duapuluhempat: Bertahun Berlalu

1129 Kata
Tahun demi tahun berganti. Kini Disa sudah berada di tingkat akhir. Ujian di depan mata, perguruan tinggi jadi incaran. "Aksa," panggil Disa, ketika lelaki itu tepat berada di depannya. "Kapan kita belajar bersama?" Mau tidak mau Aksa menghentikan sejenak laju langkahnya, menghela napas dan memutar bola matanya malas. "Kau saja yang atur." Jawabnya singkat. Dengan sebelah tangan yang di sembunyikan di balik saku, Aksa, kembali melanjutkan langkahnya tanpa sedikit pun melirik Disa. "Aish, orang itu tidak pernah tidak menyebalkan! Ayo Disa, kita kembali ke kelas!" Gerutu Nana sambil memicingkan matanya mengiringi kepergian Aksa. Pun keduanya membawa langkah ke arah yang berlawanan dengan Aksa. "Apa nanti Rio menjemputmu lagi?" Koridor yang sepi, juga langkah mereka yang belum terlalu jauh, membuat pertanyaan Nana nyatanya sampai ke telinga Aksa. "Apa kalian berpacaran? Ah! Cepat beritahu aku!" Kali ini, langkah Aksa seketika terhenti. Pun lelaki itu menolehkan kepalanya sekilas. Namun pada detik berikutnya, hanya gelak tawa dari kedua gadis itu yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Kalimat selanjutnya, tidak pernah Aksa ketahui. Bola mata Aksa bergerak ke arah bawah, geming selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah. Semenjak kejadian beberapa tahun lalu, ketika Rio menyatakan perasaannya pada Disa pada acara festival sekolah, perlahan hampir seluruh murid di sekolah ini tahu, kalau Disa hanya berpura-pura menerimanya. Hingga pada suatu hari kabar tersebut pun tiba di telinga Aksa. Namun, seiring berjalannya waktu, kedekatan keduanya justru terlihat semakin akrab. Rio yang kini sedang menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa, masih kerap kali menyempatkan diri untuk menjemput Disa. Namun tak pernah ada yang tahu, apa keduanya benar-benar berpacaran, atau hanya sebatas teman biasa? * "Apa kau yakin akan melakukannya?" Tanya Nana. "Disa, apa kau sudah benar-benar memikirkan ini?" Sambar Rita. "Bagaimana kalau ternyata orangtuanya itu galak? Kau lihat sendiri," ujar Nana, matanya melirik menggiring kedua temannya itu untuk mengikuti arah pandangnya di tengah kelimatnya. "Produknya saja seperti itu, bagaimana pabriknya?" Sambungnya. Pun ketiga pasang mata itu masih menatap ke objek yang sama, seorang lelaki yang tengah sibuk dengan buku tebalnya di sana. "Pasti lebih cuek!" Sahut Rita. "Ehey! Maka dari itu aku harus mencobanya agar tahu!" Seru Disa antusias, sedang dua temannya hanya mampu saling menatap malas sambil menghela napas. * Ding Dong! Disa menekan bel yang ada di sisi kiri pagar. Matanya mencuri-curi pandang ke dalam halaman sebuah rumah yang cukup luas itu. Dalam hatinya ia terus berdecak kagum. Rumah ini betul-betul mewah baginya, tapi entah kenapa Disa merasa seperti ada kehangatan di dalamnya. Setelah beberapa kali menekan bel, kamera pintu intercom yang juga terpasang di sana pun menyala. "Siapa di sana?" Tanya seorang wanita dari dalam rumah. Disa merapikan rambut juga seragamnya, kemudian melambaikan tangannya ke arah kamera tersebut, "selamat sore, aku Disa. Aku teman satu kelas Aksa." Sapa Disa ramah. Namun satu detik setelahnya, kamera justru dimatikan secara sepihak dari sang pemilik rumah tanpa sepatah kata pun. Tak berselang lama, pintu rumah justru terbuka, seorang wanita paruh baya yang sepertinya tadi berbicara dengan Disa pun melangkah cepat menuju pagar. Dan segera membukanya untuk Disa. "Apa kau... Betul-betul teman sekelas Aksa?" Tanyanya dengan raut yang penuh rasa tidak percaya bercampur terkejut. Disa mengangguk antusias, "ya, benar!" "Astaga... Akhirnya anakku punya teman!" Seru wanita tersebut yang ternyata adalah ibu dari Aksa. Sedang Disa hanya bisa terkekeh canggung. "Ayo cepat, masuk masuk! Aku punya beberapa camilan untukmu. Oh, iya. Kau mau minum apa? Teh? Cokelat hangat? Jus? Atau ingin yang lain?" Disa dibalut rasa bingung. Ibu Aksa menyambutnya dengan amat ramah, ini benar-benar di luar ekspetasi. Padahal Disa sudah cemas kalau-kalau ia akan diusir dan diabaikan. Namun kenyataannya, kedatangannya benar-benar dimuliakan dan dijamu dengan sangat amat layak. Dan di sinilah Disa sekarang, terduduk di sofa putih ruang tamu Aksa, bertemankan beberapa kue kering dan beberapa camilan lainnya yang langsung disediakan oleh ibu Aksa. "Tadaaa! Cokelat hangat untuk gadis cantik berhati hangat!" Ibu Aksa muncul dari dapur dengan membawa secangkir cokelat hangat. "Terima kasih!" Ucap Disa. "Silakan! Jangan malu-malu, anggap saja ini rumahmu juga!" Kata Ibu Aksa lagi. "Tadi siapa namamu?" "Disa, tante." Ibu Aksa seolah begitu bahagia kedatangan tamu yang mengaku sebagai teman putra sulungnya itu. Pasalnya, ia tahu betul bagaimana karakteristik putranya yang satu itu, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai detik ini, ia tidak pernah bisa berteman akrab dengan orang lain. Baginya, ini merupakan suatu keajaiban. "Mama! Kenapa kakak belum pulang? Aku ingin meminta bantuannya mengerjakan tugas." Seorang bocah lelaki yang baru saja menuruni anak tangga merasa sedikit terkejut akan kehadiran Disa. Ia mengernyitkan keningnya bingung sebab tak pernah melihat Disa sebelumnya. "Ah, Disa, ini Arkan. Dia adik Aksa, sekarang ini ia duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua. Dan Arjan, ini Kak Disa, teman Kak Aksa." Ujar Ibu Aksa. "Kelas tiga, Ma." Koreksi Arkan. "Ah, benarkah?" Disa terkekeh melihat tingkah keduanya, benar-benar jauh berbeda dengan Aksa yang selama ini ia lihat di sekolah. Atau mungkin, di rumah ini hanya Aksa yang memiliki karakter begitu? "Perkenalkan, aku Arkan." Kata Arkan sembari mengulurkan tangannya pada Disa. Gadis itu menyimpulkan senyum seraya menyambut uluran tangan bocah yang tidak lebih tinggi darinya itu. "Aku, Disa. Arkan, kau sangat manis!" Ucapnya sembari mengelus lembut rambut Arkan. Pun bocah itu menyimpulkan senyum. Disa benar-benar terkesan dibuatnya atas attitude yang dimiliki Arkan. Betapa hebat kedua orangtuanya sehingga bisa mendidik anak yang mempunyai sopan santun sangat baik seperti ini. Namun pada detik berikutnya, ia kembali teringat pada Aksa. Lelaki cuek, nan dingin itu sangat berbeda jaaaaaauh dengan sang adik. Bahkan terlampau jauh. Terbukti dengan kata-kata juga tindakannya pada Disa. Entah dalam nyaris tiga tahun ini sudah berapa kali Aksa menyebut Disa bodoh dan mempermalukannya. "Kak Disa, apa kau sekelas dengan kakakku?" Tanya Arkan. "Eung!" Disa mengangguk antusias. Pun Disa mendapati binar dari kedua mata Arkan. "Syukurlah! Kalau begitu maukah kau membantuku mengerjakan tugas?" Ujarnya, bocah itu bak bertemu dewa penyelamat dalam hidupnya. "Tentu! Tugas apa?" "Matematika." Jleb. Matematika M a t e m a t i k a Mati. Disa sangat benci pelajaran yang selalu menyulitkan murid itu. Pun Disa hanya mampu menggigit bibir bawahnya, menyesali keputusan yang baru saja ia ambil. Keputusan untuk bersedia membantu Arkan mengerjakan tugas. Sedang Arkan dengan penuh semangat berlari menuju kamarnya untuk mengambil buku pelajarnya itu. "Ayolah, Disa! Kau pasti bisa! Ini hanya pelajaran bocah sekolah menengah pertama!" Batinnya menyemangati diri sendiri. "Ayo, Kak!" Seru Arkan. Disa mulai membaca soal nomor 1. Satu menit, Dua menit, Tiga menit, ... Tamatlah sudah riwayat Disa. Nyatanya ia tak juga bisa menyelesaikan soal pelajaran anak sekolah menengah pertama ini. "Bagaimana, Kak?" Tanya Arkan. "Eum... Ini...." "Aku pulang." Sebuah suara dari pintu depan membuat mereka menoleh serentak. "Oh, kau sudah pulang?" Sambut Disa. "Apa yang kau lakukan di rumahku?" Tanya Aksa yang terkejut bukan main mendapati Disa tengah berada di antara ibu dan juga adiknya. Bagaimana bisa ia berada di sini? Tidak, kenapa gadis itu bisa tahu alamat rumahnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN