"Lalu, kalau kalian lulus wawancara, maka kalian bisa pergi ke universitas yang sama?" Tanya Rita dengan mimik wajah yang sendu.
Pengumuman hasil seleksi administrasi baru saja diumumkan. Nana dan Disa berhasil lolos dan akan mengikuti tahap selanjutnya, yakni, tahap wawancara. Bukan, bukan Rita tak bahagia atas keberhasilan temannya. Dia bahagia, tentu bahagia. Hanya saja, ada setitik kesedihan juga rasa iri yang berhasil menyelinap ke dalam lubuknya, mengingat kalau dirinya yang sebentar lagi akan berangkat ke Berlin dan tak bisa melanjutkan perjalanan ke universitas yang sama bersama dengan dua temannya itu. Rita hanya membayangkan, bagaimana hari-harinya di Berlin nanti dan bagaimana hari-hari Disa dan Nana di sini nanti. Pasti senang rasanya kalau bisa tetap bersama-sama dengan mereka.
"Kudengar mereka banyak memilih, seleksi ini benar-benar sulit." Celetuk salah seorang teman sekelas Disa yang tak sengaja mendengar perbincangan mereka.
"Benar. Mereka hanya memilih lima orang dari beberapa kandidat yang ada," Sahut Disa. Kemudian gadis itu beralih menatap Nana di sebelahnya, "tapi, kira-kira apa yang akan mereka tanyakan di wawancara? Aku benar-benar tidak pandai dalam berbicara." Keluhnya.
"Entahlah, aku bahkan masih memiliki uji keterampilan setelahnya." Jawab Nana.
"Ah, sepertinya aku tidak perlu khawatir. Langit pasti akan mendukungku." Ucap Disa dengan penuh tekad.
*
Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, wawancara jatuh di hari kamis pukul sepuluh pagi. Namun tak seperti yang Disa ucapkan tempo hari, langit justru terlihat menginginkan Disa untuk menyerah akan wawancaranya.
Sejak pagi tadi, hujan angin tak henti-hentinya melanda wilayah tempat tinggal Disa. Namun sepertinya, hal ini tak menyurutkan semangat gadis itu. Dengan berbalut jas hujan dan juga berbekal sebuah payung, gadis itu sudah siap untuk menghadiri tes wawancara.
"Disa! Tunggu!" Teriak sang ayah, dan menyusul putrinya yang sudah bersiap untuk keluar rumah.
"Ayah, apa ini? Kurasa kereta bawah tanah cukup aman, jadi kau tak perlu khawatir." Ujar Disa mencoba menenangkan sang ayah, yang saat ini juga telah berbalut jas hujan dan membawa sebuah payung.
"Disa, apa kau benar akan baik-baik saja?" Tanya sang ayah lagi.
"Tentu saja! Ini hanya hujan."
"Aish! Ini bukan hanya hujan, di luar sana angin bertiup sangat kencang, berbahaya!" Kata ayah Disa.
"Disa, bagaimana kalau… Menyerah saja soal wawancara ini?" Tambahnya. Mendengar hal itu, tentu raut Disa murung seketika.
"Kenapa? Ayah pikir aku tidak punya kesempatan untuk mendapatkannya? Ayah tidak percaya padaku?"
"B-bukan itu!" Pun sang ayah langsung menyangkalnya. "Lihatlah cuacanya! Apa kau akan tetap pergi?"
"Ini adalah satu-satunya tempat yang kemungkinan akan menerimaku. Bahkan jika nantinya aku gagal, aku tetap harus pergi karena setidaknya aku pernah mencobanya. Dan aku akan bersyukur akan hal itu," papar Disa, yang masih mencoba meyakinkan sang ayah.
"Jangan khawatir, Ayah! Aku pergi sekarang, sampai jumpa!" Tambahnya.
Pun pada akhirnya, ayah Disa hanya mampu meratapi kepergian putrinya yang tetap bersikeras, sembari terus melafalkan doa demi keselamatannya. Ya, yang paling terpenting untuk saat ini adalah keselamatannya dulu. Tentang ia berhasil atau tidaknya dalam wawancara nanti, biar itu menjadi urusan belakangan. Toh putrinya lebih berharga dari apapun bagi ayah Disa.
*
"Karena jalur yang dipenuhi dengan air, maka kereta bawah tanah tak bisa melanjutkan perjalanan. Para penumpang diharap untuk turun di pemberhentian selanjutnya. Terima kasih."
Begitulah suara pengumuman yang baru saja berbunyi dalam gerbong kereta. Disa dan beberapa penumpang yang ada lantas panik sekaligus bingung. Bagaimana ini? Sedang perjalanannya masih harus melintasi dua stasiun lagi. Apa daya, Disa hanya bisa mengikuti instruksi yang ada.
Perjalanan Disa, betul-betul tak semudah yang dibayangkan. Setelah turun dari kereta bawah tanah, gadis itu lantas melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki. Sebab tak ada satu pun kendaraan umum yang melintas. Berbekal sebuah payung, Disa terus berjalan menerjang kuatnya angin yang bahkan beberapa kali nyaris menerbangkan payungnya hingga ia mesti menggenggamnya dengan erat.
Dengan rambutnya yang sudah acak-acakan dan seragam yang kuyup, tibalah Disa di tempat wawancara ini. Gadis it menghela napasnya kala menyadari penampilannya yang sekarang ini. Betul-betul tak keruan.
Di ruang wawancara, sudah berjajar empat orang dengan tiga laki-laki dan satu perempuan yang bertugas sebagai pewawancara. Di hadapan mereka terdapat satu kursi kosong yang mana nantinya akan ditempati oleh para murid yang akan mereka wawancarai.
"Hanya sebagian kecil murid yang datang untuk wawancara hari ini." Bisik salah seorang lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu, kepada lelaki lainnya lagi yang duduk di barisan pewawancara.
"Terima kasih informasinya!"
Pun setelahnya, lelaki membawa informasi barusan segera kembali meninggalkan ruangan.
"Sangat sedikit murid yang datang, bukankah akan lebih baik kalau kita menunda tes wawancara ini?" Ujar lelaki yang mendapatkan informasi itu kepada ketiga pewawancara lainnya.
"Berapa banyak hujan angin yang datang dalam setahun?" Cetus satu-satunya wanita di ruangan itu. "Apakah tiap kali itu terjadi, kita harus menunda dan mengakhirinya di sini? Panggilkan peserta selanjutnya."
Tiga pewawancara yang lain pun hanya terdiam dibuatnya. Sudah kelihatan bukan? Kalau satu-satunya wanita di ruangan ini akan menjadi yang paling ditakuti oleh para murid yang hendak diwawancarai.
"Peserta selanjutnya, silakan masuk!" Panggil seseorang yang bertugas di depan pintu ruangan.
Pun muncul lah Disa, dengan penampilannya yang berantakan. Bahkan gadis itu juga masih menenteng jas hujan beserta payungnya.
Disa menempati kursi kosong di depan para pewawancara. Belum ada sedetik, baru saja gadis itu mendaratkan bagian belakang tubuhnya ke permukaan kursi, yang terjadi selanjutnya malah,
"Hachim!"
Gadis itu bersin. Membuat empat pewawancara yang ada di hadapannya melayangkan tatap ke arahnya. Dan dengan konyolnya Disa malah menyimpulkan senyum.
Hujan angin hari ini betul-betul dahsyat, berbagai saluran televisi pun berlomba-lomba menyiarkan kabar terbaru mengenai cuaca hari ini. Arkan terduduk di depan televisinya, menyaksikan salah satu berita terkini yang juga menyiarkan tentang hujan angin di hari ini.
"Arkan, apa yang sedang kau lakukan?" Suara sang ibu memanggil dari meja makan.
"Asik! Aku tidak perlu berangkat ke sekolah karena hujan angin!" Serunya kegirangan.
Berbeda dengan dirinya yang begitu bersemangat, sang ibu malah nampak lesu berselimut khawatir.
"Disa pergi wawancara dalam cuaca seperti ini, aku harap hasilnya baik."
Mendengar ucapan sang ibu, Aksa yang juga terduduk di meja makan lantas segera mengarahkan pandangannya pada jendela yang menyajikan pemandangan hujan angin yang masih bertiup dengan kencangnya di luar.
*
Salah seorang pewawancara tengah melihat-lihat beberapa foto yang Disa lampirkan, yang kebanyakan terlihat agak kurang relevan dengan jurusan yang ia ambil. Bagaimana tidak, Disa mengajukan pendaftaran pada jurusan Ilmu Sosial, sedang foto yang ia lampirkan malah potret dirinya yang mengenakan baju daerah pada festival tahun lalu.
"Sepertinya anda telah memiliki pengalaman yang menarik," Ujar pewawancara itu. "Kalau begitu, hal apa yang paling anda minati?" Sambungnya.
"Ah, itu. Tentu saja Aksa!"
Jawaban spontan yang keluar dari mulut Disa lantas membuat keempat pewawancara terperangah.
"Eum, maksud saya adalah... Seseorang." Ralat Disa.
"Oh, kau memiliki minat pada seseorang?" Tanya salah seorang pewawancara.
"Ya, benar, seseorang!" Serunya.
"Baru-baru ini... Aku telah berpikir, jika kita ingin memahami orang lain, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengenal mereka? Dalam hidup ini, bahkan hanya untuk satu orang, apakah ada cara yang bisa dilakukan untuk memahami dia sepenuhnya?"
Agaknya, Disa menjadikan sesi wawancara ini sebagai sesi mencurahkan perasaannya.
"Mengapa kami harus memilihmu?" Sebaris tanya yang baru keluar dari mulut satu-satunya pewawancara wanita di sana, berhasil membuat Disa kebingungan.
"Kau mengisi formulir dan mengajukan data diri dengan tingkat yang hampir amatir. Meskipun demikian, dalam waktu yang cukup singkat kau mampu menaikan peringkat menjadi 20 besar. Namun, pada ujian berikutnya kau kembali pada kondisi lamamu. Tidak ada yang istimewa. Bagaimana mungkin kau bisa melewati tahap pertama? Kami tidak memilih orang secara acak. Jika ada alasan mengapa kami harus memilihmu, maka tolong katakan!"
Disa kikuk, pun gadis itu melirik ke arah penunjuk waktu yang menunjukkan bahwa waktunya tersisa satu menit lagi.
"Eum... Itu..." Disa gelagapan, kebingungan bukan main.
"Baiklah. Jika kau tak memiliki alasan apapun, kau tak perlu mengatakan apa-apa. Silakan keluar."
"B-baiklah..." Ucap Disa pasrah. Pun sambil tertunduk, gadis itu membawa kakinya untuk meninggalkan ruangan. Namun,
"Permisi," gadis itu kembali membalikkan badannya, kembali menghadap pada keempat pewawancara ketika langkahnya hampir saja tiba di ambang pintu. "Anda benar, saya sungguh tidak punya apapun yang bisa saya lakukan dengan baik. Bisa melewati tahap pertama merupakan keajaiban bagi saya. Jadi, saya sangat bersyukur. Namun, saya berpikir saya bisa mengatakan ini... Jika anda tidak memilih saya, melainkan hanya memilih seseorang dengan nilai bagus, tapi mahasiswanya terlalu malas untuk bekerja keras, mudah menyerah ketika cuaca berubah buruk. Itu akan menjadi kerugian besar bagi universitas. Jika tak ingin itu terjadi, maka pilihlah aku!"
Penuturan Disa berhasil membuat keempat pewawancara bungkam, terutama pewawancara wanita yang sedari tadi terkesan menyerang Disa.
"Aku memang lebih lambat dari yang lain, tapi aku tak pernah menyerah." Ucapan terakhir Disa, bersamaan dengan habisnya waktu untuk dirinya berbicara.