"Ku rasa aku benar-benar tidak akan mendapat kesempatan itu." Ucap Disa murung.
"Hasilnya belum keluar, jangan khawatir." Ujar Ibu Aksa berusaha untuk menenangkannya.
Benar, gadis itu kini kembali berada di tengah-tengah keluarga lelaki itu. Hal ini terjadi sebab Aksa yang datang menjemput Disa, dan membawa gadis itu ke rumahnya sesuai perintah sang ibu yang mengundangnya untuk makan siang.
"Benar, kau tak perlu khawatir. Kau bisa mengikuti ujian di universitas lain bersama Aksa." Tambah ayah Aksa.
"Aku tidak akan mengambil ujian." Ujar lelaki dingin yang duduk berhadapan dengan Disa, tentu kalimatnya berhasil membuat seluruh pasang mata tertuju ke arahnya.
"Huh?"
"Apa?"
"Ku bilang aku tidak akan mengambil ujian," Aksa mengulang kembali kalimatnya dengan santainya.
"Aku tidak akan kuliah." Sambungnya.
"Tapi kenapa?" Tanya sang ayah.
"Karena tidak ada satu hal pun yang ingin kulakukan. Aku juga tak ingin pergi kemana pun." Jawabnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah lulus sekolah?" Sang ayah kembali bertanya.
Aksa menghela napasnya sejenak, "aku bisa bekerja paruh waktu." Katanya santai.
"Aksa! Apa hidupmu ini lelucon?! Apa kau pikir hidup kau bisa menjalani hidup ini sesukamu?" Ayah Aksa mulai geram akan apa pemikiran putra sulungnya itu, pun ibu Aksa yang duduk di sebelahnya segera berusaha menenangkannya.
"Oh, ya. Apa kau mau menjalani bisnis bersama Ibu? Bagaimana menjalankan bisnis perbelanjaan di internet?" Kini giliran sang ibu memberi usul.
"Lalu, bagaimana aku bisa hidup?" Aksa kembali mengeluarkan suaranya.
"Apa?" Tanya sang ayah yang semakin dibuat tak habis pikir.
"Ini karena aku tidak tahu bagaimana caranya hidup. Karena itulah, aku tidak mau melanjutkan kuliah. Karena aku tidak ingin menjalankan hidup seperti orang lain tanpa motif. Bagaimana seharusnya aku hidup?"
"Kau bisa belajar dan mengambil alih perusahaan Papahmu." Sang ibu kembali memberikan usul.
"Mamah tau aku ini sangat egois, bukan? Sebuah bisnis yang tidak sesuai keinginanku... Aku tidak bisa bekerja di sana. Bahkan tidak mengharapkan sesuatu dari sana," jelasnya. "Aku sudah selesai makan."
Pun lelaki itu beranjak meninggalkan meja makan.
"Aish! Anak itu benar-benar!" Gerutu sang ayah, pun pada detik berikutnya ayah Aksa meneguk segelas mineral yang ada di atas mejanya.
"Dia selalu mendapatkan dan melakukan apa pun dengan mudah, mungkin karena itu, kenapa dia tidak memiliki motivasi apapun dalam hidupnya." Ujar ibu Aksa yang terlihat sedikit frustrasi dibuatnya.
*
"Tada!!"
Rio membuka penutup hidangan makan malamnya. Lelaki itu memesan sebuah tempat khusus untuk mengadakan makan malam yang tertutup dengan gadis pujaan hatinya. Tak hanya itu, ia juga memesankan menu istimewa untuk gadis tersebut.
"Wah! Apa ini?"
"Kau bisa menyebutnya mie keberuntungan." Jawab Rio.
"Mie keberuntungan?"
Rio memberi sebuah anggukan. "Konon, kalau kau memakan ini, maka kau akan lolos ujian masuk universitas."
Gadis cantik yang duduk di hadapannya pun terkekeh. "benarkah begitu? Kalau begitu aku akan memakannya banyak-banyak!"
"Eung! Makanlah sesukamu!" Ujar Rio seraya mengukir sebuah senyuman di wajahnya.
"Selamat makan!" Seru sang gadis, beberapa detik sebelum menyantap hidangannya.
"Hm! Ini sangat lezat!!" Puji gadis itu. "Ah, iya. Apa kau memakan ini sebelum ujian masuk universitas?" Tanyanya.
Adapun Rio memberinya sebuah anggukan mantap. "Tentu! Maka dari itu aku mengajakmu kesini dan menyiapkan ini semua. Kau tahu? Mie ini tidak bisa dipesan sembarangan, lho!" Bisik Rio, di akhir kalimatnya.
"Benarkah?"
Rio kembali memberinya anggukan, "lihat di sudut sana!" Ujar Rio, sembari menunjuk ke arah sudut mangkok mie milik sang gadis.
"Apa ini? Seperti sebuah tulisan."
Gadis itu menajamkan penglihatannya, menelisik sebaris tulisan di sudut mangkok mie yang ternyata berbunyi,
'good luck!'
"Biji wijen. Kau tak tahu? Makanlah yang banyak, maka kau tidak akan gagal dalam ujianmu, Disa."
"Terima kasih banyak!"
Tak henti-hentinya Rio memandangi Disa yang nampak begitu menikmati hidangannya. Namun, tiba-tiba saja gadis itu teringat akan sesuatu yang membuatnya menatap Rio penuh harap.
"Kak Rio, boleh aku membungkus ini satu lagi?" Pintanya.
"Dengan senang hati! Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkannya."
*
Tok Tok Tok
Dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk mie, air mineral, sekotak hadiah, dan tak lupa sepotong apel. Disa terus mengetuk pintu kamar itu. Sudah hampir lima belas menit, setelah acara makan malamnya, Disa langsung bertolak kemari demi membujuk Aksa. Tak tahu kah lelaki itu kalau dirinya telah membuat banyak pihak khawatir dan tak terkecuali Disa?
"Apa kau tidur?" Tanya Disa, yang sedari tadi tak pernah bersambut.
"Aksa!" Panggilnya untuk yang kesekian kali.
"Kau tetap mengikuti ujian, bukan? Semua orang khawatir tentangmu. Terutama papahmu, dia terus mengkhawatirkanmu bahkan tidak tertawa seperti biasanya,"
Pun di dalam kamar, Aksa termangu di tepian jendela kamarnya. Menerawang jauh menatap langit, sembari mendengarkan celoteh Disa di luar sana.
"Bagaimana kalau seperti ini. Pertama, kau bisa mengikuti ujian terlebih dahulu, lalu setelahnya kau baru menentukan apakah kau akan masuk universitas atau tidak. Jika kau sama sekali tidak mengikuti ujian, lalu tiba-tiba kau menemukan apa yang ingin kau lakukan dan ingin kuliah, maka apa yang akan kau lakukan? Buka pintunya sebentar...."
Tak jua mendapat tanggapan, Disa lantas menghela napasnya berat.
"Kau memang pandai melakukan apapun, maka aku yakin pasti kau juga pandai menggunakan isi kepalamu untuk kepentingan orang lain,"
Disa menyimpulkan sebaris senyum di akhir kalimatnya.
"Aku meletakkan ini di sini, dan makan sebelum dingin, ya. Sampai jumpa."
Pun pada akhirnya Disa menyerah. Gadis itu hanya meletakkan apa yang ia bawa di depan pintu kamar Aksa. Namun, tanpa gadis itu ketahui, Aksa membuka pintunya tak lama berselang setelah dirinya beranjak dari sana. Pun Aksa membawa masuk nampan beserta isinya, meletakkannya di atas meja kamarnya. Pandangannya tertuju pada sebuah kotak merah muda berhiaskan pita di atasnya. Setelah dibuka, Aksa terkekeh kecil melihat apa yang yang berada di dalamnya. Sebuah garpu, dengan pita yang mengikat di bagian atasnya sebagai hiasan. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu sampai ia menghadiahi Aksa sebuah garpu. Tak sampai di situ, ternyata ada sebuah kartu ucapan di dalamnya.
Good luck! Aksa adalah yang terbaik!
Begitulah yang tertulis di sana.
Aksa kembali terkekeh dibuatnya. Pun pada akhirnya, lelaki itu mulai menyantap semangkuk mie yang dibawakan khusus untuk dirinya.
"Memang gadis ajaib." Ucap Aksa. Sebelum pada akhirnya lelaki itu memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.
*
Rio merebahkan dirinya di atas ranjang dengan senyum yang belum juga luntur. Untuk kali pertamanya dalam tiap pertemuannya dengan Disa, tak ada nama Aksa yang terselip di sana. Pun Rio memperpanjang kembali harapan atas perasaannya terhadap gadis itu.