Duapuluhlima

1072 Kata
Aksa berdiri mematung sambil bersedekap d**a, menatap sini pada Disa yang terduduk di depannya bersama adiknya, Arkan. Lelaki itu masih keheranan kenapa gadis itu bisa sampai berada di sini. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Aksa dingin. "Hm?" Disa yang terfokus pada buku pelajaran Arkan dan masih berusaha memahami soal demi soal pun akhirnya mendongakkan wajah untuk menatap Aksa. "Membantu Arkan mengerjakan tugas." Lanjutnya. Mendengar hal itu Aksa malah berdecis sinis. "Kau? Membantu adikku? Gadis bodoh sepertimu bisa apa?" "Aksa, jangan kasar begitu!" Tegur sang ibu yang juga berada di sana. "Berada di peringkat terakhir dari ratusan siswa apa lagi namanya kalau bukan bodoh?" Disa hanya tersenyum kecut. Kendati hal seperti ini sudah biasa ia dapatkan dari Aksa, nyatanya gadis itu masih punya hati yang masih bisa merasakan sakit. Gadis itu lantas menutup buku pelajaran tersebut, bangkit dari duduknya dan menatap ke dalam manik Aksa. "Ya, aku memang bodoh. Tapi setidaknya aku tahu bagaimana caranya memperlakukan orang lain dengan baik. Tidak seperti kamu, si jenius yang sama sekali tidak berperasaan!" Disa mengucapkan kalimat barusan dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Adapun matanya yang sudah berkaca-kaca, aku berani bertaruh, sebentar lagi pasti air matanya akan tumpah. Bagaimana pun juga, Disa hanyalah gadis biasa yang mudah menangis. "Tante, Arkan. Aku permisi!" Pamit Disa dan langsung membawa kakinya berlari meninggalkan rumah ini. "Disa tunggu!" Ujar ibu Aksa yang berusaha mencegah gadis itu untuk tidak pergi begitu saja. Namun Arkan sudah lebih dulu lari mengejar Disa. Sedang Aksa, lelaki itu masih mematung di tempatnya. "Kau keterlaluan, Aksa!" Ucap sang ibu mengungkap kekecewaannya. "Kak Disa, tunggu!" Disa yang baru saja melintasi pintu dan berusaba menyeka air matanya pun lantas menoleh. "Arkan?" "Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Kuharap Kak Disa bisa kembali berkunjung lain waktu." Ucapnya. Mendengar itu, rasa sakit yang menenuhi rongga dadanya perlahan membaik. Pun Disa melukiskan senyum, "eung! Aku akan kesini lagi lain waktu," "Beritahu aku kalau si pengacau itu sedang tidak di rumah, ya!" Bisik Disa. Sudah pasti si pengacau yang dimaksud di sini ialah Aksa. Siapa lagi? "Aku pulang dulu, ya!" Pamit Disa lagi. "Hati-hati Kak Disa! Sampai jumpa!" * Dan. Beginilah awal mulanya. Kedua mata Disa memincing, memerhatikan Aksa dari tempat duduknya sendiri. Semua peralatan sekolahnya sudah ia masukkan ke dalam tas, tapi gadis itu tak juga usik dari kursinya. Barulah setelah Aksa bangkit, ia pun ikut bangkit. Kemudian membiarkan Aksa lebih dulu meninggalkan kelas dan berjalan sedikit agak jauh, sebelum akhirnya ia menutur di belakang. Dua orang temannya, Nana dan Rita, hanya mampu mengernyitkan dahi kebingungan atas kelakuan temannya yang satu itu. Aksa baru saja meninggalkan area sekolah, mengambil jalan ke arah kiri ketika kakinya melangkah keluar gerbang. Lelaki itu tidak membawa kendaraan pribadi ataupun memanfaatkan transportasi umum, ia hanya mengandalkan kedua kakinya untuk menyusuri jalan menuju ke kediamannya. Disa memindik-mindik di belakang. Namun, bukan Disa namanya kalau tidak ceroboh. Rupanya ia terlalu ketara, pun hampir saja ketahuan kala langkah Aksa terhenti secara tiba-tiba dan menoleh. Beruntungnya, pergerakkan Disa untuk bersembunyi di belakang mobil yang terparkir di sisi jalan jauh lebih cepat. Lima belas menit sudah Disa membuntuti Aksa, hingga tibalah lelaki itu di depan sebuah rumah yang bagi Disa cukup mewah. Kemudian Aksa membuka kunci pagar dan memasuki beranda rumah. Sampai pada Aksa ditelan pintu masuk, barulah Disa yakin kalau, ini rumahnya. * "Membuntuti Aksa?!" Tanya Rita tidak percaya, dan bodohnya gadis itu tidak sadar kalau suaranya barusan terlalu keras, sampai Disa dan Nana harus membekap mulutnya cepat. "Kecilkan suaramu!" Protes Disa. "Lalu bagaimana setelahnya?" Tanya Nana penasaran. "Yaaaa aku pulang," Jawab Disa. "Tapi sepulang sekolah aku akan kesana lagi." Sambung Disa dengan begitu entengnya. "Apa?!" Nana dan Rita terkejut akan kelanjutan ucapan Disa. Gadis itu benar-benar nekat. Apa yang akan dia lakukan di sana nanti? Bertemu dengan keluarga Aksa yang jelas-jelas tidak mengenalnya sama sekali. Bukankah itu akan menciptakan suasana yang begitu canggung? Dan, Pada akhirnya aksi nekat Disa itu benar-benar ia lakukan. Bahkan di luar ekspetasi, ibu dan juga adik Aksa begitu ramah menyambut kehadirannya yang notabenenya masih orang asing. Eh, sebentar. 'Masih' orang asing? Memangnya Disa akan menjadi 'bukan' orang asing bagi Aksa? Percaya diri sekali. * Bagi Disa (dan bagiku juga), bangun pagi di hari minggu merupakan kerugian yang aaaaaaamat besar. Bukankah hari minggu diciptakan untuk bermalas-malasan? Bukankah fungsi dari hari minggu adalah untuk merebah di atas kasur yang begitu posesif? Disa masih di alam mimpinya, ketika ponselnya berdering sejak sepuluh menit yang lalu. Dengan malas, dan dengan kedua mata yang masih sulit dibuka, Disa meraba-raba permukaan nakas tempat ia biasa meletakkan ponsel. Namun rasanya seluruh permukaan nakas telah dirabanya tapi ponsel tak jua ditemukan. Dimana dia? Disa membuka sedikit matanya yang masih terasa berat. Oh, ternyata ponselnya berada di kasur, di sebelah tubuh Disa. "Orang macam apa yang menelepon di pagi buta begini, mengganggu!" Gerutunya. Pagi buta? Pagi buta kau bilang? Astaga Disa... Andai kau buka matamu dan melihat ke arah jam yang terpasang di dinding kamarmu itu, jarum jam sudah membentuk segitiga siku-siku dengan jarum pendek berada di angka 9. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Sahut Disa asal. "Berikan alamatmu." Deg. Mata Disa seketika terbuka lebar, pun ketika ia baru saja hendak memutus panggilan secara sepihak, niatnya mesti diurungkan. Disa mencoba mengumpulkan nyawa dengan cepat dan membaca nama kontak yang tertera pada layar ponselnya. Aksa. Ya, benar. Aksa. Disa tidak salah lihat. "Cepat berikan alamatmu, sudah hampir dua puluh menit aku berdiri di persimpangan jalan dekat sekolah. Jangan membuatku naik darah!" Maki Aksa dari seberang sana. Benar. Aksa betul-betul tengah berdiri di persimpangan jalan sembari membawa bingkisan, celingukan kesana-kemari bak anak hilang. "T-tunggu. Apa maksudmu? Alamatku? Alamat rumahku?" Disa yang entah kenapa otaknya seketika tak berfungsi pun gelagapan. "Ya, cepat!" "Untuk apa?" Aksa menghela napas kesal, "cepat kirimkan melalui pesan!" Geramnya. Pun panggilan diputus secara sepihak oleh Aksa. Disa lantas segera membuat dua ibu jarinya menari di atas ponsel, mengetikkan secara terperinci alamat tempat tinggalnya dan segera mengirimkannya pada Aksa melalui pesa seperti yang tadi lelaki itu minta. "Tapi untuk apa?" Tanya Disa pada dirinya sendiri, pertanyaan itu berputar di kepalanya. "Ahh entahlah lebih baik aku melanjutkan tidurku yang terganggu oleh si jenius menyebalkan itu!" Pun Disa kembali menarik selimutnya dan merebahkan diri di atas kasurnya yang terasa begitu nyaman. Sebelum pada akhirnya, "Tidak!!" Disa bangkit tanpa aba-aba. "Bagaimana kalau dia kesini?!" Gadis itu meraba rambutnya yang kusut acak-acakan seperti rambut singa, kemudian ia menoleh, menatap pantulan dirinya pada cermin besar yang sengaja diletakkan di sebelah tempat tidur. "Aaaaaaaa tamatlah aku!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN