Chapter 45

1324 Kata
Lia kecil menatap agak lama ke arah mata Naufal, dia berdiri dan tidak bergerak setelah mendengar apa yang Naufal katakan. Keluarga juga mendengar apa yang Naufal katakan, menurut para anggota keluarga, mereka juga setuju jika Naufal yang mengantarkan Lia kecil pergi bekerja ke markas untuk melatih para junior menembak. Namun, mereka tidak tahu bagaimana dengan pendapat Lia kecil, apakah Lia kecil menyetujui ucapan Naufal ataukah tidak. "Kalau Om sih setuju Opal antar jemput kamu," bisik Gaishan pelan. Fathiyah melirik ke arah suaminya. Gaishan berkata lagi. "Demi keselamatan." Fathiyah dan yang lainnya diam-diam mengangguk setuju dengan ucapan Gaishan. Menyadari bahwa Lia kecil tidak memberi respon atau jawaban, Naufal berkata, "Setidaknya jika ada Kakak Opal bersamamu ketika kau berganti ataupun kau tidur, mungkin nyawamu masih selamat." Naufal terus meyakinkan Lia kecil agar mau bepergian bersama orang lain, dia tak punya pilihan selain menakut-nakuti Lia kecil dengan nyawa. "Aku tidak takut mati, aku seorang prajurit. Pengalaman berperang di medan perang lebih banyak dibandingkan yang lainnya bahkan pengalaman membunuh orang lebih banyak darimu," balas Lia kecil. Naufal pelan-pelan menelan kesal air ludahnya. Si Lia ini memang benar-benar keras kepala dan tegas, selain itu dia juga terlalu kaku dan sadis, batin Naufal. "Ya, aku tau kamu lebih banyak pengalaman berperang, tapi itu jika kau di medan perang, bagaimana jika pada saat kau berkendara dan kau tertidur secara tiba-tiba? lalu … terjadi tabrakan dan … Mati. Bagaimana dengan cita-citamu? kau ingin mati muda?" tanya Naufal, suaranya dibuat agar terdengar harus sedatar mungkin. Lia kecil merasa bahwa dia tidak ingin ada orang yang berdekatan dengannya ataupun dia disupiri oleh orang, namun setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Naufal, Lia kecil sadar bahwa jika di mati maka dia tidak akan bisa lagi melanjutkan cita-citanya untuk menjadi seorang prajurit. Lia kecil mengangguk pelan. "Baik." Melihat anggukkan dan jawaban setuju dari Lia kecil, meskipun menurut dari pandangan Naufal bahwa anggukan dari Lia kecil itu agak enggan, namun Naufal mengangguk puas. "Dokter mengatakan Adik Lia harus istirahat di rumah selama dua atau tiga hari," ujar Naufal. "Tidak perlu," balas Lia kecil dingin. Naufal tersenyum tipis. "Yah, baiklah, jika demikian maka Kakak Opal tidak akan bisa berbuat apapun jika nanti terjadi sesuatu seperti tadi malam." Setelah mengatakan itu, seorang bodyguard Nabhan memberikan sesuatu pada Naufal. "Tuan, ini adalah rekaman di dalam mobil Nona Lia saat kecelakaan tadi malam," ujar bodyguard itu. Naufal menerima rekaman itu, dia meletakan rekaman itu tak jauh dari Lia kecil. Yaitu berdekatan dengan tempat rak sepatu kayu. "Lihat dan nonton sendiri apa yang terjadi tadi malam, tidak ada rekayasa sedikitpun," ujar Naufal. Setelah mengatakan ini, Naufal kemudian berbalik ke arah ruang makan, sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya ke ruang makan, Naufal berkata, "Kakak Opal dan yang lainnya menunggu di ruang makan." Naufal melangkah ke ruang makan, di sana keluarga Gaishan buru-buru berlari kecil menuju ke arah kursi mereka masing-masing. "Huuuff, hampir saja membangunkan macan betina yang baru bangun tidur," gumam Naufal lega sambil mengembuskan napas, dia juga mengusap dadanya. Gaishan menaikkan dua jempol ke arah Naufal lalu berkata pelan. "Pokoknya Om mengandalkan kamu. Selama ini nggak ada yang bisa membuat Lia patuh. Ck, dia sangat berbanding terbalik dengan Aril kami." Gaishan mengeluh. Naufal berpikir, memang Lia kecil dan Aril sangat bertolak belakang, dibandingkan dengan Lia kecil, dia lebih menyukai Aril yang penurut. "Ehm! mari kita tunggu Lia kecil, Papa pikir kita harus sering bersama mengingat kita adalah keluarga," ujar Gaishan agak mengeraskan suara. "Ya, benar," timpal Fathiyah. Fathiyah melirik dengan ekor mata ke arah pintu, dia juga menunggu kedatangan Lia kecil ke ruang makan. Di sisi Lia kecil, dia melihat rekaman kecelakaan yang terjadi tadi malam. Bagaimana saat Naufal yang sedang mengajaknya bicara hingga tatapan matanya tiba-tiba berubah dan dia tidak dapat lagi mempertahankan kesadarannya lalu kemudian tertidur. Di rekaman itu, Naufal dengan kecepatan kilat mengambil alih setir mobil dan mengontrol mobil agar tak menabrak ke depan, kecepatan mobil juga meningkat, Lia yang menyadari rekaman itu melihat bahwa kecepatan meningkat karena dia tubuhnya yang dikuasai Aril menginjak pedal gas. Bunyi hantaman pipi kanan mobil dengan pembatas jalan tol terdengar, ketika dia melihat bahwa tubuhnya dilindungi oleh Naufal, tatapan mata Lia kecil kaku, bulu kuduknya merinding. Pantas saja dia tak terluka sedikitpun, meskipun itu hanya berupa memar ringan, dia dilindungi oleh Naufal. Pagi ini dia melihat kening Naufal diperban. Apa yang Naufal katakan adalah benar, jika saja tadi malam Naufal sedetik saja terlambat mengambil alih laju kemudi, maka mereka berdua benar-benar berada di dunia bawah tanah. Setelah menonton rekaman kecelakaan tadi malam, Lia kecil meletakan rekaman itu di tempat semula lalu berbalik melirik ke arah ruang makan. Kaki Lia kecil melangkah ke arah ruang makan. Gaishan dan yang lainnya menyadari kehadiran dari Lia kecil. Gaishan buru-buru berkata, "Lia, mari duduk di sini, Nak. Sudah ada makanan kesukaan kamu." Saat Gaishan mengatakan pada Lia kecil bahwa sudah ada makanan kesukaannya, Gaishan menyingkirkan makanan prancis ke arah meja Naufal. Naufal, "...." er …. Naufal menatap mata sang paman, namun sang paman malah tersenyum tanpa dosa ke arahnya dan berkata, "Tenang saja, makanan ini bukan untukmu. Opal tadi ingin sekali makan ini jadi Om bilang ke bagian dapur untuk membuatkan masakan prancis untuknya." Siapa yang ingin makan masakan Prancis pagi-pagi begini?! Naufal menelan pahit ludahnya. Semua keluarga diam, mereka juga tahu bahwa perkataan Gaishan ini tidaklah benar, makanan itu memang dipersiapkan untuk Ariella, namun karena yang muncul bukan Ariella maka makanan itu berubah haluan ke arah Naufal. Poor Naufal yang dikambing hitamkan oleh Gaishan. Lia kecil mengambil tempat duduk di samping kanan Naufal. Dia melihat bahwa ada masakan Indonesia, tanpa bicara Lia kecil mengambil makanan untuknya. "Setelah sarapan, mandi lalu istirahat, bajumu ada di lemari kamar. Terserah mau pakai yang mana," ujar Gaishan. "Tidak perlu," balas Lia kecil datar. "Loh, kenapa tidak perlu?" tanya Gaishan. "Aku akan istirahat di rumahku sendiri," jawab Lia kecil. "Ah, seperti itu rupanya," ujar Gaishan sambil manggut-manggut, dia melirik ke arah Naufal. "Opal, nanti setelah sarapan, antarkan Lia ke rumah Om Ibas." Naufal mengangguk. "Baik, Om." Lia kecil tak menolak, sebab debat singkat mereka di ruang depan telah membuktikan bahwa Naufal menang. Namun suara Lia kecil terdengar. "Ada bodyguard yang akan mengantar," ujar Lia kecil. Er, itu harusnya kata-kata menolak kan? Gaishan, "...." anak ini benar-benar menjengkelkan. Sudah cuek, dingin, brutal, ganas sekarang malah nggak berperasaan. Batin Gaishan kesal. "Kebetulan aku ada perlu dengan Om Ibas hari ini, jadi sekalian saja kita ke rumah Om Ibas," ujar Naufal. "Nah benar! pergilah ke rumah Om Ibas bersama Opal!" Gaishan menyetujui. * Dalam perjalanan ke rumah Nibras, suasana di dalam mobil yang sekarang dikendarai oleh salah satu bodyguard Nabhan itu terasa sunyi. Naufal merasa bahwa tenggorakannya gatal jika terus menerus berdiam diri dan tidak bercakap-cakap. "Setelah sampai di rumah Om Ibas, harus istirahat. Om Irwan sudah tahu mengenai kecelakaan tadi malam, surat sakitmu sudah dikirim ke markas," ujar Naufal. Lia kecil hanya diam. "Ah, ngomong-ngomong Adik Lia punya kemampuan menembak yang bagus, Kakak Opal bahkan terpana loh " Naufal mulai menjilat kemampuan Lia kecil. Namun, Lia kecil tetap bergeming dan tak membalas ucapan Naufal. Naufal melirik ke arah Lia kecil sambil berkata, "Jarak sasaran tembak yang dilakukan oleh adik Lia sangat … hebat." Lia kecil ternyata menutup matanya sambil bersandar nyaman di jok mobil. Jadi dari tadi aku bicara dengan orang tidur? batin Naufal masam. Ah sudahlah, lebih baik diam saja ke rumah Om Ibas, putus Naufal di dalam hati. Namun ketika dia baru saja sedetik menutup kelopak mata, matanya terbuka dan tiba-tiba berkata pada bodyguard yang menyetir. "Bagaimana kabarmu hari ini?" Bodyguard, "...." er … apakah Tuan muda Basri ini perhatian padanya? "Ehm … saya baik, Tuan," jawab bodyguard. "Jam berapa tadi malam kamu tidur?" tanya Naufal. "Jam dua belas malam, Tuan," jawab bodyguard. Naufal menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh begadang malam!" "Tapi Tuan, saya berjaga," balas bodyguard. "Tetap saja tidak boleh tidur terlalu larut jika besoknya ingin menyetir!" balas Naufal. "Diam." Ini adalah satu kata yang keluar dari mulut Lia kecil. Naufal melirik ke arah Lia kecil, dia masih menutup mata. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN