Assad tersenyum menyeringai. Laki-laki dengan mata awas itu mampu mendeteksi keterkejutan yang dengan cepat disembunyikan oleh pemilik rumah.
“Apa aku boleh masuk ... Alfred?” ucap Assad tenang.
“Benar ‘kan namamu Alfred?” lanjut Assad sambil kembali membayangkan sebuah gambar yang diserahkan Alfa hari itu. Laki-laki di atas kursi roda itu tersenyum, kemudian merentangkan satu tangan untuk mempersilahkan Assad.
“Yang pertama, tentu saja boleh masuk, yang kedua, benar namaku Alfred, Gentlemen,” jawab laki-laki di atas kursi roda dengan rambut yang telah memutih itu.
Assad duduk di sebuah kursi dengan sandaran tinggi. Kemudian Alfred berada di sampingnya.
“Apa Bos besar bisa menikmati secangkir teh hangat?” tawar Alfred sambil tersenyum. Assad menganggukkan kepala, kemudian laki-laki itu melihat Alfred menyajikan teh hangat untuknya.
“Apa Kamu terkejut dengan kedatanganku, Alfred?” tanya Assad sambil menatap tajam laki-laki yang sedang menuangkan air panas itu. Alfred mengangguk.
“Tentu saja, siapa yang tak terkejut melihat laki-laki tinggi besar, tampan yang sedang jadi pusat perhatian negeri ini berdiri di depan pintu kantor kecil ini,” ungkap Alfred terus terang. Assad tersenyum mendengar kejujuran Alfred.
Assad menyesap teh hangat, setelah mendengarkan cerita Alfred tentang teh-nya itu, Assad menatap tajam ke wajah Alfred yang terlihat tenang.
“Bisakah Kamu menerima kasusku, Detektif ... Senior?” celetuk Assad spontan. Alfred meletakkan cangkir dengan tenang di meja.
“Wah, terima kasih atas kepercayaan yang diberikan, tapi sekarang ada beberapa kasus yang sedang kami tangani yang membutuhkan perhatian yang sangat serius,” tolak Alfred halus. Assad tersenyum menyeringai, kemudian mengembuskan napas pelan.
“Itu penolakan yang tulus atau karena aku berasal dari korporasi yang dicurigai negara saat ini?” sanggah Assad tanpa basa-basi. Alfred tersenyum.
Dengan sorot mata yang tenang Alfred membalas tatapan tajam Assad.
“Ya ... tak dipungkiri ada hubungannya dengan itu, tapi tidak tepat seperti itu. Kami di sini memiliki anggota yang handal, tapi dia dipilih masyarakat sebagai tim penyidik di korporasimu, apa Kamu sudah bertemu dengan gadis itu, Harra?” tanya Alfred tanpa mengharapkan jawaban, kemudian melanjutkan kalimatnya.
“Di sini masih ada yunior gadis itu, tapi masih em ... dibawah pengawasan, Kamu mengerti itu ‘kan? Dan dengan kondisiku yang seperti ini, aku benar-benar membutuhkan yunior itu, jadi maaf, mohon dimengerti,” jelas Alfred tanpa sungkan.
Assad tersenyum, kemudian menekan pangkal hidungnya ketika menunduk.
“Ah ya ... jadi begitu. Padahal kali ini aku sangat membutuhkan jasa kalian. Em ...,” ucap Assad tak selesai.
“Jangan-jangan Harra dan seniornya ini sudah sepakat menolak kasus dariku,” curiga Assad dalam hati.
“Ya?” sahut Alfred yang mendengar kalimat tak selesai tamunya.
“Apa bisa merekomendasikan detektif lain yang handal? Tapi yang bisa bekerja dengan sembunyi-sembunyi,” ujar Assad kemudian. Alfred sesaat terdiam.
“Apa kasusnya tergolong berat?” tanya Alfred sambil terus memperhatikan Assad. Bos mafia itu menganggukkan kepala.
“Mungkin aku bisa mengupayakan, tapi nggak bisa berjanji,” ungkap Alfred jujur.
Assad mengangguk, kemudian mengambil sebuah kartu nama dari saku jasnya, lalu meletakkan di atas meja.
“Aku sudah memiliki nomor Detektif Alfred, semoga segera jawaban itu kudapat,” ucap Assad dengan tenang. Alfred mengangguk dan mengambil kartu nama itu.
“Em ... apa ada yang boleh saya tanyakan lebih lanjut ... tentang pegawai di sini yang dipilih masyarakat itu ... Harra,” ucap Assad dengan volume lirih ketika menyebut nama gadis itu.
“Tentu saja, silahkan,” jawab Alfred sambil tersenyum.
Assad menatap wajah Alfred dan sejenak mengagumi ketenangan laki-laki yang berada di atas kursi roda itu.
“Apa gadis itu benar-benar berasal dari kota New March ini?” tanya Assad, jantungnya berdegup kencang, khawatir jika jawabannya berupa kata tidak. Dengan begitu, masih ada kemungkinan Harra adalah gadis yang sama yang muncul di pinggir Arkton.
“Em ... begitu yang tertulis di datanya,” jawab Alfred formal.
“Ah ... apa yang tercantum di data belum tentu sesuai fakta. Bukankah data bisa dimanipulasi?” seru Assad dalam hati. Tapi, ada rasa lega ketika jawaban yang ditemukan masih mengambang seperti itu.
“Huh! Memang aku mulai aneh!” umpat Assad pada diri sendiri.
“Ada lagi?” Pertanyan Alfred membuat Assad menoleh.
“Aku ingin mengetahui informasi tentang Harra lebih lanjut, biskakah?” ujar Assad tak menutupi apa yang ada dalam hatinya. Alfred tersenyum untuk kemudian menggeleng.
“Tentu saja tidak, aku tak bisa membagikan data pribadi orang-orangku, Gentlemen. Ya ... walaupun dia sudah nggak bekerja di sini lagi. Tapi, percayalah ..., data-data gadis itu tak ada yang istimewa," jawab Alfred dengan tenang.
“Mungkin pilihan profesi gadis itu beda dengan gadis lain, tapi sejauh yang aku amati, dia juga tak ubahnya seperti gadis yang lain,” imbuh Alfred kemudian tersenyum.
Assad menganggukkan kepala dan sepertinya tak lagi punya celah untuk mengorek informasi tentang Harra.
“Saya akan menanti kabar selanjutnya,” ucap Assad setelah pamit. Alfred menyalami laki-laki tinggi tegap itu kemudian mengantar ke pintu keluar.
“Susah sekali mendapat informasi tentangmu Harra. Haruskah kutanyakan langsung pada gadis itu, apakah Kamu adalah gadis yang melihatku menembak Decca? Seperti itu? Ah ... tapi jika dia bukan saksi itu, berarti aku malah menambah masalah,” gerutu Assad pada diri sendiri.
“Kalau aku nggak butuh jasa Alfred, mungkin aku bisa sedikit memaksanya,” omel Assad dalam hati sambil membuka pintu mobil.
“Tapi, ketenangan Alfred menunjukkan dia bukan tipe orang yang mudah dipaksa-paksa,” sanggah Assad pada diri sendiri. Dengan geram laki-laki itu memukul stir mobil sebelum menjalankan kendaraan roda empat itu.
Assad memasang handsfree di telinga kanannya.
“Alfa!” serunya setelah alat itu sinkron dengan gadgetnya.
“Apa Harra masih di kantor?” tanya Assad langsung.
“Cari tahu dan segera kirim lokasi gadis itu ke sini!” perintah Assad ketika mendengar jawaban negatif dari laki-laki yang khusus ditugasi untuk mencari saksi yang hilang itu.
Beberapa saat kemudian layar handphone menyala, data share lokasi itu telah masuk. Dengan cepat, mobil hitam Assad berbalik arah dan melaju ke lokasi yang dituju.
Assad menghentikan mobil hitam itu di sebuah restoran tak jauh dari restoran tempat terjadinya penembakan yang dialami dia dan Harra malam itu. Laki-laki itu berjalan dengan tenang menuju bagian depan restoran yang berupa dinding kaca bening. Laki-laki itu mengabaikan tulisan-tulisan yang tertempel di kaca dan mengintip ke dalam restoran. Tak banyak pengunjung restoran saat itu, pandangan mata Assad mencoba mencari sosok Harra dalam restoran itu.
“Ah!” desahnya lega dalam hati ketika melihat sosok gadis itu yang tengah duduk menghadap ke meja Chef. Ternyata restoran ini, jenis restoran di mana pengunjung bisa melihat Chef memasak langsung menu pesanan pelanggan, restoran open kitchen. Harra duduk berdekatan dengan seorang laki-laki yang mengenakan topi.
“Eits! Tunggu!” seru Assad dalam hati. Memang dari tempat Assad berdiri gadis itu hanya terlihat punggungnya. Tapi, chef yang terlihat langsung dari tempat Assad berdiri nampak akrab, dari gesture-nya terlihat mereka berdua sedang bercanda. Mendadak tangan Assad mengepal.
“b******k!” umpat Assad dalam hati.