"Zoya, tolong terima, ya. Nanti kamu makannya bareng Mas Nabil aja." Zoya mengembuskan napas dalam. Hampir tiga bulan ini, Yani selalu mendelegasikan urusan makan siang Nabil padanya. Wanita itu sengaja mengirimkan makan siang melalui gosend, dan tebak, siapa yang direpotkan? Siapa lagi kalau bukan dirinya. Kadang dia merasa aneh dengan sikap sahabatnya, seolah-olah berusaha mendekatkannya dengan Nabil. Bagaimana kalau dia gelap mata dan menggoda lelaki itu? Zoya menggelengkan kelapa menghalau pikiran sesat yang mencoba mampir ke tempurung kepalanya. Dia beristigfar dalam hati, berharap imajinasi sesat itu tidak terulang lagi. Yani benar, banyak perubahan terjadi padanya sejak bekerja di perusahaan Nabil. Kantor itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi secara tidak langsung memban

