Harra melebarkan senyumnya.
“Aku akan sangat senang jika ditunjukkan isi gedung ini, tapi jika tidak, aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Harra dengan tenang, keberadaan sosok Ronald yang mengintimidasi tak membuat gadis itu surut. Ronald mengernyit, kemudian bersedekap sambil menatap tajam tamu yang tak diundang itu.
“Untuk apa?” sahutnya tak senang.
“Siapa tahu aku akan menyewa jasa satu atau dua bodyguard dari kantor ini, Kamu tahu ‘kan akhir-akhir ini aku seperti dikelilingi bahaya, tapi sebelum itu aku akan memastikan sistem kerja, cara kerja, tempat kerja dan keahlian orang-orang yang berada di sini,” kilah Harra berdalih.
Ronald tersenyum sinis.
“Aku nggak akan memberikan orang-orangku untuk menjagamu, berapa pun uang sewa yang Kau tawarkan. Ivory Guard tak akan menyediakan layanan jasa untuk detektif swasta yang menyebalkan!” tegas Ronald dengan gurat-gurat marah mulai terbaca di wajahnya. Harra tersenyum mendengar penegasan anak buah Assad ini.
“Oke ... kalau begitu, akan segera beredar berita bahwa penyedia jasa bodyguard Ivory melakukan diskriminasi terhadap calon klien. Em ... Kamu tahu? Berita ini akan segera viral dan tentu saja itu akan mempengaruhi harga saham Cosmo Holdings sebagai induk kantor ini, hubungan dengan relasi bisnis dan ... dengan calon pengguna jasa Ivory,” jelas Harra berbumbu ancaman. Ronald mendengus kesal, kemudian mendesah lelah dalam ketidakberdayaan.
Laki-laki tinggi tegap itu berbalik setelah melampiaskan kekesalan dengan tatapan menusuk.
“Antar tamu yang tak diharapkan ini melihat-lihat gedung ini, awasi dia, segera laporkan jika dia melakukan tindakan yang mencurigakan!” perintah Ronald kemudian berbalik dan kembali masuk ke dalam gedung. Dua orang pegawai mengangguk patuh setelah menyahut perintah itu. Harra tersenyum dan mengangguk dengan puas pada dua orang pegawai yang mempersilahkan gadis itu.
Ruang gymnastik, aula, kolam renang, ruang fitness dan ruang-ruang lain yang ditujukan untuk kebugaran otot dengan cepat dilalui. Mata detektif Harra dengan jeli mencari sesuatu, tanda seperti yang ada di klub host Mercy atau apa saja yang mungkin ditinggalkan Decca di tempat ini, yang kemungkinan besar laki-laki itu memang pernah berada di sini. Atau bukti yang berkaitan dengan kegiatan illegal Cosmo Holdings.
“Wow!” seru Harra ketika melihat ruang latihan tembak indoor, “ternyata gedung ini lebih luas dari apa yang kuperkirakan, dan kelengkapan fasilitasnya luar biasa.”.
Beberapa menit kemudian Harra sudah melewati sebuah klinik in-house milik Ivory Guard dan ruang administrasi hingga akhirnya berakhir di cafetaria gedung ini.
“Apa aku bisa numpang istirahat sebentar? Ternyata berkeliling di gedung ini lumayan mengurangi energi,” pinta Harra pada dua laki-laki yang mengikutinya. Sejenak kedua laki-laki itu saling pandang tapi akhirnya mengangguk. Harra melayangkan pandangan pada deretan meja kursi yang berjajar rapi setelah memperhatikan stand untuk mengambil makanan yang mulai terisi. Jam makan siang memang sebentar lagi tiba. Harra berjalan pelan mengelilingi ruangan, memperhatikan dinding dan apa saja yang ada di ruangan itu dengan saksama.
“Ayolah! Di mana tanda itu? Jika Decca pernah di tempat ini, pasti ada jejak yang dia tinggalkan. Jejak tak mungkin ditinggalkan di ruang seperti toilet atau kamar ganti dan loker pria, Decca pasti tahu yang akan menyusuri jejak tandanya belum tentu laki-laki,” analisa pikiran Harra.
Satu dua bodyguard yang mengenakan seragam mulai bermunculan. Mereka mengambil nampan dan mulai mengisi nampan kosong itu dengan makanan yang telah disediakan. Kemudian memilih tempat duduk untuk menikmati menu makan siang itu.
“Apa boleh aku mendapatkan minuman?” tanya Harra sambil melihat tumpukan gelas kertas di samping dua jug besar bertuliskan kopi dan teh. Dua pegawai itu mengangguk dan membiarkan Harra mengambil apa yang dia inginkan.
“Ini ruangan terakhir, setelah ini aku akan pergi, jadi kalian bisa istirahat, jika khawatir, kalian bisa duduk di meja ini,” saran Harra setelah mengambil tempat duduk yang terletak di sudut ruangan. Kedua bodyguard Ivory itu memutuskan untuk tetap berada di dekat Harra dengan mode waspada.
Harra mengedikan bahu.
“Baiklah kalau begitu, terserah saja,” ucap Harra kemudian menyesap teh hangat. Gadis itu meletakkan tas punggung di pangkuannya, membuka tas itu dan pura-pura mengecek handphonenya. Jari-jari Harra mengambil dua butir benda berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar satu centimeter itu di bawah handphone yang layarnya tak hidup. Kemudian dengan gerakan tak kentara menempelkan dua bulatan dengan warna hitam metalik itu ke bawah meja. Lalu, Harra kembali menyeruput teh hangatnya.
Gadis itu sekilas melirik pada dua laki-laki yang ditugaskan untuk mengawasinya. Kemudian menjulurkan kaki untuk meredakan otot kaki yang sedikit penat. Dengan tak peduli, gadis itu menopang dagu dengan satu telapak tangan sambil mengarahkan pandangan ke luar ruangan. Satu kejadian di masa silam mulai ditayangkan di benaknya.
“Nih! Perhatikan ini! Ini akan kubuat sebagai jejak di tempat-tempat tertentu sebagai tanda tempat itu digunakan sebagai transaksi mereka. Atau kalau sampai aku nggak terlacak, kalian bisa cari jejakku di tempat-tempat dengan tanda ini,” ucap Decca sambil menunjukkan bagian bawah sepatunya yang terdapat tiga benda tajam yang mencuat. Satu dari tiga lobang itu sebesar paku dan dua lainnya lebih kecil. Ketiganya akan membentuk segitiga dengan sudut melengkung jika dihubungkan dengan garis imajiner.
Decca menutup bagian bawah sepatunya dengan sol luar dan memukul-mukulkan sol itu ke lantai.
“Aku harap kita masih bisa bertemu lagi,” ucap Harra ketika Decca memasukkan kaki ke dalam lubang sepatu itu.
“Tentu saja, kalau ada kesempatan aku akan mengunjungimu, atau kita bisa bertemu di tumpukan besi bekas di pinggir kota Arkton tercinta ini,” balas Decca, laki-laki yang lebih tua beberapa tahun dari Harra itu mengacak-acak rambut Harra yang terus menatapnya dengan khawatir.
“Jangan mikir macam-macam, fokus belajar, Kamu akan menghadapi lawan yang berat.” Decca yang hendak keluar pintu berbalik dan memeluk gadis itu.
Decca menepuk bahu Harra berulang-ulang.
“Cepat pintar ya ..., gerakan ini membutuhkan kepandaianmu,” ucap Decca kemudian melepas pelukan, lalu keluar rumah, serta bergegas menaiki mobil tua yang sudah menunggu di depan pintu. Harra berlari ke arah jendela dan menyibak tirai lusuh untuk mengintip kepergian Decca. Gadis itu beringsut ke sisi jendela yang lain agar mobil tua itu dapat terlihat. Beberapa saat kemudian mobil itu benar-benar hilang meninggalkan ruang kosong di hati gadis itu.
“Itu hari terakhir kita bercanda bersama, Decca. Aku nggak bisa lupa. Jadi, di mana jejakmu selanjutnya?” tanya Harra dalam hati sambil menyingkirkan segenap perih yang terbersit di hati.
“Kenapa harus jadi detekti swasta jika untuk segelas teh harus minta di Ivory?” Sindir sebuah suara yang terdengar melengking. Suara yang seolah familiar itu memporakporandakan kenangan masa lalu bersama Decca. Harra menoleh ke asal suara dan mendesah dengan kesal.
“Harra!” bentak wanita yang baru datang itu.