Chapter 46

1632 Kata
Setelah mobil sampai di depan rumah utama Nabhan, Lia kecil turun dan masuk begitu saja ke dalam rumah itu. Sementara itu, Naufal berjalan mengikuti dari belakang memasuki rumah Nabhan, saat sampai di dalam rumah, Naufal bertemu dengan pasangan suami istri Nibras dan Atika. Nibras berkata kepada Lia kecil. "Lia." Nibras melihat bahwa tatapan Lia kecil sangat dingin dan cuek itu berarti yang muncul bukanlah kepribadian asli dari sang keponakan melainkan adalah kepribadian kedua dari keponakan yaitu Lia kecil. "Kalian sudah pulang?" tanya Nibras. Lia kecil mengangguk. "Surat sakitmu telah dikirim oleh dokter ke tempat kerja, dua hari istirahat di rumah," ujar Nibras ke arah Lia kecil. Lia kecil mengangguk mengerti, dia menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Sementara itu, Naufal menyapa Nibras dan Atika. "Om, Tante." Nibras mengangguk. "Om kira kamu nggak datang," ujar Nibras. Naufal berkata, "Opal sudah putuskan Om untuk setiap hari mengantar jemput Adik Lia pergi ke tempat markas untuk melatih para Junior menembak. Opal akan menjadi supirnya, kebetulan Opal juga akan berlatih di sana." Nibras agak terkejut namun setelah mendengar ucapan sang keponakan, dia berkata, "Om setuju." Naufal tersenyum. "Dengan cara ini mungkin adik Lia nggak akan kenapa-kenapa dan mungkin saja peristiwa tadi malam nggak akan terulang kembali," ujar Naufal. Nibras mengangguk setuju begitu pula dengan Atika. "Ah, kakak ipar nggak ada di rumah? apakah ke kantor?" tanya Naufal. Nibras terkekeh. "Hehehe, kau tahu bahwa Kakak iparmu akan selalu menempel di dekat kakak perempuanmu, kan. Aqlam dan Chana sedang pergi untuk berlibur bersama kemarin siang," jawab Nibras. "Ah begitu rupanya," sahut Naufal manggut-manggut mengerti. Fahmi muncul dan duduk bersama Naufal. "Om Opal!" panggil Fahmi. Naufal mengusap kepala Fahmi. "Kamu sudah tambah besar," ujar Naufal. Dia membawa Fahmi duduk di pangkuannya. Fahmi terkekeh. "Kapan-kapan ke rumah Nenek Poko dan Kakek Ben, di rumah agak sepi kalau nggak ada kamu, apalagi Tante Aini sering ke Bandung," ujar Naufal ke arah Fahmi. "Hari libur Ami akan ke sana, Kek boleh kan?" tanya Fahmi ke arah Nibras. Nibras mengangguk, dia tersenyum. "Boleh," jawab Nibras. "Nanti sekalian dengan kakak Anas biar kita main bersama dengan tante Aini, boleh kan Om?" tanya Fahmi ke arah Naufal. "Tentu saja boleh, kenapa nggak boleh? malah Nenek Poko pasti senang karena banyak cucunya datang," jawab Naufal. Fahmi merasa senang. "Oh ya Om, ada yang ingin aku katakan," ujar Naufal ke arah Nibras. Nibras mengangguk mengerti. "Baik, mari ikut Om ke ruang kerja." Naufal mengangguk. Nibras berdiri dari kursi lalu diikuti oleh Naufal, mereka berjalan memasuki ruang kerja dari Nibras. Sudah lama dia tidak lagi menjalankan perusahaan sebab perusahaannya telah berpindah tangan kepada anak laki-lakinya yaitu Aqlam, namun Aqlam lebih senang bekerja dari rumah dan menemani sang istri. Namun itu tidak masalah bagi nibras, sebab sang anak Aqlam memiliki potensi yang sangat bagus untuk mengendalikan perusahaan. Perusahaan semakin beruntung dan tidak ada kerugian dalam menjalankan perusahaan. Sesampainya di dalam ruang kerja Nibras, Naufal langsung berkata kepada Nibras. "Adik Lia tahu bahwa Opal mengetahui kepribadian yang dialami olehnya." Wajah Nibras terlihat serius. "Apakah dia marah?" tanya Nibras. Naufal menggelengkan kepalanya. "Menurut Opal meskipun dia marah tapi dia harus menerima kerjasama ini," jawab Naufal. "Maksud Opal, Opal akan menjadi supirnya pergi mengantar jemputnya ketika kemanapun dia pergi, tapi dia nggak tahu mengenai Opal yang membantu penyembuhan kepribadiannya. Jadi ini masih menjadi rahasia," sambung Naufal. Nibras membalas, "Apapun yang kamu lakukan untuk kesembuhan Ariel, Om setuju. Om akan mendukung jika perlu bantuan atau apapun itu katakan saja pada Om, Om akan membantu sebisa dan semampu Om kepadamu." "Baik, Om. Om, Opal pikir sampai di sini saja, Opal pulang ke rumah dan beristirahat. Opal belum mandi," ujar Naufal. "Ya, pulang ke rumah dan istirahat dua hari, kau harus ke sini untuk menjemput Lia pergi ke kantor," balas Nibras. Nibras menemani Naufal keluar dari ruang kerja ketika berjalan keluar rumah dia melewati ruang tamu di mana di situ ada Atika bermain bersama dengan Fahmi, Naufal mengucapkan kata-kata pamit pulang. "Tante, Opal pulang yah ke rumah," ujar Naufal. Atika mengangguk. "Hati-hati di jalan. Katakan pada bodyguard untuk jangan terlalu ngebut. Tante sudah nonton rekaman kecelakaan tadi malam, Tante jadi ngeri dan khawatir," balas Atika. "Baik, Tante. InsyaAllah Opal akan baik-baik saja di jalan," ujar Naufal. "Aamiin," sahut Atika. "Ami, Om Opal pulang yah, nanti kapan-kapan Om jemput yah ke rumah Nenek Poko," ujar Naufal ke arah Fahmi. Fahmi mengangguk. "Baik, Om. Nanti kalau Om Opal udah sembuh dari sakit dan luka, datang jemput Ami yah untuk main ke rumah Nenek Poko," balas Fahmi. "Pasti," sahut Naufal. Dia mengusap rambut Fahmi dan mengecup dahi sang keponakan laki-laki. "Om, Opal pulang, Assalamualaikum," pamit Naufal. "Waalaikumsalam," balas Nibras. Naufal keluar rumah dan memasuki mobil yang telah dibuka oleh seorang bodyguard. Setelah mobil itu menjauh dari rumah Nabhan, Nibras mengambil tempat duduk bersama sang istri. "Tadi malam kalau sedetik saja Opal terlambat ambil alih kemudi, aku nggak tau apa yang akan terjadi," ujar Nibras. "Sira sampai mau datang ke sini untuk melihat Aril," ujar Atika. "Tapi percuma saja kalau ke sini dan yang muncul Lia, bukannya Aril," balas Nibras. Atika melirik ke arah suaminya. "Tapi Bas, coba kamu ingat lagi, setelah bertemu dengan Opal, Aril jadi sering muncul," ujar Atika. Nibras mengangguk setelah berpikir sesaat. "Ya, memang Aril sering muncul. Dan sudah beberapa kali ini ada Opal di sisinya," balas Nibras. "Jadi … apakah sudah mulai ada hasil?" tanya Atika. Nibras melirik ke arah kamar sang ponakan, kemudian dia melirik ke arah sang istri. "Jangan bahas itu di sini." Atika mengangguk mengerti, banyak mata dan telinga dari Lia kecil di dalam rumah ini. Gadis itu bisa mengakses rekaman cctv dan suara yang terpasang di rumah ini. * Di dalam kamar mandi, Lia kecil sedang membasuh badannya dengan menggunakan busa sabun cair yang melimpah ruah. Dia melihat ke arah kaca di mana tubuhnya terlihat. Ada beberapa bekas luka di badannya. Memang jika tubuhnya dibalut oleh pakaian, bekas luka yang membekas di perut dan punggung bawah tak terlihat, namun jika dia bertelanjang tanpa pakaian, maka bekas luka itu akan terlihat. Tatapan matanya dingin saat air dari lubang shower jatuh membasahi tubuhnya hingga memperlihatkan bekas luka yang yang terlihat jelas. Bekas luka itu timbul, itu adalah hasil dari goresan pisau yang membuat permukaan di tempat luka menjadi menggumpal ke atas dan meninggalkan bekas luka seperti sekarang. Namun, meskipun itu bekas luka, Lia kecil tampak biasa-biasa saja. Dia melanjutkan aktivitas mandi tanpa bicara lalu setelah itu duduk di ruang kerja. * "Sudah pulang?" tanya Popi saat melihat anaknya memasuki pintu rumah. Naufal mengangguk. "Iya, Ma." "Ma, Opal mau mandi," ujar Naufal. "Ok, perban kamu diganti atau gimana? kan masih luka baru," balas Popi. "Nanti Opal tutup pakai tutup kepala plastik," jawab Naufal. "Mama masak sup tulang sapi yah? sumsum tulangnya bagus loh untuk kesehatan," ujar Popi. Naufal mengangguk. "Ok." "Oh iya, Aril masih di rumah Om Shan, kan?" tanya Popi. Naufal menggelengkan kepalanya. "Udah balik ke rumah Om Ibas," jawab Naufal. Popi agak terheran. "Kan seharusnya kalau itu Aril, harus ke rumah Gaishan … apa Lia sudah muncul?" Naufal mengangguk. "Um." "Ya sudah, kalau begitu nanti Mama Poko kirim sup tulang sapi ke rumah Om Ibas saja," ujar Popi. Naufal mengangguk, setelah itu Naufal masuk ke kamarnya. * Pada saat makan siang, Naufal turun ke ruang makan. Hanya empat orang keluarga Basri yang makan siang, Aini ke sekolah. "Apakah sudah mengantarkan makanan untuk Aini makan siang?" tanya Randra. Ben mengangguk. "Sudah, Ayah. Mungkin bodyguard yang membawa makan siang Aini sudah sampai di sekolahnya," jawab Ben. Randra melanjutkan makan, dia melirik ke arah sang cucu laki-laki. "Istirahat di rumah selama dua hari." "Iya, Kek. Kata dokter memang harus istirahat selama dua hari," balas Naufal. "Sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh?" tanya Randra. "Opal nggak rasa sakit kok, ini hanya benturan ringan, kebetulan kaca mobil pecah, tapi tenang saja Opal bisa melindungi diri," jawab Naufal. Randra menatap sang cucu, dia menghentikan aktivitas makan. "Jangan sampai ada retak tulang, apalagi di kepala." Mendengar ucapan Randra, Popi berkata, "Opal, setelah kamu makan dan istirahat, sore ikut Mama ke rumah sakit Om kamu, biar di rontgen, CT scan di kepala bila perlu." "Tapi Opal benar-benar-" Naufal memilih tidak lagi melanjutkan kata-katanya setelah tatapan mata sang kakek menatap penuh perintah dan serius. Mungkin karena sang kakek mengkhawatirkan dirinya. "Baik," sahut Naufal pada akhirnya. "Oh iya, Mama juga tadi kirim sup tulang sapi ke rumah Om Ibas, itu untuk Lia," ujar Popi. Naufal manggut-manggut mengerti sambil menyeruput kuah sup. "Ma, Ami bilang nanti dia mau main ke sini bareng Anas kalau Opal nggak sakit lagi," ujar Naufal setelah menyeruput kuah sup. "Loh, kenapa nggak datang aja bareng kamu?" tanya Popi. "Nggak ada Anas. Dia lagi ke sekolah, juga Ami bilang nanti kalau Opal udah sembuh dari sakit," jawab Naufal. Popi manggut-manggut. "Rumah agak sepi, biarkan Ami dan Anas datang ke sini dan bermain bersama Aini," ujar Randra. Naufal dan yang lainnya mengangguk. "Atika dan Ibas senang sekali, rumah mereka tidak sepi karena ada dua cucu, sementara di rumah ini, anak perempuan bungsuku bahkan sering dibawa ke rumah orang lain," ujar Ben mengeluh. Popi diam-diam menahan tawa geli. "Tenang, nggak lama lagi rumah ini pasti penuh dengan cucu-cucu kita kok. Sabar sabar saja," balas Popi yang melirik penuh arti ke arah Naufal yang sedang menunduk menyeruput kuah sup dengan khusuk. Randra melirik ke arah sang cucu, apakah cucunya sudah punya seorang pacar yang diajak serius? Mari kita lihat. "Emangnya Bahrun dan Adil bakal datang ke sini yah?" tanya Naufal. Popi menggelengkan kepalanya. "Nggak." "Lalu siapa?" tanya Naufal. "Mari kita tunggu satu atau dua tahun lagi, Mama berharap mereka akan datang," jawab Popi. Naufal mengerutkan keningnya. "Siapa yang akan datang satu atau dua tahun lagi?" Setelah bertanya ini, Naufal menyeruput kuah sup dengan semangat. "Anak-anak kamu," jawab Popi polos. Bssuuuuk! "Uhuk! uhuk! uhuk!" Naufal terbatuk hebat setelah menyemburkan kuah sup tulang sapi ke arah wajah sang ayah. "Naufal!" Ben menggertakkan giginya kesal. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN