4. Tersulut Emosi

1161 Kata
Bola mata Mahira membesar. Ia tak pernah berniat untuk melakukan hal semacam itu. “Sebaiknya Mas harus tahu dulu kenapa semua itu sampai terjadi. Aku tidak ingin membedakan siapa pun, apalagi anak-anak. Renata tidak menunjukkan sikap baik kepadaku, Mas.” Mahira menjeda ucapan. Ia tengah memilah kata mana yang baik diucapkan agar suaminya tidak marah atau malah jadi berbalik menuduhnya yang bukan-bukan. Sementara Damra, dahinya bertaut menunggu lanjutan ucapan sang istri. “Maaf, tapi sungguh, Renata bersikap tidak sopan kepadaku di belakangmu, Mas. Ia bahkan menuduhku yang tidak kumengerti sama sekali. Dia … dia seperti membenciku setengah mati, Mas. Dan aku sama sekali tidak tahu kenapa semua itu sampai terjadi.” Susah payah Mahira mengutarakannya. Sedikit pun tak ada niat di hatinya untuk membuat Damra memarahi Renata karena pengaduan barusan. Hanya saja, ia pun butuh dilindungi dari pemikiran buruk sang suami. Selama ini, rumah tangga mereka jauh dari kata retak, meski sedikit. Komunikasi terjalin baik di antara keduanya. Meski begitu, bukan berarti tak pernah sekali pun Mahira dan Damra bertengkar. Selisih paham pasti selalu ada di dalam hubungan setiap pasangan. Damra menghela napas dalam, lalu mengambil tempat duduk di sebelah istrinya. “Mahira,” panggilnya lembut. “Mas tahu, memang sulit bagimu, pun Renata untuk bisa saling memahami, terlebih kalian baru saja bertemu. Mas hanya meminta, cobalah untuk mengerti kondisinya. Delapan belas tahun Mas telah meninggalkan dia. Tidak pernah pula menjenguk barang sekali pun. Mas sudah menceritakan semuanya kepadamu, kenapa dan kenapa. Bukan Mas yang tidak mau, tetapi ibunya Renata yang membangun benteng tinggi di antara kami.” “Aku tahu, Mas. Tetapi sepertinya Renata salah paham terhadapku. Dia berujar kalau aku adalah orang yang telah merebut Mas dari Mbak Asih. Padahal, jauh hari setelah kalian bercerai kita baru bertemu. Rasanya tidak adil jika aku disudutkan seperti itu di dalam pemahamannya. Mungkin kita perlu bicara kepadanya, Mas. Menjelaskan duduk persoalannya seperti apa.” Mahira menyarankan. Seharusnya Damra tidak menolak. Toh, ini demi kebaikan mereka juga. Renata akan tinggal di sini. Hal tersebut tentu menyulitkan jika selama Damra tak ada, Renata selalu bersikap buruk terhadapnya. “Itu akan menjadi urusan Mas, Hira. Tugasmu saat ini, tolong jangan tampakkan perbedaan kasihmu kepada anak-anak. Entah kepada Faldo, Fahri, Freya, terutama Renata sendiri. Dia baru saja bergabung bersama kita. Pasti sulit sekali baginya untuk mencoba menyatu. Mengenai kesalahpahaman itu, Mas akan bicara dengannya. Perlahan.” Mahira mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari suaminya. “Perlahan? Mas, Renata itu sudah dewasa. Tidak ada alasan baginya untuk diperlakukan istimewa. Kamu harus menceritakan juga apa yang terjadi di antara kamu dan mantan istrimu, sehingga tak bisa menemui Renata. Siapa tahu, otaknya telah dicuci oleh cerita tidak benar tentang kamu dan kita, Mas.” “Mahira, dengarkan Mas, ya. Delapan belas tahun, itu terlalu lama bagi Renata untuk berada dalam kehidupan yang kekurangan. Mas baru saja berjumpa lagi dengannya. Masih banyak yang perlu dilakukan untuk saling mendekatkan diri. Tidak hanya kamu yang perlu melakukannya, Hira. Mas pun sebagai ayah kandungnya, perlu sekali mencoba mengenali karakternya lebih dalam. Untuk itu, Mas akan sering mengajaknya berkomunikasi setelah ini, dibanding anak-anak kita yang lain. Nanti kamu jangan mengira Mas tengah memberikan perlakuan khusus kepadanya. Tidak sama sekali.” Entah kenapa, perasaan Mahira kian tidak tenang setelah mendengar ucapan Damra barusan. Bukan karena sebuah rasa cemburu, tetapi lebih kepada was-was. Ia takut Damra akan lengah dari mengingatkan Renata pada kebenaran yang telah terjadi. “Mas hanya minta tolong, berikan dukunganmu. Beri pengertian juga kepada anak-anak, jika Renata adalah bagian dari keluarga kita saat ini. Mas yakin kamu mau melakukannya, Hira.” Damra mengusap kepala sang istri dengan lembut, lalu mendaratkan kecupan di dahi perempuan itu. Ia sudah menghalau percikan api di dalam d**a setelah mendengar pengakuan dari sang istri. Sebagai lelaki dan kepala keluarga di rumah ini, Damra selalu berusaha untuk bersikap adil dan mendengarkan siapa saja. Terlebih untuk Mahira. Rasa cintanya kepada perempuan yang telah memberikannya sepasang anak kandung, terlalu besar jika harus terusik hanya karena masalah kecil. Merasa tidak nyaman terhadap sikap pilih kasih Mahira yang terekam nyata, itu merupakan hal wajar. Namun, jauh di dalam lubuk hati lelaki itu, sang istri tetaplah wanita baik yang tak tergantikan untuk terus dicintai. * Saat makan malam. Kebetulan semua anggota keluarga sudah berkumpul. Damra yang meminta Faldo dan Farhan agar tidak melakukan aktivitas lain di luar. Ia ingin memperkenalkan Renata kepada anak-anak yang lain—secara resmi. Sepanjang santap malam, tidak ada yang berbicara. Hal tersebut memang telah diberlakukan oleh Damra dan dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga yang lain—kecuali untuk hal-hal mendesak lainnya. Lantas, setelah semua selesai dengan makanan masing-masing, barulah sang kepala keluarga membuka suara. “Faldo, Fahri dan Freya. Mungkin sejak kemarin, kalian bertanya-tanya tentang kehadiran Renata di rumah ini. Dia adalah anggota keluarga kita juga mulai saat ini. Renata adalah putri Papa yang terlahir dari ibu berbeda. Kalian sudah besar dan mestilah mengerti posisi dan kondisinya. Papa berharap, kalian bisa akur sebagai saudara.” Farhan dan Faldo saling pandang, lalu mereka pun mengangkat bahu. Sementara Freya memilih fokus dengan minuman cokelat kegemaran. Sedangkan Mahira, tak banyak kata. Ia diam seribu bahasa—mendukung apa pun yang akan dikatakan oleh sang suami. “Saya memanggilnya dengan sebutan Kakak-kah atau bagaimana, Pa?” tanya Faldo kemudian. Ia pikir Renata adalah orang lain yang tengah bertamu di rumah ini. Namun, ternyata tidak sama sekali. Hubungan gadis itu dengan sang ayah tiri justru lebih erat lagi—darah daging. “Renata lebih muda usianya darimu. Papa sudah mendaftarkannya kuliah di kampus yang sama denganmu. Papa percayakan dia dijaga olehmu selama di kampus, Fal. Papa sudah mendengar, reputasimu sebagai sosok yang didengar di lingkungan kampus cukup bagus.” Faldo mengangguk-angguk kecil. “Semoga Kak Renata bisa betah tinggal bersama kami.” Farhan bersikap lebih baik dari dua saudaranya yang lain. Setidaknya, ia bisa menempatkan diri sebagai salah satu orang yang menunjukkan sikap penerimaan yang lebih bagus bagi Renata. “Terima kasih, Farhan,” sahut Renata sambil tersenyum kecil, lalu kembali menundukkan wajah. Selesai makan malam, Mahira membereskan piring seperti biasa. Namun, kali ini Renata membantunya. Bukan tanpa sebab, Damra duduk di ruang tengah bersama dengan Faldo dan Farhan. Mereka mengobrol sembari menonton tayangan pertandingan bola yang sama-sama digemari. Sedangkan Freya asyik dengan buku bacaannya—ikut duduk di ruang tengah. “Kamu ke kamar saja. Biar aku yang membereskannya sendiri. Sudah biasa.” Ucapan Mahira barusan dibalas decakan kecil oleh Renata. “Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa di depan Papa?” Gadis itu malah menanyakan hal lain. “Aku tahu Papa mencintaimu, makanya aku harus bisa bersikap baik kepadamu, di depannya.” Mahira refleks mengempaskan kotak makan Freya yang sedang dicucinya. Hal tersebut menarik perhatian dari anak-anak dan suaminya. “Ada apa di dapur?” tanya Damra sambil meninggikan volume suara. Sementara itu, Mahira terus melotot kepada Renata yang membalas tatapannya tanpa takut. Karena tidak ada sahutan dari sang istri, Damra memilih bangkit untuk menyusul ke dapur. Ia harus memastikan apa yang telah terjadi, sebab, setahunya Mahira sedang bersama dengan Renata di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN