Ingin Selalu Di dekatmu

1567 Kata
Seanna terbangun dari tidurnya tepat pukul enam pagi. Dia membuat roti lapis dan jus jeruk untuk sarapan, lalu mengetuk pintu kamar Noah. "Selamat pagi, Noah, aku membawakan sarapan untukmu," sapa Seanna seraya meletakkan nampan di atas meja. Dia melihat Noah yang sedang duduk melamun menghadap ke jendela. "Noah, makanlah, setelah itu kamu harus minum obat dari dokter supaya cepat pulih." “Aku tidak mau. Rasa obat itu pahit, Anna,” tolak Noah dengan bibir mengerucut. Untung saja Seanna sudah terbiasa membujuk anak kecil yang sedang merajuk. Kali ini, dia akan mencoba cara yang sama supaya Noah bersedia meminum obatnya. "Aku akan memberikanmu biskuit keju yang lezat setelah kamu meminum obatnya. Sekarang makanlah sarapanmu dulu.” Netra Noah langsung berbinar mendengar hadiah yang dijanjikan oleh Seanna. "Oke, aku akan minum obatnya," jawab Noah bersemangat. Dengan antusias, Noah menghabiskan roti lapis dan segelas jus buatan Seanna. Dia bahkan makan cepat sekali, hingga membuat Seanna sedikit khawatir. "Anna, aku sudah menghabiskan makananku. Aku anak yang pintar." Seanna tersenyum seraya mengacungkan jempolnya kepada Noah. "Iya, kamu anak pintar. Sekarang minum obatnya, dan aku akan mengambilkan biskuit." Seanna meninggalkan Noah untuk mengambil biskuit dari dapur. Sekembalinya ke kamar, ia melihat Noah sedang mengernyitkan hidung, seakan mati-matian menahan rasa pahit dari obat yang ditelannya. Melihat eskpresi wajah Noah yang lucu, Seanna mengulum senyuman. "Kamu hebat, Noah. Ini biskuit untukmu." Noah segera menggigit biskuit itu dengan lahap. Ekspresinya berubah girang layaknya anak kecil yang mendapat hadiah dari orang tuanya. "Makan saja pelan-pelan. Aku pergi dulu ya. Aku harus bersiap pergi ke sekolah," tutur Seanna meninggalkan kamar Noah. Seanna berganti baju dengan setelan kemeja dan rok selutut berwarna biru. Kemudian, ia menyisir dan mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda. Pagi ini, dia akan mengajari murid-muridnya di kelas seperti biasa. Usai memoleskan sedikit riasan di wajahnya, Seanna menyambar tas kerjanya dan bersiap-siap untuk pergi. Namun ketika membuka pintu, Noah telah berdiri menantinya. "Noah, kenapa kamu ada di sini?" “Aku ingin ikut ke sekolah, Anna. Aku juga mau belajar," pinta Noah dengan tatapan memohon. "Noah, kamu tidak boleh ke sekolah. Sekolah hanya khusus untuk anak-anak. Lebih baik kamu istirahat saja di rumah sambil menonton TV atau membaca buku,” tolak Seanna berusaha memberikan pengertian. "Tidak mau, aku bosan di rumah. Aku masih anak-anak, kenapa tidak boleh ke sekolah?" rengek Noah sambil menggoyangkan lengan Seanna. Julie yang mendengar keributan itu menghela napas kasar. Dia bergegas menghampiri kamar Seanna untuk mengetahui apa yang terjadi. "Apa-apaan ini, Noah?" tanya Julie berkacak pinggang. "Bibi, aku mau ke sekolah dengan Anna," jawab Noah takut-takut. Kemudian ia bersembunyi di belakang punggung Seanna. Julie menepuk dahinya sendiri karena pusing melihat tingkah kekanak-kanakan dari Noah. Jika begini terus setiap hari, lama-lama tekanan darahnya akan naik secara drastic. "Bawa saja dia, Anna. Noah membuat kepalaku pening. Kalau kamu pergi dan dia sendirian, bisa-bisa dia mengacaukan isi rumah kita," desis Julie kesal. "Tapi, Mom, aku tidak bisa mengajaknya ke sekolah." "Anna, satu jam lagi aku akan pergi ke restoran. Tidak ada yang bisa mengawasi Noah. Karena itu, kamu harus bertanggung jawab menjaga dia." “Baiklah, Mom, aku akan mengajaknya,” jawab Seanna mengalah. "Noah, ganti bajumu dengan kemeja dan celana panjang. Aku menunggumu di mobil." Noah pun melonjak kegirangan karena Seanna mengabulkan keinginannya untuk sekolah. "Hore, aku akan pergi ke sekolah!. Aku ganti baju dulu, Anna." Seanna menggeleng-gelengkan kepala sembari berjalan ke halaman rumahnya. Sambil menyalakan mesin mobil, ia berpikir apa yang harus dikatakannya nanti kepada kepala sekolah tentang Noah. Mengingat perawakan Noah yang seorang pria dewasa, tetapi bertingkah mirip anak kecil. ‘Semoga saja, dia tidak membuat kekacauan di sekolah. Aku berharap dia menjadi anak yang baik,’ gumam Seanna. Selesai bersiap, Noah berlari kecil menuju ke mobil Seanna. "Pakai sabuk pengamanmu, Noah." "Bagaimana caranya? Aku bingung," jawab Noah. Tak ingin terlambat ke sekolah, Seanna menarik safety belt, lalu melingkarkannya di tubuh Noah. "Kita berangkat sekarang. Nanti jadilah anak yang patuh di sekolah, ya." "Tenang saja, aku akan membuatmu bangga, Anna," sahut Noah merekahkan senyum. *** Begitu tiba di sekolah, Seanna mengajak Noah ke ruang kepala sekolah untuk meminta izin. "Permisi, Mr. Henry. Selamat pagi," ucap Seanna. Ia berjalan lebih dulu menuju kursi, sedangkan Noah mengekor di belakangnya. "Selamat pagi, Miss Anna, silakan duduk." "Noah, duduklah," kata Seanna menggeser kursi di sebelahnya untuk Noah. Ekspresi wajah Noah nampak gugup karena berhadapan langsung dengan Mr. Henry. Pria berkepala pelontos dan bertubuh gempal itu memandangnya dengan penuh selidik. Pasalnya, ia belum pernah melihat Noah di sekolah. "Miss Anna, siapa Tuan ini? Apakah dia ingin melamar pekerjaan sebagai guru di sekolah kita?" "Bukan, Mr. Henry, dia ini Noah. Kemarin saya menemukannya pingsan saat perjalanan wisata ke Nature Park. Dia menderita amnesia dan merasa dirinya masih anak-anak. Karena tidak ingat siapa keluarganya, saya merawatnya untuk sementara waktu. Bolehkah Noah belajar bersama saya di kelas, Mr. Henry?" tanya Seanna meremas jari-jemarinya. Dia khawatir Mr. Henry tidak akan memberinya izin. Mr. Henry melayangkan tatapan tajam kepada Noah sambil mengetukkan penanya ke meja. Ia ingin memastikan apakah pria dewasa ini benar-benar bersikap seperti anak kecil. Padahal bila dilihat dari penampilannya, Noah lebih cocok menjadi aktor, model, atau pengusaha kelas atas daripada murid SD. "Berapa usiamu, Noah?" tanya Mr. Henry. "Sembilan tahun," jawab Noah dengan kepala tertunduk. "Kamu sungguh ingin belajar di sekolah?" "Iya, Sir, saya mau jadi anak yang pintar." Mr. Henry menggaruk dagunya yang tidak gatal. Jujur, dia keberatan menerima Noah yang notabene adalah laki-laki dewasa sebagai siswanya. Namun mengingat pengabdian Seanna di sekolah, dia pun memutuskan untuk mengabulkan permintaan wanita itu. "Baiklah, saya mengizinkan Noah belajar di kelas asalkan Miss Anna selalu mengawasinya." Mr. Henry kemudian beralih menatap Noah. "Dan kamu Noah, kamu tidak boleh mengganggu pelajaran dan dilarang mengusik murid yang lain. Belajarlah dengan giat di kelas. Apa kamu mengerti?" tukas Mr. Henry. "Saya akan memastikan Noah menjadi murid yang patuh. Jika dia nakal, saya sendiri yang akan mengeluarkannya dari kelas," timpal Seanna meyakinkan Mr. Henry. "Saya percaya pada Anda, Miss Anna. Sekarang silakan masuk ke kelas, murid-murid pasti sudah menunggu kedatangan Anda." "Terima kasih banyak Mr. Henry.” Setelah membungkukkan badan kepada Mr. Henry, Seanna menarik Noah keluar dari ruang kepala sekolah. Mereka berjalan beriringan menuju ke kelas tempat Seanna mengajar. Sebelum melewati pintu, Seanna mengingatkan Noah sekali lagi supaya menjaga sikapnya. "Noah, jangan mengganggu teman-temanmu dan perhatikan pelajaran dengan baik." Noah hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Seanna. "Miss Anna!" Murid-murid Seanna berseru gembira ketika melihat kedatangan guru kesayangannya. Saking senangnya Gwen dan Kate langsung menghambur ke pelukan Seanna. Sedangkan Daniel hanya memandang malas dari kursinya. "Miss Anna, aku sangat merindukanmu." “Aku juga sangat rindu," timpal Kate. Seanna mengusap pelan rambut kedua gadis kecil itu lalu menyuruh mereka duduk. "Miss Anna, bukankah Paman ini yang pingsan di hutan kemarin?" tanya Daniel dengan suara nyaring. Ia sampai maju ke depan untuk mengamati wajah Noah. Anak-anak yang lain pun memusatkan perhatian pada Noah. Mereka keheranan melihat ada pria dewasa yang masuk ke kelas mereka. "Miss Anna, kenapa dia terlihat aneh? Apa dia akan menjadi guru kami juga?" tanya Jason. "Bukan, Jason, ini teman baru kalian, namanya Noah. Mulai hari ini dia akan ikut belajar dengan kalian," jelas Seanna sambil tersenyum. "Kenapa Paman ini menjadi teman kami? Bukankah dia sudah dewasa? Orang dewasa harusnya bekerja di kantor seperti papaku," ucap Daniel membulatkan matanya. "Noah ini berbeda, dia belum bisa bekerja. Ayo kembali ke mejamu, Daniel. Miss Anna akan memulai pelajaran kita hari ini." "Baik, Miss," jawab Daniel terlihat kecewa. Ia merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan Seanna. "Noah, duduklah di meja sebelah sana, yang dekat dinding." "Iya, Anna." Noah buru-buru menuju ke meja paling belakang sesuai dengan perintah Seanna. "Anak-anak kita akan melanjutkan pelajaran matematika tentang bangun datar. Buka halaman lima puluh tiga." Anak-anak pun membuka buku matematika sambil menyimak penjelasan dari Seanna. Noah yang duduk di belakang memperhatikan setiap gerak-gerik Seanna. Ia merasa kagum akan kepiawaian wanita cantik itu dalam mengajari para siswanya. "Anak-anak, tolong kerjakan tugas yang Miss berikan di papan tulis. Waktu pengerjaannya dua puluh menit." "Iya, Miss Anna," jawab mereka serempak. Seanna membawa pensil dan dua lembar kertas lalu menghampiri Noah. "Noah, pakai ini untuk mengerjakan soal. Besok aku akan membelikanmu alat tulis sendiri." Noah menerima alat tulis itu dengan hati gembira. Baru sepuluh menit, Noah sudah berdiri dari kursinya lalu mengumpulkan jawabannya ke meja Seanna. "Noah, kamu sudah selesai mengerjakan tugasmu?" "Sudah, bisa tolong cek jawabanku, Anna?" tanya Noah. "Aku akan mengeceknya. Kembalilah ke mejamu." Seanna segera memeriksa semua jawaban yang dituliskan Noah. Ternyata pria amnesia itu bisa menjawab semua soal dengan benar. Barangkali kecerdasannya sebagai orang dewasa tidak hilang meskipun ia bertingkah seperti anak kecil. Seanna menunggu hingga seluruh murid selesai mengumpulkan jawabannya. Lima menit kemudian bel sekolah pun berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar dari dalam kelas untuk bermain. Berbeda dengan Noah yang masih berdiam di dalam kelas. Tidak ada yang mau berteman dengannya, karena anak-anak menganggap Noah sebagai orang aneh. Melihat Noah melamun sendirian, Seanna merasa kasihan. Ia mengambil bekal roti lapis yang dibawanya lalu memanggil Noah. Ia tidak mau pria itu merasa dikucilkan dari yang lain. "Noah, makan roti ini dulu supaya kamu tidak lapar." "Terima kasih, Anna." Usai menerima roti pemberian Seanna, Noah mencodongkan tubuhnya ke depan. Tiba-tiba saja ia mendaratkan ciuman ke pipi Seanna. Karena terkejut, wajah Seanna langsung memerah. "Noah, apa yang kamu lakukan? Jangan menciumku sembarangan, apalagi ini di sekolah!" tegur Seanna marah. "Maaf." Sorot mata Noah berubah sendu. Ia nampak menyesal karena telah membuat Seanna marah. "Aku selalu ingin di dekatmu, Anna," ucap Noah lantas berlari ke mejanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN