Dalam perjalanan menuju ke rumah Gaishan mobil itu sunyi, Ariella terus menunduk dan menunduk. Tak lama kemudian dia seperti terhuyung-huyung ke depan. Naufal dengan sigap melirik ke arah kanannya di mana di situ duduklah Ariella. Ternyata Ariella merasa mengantuk setelah dia makan, apalagi aktivitas menembak hari ini cukup padat menguras tenaganya juga hari terjadinya kecelakaan yang membuat badannya sakit. Dia butuh istirahat lebih.
Melihat bahwa adik sepupunya butuh istirahat dan segera tidur, Naufal dengan tanpa keberatan mendekatkan kepala sang adik sepupu ke pundaknya.
Naufal berkata, "Adik Ariel tidurlah, nanti kalau sudah sampai di rumah Om Gaishan baru Kakak Opal bangunkan."
Ariella yang telah mengantuk itu mengangguk pelan.
"Um, Aril tidur di sini nanti Kakak Opal yang kasih bangun," ujarnya.
Naufal mengangguk. "Ya," sahut Naufal.
Di depan kemudi, Gaishan melirik ke arah kaca spion, dia tersenyum lebar, ah pria tua ini senyam-senyum seakan baru saja mabuk cinta.
Beberapa saat setelah perjalanan, istri Gaishan merasa bahwa laju mobil yang dikemudikan oleh sang suami sangat pelan bahkan mungkin itu bisa lebih pelan dari kecepatan siput, jadi sang istri berkata kepada suaminya.
"Bang, bawa mobilnya bagaimana ini? lambat sekali. Kalau sudah mengantuk gantian biar aku aja yang bawa mobilnya," ujar Fathiyah.
Gaishan melirik sang istri, dia berkata, "Aku nggak ngantuk, Sayang. Hanya bernostalgia saja ketika melewati jalan ini, kamu ingat nggak waktu dulu kita masih belum menikah. Aku masih mengejarmu, setiap hari aku akan menunggumu di tempat biasa menunggu angkotmu dan Bang Jay lewat, lalu kamu sebagai kenek akan selalu mengomel-ngomel kepadaku karena di setiap kali aku naik angkot kalian, aku nggak turun bahkan berputar-putar keliling kota ada yang pernah sampai sehari nggak turun dari angkot."
Mendengar balasan dari sang suami, Fathiyah tarkekeh lucu dan juga geli, sebab dia bernostalgia di mana dia diajak oleh suaminya untuk mengingat ketika mereka masih muda. Kala itu memang sang suami mengejarnya duluan, sang suami bahkan rela berpanas-panasan mau menunggu angkot yang dia dan sang sepupu mengemudikan angkot itu.
"Ya, Abang masih ingat juga yah. Itu sudah lama, sudah lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, Bang," ujar Fathiyah.
Gaishan mengangguk.
"Ya, itu sudah lebih dari tiga puluh tahun yang lalu tapi meskipun itu sudah lebih dari tiga puluh tahun lalu, anak kita sudah menikah dan juga kita sudah punya cucu, Abang masih tetap mengingat hari itu. Nggak mungkin Abang nggak mengingat masa-masa sulit ketika menjadikan kamu istri Abang, nggak mungkin Abang lupa masa-masa sulit Abang berjuang mendapatkan cintamu."
Fathiyah tertawa terbahak-bahak, dia dan suami saling melirik beberapa saat, lalu saling terkekeh.
Laju mobil itu sangatlah, namun karena dia dan suami membahas mengenai masa lalu mereka, Fathiyah tidak keberatan dengan laju mobil yang dikemudikan oleh sang suami.
Naufal yang berada di belakang hanya menjadi pendengar tanpa niat menginterupsi percakapan sang paman dan istri pamannya.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka tiba di kediaman Gaishan, yaitu kediaman yang dulu pernah didiami atau ditinggali oleh Busran–kakek kandung dari Ariella. Saat mobil berhenti di depan pintu rumah Gaishan, pintu mobil itu telah dibuka oleh dua orang bodyguard.
Ariella sudah tertidur pulas di pundak Naufal, itu tidak menjadi masalah bagi Naufal, dia dengan rela hati menggendong adik sepupunya memasuki rumah Gaishan. Sebelumnya dia juga sudah pernah menggendong sang adik sepupu jadi dia tidak lagi merasa begitu kesulitan menggendong adik sepupunya, dia sudah familiar dengan berat badan sang adik sepupu.
"Om, di mana biasanya Ariel tidur?" tanya Naufal.
Gaishan menjawab, "Di lantai satu juga boleh, di lantai dua juga boleh. Terserah kamu mau bawa masuk Aril di kamar yang mana, tapi di lantai dua lebih banyak kamar tidur, sekalian kamu juga bisa tidur di kamar yang bersebelahan dengan Ariel, karena Om memikirkan bahwa Ariel ini punya kesukaan masing-masing ehm! yah kamu tahu kan soal itu, nggak mungkin dia hanya suka satu kamar."
"Baik, Om." Naufal menyahut.
Seorang pelayan atau pekerja perempuan menunjukkan jalan. "Mari ikut saya Tuan Opal."
Dia mengenali siapa Naufal.
Naufal menaiki tangga dan sampai di lantai dua, kemudian seorang pelayan itu membuka pintu kamar.
Pintu kamar itu sangat lucu dan juga berwarna cerah seperti pink yang bercampur dengan biru muda, ini sangat cerah dan merupakan warna untuk seorang gadis, namun gadis yang masih kecil atau anak kecil perempuan.
Naufal tidak keberatan memasuki kamar itu, sebab sang adik perempuan juga memiliki kamar yang cerah. Dia meletakkan Ariel yang telah tertidur pulas di ranjang yang berukuran hampir dua badan, dia juga melihat seprei dan peralatan tidur yang ada dalam kamar itu.
"Ini adalah semua kesukaan dari gadis kecil," gumam Naufal.
Naufal menyelimuti Ariella.
"Semua yang ada di sini adalah kesukaan anak-anak, namun adik Ariel sudah berumur dua puluh enam tahun," gumam Naufal sambil melirik ke arah sekelilingnya.
Isi kamar ini bukanlah isi kamar dari seorang gadis yang telah dewasa atau seorang perempuan yang telah bekerja di militer, namun isi kamar ini adalah merupakan kamar dari seorang gadis kecil yang bahkan baru bertumbuh atau berusia sekitar masa kanak-kanak hingga remaja.
Pelayan yang membuka sepatu militer oleh Ariella.
"Apakah kamar ini dipakai oleh Ariel sejak dulu?" tanya Naufal.
Pelayan itu mengangguk.
"Ya benar, waktu masih sekolah TK, SD, SMP dan SMA ketika Nona Ariel menginap di sini beliau akan tidur di kamar ini, namun ketika beliau entah beliau bangun tengah malam beliau akan turun dari kamar ini dan akan tidur di kamar lantai satu tempatnya tidak jauh dari kamar Tuan Gaishan," jawab pelayan.
"Ah, seperti itu." Naufal mengerti, satu lagi hal yang diketahui oleh Naufal setelah pelayan rumah menjawab.
Pelayan itu umurnya memang sudah berusia pertengahan 40-an namun dia telah lama bekerja di rumah Gaishan, pelayan itu berkata, "Kadang-kadang jika Nona Ariel bangun dari kamarnya tengah malam, Nona Aril akan turun ke kamar di lantai satu bahkan mengendarai salah satu mobil yang berada di sini untuk pulang ke rumah tuan Ibas."
"Seperti itu yah. Baik, terima kasih, Bi." Naufal tersenyum ramah ke arah bibi pelayan.
"Sama-sama, Tuan Opal. Saya permisi," balas bibi pelayan.
"Ah, kamar Anda ada di sebelah kanan kamar Nona Ariel, mari saya tunjukan," ujar bibi pelayan sebelum keluar kamar.
"Tidak perlu, Bi. Tidak apa-apa, biarkan saja saya masuk sendiri di sana setelah membereskan beberapa barang saya," balas Naufal.
"Baik." Bibi pelayan mengangguk mengerti, dia keluar dari kamar Ariella sambil membawa sepatu bot militer Ariella lalu menutup pintu kamar.
Setelah kepergian dari bibi pelayan, Naufal melirik ke arah wajah damai Ariel yang tertidur, wajah ini entah mengapa membuat Naufal tersenyum tanpa alasan yang jelas. Rambut pendek berwarna coklat tua, hidung mancung, kulit putih mulus merupakan keturunan blasteran campuran dari Indonesia dan Perancis, tentu saja produk yang sangat sempurna dan sangat cantik dan indah dipandang mata.
Naufal tidak bisa pungkiri bahwa gadis yang merupakan adik sepupunya itu sangat manis.
"Semoga saja kamu bisa sembuh dan menguasai kembali jati dirimu." Setelah mengatakan ini, Naufal berdiri dari pinggir ranjang.
Dia keluar dari kamar itu setelah menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama kamar.
Naufal berjalan memasuki kamarnya, dia merasa bahwa agak gerah tapi dia tidak bisa mandi untuk saat ini karena badannya terluka jadi Naufal memutuskan untuk istirahat lebih awal, yaitu naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut lalu tidur.
*
Keesokan harinya Ariella membuka mata, namun hal pertama yang dia lihat adalah suasana kamar yang begitu cerah dengan warna pink dan biru muda.
Tatapan mata yang dipancarkan oleh perempuan itu adalah dingin.
Lia kecil telah keluar dari tidurnya selama semalam.
Tanpa menunggu aba-aba atau perintah dari siapapun Lia kecil langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu.
Dia menuruni anak tangga ke lantai satu, namun pada saat itu berdekatan dengan ruang makan di mana keluarga Gaishan sedang sarapan. Mereka menunggu Ariella bangun, namun sayangnya yang bangun bukanlah Ariella melainkan Lia kecil.
"Ariel, mari sarapan pagi, setelah itu kamu mandi. Biarkan Bibi pelayan yang akan menyiapkan air untukmu," ujar Gaishan yang memanggil sang ponakan.
"Ah, apakah kamu ingin makan makanan Prancis? atau apapun yang ingin kamu makan. Di sini juga ada makanan kesukaanmu," ujar Gaishan.
Di meja itu juga ada Naufal yang baru saja akan duduk, namun dia melirik ke arah Ariella berdiri tidak jauh dari ruang makan. Tatapan mata itu sangat tajam dan dingin, tanpa ekspresi.
"Tidak perlu," balas Lia kecil.
Tak perlu diberitahukan pada siapapun, Naufal tahu bahwa itu bukanlah Ariella melainkan Lia kecil.
"Adik Lia mau kemana?" tanya Naufal.
"Di mana sepatu militerku?" tanya Lia datar.
"Sepatu militer Anda ada di tempat sepatu di depan," jawab bibi pelayan.
Lia kecil berjalan ke depan, namun Naufal mengejar.
"Adik Lia ingin ke mana?" tanya Naufal.
"Tempat markas," jawab Lia kecil sambil memakai sepatu militer.
"Untuk apa kesana?" tanya Naufal.
"Melatih junior," jawab Lia dingin.
"Tidak! dokter bilang adik Lia harus istirahat dulu selama dua atau tiga hari," balas Naufal.
"Tidak perlu," ujar Lia.
"Tidak perlu bagaimana? Adik Lia tidak peduli dengan keselamatan adik Lia? kemarin Adik Lia kecelakaan!" balas Naufal.
Lia kecil terdiam di tempat, dia terlihat agak terbelalak.
"Apakah kau tahu musibah tadi malam?" tanya Naufal.
Lia kecil menggelengkan kepalanya.
"Jika kamu ingin pergi ke tempat latihan, biar Kakak Opal yang mengantarmu," ujar Naufal.
"Tidak perlu," ujar Lia.
"Tidak bisa. Kemarin terjadi kecelakaan. Adik Lia sendiri yang menyetir mobil itu," balas Naufal.
Lia kecil terbelalak, dia punya perasaan bahwa kakak sepupunya ini pasti tahu mengenai kepribadian ganda miliknya.
Dengan tatapan dingin dan agak panik dia berbalik dan menatap ke arah mata Naufal.
Benar saja, tatapan mata Naufal tidak selembut ketika dia menatap Ariella, tatapan mata ini tegas seolah memberitahukan kepada Lia kecil bahwa dia tidak mengizinkan Lia kecil bepergian sendirian.
Naufal berkata serius."Tidak perlu kita bahas mengenai apa yang terjadi dalam tubuh adik Lia, namun yang perlu adik Lia tahu bahwa adik Lia jika kemana-mana harus ada sopir."
"Tidak perlu," balas Lia dingin.
"Jika tidak perlu bagaimana jika adik Lia mati? jika saja tidak ada kakak Opal di dalam mobil itu, maka pasti terjadi kecelakaan serius. Mobil yang dibawa olehmu menabrak pembatas jalan tol, beruntung Kakak Opal cepat dalam mengambil alih mobil. Jika terlambat sedetik saja, kita berdua sudah berada di alam bawah tanah." Suara Naufal bahkan terdengar agak dingin ketika beradu argumen dengan Lia kecil.
Lia kecil terbelalak.
Naufal berkata lagi.
"Kakak Opal tahu mengenai dirimu, tetapi tidak perlu kita bahas mengenai itu. Itu tidak penting. Yang kita bahas sekarang adalah keselamatan tubuhmu, jika kau terluka dan kau mati, bagaimana kau bisa melanjutkan cita-citamu menjadi prajurit? kau akan mati di usia muda jika tidak ada yang berdekatan denganmu. Jadi kau harus ditemani oleh supir."
Lia kecil diam tak bergerak, bahkan dia tak memakai lagi sepatu militer.
"Kebetulan Kakak Opal juga sedang ingin berlatih menembak bersama prajurit TNI, jadi biarkan Kakak Opal yang akan menyetir untukmu," ujar Naufal.
Semua orang saling melirik ke arah Lia kecil dan Naufal berada.
*