langsung memelukku dan bertanya padaku. Ibu : " Kamu kenapa kok nangis nak? Tadi ibu salah ke kamu ya?". Aku :" Ngga kok bu, ibu tidak salah apa-apa ke aku". Ibu:" Terus kenapa kamu menangis?". Aku:" Kangen sama ayah". Ibu:" Ya sudah, nanti sore kita ziarah ke makam ayah bareng-bareng ya nak". Aku:" Iya bu, aku masuk ke kamar dulu ya mau tidur". Ibu:" Ya sudah buat istirahat dulu saja nak, nanti ibu bangunin kalau mau berangkat ke makam ayah". Aku:" Iya bu, sambil menutup pintu dan berjalan ke tempat tidur. Ku baringkan badan ini, kututup perlahan kedua kelopak mataku hingga aku benar-benar terlelap. Dan lagi-lagi terulang kembali bahwa ayah hadir dalam mimpiku. Ayah menggunakan pakaian serba putih dan berdiri jauh. Aku berlari mengahmpirinya sambil teriak-teriak. Namun semakin dekat dengan ayah, semakin hilang dari pandanganku. Hingga akhirnya ayah sirna begitu saja. Aku berteriak dan menangis memanggil ayah hingga terbangun. Keringat bercucuran membasahi tubuhku seolah-olah memang aku berlari. Rasa kangen ini semakin kuat lagi, teringat bahwa aku dan ibu mau ziarah ke makam ayah. Aku bergegas bangun langsung menuju kamar mandi, kali ini lubang kunci aku tutupi pakai kertas agar tidak ada yang mengintip dari luar. Sehabis mandi, aku menghampiri ibu yang sedang masak di dapur. Aku:" Bu, jadi tidak ke makam ayah?". Ibu:" Iya jadi nak, sebentar ibu selesain masaknya dulu". Aku:" Biar cepet, aku bantuin ya bu". Ibu:" Iya ngga papa nak". Aku:" Siapp bu". Terdengar derapan langkah kaki menghampiri kami, menoleh ke arahnya ternyata si tua itu lagi. Tiba-tiba dia mencubit pinggulku tanpa sepengetahuan ibu. Aku yang merasa terganggu langsung menghindar. Si tua datang hanya mengganggu saja, bukan malah membantu kami agar cepat selesai. Selesainya memasak, ibu berkata kepadaku mau mandi terlebih dahulu. Ketika ibu pergi mandi, aku mulai was-was dengan tingkah laku si tua itu. Dugaanku benar terjadi tiba-tiba si tua itu memegangi pantatku kemudian di elus-elus. Aku langsung menghindar dan bertanya kepadanya. Aku:"Ngapain pegang-pegang p****t aku?". Ayah Tiri:" Ngga sengaja". Aku:" Ngga sengaja dari mana, orang di elus-elus kok". Ayah Tiri :" Iya, soalnya p****t kamu sexy". Aku:" Sudah gila ya kamu". Ayah Tiri: "Iya, Gila karena kamu". Aku yang ketakutan atas perlakuanya, langsung berlari keluar rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN