“Freya, jangan bicara begitu. Tidak boleh. Sudah malam, ayo masuk ke kamar.”
Mahira lantas menarik putri bungsunya ke bilik, meninggalkan Renata dengan gurat tidak senang di wajah. Hanya saja, semua tak berlangsung lama, sebab Damra sudah terlihat wujudnya oleh manik mata gadis itu di lantai bawah.
“Renata, turun sebentar.”
Renata bergegas menyahut panggilan ayahnya. Mereka pun akhirnya duduk berhadap-hadapan di sofa ruang tengah. Ada beberapa hal yang perlu diberitahu oleh Damra kepada gadis itu—berkenaan dengan rumah ini.
“Maafkan mengenai tadi, Rena. Mamamu hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu di sini. Papa akan mulai memperkenalkan situasi rumah ini kepadamu, dimulai dari saudara-saudaramu.”
Damra menunjuk figura berbingkai emas yang memampangkan foto keluarga mereka.
“Yang di ujung kiri, adalah Faldo. Kamu harus memanggilnya Abang, sebab dia lebih tua darimu dua tahun. Di ujung sebelah kanan, namanya Farhan. Dia adikmu, tiga tahun usianya di bawahmu. Dan perempuan di tengah-tengah, adikmu, Freya namanya. Usianya baru sepuluh tahun. Faldo, biasanya pulang sebentar lagi. Dia memang sering berkumpul dengan teman-temannya. Sementara Farhan, ada kegiatan di sekolah, persiapan sebagai panitia olimpiade SMP se-Indonesia.”
Renata mengangguk. Sejak tadi ia juga sudah memperhatikan satu per satu wajah anak-anak beruntung tersebut. Di depan Damra, gadis itu berusaha keras melenyapkan ketidaksukaannya pada empat orang lain yang tinggal di rumah ini, kecuali ayahnya.
“Esok pagi, kita akan sarapan bersama. Kau juga harus membiasakan diri bangun pagi, bantu mamamu di dapur. Siangnya, Papa akan pulang menjemputmu. Kita akan mengurus kuliahmu di kampus yang sama dengan Faldo. Tidak masalah ke universitas swasta saja. Kampusnya juga berkualitas.”
Pembawaan Damra yang tegas dan berwibawa, membuat Renata ikut tunduk terhadap setiap ucapan lelaki itu. Walau dikisahkan telah tega meninggalkan dirinya dan sang ibu sejak masih bayi, namun, Renata tak punya celah sedikit pun untuk membenci Damra. Baginya, semua itu bukanlah salah lelaki tersebut, tetapi ulah Mahira yang telah berani merebut Damra dari Selasih—ibunya.
“Apa yang kamu butuhkan lagi, Ren? Handphone? Laptop? Besok kita akan beli semuanya. Papa akan mencukupkan segala yang kamu perlukan guna menunjang pendidikan kamu.”
“Terima kasih, Pa. Rena tidak tahu apa jadinya masa depan Rena kalau tidak ketemu sama Papa.”
“Sudah, Nak. Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Ini semua sudah menjadi kewajiban Papa.” Sejenak Damra memperhatikan busana yang dikenakan oleh Renata. Benar yang dikatakan oleh Mahira. Pakaian Rena, ketat, mencetak dan tipis pula. Hal ini tidak baik jika dibiarkan—meski berada di dalam rumah sekali pun. “Besok kita juga akan membeli pakaian baru buatmu. Semua baju-baju dan celana yang kamu punya, dibuang saja, Ren. Ganti dengan yang akan Papa belikan besok.”
Renata mengernyit. Ia menatap bajunya sendiri. Selama ini tidak ada masalah dengan apa yang dikenakan. Selasih pun tak pernah mengatakan jika busananya tak layak pakai. Hanya saja, ia kembali mengangguk, patuh.
“Baik, Pa.”
“Ya sudah. Ini sudah pukul sembilan. Kamu istirahatlah. Subuh-subuh harus segera bangun. Mandi, salat, dan bantu Mama di dapur.”
“Tidak perlu, Mas. Aku biasa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Mungkin Renata belum terbiasa. Jangan membuatnya tidak nyaman berada di sini.”
Ucapan Mahira tersebut menarik perhatian dari Damra dan Renata. Mereka tidak menyangka perempuan berhijab hitam itu akan ikut andil dalam pembicaraan mereka.
“Mahira ….”
“Sudah, Mas. Biarkan Renata terbiasa dulu di sini.” Manik mata Mahira lantas mengarah kepada Renata setelah ia mengambil posisi duduk di sisi sang suami. “Maafkan atas sikapku tadi kepadamu, Renata. Aku mungkin terdengar sedikit kasar.” Senyum tersungging di bibir ranum sang ibu sambung.
Renata tertegun sesaat, sebelum akhirnya membalas senyuman Mahira dengan anggukan kecil.
“Kalau boleh, besok aku ingin ikut denganmu, Mas. Aku yang akan memilihkan pakaian untuk Renata. Dia sudah dewasa dan perlu memperhatikan auratnya di mana pun, termasuk dalam rumah ini,” ucap Mahira menoleh lagi kepada Damra. Tentu saja langsung mendapat anggukan dari lelaki itu. Ini yang diinginkan oleh Damra—sang istri mendekatkan diri pada putrinya bersama Selasih.
*
Pagi-pagi sekali, seisi rumah sudah sibuk melakukan aktivitas masing-masing. Freya dan Farhan telah duduk di meja makan. Damra pun sedang berkemas di dalam kamar. Faldo baru akan melangkah ke lantai satu. Sedangkan Renata masih terlelap di atas tempat tidur.
Sudah pukul enam, kehidupan pagi Mahira sebagai ibu rumah tangga cukup menyesakkan. Namun, sekian tahun terbiasa, lama-lama malah menjadi habit buatnya. Ia tak terbebani sedikit pun melakukan semua itu—mengurus anak-anak dan suami. Hal inilah yang membuat Damra begitu bergantung kepadanya. Mahira merupakan salah satu bukti nyata, bahwa istri atau ibu memang benar-benar menjadi jantung dalam rumah tangga.
Telaten, satu kata itu yang mampu menggambarkan sosok Mahira di mata suami dan anak-anaknya.
“Renata kenapa belum turun juga?” Damra bicara sendiri sambil melirik jam di pergelangan tangan. Semalam ia sudah berpesan agar gadis itu bangun pagi.
Baru akan beranjak dari tempat duduk, Mahira menahan lengan lelaki itu.
“Mas, biarkan saja dulu. Dia butuh penyesuaian. Nanti kalau lapar pasti akan turun untuk makan. Nanti aku akan ingatkan lagi, soal ke kampus dan berbelanja keperluannya.”
Damra membuang napas kemudian. Ia memang tak punya waktu untuk mengurus hal kecil seperti ini—membangunkan anak-anak. Sebab, biasanya selalu Mahira yang menangani.
“Terima kasih, Hira.”
Mahira tersenyum kecil.
Setengah jam berlalu, semuanya telah berangkat ke tujuan masing-masing. Hanya Faldo yang pergi sendiri dengan sepeda motor. Sementara Farhan dan Freya masih diantar oleh ayah mereka.
Mahira tengah membereskan rumah, ketika Renata turun—dua jam kemudian. Terlalu siang memang. Tanpa menyapa, gadis itu langsung menuju meja makan. Membuka tudung saji dan tidak menemukan apa-apa. Nasi goreng yang dibuat oleh Mahira sudah dimasukkan ke dalam lemari makanan. Memang sengaja disisakan untuk Renata.
“Apa di rumah ini memang tidak ada makanan yang disimpan di bawah tudung saji?” tanya Renata saat Mahira melewatinya yang berdiri di meja makan.
“Kamu bertanya kepadaku?” Mahira balik bertanya. Ia tak suka dengan ketidaksopanan Renata barusan. Apa salahnya bertanya dengan sapaan—Tante misalnya.
“Ya, hanya kamu yang aku lihat.”
Gadis itu menjawab sambil tersenyum sarkas dan mengangkat bahu.
Hal tersebut membuat jantung Mahira berdetak kencang. Firasatnya tidak salah. Kehadiran Renata di rumah ini hanya akan menjadi petaka bagi rumah tangganya. Entah ada tujuan apa, yang jelas sejak awal Mahira sudah menduga ada sesuatu yang tak beres dari gadis di hadapannya kini.
“Maaf, Renata. Bisakah kau bicara sedikit lebih sopan kepadaku?”
“Sopan? Setelah semua yang kau lakukan kepada ibu dan aku?”
Dahi Mahira kian mengernyit. Ia tak paham dengan arah pembicaraan gadis itu.
“Apa maksudmu?”
“Kau masih berlagak bodoh? Ayolah. Sudah cukup semua kenikmatan ini kau dapatkan. Waktunya mengembalikan kepada yang seharusnya memiliki,” tuding Renata terus memojokkan Mahira.
“Aku harus mengatakan ini kepada ayahmu. Kau telah berlaku tidak sopan kepadaku, Renata!”
“Setelah berhasil memisahkan suami dari istrinya. Kini kau berencana akan memisahkan lagi anak dari ayahnya. Kau benar-benar wanita berhati iblis! Papa tertipu dengan kelembutan wajahmu itu.”
Renata lantas berlalu menuju dapur, meninggalkan Mahira dengan gelegar di dalam d**a.