5. Pelecehan

1217 Kata
“Ada apa ini Mahira?” Damra datang lalu melihat ketegangan yang terjadi antara putri dan istrinya. Renata yang lebih dulu tahu kemunculan Damra, cepat mengubah ekspresi di wajah. Ia tak ingin sang ayah melihat ketidaksukaan dirinya terhadap wanita yang menjadi orang kedua bagi lelaki itu. Sementara Mahira menghela napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia berusaha sekuat tenaga mengontrol lonjakan emosi yang berhasil menguasai diri. Jangan sampai Damra melihatnya seperti sekarang. Tidak. “Renata, apa kau bertengkar dengan mamamu?” Sejatinya satu sebutan ‘mamamu’ sungguh mengusik pendengaran dan perasaan gadis itu. Darahnya menggelegak manakala hal tersebut terlontar dari mulut sang ayah. Mahira bukan mamanya! Hanya Selasih saja yang boleh dipanggil demikian. Selebihnya, tidak. Apalagi julukan itu tertuju kepada Mahira—perempuan yang telah merebut Damra dari mereka. “Mungkin Papa bisa bertanya sama Mama. Soalnya, bukan Rena yang berisik di dapur. Rena cuma mau bantu, tapi sepertinya Mama tidak suka.” Dengan raut polos Renata menjawab. Tak ada yang akan percaya kalau sikap gadis tersebut terhadap Mahira begitu lancang, jika dibandingkan dengan betapa lugunya wajah manis itu dihadapan ayahnya kini. “Ya sudah, kamu kembali saja ke kamar. Mungkin mamamu tidak suka dicampuri pekerjaannya.” Damra menarik lengan sang anak—lembut, keluar. Setelah itu, ia bergabung lagi ke ruang tengah, di mana Faldo dan Farhan tak beranjak sedikit pun, sebab, pertandingan bola sedang tegang-tegangnya. Dari lantai dua, Renata menunduk melihat kehangatan keluarga itu di bawah. Ia belum berhasil memantik percikan prahara di antara sang ayah dan Mahira. Mereka adem ayem saja. Masih panjang waktu untuk terus menyalakan bara. Gadis itu berdecak, lalu seketika membuang muka saat sorot matanya bertemu dengan milik Faldo yang tak sengaja mendongak. Langkah seketika dipercepat menuju ke kamar. Jantung Renata berdebar bukan karena ada rasa terhadap putra sulung Mahira itu. Melainkan, sebab, hampir saja ketahuan tengah mengutuk keluarga mereka meski dari tatapan saja. Tengah malam, saat semua anggota keluarga sudah tertidur, Faldo mendengar Renata keluar dari kamar. Pemuda itu buru-buru bangkit dari tempat tidur, lalu keluar dan mengikuti langkah gadis yang tengah menuruni anak tangga. “Papa bilang, kamu sekampus denganku, benar?” Pertanyaan Faldo barusan membuat Renata terjingkat. Gadis itu baru saja menuangkan air dingin dari lemari es ke dalam gelas. Renata lantas membalik tubuh dan mendapati putra pertama Mahira yang tak ada hubungan darah dengannya, tengah menyilang tangan di depan d**a. “Papa bilang begitu. Aku akan satu kampus dengan Bang Faldo.” Mendengar Rena menyebutnya demikian, Faldo berdecak. Aneh saja baginya. Tak ada orang lain yang memanggil seperti itu kecuali adik-adiknya, Farhan dan Freya. Meski tidak satu Bapak, tetapi Faldo sangat menyayangi mereka, terutama gadis kecil nan menggemaskan itu. “Aku mungkin harus mulai membiasakan diri memiliki adik lain yang sudah langsung membesar sepertimu.” “Kalau Abang keberatan, anggap saja aku tidak pernah ada. Aku juga tidak mau menjadi beban siapa pun.” “Oh, ya?” Seperti tahu atas ketidaksukaan Renata terhadap ibumu, Faldo menyipitkan mata—menyelidik—pada gadis di hadapan. Malas meladeni, Renata pun memilih berlalu begitu saja. Ia membawa gelas berisi air dingin ke lantai atas. Hatinya mendongkol bukan main. Tak hanya Mahira, anaknya pun ikut membuat hati gadis itu panas. * Hari pertama ke kampus, Renata diantar oleh Damra sekalian. Setidaknya dalam satu minggu ke depan, sebelum akhirnya gadis itu dibiarkan pergi sendiri dengan apa pun yang ia inginkan. Renata sudah cukup dewasa untuk dilepas mandiri—dalam hal bepergian ke tempat yang jelas. Jika bukan untuk urusan yang menurut Damra penting, lelaki itu takkan pernah mengizinkan putrinya pergi keluar rumah. Hal ini sudah ditekankan kepada Renata. Wajib hukumnya meminta izin terlebih dahulu ke manapun kaki gadis itu hendak melangkah. Bagi Damra, hal ini tidaklah terlalu berlebihan. Toh, Renata adalah putrinya. Sudah dewasa pula. Terlepas dari apa pun yang telah terjadi di masa lampau, ke depan, ia telah bertekad putrinya harus memiliki kehidupan yang baik setelah berada di bawah naungannya. “Rena masuk, Pa.” Renata menggapai tangan sang ayah, lalu menempelkan punggung tangannya ke bibir—seperti yang dilakukan oleh Freya dan Farhan tadi. “Iya, baik-baik kuliahnya, ya, Ren. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Papa. Jika tidak, temui abangmu, Faldo. Papa sudah berpesan untuk menjagamu.” Renata hanya mengangguk. Ia tak membutuhkan siapa pun. Hidup keras selama ini sudah cukup membuatnya berani menghadapi apa pun di depan sana. Hanya saja, di hadapan Damra, ia tetap menjadi putri kecil yang manis dan penurut, serta tak mampu melakukan apa pun sendiri. Simpati Damra adalah tujuan utamanya saat ini. Meski telah disia-siakan selama delapan belas tahun oleh sang ayah, sejatinya hal tersebut tak pernah membuat Renata meratapi terlalu dalam. Ia justru semakin memperkuat misi mengenyahkan keluarga benalu di sekitar Damra. Ya, siapa lagi kalau bukan Mahira dan anak-anaknya. “Ayahmu telah meninggalkan kita, Renata. Ibu tidak bisa menahannya pergi, sebab, perempuan itu lebih mampu membuat ayahmu bahagia. Mengurusmu yang terlahir sakit saja sudah membuat Ibu stres dan hal tersebut tidak bisa diterima oleh ayahmu, sehingga dia mulai terpikat oleh godaan dari wanita lain. Dan lihatlah mereka sekarang, hidup bahagia serta berkecukupan.” Ucapan Selasih ini terus saja diingat-ingat oleh Renata. Musuh yang perlu disingkirkan sudah jelas Mahira. Sinyal ini telah diberikan oleh Selasih kepada putrinya sejak dini. Entah cerita itu benar atau tidak. Yang jelas, doktrin bahwa Mahira adalah pelakor yang menyebabkan orang tuanya berpisah, sudah termaktub dalam di sanubari. Seperti apa pun pembelaan Damra atau Mahira tentang hal itu, akan sulit menyirnakan pemahaman tersebut di diri Renata. Ia percaya ibunya. Seratus persen, sebab, perjuangan Selasih untuk membuatnya tetap hidup layaknya gadis normal hingga saat ini, tak ternilai harganya. Baru hari pertama kuliah, Renata sudah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari para mahasiswa di kampus. Tak semua, tetapi ada sekumpulan pemuda yang terkenal bad boy mengepung gadis itu ketika keluar dari kelas saat perkuliahan usai. “Aku baru melihatmu sekarang. Katakan, kau siapa?” tanya salah satu dari mereka. Sekitar sepuluh pemuda melingkari Renata. Tidak ada yang berani mengganggu kesenangan anak-anak itu, kecuali satu orang yang begitu didengar dan pemuda tersebut belum terlihat batang hidungnya. “Dia sangat cantik. Dan sepertinya memiliki semacam privilese di sini. Buktinya, sudah satu bulan maba mulai belajar, dia baru tampak sekarang batang hidungnya,” sahut yang lain mengamati Renata dengan seksama. Sementara gadis yang dikungkung, menunduk saja sambil memeluk buku di depan d**a. Meski tak mengenakan pakaian ketat yang dikhawatirkan Mahira, namun, tetap saja Renata mampu menarik minat para bad boy kampus ini untuk mendekatinya. Apalagi kelebihan yang dimiliki jika bukan karena parasnya yang memang mempesona. Selasih dan Damra adalah perpaduan sempurna yang telah diturunkan kepada putri semata wayang mereka. Wajar saja, jika sang ayah begitu takut memikirkan Renata dan cenderung lebih protektif terhadap gadis itu. Akan tetapi, kejadian semacam ini kerap tak bisa dielakkan. Membaur dengan banyak ragam manusia di kawasan yang dinamai universitas, lebih mendekati kecenderungan perundungan atau pelecehan bisa saja terjadi. Tak semua orang menyukai. Selalu saja ada sisi yang berhasil menarik rasa dengki dan nafsu di dalam diri. “Hei, jangan sombong begitu!” Salah satu dari mereka mulai berani mengulurkan tangan, hendak menyolek dagu Renata. Namun, detik kemudian, tangan yang sudah berhasil menyentuh selapis kulit di bagian wajah gadis itu terseret ke samping. Saat mengetahui siapa pelakunya, yang lain pun ikut menciut. “B—bos.” Penasaran, Renata pun mengangkat wajah lalu menoleh pada sosok yang mereka panggil ‘bos’ tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN