“Wah!” seru Chan, kemudian bertepuk tangan dengan pelan.
“Kamu tahu dalam beberapa menit ini, Kamu sudah membuatku terkejut dua kali,” seru Chan jujur. Sejurus kemudian laki-laki berkulit putih itu terlihat mengernyitkan kening.
“Ini bukan ranahku untuk bertanya. Tapi, apa yang membuatmu seperti ini?” lanjut Chan sembari menatap dengan tak berkedip. Assad tersenyum menyeringai.
“Tentu saja aku tak ingin ada korban lebih lanjut di antara kedua belah pihak. Jadi, bisakah aku dapat jawaban atas pertanyaan itu,” jelas Assad kalem.
Chan tertegun sejenak, pandangan mata yang terlihat hati-hati terpancar dengan jelas.
“Aku ingin dengar informasi lengkapnya untuk menghormati keterusterangan dan niat baikmu datang ke sini,” pinta ketua klan Segitiga Emas ini. Dalam kalimat singkat, Assad menjelaskan penembakan yang terjadi di salah satu markas klannya yang tersembunyi. Chan menatap dengan terkejut, tapi sejurus kemudian laki-laki bermata sipit itu terlihat berusaha mengatasi keterkejutannya.
“Sejak pertempuran antar klan kita yang terjadi tiga tahun lalu, setahuku tak ada masalah yang mengharuskan klanku menyerang anak buahmu, apalagi dengan diam-diam begitu,” jawab Chan lugas, Assad menyimak penuturan lawan bicaranya itu dengan saksama.
“Sepertinya tak ada tanda-tanda laki-laki ini bohong,” tukas Assad dalam hati.
Assad diam, menunggu penjelasan selanjutnya.
“Tapi, aku nggak tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan dariku oleh anak buahku, aku akan menyelidikinya lebih lanjut gimana pisau klan kami bisa berada di tempat itu,” janji Chan dengan sedikit menganggukkan kepala tanda respect. Assad tersenyum dan membalas dengan anggukan yang sama.
“Bisakah Kamu memberi tahuku langsung hasil penyelidikan itu? Aku juga akan melakukan hal yang sama dari pihakku,” sambung Assad dengan tenang. Chan menjawab dengan anggukan.
“Aku sudah mendapat janji dengan orang yang bisa dipegang kata-katanya, kalau begitu, aku pergi dulu,” ucap Assad sambil beranjak.
“Tunggu!” seru Chan cepat.
“Jika Assad yang dulu, dengan menemukan bukti itu, pasti sudah menyerang markas ini dengan membawa banyak personel. Apa yang membuatmu ... bahkan ... datang, bertanya secara langsung dan mengajukan penyelidikan seperti ini? Em ... itu ... apa karena ada penyelidikan oleh tim dari masyarakat?” ujar Chan sambil berdiri, laki-laki yang tak lebih tinggi dari Assad itu harus sedikit mendongakkan kepala. Assad tersenyum menyeringai.
“Tim itu ... hanya terdiri dari lima orang biasa yang tidak seperti orang-orang di dunia kita. Jadi, hal itu nggak perlu membuatku risau. Justru korban di antara kedua belah pihak dalam jumlah banyak yang aku khawatirkan. Tentu kejadian tiga tahun lalu di antara klan kita masih berbekas ‘kan? Jika memang ada yang salah di antara dua klan kita, kita pastikan, yang salah saja yang mendapat hukuman. Jika pelaku ternyata dari klanku, tentu aku nggak akan melibatkan klanmu,” jelas Assad dengan tenang.
“Wow! Ini terkejut untuk ketiga kali,” seru Chan jujur.
Assad mengulurkan tangan, menyalami Chan, laki-laki dengan mata sipit itu sekilas terperangah dan hanya menatap uluran tangan itu dengan kaku. Tetapi, sesaat kemudian ia menyambut uluran tangan Assad.
“Jika ada anggota klanku yang menyerang Segitiga Emas dengan alasan balas dendam atau apapun, segera hubungi aku, jangan sampai hal itu memicu keonaran yang lebih besar,” saran Assad yang dijawab dengan anggukan kepala tanpa ragu.
“Antar Bos Naga Putih ini sampai bawah!” perintah Chan pada anak buahnya yang segera patuh mengekor Assad.
Assad keluar dari kantor milik Segitiga Emas itu dengan diiringi tatapan memantau anak buahnya yang duduk di kursi kemudi.
“Bos, Aman?” ucap anak buahnya sambil membuka pintu mobil untuk Assad.
“Beres,” sahut Assad sambil menepuk bahu anak buahnya itu yang kemudian menunjukkan wajah lega.
“Jalan!” perintah Assad pelan. Tanpa bertanya anak buahnya itu segera membuat kendaraan roda empat itu melaju kencang.
Assad kembali duduk dengan memerosotkan tubuh, kepala bersandar di puncak jok, mata terpejam sedang kedua tangan bersedekap.
“Jangankan Kamu, aku juga terkejut dengan perubahanku, Chan,” ucap Assad dalam hati.
“Aku hanya ingin berhati-hati kali ini. Karena ada sesuatu yang seakan terulang. Ah ... jika aku nggak menembak mati Decca di pinggir Arkton kala itu, sekarang laki-laki itu akan bersama dengan Ronald dan Nazar mengatasi masalah klan kita,” sesal Assad dalam hati, percakapan terakhir sebelum salah satu tangan kanannya itu kembali terngiang.
“Apa penyelidikanmu paripurna?” ulang Assad dalam benak, “kali ini aku akan melakukan penyelidikan paripurna, Decca.”.
Assad mengembuskan napas panjang berulang-ulang, mencoba melonggarkan d**a yang mendadak terasa sesak. Mendadak matanya terbuka.
“Berhenti!” seru Assad sambil menegakkan punggung. Anak buahnya dengan patuh menghentikan mobil. Kali ini kendaran roda empat itu berhenti dengan mulus di pinggir jalan. Assad membuka pintu, kemudian berdiri di tepi jalan diiringi dengan tatapan tak mengerti anak buahnya yang tetap duduk di kursi kemudi. Tangan Assad melambai ketika sebuah taksi melintas, taksi itu berhenti di belakang mobil hitam milik laki-laki dengan postur tinggi tegap itu.
Assad mengetuk jendela kemudi dengan buku-buku jari.
“Siap, Bos!” seru anak buahnya ketika membuka jendela. Laki-laki dengan mata elang itu menggerakkan jari-jarinya ke arah dalam dan anak buahnya itu segera keluar dari mobil.
“Pulanglah dengan taksi itu!” perintah Assad membuat anak buahnya melongo.
“B-bbos?” tanya sopirnya itu dengan bingung, sejenak ia mematung berusaha menolak perintah bosnya itu.
“B-bos ... sendiri?” ucapnya dengan khawatir, anak buahnya itu membayangkan tempat semisal dengan markas Segitiga Emas yang baru saja ia kunjungi.
“Ah ... aku akan pergi ke tempat yang nggak ada kaitannya dengan klan apapun,” seru Assad ketika membaca kekhawatiran anak buahnya.
Anak buahnya sejenak tertegun.
“Standby di kediamanku, tunggu perintah, aku akan menghubungimu,” lanjut Assad sambil mendorong bahu anak buahnya ke arah taksi. Laki-laki yang sering mengikuti Assad itu bergeming dan tetap mematung di tempat. Assad mengembuskan napas panjang.
“Jangan kasih tahu yang lain tadi aku pergi kemana, oke? Aku hanya berusaha mengamankan teman-temanmu. Ngumpet aja di kamarmu, jangan sampai ditanya Ronald dan Nazar, bilang aja mendadak Kamu sakit jika terpaksa menjawab,” perintah Assad, laki-laki yang mengenal anak buahnya itu kembali menepuk bahu dan mendorong dengan pelan agar anak buahnya itu segera pergi. Anak buahnya itu mengangguk setelah mendapat jawaban dari Assad, kemudian pergi dengan Assad.
Sepeninggal anak buahnya, Assad meluncur menuju lokasi yang telah dilaporkan oleh salah satu anak buahnya, Alfa. Tak butuh waktu lama bagi laki-laki itu untuk menemukan alamat itu. Assad memarkir mobil hitamnya di tepi jalan, kemudian dengan pelan melangkah ke salah satu bangunan bertingkat yang berada di deretan bangunan bertingkat lainnya. Dengan tenang, Assad menekan bel pintu depan bangunan itu.
“Wow ... lihat siapa yang datang!” seru seorang laki-laki di atas kursi roda ketika pintu dibuka.