Ancaman Melanie

1104 Kata
Wanita itu membelalakkan mata melihat ekspresi Harra yang acuh tak acuh. “Em ... Ivory Guard tak akan tutup hanya karena ada pengunjung yang meminum satu gelas tehnya, Melanie,” balas Harra santai. Mata gadis itu memperhatikan dua orang bodyguard perempuan yang mendekat dan berhenti di belakang wanita itu. “Apa yang Kau lakukan di sini?” serunya sinis. “Em seperti yang Kamu lihat, minum teh,” ucap Harra sambil menunjuk gelas tehnya, gadis itu kemudian tersenyum seolah tak mempedulikan kekesalan yang sengaja ditunjukkan lawan bicaranya. Melanie mendekat selangkah. “Kalau ini usahamu untuk mendapatkan Assad, ini sudah melewati batas. Kau sudah tinggal di rumahnya, tak perlu lagi mengunjungi Ivory,” tuduh Melanie tanpa merubah ekspresi wajahnya. “Hem ... sepertinya ada yang bersikeras menuduhku seperti itu, tapi aku di sini untuk melihat-lihat, mana tahu aku membutuhkan jasa pengawal sepertimu,” balas Harra sambil menggerakkan dagu untuk menunjuk dua bodyguard perempuan yang berdiri di belakang Melanie. Melanie tersenyum sinis. “Apa pendapatan detektif swasta cukup untuk menyewa pengawal seperti ini. Hem ... untuk orang sepertimu, untuk menghindari bahaya, sebaiknya tak perlu repot-repot sewa pengawal. Lebih baik ganti profesi saja, dengan wajahmu itu, Kamu bisa menjadi apa saja,” saran Melanie dibarengi hinaan. Harra tersenyum. “Oke, untuk saat ini hal itu nggak bisa dilakukan, tapi akan kupertimbangkan saranmu, Melanie,” ucap Harra sambil beranjak dan meninggalkan wanita itu dengan melambaikan tangan sekilas. Dua orang bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasi Harra segera mengekor di belakang gadis itu. “Harra!” seru Melanie menahan langkah Harra. “Aku nggak bercanda dengan kata-kataku di kediaman Assad waktu itu, kuminta segera tinggalkan tempat itu saat aku masih bisa berkata baik,” ancam Melanie. Harra mendekat selangkah ke arah Melanie dan tersenyum. “Aku bukan peramal, tapi dengan melihat wajahmu seperti ini, aku bisa membaca ketidakpercayadirian, kekhawatiran, takut menghadapi persaingan dan ... dan ....” Ucapan Harra tak selesai dihentikan oleh gerakan tangan Melanie yang terangkat. Wajah Melanie menggelap. “Peringatanku untuk dijalankan. Bukan untuk membuatmu meramalkan wajahku!” seru gadis itu dengan nada tinggi. “Kamu nggak perlu kasih peringatan sana sini jika percaya diri. Iya ‘kan?” balas Harra sambil nyengir. Wajah Melanie memerah. Mendadak melanie menyambar tangan Harra, memuntirnya ke belakang dan mendorong Harra hingga wajahnya menempel ke tembok. “Jangan banyak omong!” seru Melanie berang. Kedua laki-laki yang ditugaskan untuk mengawasi Harra terkejut dan bergegas berusaha membebaskan Harra. Harra terlihat tak terpengaruh dengan gertakan dan tindakan Melanie. Gadis itu malah tersenyum mengejek. “Heh!” Tiba-tiba mata gadis itu menangkap sesuatu di dinding tepat di depan matanya menempel. Sebuah tambalan tipis samar terlihat. Tidak kentara, tapi jika dilihat dari sudut mata yang menempel, hal itu terlihat jelas. Sebelumnya ada tiga lubang di dinding itu, satu lubang sebesar paku dan dua lubang yang lebih kecil. Itu bisa dilihat dari bayangan yang lebih gelap di tengah tambalan itu. “Hah!” seru Harra dalam hati sambil berusaha menutupi keterkejutannya. “Nggak salah lagi, ini jejak yang ditinggalkan Decca, tempat ini ...,” batin Harra bersuara. Gadis itu tak mempedulikan tangan Melanie yang berhasil dilepas oleh dua bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasinya. “Kamu akan mendapatkan yang lebih dari itu jika tetap membandel!” ancam Melanie dengan suara tinggi. Harra tersenyum, kemudian berbalik setelah sesaat kemudian puas mengamati jejak Decca yang telah tertutup itu. Ternyata perkelahian kecil itu menarik perhatian para pegawai yang mulai memenuhi cafetaria Ivory itu. Mereka mengarahkan pandangan pada Harra dan Melanie. “Kamu hanya perlu menambah kepercayaan diri, dengan begitu nggak perlu melakukan apapun padaku,” balas Harra santai. Langkah-langkah bergegas terdengar mendekat. “Melanie!” seru suara yang dikenali Harra sebagai suara Ronald. “Jangan membuat keributan di kantorku!” seru laki-laki tinggi tegap berambut gondrong itu dengan ekspresi wajah kesal. “Kenapa ia diizinkan masuk ke Ivory?” sahut Melanie tak mau kalah. Ronald mendesah kesal. “Karena tak ada yang bisa kulakukan selain itu,” jawab Ronald tak berdaya. “Apa itu perintah Assad?” lanjut Melanie dengan nada tinggi. Ronald menggeleng. Dan sebelum laki-laki itu menjawab, Harra buru-buru berlalu dari mereka. “Silahkan dilanjutkan kalau mau ribut ...,” ucap Harra ketika berlalu. Suara dengusan marah mencuat dari mulut Melanie. “Gadis kurang ajar!” teriak Melanie sambil memandangi punggung Harra, gadis yang diikuti dua bodyguard laki-laki itu sama sekali tak menoleh. “Ahh! Melanie, aku tahu Kamu merasa terganggu dengan gadis itu, tapi jangan membuat keributan di Ivory. Dia utusan masyarakat, bisa bahaya Ivory jika ada hal yang terjadi pada gadis itu di tempat ini,” seru Ronald sambil bersedekap, pandangan matanya juga mengikuti Harra yang sedang berjalan menuju pintu keluar cafetaria itu. “Tapi gadis itu bebal, aku nggak tahan untuk tidak melakukan sesuatu ketika melihatnya,” sanggah Melanie sambil melakukan hal yang sama dengan Ronald. Ronald mendengus. “Ah! Aku juga nggak tahu apa yang telah dilakukan gadis itu, atau ada apa pada diri gadis itu,” ucap Ronald menyerupai gumaman. Melanie yang sedang melihat Harra dengan benci menoleh ke samping. “Maksudnya?” kejar Melanie dengan penasaran. “Yah ... gadis itu ... terlihat seperti itu ..., em terlihat tak seperti gadis-gadis yang mengejar Assad, tapi dengan dia yang seperti itu bisa membuat Assad menggendong gadis itu, uhf! Aku nggak ngerti,” lanjut Ronald sambil kembali menggeleng. Seketika mata Melanie membelalak. Telapak tangannya mencengkeram kuat membentuk kepalan. “Gadis itu memang harus segera dilenyapkan!” seru Melanie dalam hati ketika Ronald menepuk bahunya dan berlalu dari gadis itu. Harra keluar dari gedung Ivory dan segera memasuki mobil MVP yang sedikit berdebu itu. Gadis itu mengambil handphone dan menyalakannya, kemudian menghidupkan mesin mobil dan mulai meluncur meninggalkan gedung anak cabang Cosmo Holdings itu. “Apa terpasang dengan baik?” ucap Harra ketika earphone sudah terpasang di kuping. Sekilas gadis itu melihat layar handphone yang bertengger di holder yang menempel pada dash board mobil. “Tempat pertama aman, tapi tempat kedua menunggu waktu, sepertinya dua pelacak bulat itu menangkap kebisingan,” jawab suara dalam earphone itu. Harra terkekeh pendek. “Tentu saja, aku memasangnya di cafetaria Ivory, ini jam makan siang mereka,” ucap Harra sambil memperhatikan jalan. Suara dalam earphone sejenak menghilang. “Kamu yakin tempat itu tempat yang benar ‘kan?” ucap suara laki-laki dalam earphone itu. Harra mengangguk dengan otomatis. “Aku menemukan jejak Decca di dua tempat itu, walaupun sebelumnya sempat sangsi untuk tempat kedua,” jawab Harra dengan yakin. “Tunggu!” seru Harra yang mendadak menangkap gelagat mencurigakan. Dari spion terlihat sebuah mobil yang disetir dengan ugal-ugalan, mobil itu menyalip mobil lain dan mengarah ke mobil Harra. “Hah!” teriak Harra ketika mobil itu mendadak menabrak mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN