PROLOG
“Pertunangan ini harus dibatalkan.”
Suara dari seorang wanita yang telah tampak banyak kerutan di sekitar mata dan pipi itu begitu menggelegar. Membuat semua orang yang ada di ruangan ini terkesiap.
Pertemuan yang di gadang-gadang akan menjadi momen pemersatu dua keluarga dalam sebuah ikatan pernikahan itu mendadak menjadi ajang unjuk martabat.
“Maksudnya apa eyang?” seorang pemuda tampan dalam balutan celana dan kemeja batik cokelat itu akhirnya memberanikan diri bertanya, setelah semua hanya bisa bungkam, terlarut dalam cengang dengan kalimat yang baru saja terluncur dari lisan wanita yang tampaknya sangat dihormati itu.
“Bu, ibu tenang dulu, semuanya bisa di bicarakan baik-baik. Lagipula tanggal pernikahan mereka sudah di tetapkan, dan undangan juga sudah tersebar sebagian.” Seorang wanita yang tak kalah anggun dari wanita yang sudah berdiri dengan tongkatnya itu mencoba menengahi perdebatan yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.
“Ibu tidak peduli. Pokoknya eyang tidak mau cucu satu-satunya eyang menikahi perempuan yang tidak jelas asal usulnya. Titik."
“Ibu Marina yang terhormat, tolong jaga ucapan anda. Putri kami tidak berhak mendapat tuduhan tersebut. Kami sudah mendidiknya dengan sebaik-baik sikap. Jika memang hal tersebut memberatkan anda, dengan sangat senang hati kami akan membatalkan semua pertalian.” Wanita yang tak kalah aura kecantikan berbalur keanggunan itu memandang tajam, tak terbersit sedikitpun gentar di matanya.