"Minumlah." Seorang laki-laki menyapa membuyarkan lamunan Nabil. Nabil tersenyum tipis sebagai ucapan terima kasih ketika kopi dihidangkan ke atas meja. Matanya menatap kepulan uap panas yang menari-nari membubung dari bibir cangkir keramik berwarna putih. "Maaf, pagi-pagi sudah merepotkanmu." Nabil berucap sambil meraih cangkir kopi tersebut, sebelum menyeruput dia menghirup aroma khas kopi robusta. "Seperti kopi yang baru kamu minum, kadang pahit, tetapi selalu membuatmu meminum lagi esok hari. Hidup juga seperti itu, pahit, tetapi tetap harus kita jalani." Nabil tertawa kecil. Dia menoleh ke arah lelaki yang baru saja mengujarkan kata-kata bijak. "Kamu banyak berubah, ya. Terakhir kita ketemu kamu masih jadi berandalan." Laki-laki itu tersenyum. Dia menyandarkan punggungnya ke

