Tepat setelah salat Zuhur, Damra bergegas pulang ke rumah. Ia sudah berjanji akan memenuhi segala kebutuhan Renata—terutama mengenai pendidikan. Saat sampai di rumah, Mahira menyambut dengan wajah sedikit ditekuk. Perseteruan dengan Renata beberapa jam lalu, membuat suasana hatinya berubah buruk. Meski gadis itu mengatakan hal yang tak ia mengerti sedikit pun—tentang memisahkan suami dari istrinya, pun anak dari ayah, tetapi Mahira memutuskan tetap akan mengatakan kepada Damra perihal sikap Renata yang tak beretika terhadapnya.
"Di mana Renata, Hira?” tanya Damra setelah tak menemukan putrinya di meja makan. Ia melirik jam di tangan. Ini sudah waktunya makan siang.
“Dia ada di kamarnya, Mas.”
Mahira baru akan membuka suara lagi untuk menyampaikan hal yang mengganggunya tersebut. Namun, Damra malah bangkit dari tempat duduk hendak menuju lantai dua.
“Mas, ada yang perlu aku bicarakan dulu sama kamu.”
Buru-buru Mahira menahan. Ia tak terbiasa dengan segala hal yang dipendam terlalu lama. Sejak dulu, perempuan tiga anak itu tak ingin ada masalah yang berbuntut panjang di kemudian hari. Kegagalan pernikahan pertamalah yang mengajarkannya hal demikian. Sehingga, saat memutuskan menerima pinangan Damra, mereka sepakat akan saling terbuka terhadap perasaan masing-masing—entah suka ataupun tidak, dengan harapan masalah yang tercipta bisa segera teratasi. Hal ini menyangkut pula dengan kebiasaan Damra yang selalu meminta pendapat istrinya atas keputusan yang hendak diambil. Sejauh ini, Mahira mampu menjadi tempat bermusyawarah yang baik bagi sang suami.
“Mahira, aku tidak punya banyak waktu saat ini. Nanti malam saja, ya. Siang ini semua urusan Renata harus selesai. Kita pun akan menjemput Freya di sekolah sekalian pulang.”
Damra kembali membalik tubuh, lalu melanjutkan langkah menaiki anak tangga. Mahira menghela napas dalam sembari duduk menunggu ayah dan anak itu bergabung di meja makan. Tidak apa-apa menunggu sebentar. Yang jelas, urusan Renata ini harus segera diselesaikan. Damra mesti tahu sikap buruk gadis itu terhadap ratu dalam rumah tangga ini.
Sepanjang makan siang, tidak ada satu pun yang bicara. Damra tak menyukai hal tersebut—bicara saat makan. Selang lima belas menit kemudian, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Renata yang duduk di jok belakang, sesekali menatap sinis pada Mahira yang kurang nyaman dengan posisi mereka saat ini.
“Renata, setelah selesai pendaftaranmu, kita langsung bergegas membeli keperluanmu yang lain, ya. Ponsel, laptop dan pakaian untukmu. Mama akan menemanimu memilih pakaian yang pantas dikenakan gadis seusiamu.”
Lelaki di belakang kemudi itu memecah hening. Langsung diangguki oleh sang anak yang bersikap patuh. Berbeda ketika berhadapan dengan Mahira saja. Hal tersebut membuat dahi perempuan berhijab di jok sebelah Damra, mengernyit.
“Hira, Mas percayakan semuanya sama kamu, ya, Sayang.”
Mahira menoleh, lalu tersenyum hambar. “Iya, Mas.”
Urusan pendaftaran di kampus tak memakan waktu yang lama. Kenalan Damra membantu mengurus segalanya. Pria itu hanya perlu membayar, lalu Renata sudah bisa bergabung dengan mahasiswa baru yang sudah mulai belajar satu bulan ini.
Mobil yang dikendarai sendiri oleh Damra sudah meluncur menuju sebuah mall. Di sana. Semua keperluan Renata bisa didapatkan. Langkah panjang Damra mengomando dua perempuan yang mengikuti. Tak perlu lama-lama, ponsel keluaran terbaru yang dipilih Renata dan laptop sudah didapat.
Mahira hanya mampu menghela napas melihat nominal yang dikeluarkan suaminya hari ini untuk Renata. Tidak sedikit. Sungguh, ia sebagai ibu rumah tangga yang mengatur keuangan keluarga, benar-benar dibuat menangis menyaksikan putri suaminya dari Selasih, memilih barang-barang mahal tanpa ragu. Apa salahnya meminta gadget yang ramah di kantong. Bukankah untuk uang kuliahnya saja Damra sudah menggelontorkan dana puluhan juta.
Sementara Renata, tersenyum bungah dengan tentengan di tangan. Ia senang bukan main. Akhirnya bisa memiliki barang yang selama ini diidamkan. Selasih mana mampu membelikan. Untuk biaya sekolah saja perempuan itu sudah jerih mencari dana ke sana-kemari.
Tiba di butik langganan Mahira, Damra memilih duduk saja di salah satu kursi yang tersedia. Ia membiarkan sang istri menemani Renata memilih baju yang diperlukan.
“Jangan yang itu, Renata. Pilihlah pakaian yang sopan dan tidak ketat. Meski kamu tidak berhijab, sebaiknya tetap perhatikan busana yang kau kenakan.”
Mahira mengambil lagi pakaian yang dipilih oleh Renata, lalu menggantung di tempatnya kembali. Hal tersebut membuat gadis itu meradang. Namun, terpaksa ditahan, tak ingin Damra melihatnya.
Karena belanja kebutuhan pakaian Renata dipercayakan kepadanya, Mahira pun berusaha untuk memangkas total anggaran. Namun, ia tak mengurangi jumlah yang seharusnya dibutuhkan oleh gadis itu. Setidaknya, Mahira memilihkan pakaian pantas dengan harga yang cukup masuk akal.
“Sudah?” tanya Damra saat dua perempuan itu menghampirinya yang tengah sibuk melihat-lihat email.
Mahira mengangguk, lalu mengembalikan credit card milik sang suami. Sungguh, hati perempuan itu tidak tenang mengetahui jika Damra masih menggunakan benda tersebut. Sejak lama ia telah menyampaikan keinginan agar sang suami tak berhutang lagi. Pada saat itu, Damra mengangguki. Akan tetapi, diam-diam pria tersebut masih mengaktifkan benda yang terkadang membuat pemiliknya kalap.
“Ayo, cepat. Freya sudah harus dijemput.”
Gegas Damra berdiri, lalu melangkah keluar butik. Mahira dan Renata mengikuti tanpa bicara sepatah pun. Hening terus tercipta hingga sampai di sekolah Freya. Mahira keluar dari mobil, lalu berjalan cepat saat melihat putri bungsunya telah menunggu di pos satpam. Senyum Mahira seketika tergambar indah ketika kembali melangkah menuju mobil.
Renata berdecak pelan saat melihatnya. Ia tentu saja bisa merasakan perbedaan sikap Mahira tersebut. Tak ada yang salah. Semua wajar. Seorang ibu pasti akan bersikap lebih manis kepada anak kandungnya, ketimbang anak orang lain terlebih dengan sikap buruk seperti Renata terhadapnya.
Di perjalanan pulang, Freya yang duduk di sebelah Renata tak menoleh sedikit pun kepada gadis itu. Ia ingat ucapan Mahira semalam—supaya jangan mengatakan hal yang menyinggung perasaan Renata. Oleh karenanya, gadis kecil berhijab itu memilih diam seribu bahasa.
Sementara Damra, sempat melirik sambil mengernyit ke arah sang istri. Ada hal yang mengganggu hatinya. Sikap Mahira jelas membedakan antara anak kandung dan tiri. Padahal semalam sudah ditegaskan agar tak membuat perbedaan itu menjadi nyata. Namun, Mahira malah menonjolkan hal tersebut. Damra bahkan sempat melihat dari kaca spion ekspresi Renata ketika melihat Mahira bisa tersenyum lebar saat bersama Freya.
“Hira, kita harus bicara. Ikut Mas ke kamar!” tegas Damra ketika mereka sudah sampai di rumah.
Mahira yang tadinya hendak membantu membereskan Freya yang baru pulang sekolah, tersentak dibuatnya. Akan tetapi, ia tetap mengikuti sang suami ke bilik pribadi mereka, setelah meminta Freya masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
“Ada apa, Mas?”
Takut-takut Mahira menatap wajah Damra yang kian menautkan alis ketika melihatnya sudah berada di hadapan lelaki itu.
“Mas sudah katakan, jangan pernah membedakan kasih antara anak-anak kita. Mas tidak pernah menganggap Faldo itu anak orang lain. Saat menikahimu, Mas sudah berjanji di dalam hati untuk menyamakan rasa ini. Sementara kamu! Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu jelas membedakan antara Freya dan Renata, Hira!”