“Kenapa kamu bawa dia ke rumah ini, Mas?” Mahira membelalak tak percaya saat melihat Damra pulang dengan seorang gadis yang berdiri di belakang punggungnya.
“Dia adalah darah dagingku juga, Ra. Jadi, tidak ada yang bisa menghalangiku untuk membawanya pulang ke sini.”
“Tapi seharusnya kamu bicarakan dulu denganku, Mas. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan.”
“Kita bisa bicara nanti. Sekarang, biarkan Renata istirahat dulu.” Damra menoleh ke belakang. “Kamu pergilah ke lantai dua, kamar nomor tiga dari tangga. Papa sudah mempersiapkannnya untuk kamu, Rena.”
Renata mengangguk. Ia sudah melihat bilik itu. Satu tas ransel berisi pakaian dan barang-barang pribadinya disandang kembali. Lalu dengan sedikit merundukkan badan ke arah Mahira, ia berlalu menuju lantai dua.
“Mas, kita perlu bicara.”
Mahira mengikuti langkah suaminya menuju kamar pribadi mereka di lantai dasar,
“Iya, aku juga akan membicarakan ini denganmu, Ra.”
Pintu itu ditutup, sehingga Renata tak lagi dapat mendengar pembicaraan dua orang dewasa—pemilik rumah ini. Gadis itu berjalan dalam senyap menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.
Perasaan Renata lega, sebab, bisa kembali bertemu dengan ayahnya. Setelah sekian lama mencari, berbekal informasi yang diberikan oleh Selasih—sang ibu.
Di kamar berukuran empat kali empat itu, Renata berusaha mulai membiasakan diri. Tatapan merekam setiap sudut ruangan. Furniturnya lengkap—lemari, nakas, meja rias, meja belajar, rak sepatu, kamar mandi, pendingin ruangan. Seharusnya sejak lama ia mendapatkan semua ini.
“Delapan belas tahun lebih, Ck!” Renata berdecak kesal. “Seharusnya Ibu tidak membiarkan orang lain merebut Ayah darinya. Lihatlah Si Mahira itu sekarang. Dia jadi ratu dalam istana yang sudah dibangun Ayah untuk kami.”
*
Sementara itu, di kamar utama lantai satu, Mahira terus menatap suaminya tak percaya. Tak pernah sekali pun Damra melakukan hal ini—mengambil keputusan tanpa berunding dulu dengannya.
“Renata anakku juga, Mahira. Tolong mengertilah. Delapan belas tahun entah kehidupan seperti apa yang dia jalani bersama ibunya. Dia tumbuh dengan baik saja, aku sudah sangat bersyukur sekali. Apalagi dia masih ingat kalau ada aku sebagai ayahnya yang pasti menerima dengan terbuka kedatangannya.”
Damra duduk di sisi ranjang. Ia tak mengerti kenapa Mahira begitu tidak terima dengan kehadiran Renata. Bukankah sudah jauh-jauh hari perempuan itu diberitahu tentang sosok putri pertamanya tersebut.
“Mas, dia seorang gadis yang … ah, lihatlah pakaian yang dikenakan. Ketat dan terlalu mencetak bentuk tubuhnya. Di rumah ini ada Faldo dan Farhan yang sudah balig. Jika Farhan masih memiliki hubungan darah dengannya, bagaimana dengan Faldo, anakku dari mantan suamiku dulu, Mas? Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk di dalam rumah ini tanpa sepengetahuan kita."
Damra menatap istrinya dengan sorot menyelidik. "Apa ini hanya sebuah alasan saja supaya kamu bisa menolak kehadiran Renata di rumah ini?”
Cepat Mahira menggeleng. “Mas, kita sama-sama sedang membangun rumah tangga yang diridhoi oleh Allah. Kita berangkat dari dua insan dengan pengetahuan agama yang kurang. Lalu, kita mulai saling menguatkan, bertekad akan membina keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Lihat Freya, putri kita. Sejak dini sudah dibiasakan menutup aurat. Lantas, kamu malah membawa pulang Renata yang cara berbusananya saja sangat jauh dari kata baik—bagi kita yang tengah memperdalam ilmu agama.”
“Memperbaikinya adalah tugas dan kewajiban utamaku, Mahira. Kamu sebagai istri hanya perlu mendukung setiap tindakan yang kulakukan. Dosanya tetap akan menjadi pertanggungjawabanku di hadapan Allah. Justru karena melihatnya tak terarah seperti itu, sehingga aku memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah ini. Aku sangat bersyukur Renata masih sudi memanggilku papa. Dia datang mencari ke kantor lalu menceritakan semua kejadian yang telah dilewatinya sejak kecil. Hatiku sebagai seorang ayah merasa teriris dengan hidupnya. Anak itu butuh aku, Hira. Renata butuh perhatian dan kepedulian ayahnya dalam segala hal.”
Damra mengucapkan setiap kata dengan penekanan. Kali ini ia tidak butuh persetujuan dari Mahira, sebab berkenaan dengan hidup sang putri.
“Renata memang tidak lahir dari rahimmu, tetapi dalam darahnya mengalir pula darahku. Tolong, bersikap baiklah terhadapnya, Hira. Dia akan tinggal di sini, menempuh pendidikan yang sama seperti Faldo.”
Mahira tergemap. Ia kehabisan kata-kata. Ucapan suaminya tersebut cukup mampu membuatnya bungkam. Sebagai seorang perempuan cerdas, ia tentu saja dapat memahami makna tersirat dari kata-kata tersebut.
Faldo saja yang bukan darah dagingnya, dibiayai penuh oleh pria itu. Bagaimana dengan putrinya sendiri? Sangat tidak mungkin untuk diabaikan.
“Satu hal lagi. Jangan pernah bedakan anak-anak itu. Jika saat ini Renata tak baik di matamu, maka kamu pun perlu membantunya agar menjadi lebih baik. Kamu adalah istriku, Hira, dan otomatis juga telah menjadi ibu kedua untuknya. Aku tahu kamu wanita yang berhati baik, tunjukkan hal itu kepada Renata. Jangan buat dia tidak nyaman tinggal di sini.”
Setelah mengucapkannya, Damra pun bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi—hendak membersihkan diri. Hari ini ia memang terlambat pulang ke rumah karena bertemu dengan Renata yang mencari ke perusahaan miliknya.
“Aku Renata, anak Papa.”
Cara gadis itu memperkenalkan diri kepada Damra, ketika di kantor tadi, membuat hati pria itu mencelus. Sungguh, telah lama Renata terabaikan olehnya. Delapan belas tahun, ketika gadis itu hadir ke dunia dengan kelainan lahir yang disebut atresia ani atau bahasa umumnya kelainan yang menyebabkan a**s tidak terbentuk dengan sempurna.
“Aku melewati hari-hari yang berat. Sekolah kadang pakai sepatu bolong. Tali tas sudah putus. Seragam menguning. Semua itu terjadi karena Ibu tidak punya uang. Mau cari Papa, aku belum berani. Takut nanti keluarga Papa marah. Sekarang, aku terpaksa, karna Ibu bilang sudah tidak punya uang buat menyekolahkanku. Maafkan, kalau aku akan merepotkan Papa dan keluarga baru Papa. Tapi aku butuh untuk terus sekolah. Aku mau jadi orang sukses. Aku tidak mau seperti Ibu.”
Damra menjadi kian tak punya daya untuk menolak putri pertamanya tersebut. Sehingga keputusan membawa Renata pulang kian bulat. Urusan dengan Mahira, kesampingkan saja dulu. Terpenting Renata terselamatkan hidup dan pendidikannya.
“Kamu siapa? Kenapa ada di rumahku!” pekik Freya dari lantai atas saat bersitatap dengan Renata yang hendak turun tangga.
Buru-buru Mahira mengejar. Perempuan itu tidak ingin Freya melakukan sesuatu yang bisa membuat Damra tersinggung. Ia ingat betul bagaimana lelaki itu sungguh berpesan agar bersikap baik kepada putrinya yang baru saja dibawa pulang tersebut.
“Freya, tidak boleh seperti itu kepada ….”
“Hai, aku Renata, kakakmu,” potong Renata sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar kepada Freya.
Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari Renata.
“Kakakku cuma Bang Faldo dan Kak Farhan, bukan kamu,” tandas Freya menyebabkan senyum di bibir Renata sirna.
‘Ya, kakakmu memang hanya mereka berdua dan kau kira aku akan sudi menjadi kakakmu juga. Tunggu saja, kedatanganku ke sini jelas ingin mengambil kembali ayahku dari kalian semua. Sudah cukup waktu bersenang-senangnya! Mari sudahi sesegera mungkin!’ rutuk Renata di dalam hati.