Si Tua

1012 Kata
Jika setiap harinya aku begini terus lama-lama aku bisa gila. Ibu lama banget lagi, dari tadi di tungguin nggak selesai-selesai mandinya. Kenapa Tuhan kau harus mengambil ayahku. Hari-hariku terasa suram tanpa kehadiran sosok ayah. Menatap langit duduk di teras dan melamun adalah salah satu hiburanku untuk saat ini. Aku harus semangat menjalani hidup ini, meskipun berbagai cobaan datang menghadang. Setalah menunggu lama akhirnya ibu keluar, tapi tidak bersama si tua tadi. Syukurlah, jadi aku bisa ziarah ke makam ayah dengan tenang tanpa adanya gangguan dari si tua itu. Ibu mengajakku langsung berangkat karena waktu sudah beranjak sore. Karena jarak rumahku dengan pemakaman tidak terlalu jauh, kami berdua memutuskan untuk jalan kaki. Sekitar 15 menitan, aku dan ibu berjalan akhirnya samapai juga di makam ayah tercinta. Aku panjatkan doa-doa untuknya kudekap nisanya tak sadar derai air mata membasahi pipi ini. Tak sanggup aku menahanya lagi, kenangan aku bersama ayah begitu berarti dan tidak mungkin jika di lupakan. Langit sedikit demi sedikit mulai menggelap, burung- burung mulai berterbangan kembali ke sarangnya. Aku mengajak ibu yang terlihat masih tertunduk sedih di atas pusara ayah untuk pulang. Aku:" Bu, ayo kita pulang ke rumah '. Ibu: "Sebentar nak, ibu masih nyaman disini". Aku: " Langitnya sudah mulai petang lo bu". Ibu:"Iya sudah kalau begitu nak, kita pulang saja". Aku:"Ayo bu". Isak tangis masih terdengar dari ibu, meskipun sudah terdengar lirih di telingaku. Aku berjalan sambil memegang tangan ibu, dengan tujuan menguatkan hati ibu. Sesampainya di rumah, ku buka pintu rumah perlahan-lahan dan setelah berjalan dalam rumah, mendadak kesal setelah mengetahui keadaan rumah yang berantakan. Kulit kacang bersebaran dimana-mana, gelas kotor berada di depan televisi. Dalam hatiku bergumam " Dasar si tua ngga punya otak, kayak anak kecil begini sih, kelakuanya". Seharusnya dia tahu kalau makan kacang harusnya kulitnya di jadikan satu biar ngga bersebaran, malah jadi berantakan kayak gini, menambah pekerjaan rumah saja. Pengen aku usir dari rumah rasanya, si tua itu. Mau tidak mau aku harus menyapunya, sial banget rasanya kedatangan si tua itu. Malah si tua tidur di depan televisi padahal mau aku sapu. Aku bicara sama ibu agar si tua itu pindah dari depan televisi. Aku:" Bu, ayah suruh pindah ke kamar". Ibu:" Emang kenapa nak?". Aku:" Mau aku sapu bu, berserakan kayak itu tempatnya". Ibu:"Ya sudah, sebentar ibu suruh dahulu". Aku:" Iya bu". Sehabis si tua itu pergi masuk, aku langsung menyapu bersih ruang televisi. Setelah semuanya selesai aku merebahkan badanku di kamar, rasanya pegal semua badan ini. Kucoba memejamkan kedua mata ini. Terdengar langkah kaki menuju ke kamarku. Kreekk, terdengar suara seseorang membuka pintu kamarku. Ku buka perlahan kedua mataku, menoleh ke arah pintu ternyata si tua itu masuk ke dalam kamarku. Karena takut, aku langsung berdiri meskipun badan ini masih lemas. Aku takut jika si tua tadi berbuat macam-macam denganku karen dia sudah berani masuk ke kamarku tanpa izin. Dengan keadaan badan yang lemas dan mata masih mengantuk aku paksakan untuk berjalan ke arah pintu agar kalau situa itu macam-macam aku bisa berlari. Sesampainya di depan pintu, karena badan situa menghalangiku. Aku sempat bertanya padanya. Aku:" Ngapain kamu masuk kamarku tanpa izin atau ketok-ketok dulu?". Ayah Tiri:" Cuma mau lihat keadaan kamu saja takut kenapa-napa karena kamu kecapeaan. Aku: " Ya sudah kalau begitu, aku mau keluar km jangan menghadangi jalan". Ayah Tiri:" Silahkan, jalan saja". Ketika aku mau jalan keluar tiba-tiba si tua tadi mengayunkan tanganya ke arah dadaku. Dan secara sengaja dia meremas buah dadaku. Sewaktu meremas, seluruh badan ini merinding, akan tetapi aku merasakan sedikit enak rasanya. Karena bercampur dengan perasaan taku aku langsung berteriak dan berlari, suara teriakanku terdengar sampai kamar ibu. Tidak lama kemudian ibu keluar dari kamarnya dan menanyakan apa yang terjadi kepadaku. Ibu :" Ada apa nak kok teriak-teriak?". Aku masih terdiam ketakutan apabila menjawab dengan jujur bakal di apa-apakan oleh si tua tadi. Situa tadi sudah memberi isyarat ancama kepadaku apabila aku bercerita sejujurnya kepada ibu. Dengan keadaan aku yang berdiam ketika di tanya oleh ibu, situa mengambil kesempatan untuk berbohong kepada ibu. Ayah Tiri:" Tidak ada apa-apa kok, tadi hanya ada tikus lewat, benar kan nak?". Aku: "Iya bu". Ibu:" Owlh, kirain ada apa, bikin kaget ibu saja". Aku:" Maaf bu". Ibu:" Ya sudah ibu ke kamar dulu sama ayah". Aku:"iya bu". Aku kembali ke kamar dan mengunci kamar erat-erat agar si tua itu tidak macam-macam. Di dalam kamar sambil melamun aku memikirkan kembali kejadian tadi, kenapa waktu buah dadaku di remas oleh situa tadi rasanya begitu nikmat. Rasanya jadi pengen di remas lagi, tapi jangan sama situasi tadi. Heh, aku mikirin apaan sih, jadi nggak jelas gini. Mending aku beribadah dahulu terus tidur, lagian besok aku sekolah dan harus berangkat pagi. Kali ini aku tidak lupa sudah mengunci pintu agar si tua itu tidak lancang masuk begitu saja ke kamarku. Kutarik selimut ku tidurkan badan ini agar besok bisa lebih bersemangat sekolah. Tepat jam lima pagi aku sudah terbangun, langsung pergi ke kamar mandi, pas sampai di kamar mandi pakaian dalamku yang kemarin sudah aku pakai, dan aku taruh di dalam ember karena mau di cuci kok sudah di luar ember. Ada kejanggalan, pas aku liat di celana dalamku terdapat cairan putih kental yang menjijikkan. Aku lempar lagi ke dalam ember dan melanjutkan mandi. Sehabis mandi aku pergi ke kamar untuk memakai baju seragam dan lanjut berangkat sekolah. Biasanya kalau sebelum berangkat aku sering sarapan terlebih dahulu akan tetapi kali ini, rasanya sudah ngga nafsu makan lagi melihat si tua sedang makan. Labih baik langsung berangkat, dari pada nanti di suruh berangkat bareng sama si tua itu. Pas mau keluar dari rumah, tiba-tiba ibu memanggilku. Ibu:" Nak sarapan dulu sini, bareng-barrng biar nambah enak". Dalam hatiku bergumam "Enak dari mana, yang ada malah enek". Aku:" Sudah kenyang kok bu". Ibu:" Kenyang dari mana?? Makan saja belum". Aku:" Kan semalem sudah makan, terus masih kenyang saja gitu". Ibu:" Ya sudah kalau begitu, berangkatnya bareng sama ayah ya". Aku:" Ngga deh bu, aku jalan kaki saja, ntar kalau sudah di jalan raya aku naik angkot". Ibu:" Ntar kamu kecapeaan lo nak". Aku:" Engga kok bu, malah asik". Ibu:" Ya sudah kalau begitu".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN