Masuk Daftar Black List

1135 Kata
Harra yang tak menyadari sedang diperhatikan Assad dengan santai bercengkrama dengan chef itu. Laki-laki dengan seragam chef itu terlihat menyorongkan mangkok dan piring berisi dish yang nampak lezat. “Kalau bisa jangan datang ke sini lagi, yang ini aku nggak bercanda,” ucap chef itu kemudian dua tangannya memegang sisi meja di dekatnya. “Masalahnya apa?” sahut Harra tak terima. “Tentu aku nggak mau tempat ini hancur, Gadis Bencana,” sahut chef itu dengan wajah yang memang kelihatan sedang nggak bercanda. “Hans!” seru Harra, suara gadis itu lebih tepat disebut teriakan. Laki-laki yang mengenakan pakaian chef itu bersedekap. “Itu, belum lama ini, restoran mewah empat lantai aja rusak sedemikian parah, tempatku ini hanya satu lantai, dengan loteng sederhana, bisa dibayangkan ‘kan, bakal gimana kondisinya jika ditabrak dengan mobil khusus seperti itu,” sanggah Hans sambil menatap tajam. “Aeh!!” keluh Harra keras. “Lihat! Bagian depan restoran ini pun nggak punya pagar,” imbuh Hans seraya menunjuk dengan gerakan kepala. “Makanan kali ini bisa gratis, yang penting Kamu nggak ke sini lagi,” ucap Hans sambil berbalik dan menuju ke sisi lain meja yang berbentuk huruf U tanpa lengkung itu. “Hans!” protes Harra dengan nada tinggi. “Duh! Orang-orang ini ...,” keluh Harra tak berdaya. Laki-laki muda bertopi yang sedang duduk di samping Harra terkekeh sejenak mendengar percakapan pemilik restoran dan pengunjungnya itu. Laki-laki ini mengangkat gelasnya dan meminum isi gelas itu hingga tuntas. Gerakan itu membuat kepala laki-laki itu sedikit mendongak. “Delapan ratus,” ucap laki-laki itu ketika bibir gelas itu lepas dari bibirnya. Posisi gelas yang tak jauh dari bibirnya membuat laki-laki itu seolah sedang bicara pada diri sendiri. Apalagi suara lirih laki-laki itu membuat seolah ia hanya mengucapkan gumaman tak jelas. Kemudian laki-laki yang mengenakan topi itu meletakkan gelas, lalu beranjak ke meja kasir dan pergi meninggalkan restoran itu tanpa menoleh sedikit pun pada laki-laki tampan yang sedang menatap tajam ke arah tempat duduk yang ia tinggalkan. Harra menatap dengan kesal ketika Hans kembali ke mejanya. “Harusnya ketika ada teman yang kesusahan itu dikasih bantuan atau gimana gitu, setidaknya tunjukkan sedikit simpati, lagian ini ‘kan tempat umum, pengunjung mana pun boleh makan di sini,” sanggah Harra, kemudian menggigit gulungan nasi berisi ikan dan sayur yang dibungkus dengan lembaran rumput laut itu. “Baik, kalau gitu, mulai sekarang, kamu adalah pengunjung nomer satu yang masuk black list,” sahut Hans tak peduli. “Awpaw? Tewgae buwangwet!” seru Harra dengan mulut penuh makanan. “Ini demi keselamatan tempat ini dan pengunjung yang lain,” lanjut Hans masih dengan mode tak pedulinya. “Hans ...!” jerit Harra setelah makanan dalam rongga mulutnya tertelan. “Apa yang membuatmu menjerit seperti itu, Harra?” Mendadak satu suara terdengar di belakang gadis itu. “Hah!” seru Harra terlonjak. “Ah ...!” keluh gadis itu ketika menoleh dan menemukan Assad sudah berdiri di belakangnya. “Kenapa bisa ke sini?” seru Harra setelah beberapa saat hanya menatap Assad dengan tatapan bingung. “Aku mencarimu,” jawab laki-laki dengan tinggi di atas rata-rata itu terus terang. “Nah! Itu juga alasanmu masuk black list,” sela Hans sambil menunjuk Assad dengan isyarat gerakan kepala. Harra yang urung membalas ucapan Assad mengalihkan pandangan pada Hans dengan kening berkerut. Sejenak Hans menatap Assad yang kini telah duduk di samping Harra. “Dengan orang ini ‘kan bencana-bencana itu datang?” ucap Hans tanpa mempedulikan reaksi dua orang yang menatap tak berkedip. “Ya, aku mengikuti berita heboh yang ada kalian di dalamnya, em ... nggak jauh pula penembakan itu dari restoran ini,” imbuh Hans dengan nada mengeluh. Hans mengarahkan pandangan ke arah Assad. “Kalau begitu, Anda akan menduduki urutan black list nomor dua setelah gadis ini untuk sementara waktu, seberapa banyak pun uang Anda, Anda dilarang makan di restoran ini,” ucap Hans datar. “Hah!” Assad terkaget dan terheran mendengar keputusan mendadak yang ia tak tahu juntrungnya itu. Punggung laki-laki itu terlihat tegak. “Kamu bisa melarang dia, tapi bukan aku,” seru Harra sambil menunjuk Assad. Laki-laki itu menggelengkan kepala setelah menyadari apa yang terjadi antara pelanggan dan pemilik restoran itu. Assad menatap wajah cantik Harra yang tak mempedulikan keputusan pemilik restoran dengan baju chef itu dengan tetap menyikat makanan yang ada di depannya. “Apa Kamu mengenalnya, Harra? Kalian terlihat sangat dekat,” ucap Assad tanpa melepaskan pandangan mata pada gadis cantik itu. Hans yang hendak beranjak dari tempat ia berdiri seketika berhenti. “Hari ini bakal jadi hari terakhir aku kenal dekat dia,” tukas Hans sambil menggerakkan kepalanya ke arah Harra. Gadis itu pura-pura tak peduli. “Kalau begitu kalian memang sudah lama dekat,” simpul Assad sambil menganggukkan kepala. “Anda harus patuhi keputusan black list yang tadi kusampaikan, karena akan segera kuletakkan petugas security untuk menjalankan keputusan itu,” imbuh Hans seraya bergegas ke dalam. Assad tersenyum menyeringai, dalam hatinya selarik kebahagiaan menyeruak. Kejengkelan karena melihat kedekatan Harra dan laki-laki berbaju chef yang tadi sempat membuat tangan terkepal pelan-pelan pudar. Assad menepuk pundak Harra dan itu membuat punggung gadis itu duduk dengan tegak sedang kepalanya menoleh ke arah laki-laki itu. “Tenang saja, aku akan rekomendasikan tempat makan yang aman dengan makanan yang dijamin enak,” ucap Assad dengan nada rendah. Harra menggerakkan bahu di mana telapak tangan Assad menempel sebagai tanda protes. Assad terkekeh kemudian mengalihkan telapak tangan dari bahu gadis itu. “Aman?” celetuk Harra dengan mata cantik yang tampak membulat indah. Assad mengangguk. “Apa yang dirasakan chef, temanmu itu, juga pasti dirasakan pengusaha makanan lain jika melihat Kamu datang di tempat mereka. Untuk sekarang, tempat teraman adalah tempat-tempat yang kurekomendasikan,” jawab Assad kemudian. Harra tetap memandang wajah tampan Assad dengan rasa ingin tahu yang dalam. “Dari mana Kamu bisa menjamin tempat-tempat itu adalah tempat yang paling aman?” tanya Harra dengan nada cepat. “Ah ... moga pertanyaan itu bukan didasari kecurigaan bahwa akulah otak dibalik pelaku p*********n beruntun itu lagi,” keluh Assad menebak latar belakang petanyaan gadis itu. “Tentu saja aku bisa jamin, soalnya tempat-tempat itu adalah milikku dan khusus orang-orangku atau orang-orang yang kami izinkan hadir di tempat itu yang bisa datang ke sana,” jelas Assad berusaha menepis prasangka gadis itu. Pupil mata Harra terlihat membesar. Matanya berbinar terang. “Menarik sekali tempat itu,” seru Harra riang. “Apa tempat-tempat itu juga tempat yang digunakan untuk melakukan traksaksi illegal kalian? Tempat itukah yang kucari?” terka Harra dalam hati. Assad tersenyum menanggapi seruan Harra, laki-laki itu menatap dengan pandangan tertarik pada wajah gadis itu. “Tahukah Kamu, Harra? Dengan bola mata yang bersinar seperti itu, jantung ini mulai berdegup nggak normal,” sahut Assad dalam hati. Satu tangannya bergerak mendekat ke tangan gadis yang duduk di sampingnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN