"Dan kau. Kalau urusanmu sudah selesai di sini sebaiknya kau pulang."
Rio tersenyum kecut, kalimat itu terngiang di kepalanya. Raut bahagia yang semula terlukis di wajahnya lantas sirna seketika, tergantikan raut kekecewaan penuh dendam. Namun, lagi-lagi, Rio tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mampu menelan rasa kecewanya menyaksikan Disa di bawa oleh lelaki itu. Lelaki yang tak pernah Rio pahami apa maksud dan keinginannya. Lelaki yang kadang terlihat begitu membenci Disa, namun juga selalu memancarkan kebencian dari sorot matanya ketika Rio mencoba untuk mendekati Disa.
Pun, Rio harus pulang dengan hati yang dongkol. Melajukan motornya dengan kecepatan penuh, melampiaskan amarahnya pada jalanan.
*
"Aish!" Aksa melepas begitu saja genggaman tangannya pada Disa. "Kenapa juga aku harus repot-repot melakukan ini!" Gerutunya pada diri sendiri. Aksa betul-betul semakin tak mengerti dibuatnya, kenapa dirinya tergerak untuk menghampiri Disa bahkan sampai menarik tangannya kala melihat gadis itu menghampiri Rio.
"Kita mau kemana? Kenapa kau memintaku untuk menemuimu sepulang sekolah?" Disa melempari Alsa dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Ke rumahku." Jawab Aksa singkat.
"Rumahmu?"
Aksa memberi anggukan kepala. "Jangan buat peringkatmu turun lagi dan tetaplah belajar." Ujarnya, dan kembali melanjutkan langkah mendahului Disa.
"Aksa, tentang tadi… Apa kau cemburu melihatku bersama Rio?" Disa menutur di belakang Aksa, pun langkah lelaki itu terhenti kala mendengar pertanyaan yang di lempar oleh gadis di belakangnya.
"Hentikan omong kosongmu!" Ketusnya. Langkahnya kembali dilanjutkan. Sedang Disa, gadis itu masih geming di tempatnya semula dan sedikit mendengus sebal dibuatnya.
"Tunggu aku!" Teriak Disa, dan segera berlari menyusul Aksa yang berada beberapa langkah di depannya.
"Cepat sedikit!" Aksa membalasnya.
Pun keduanya melangkah beriringan, Disa yang berada di sebelah Aksa, malah sesekali memerhatikan wajah Aksa yang menatap lurus dan fokus pada jalannya.
"Oh, Aksa, lihatlah!" Seru Disa, kala gadis itu melihat tembok pembatas jalan. Pun ia berlari kecil menuju tembok itu, merangkak naik, dan berjalan di atasnya sembari merentangkan tangan guna menyeimbangkan langkahnya.
"Lihat! Apa kau pernah melakukan ini sewaktu kecil?"
Aksa yang berjalan di bawahnya pun menghela napas, "kurasa hanya orang bodoh yang berjalan di atas sana. Bukankah itu membahayakan?" Ujarnya sinis.
"Ey! Ini sangat menyenangkan! Sepertinya kau harus mencobanya. Ayo, naik!"
Lantas langkah Aksa terhenti dibuatnya. Lelaki itu berdecak, melihat ke sekelilingnya sebelum pada akhirnya mendengus kesal.
"Tidak mau!"
"Ah, kau ini! Sepertinya masa kecilmu tidak menyenangkan, ya?" Ucap Disa.
"Oh, apa jangan-jangan… Kau bahkan tidak punya teman?" Gadis itu terus berceloteh, membuat Aksa merasa sedikit geram dan membalikkan tubuhnya tanpa aba-aba,
"Bisa kah kau berhenti bicara?!"
"Aw!!"
Bentakan Aksa agaknya membuat Disa tersentak, sampai-sampai gadis itu kehilangan keseimbangannya. Kakinya terpeleset, pun ia nyaris terjatuh kalau saja Aksa tidak dengan sigap menangkapnya dari bawah.
Kedua mata mereka bertemu tatap, selama beberapa detik tak ada yang beranjak dari sana. Pun Disa mengulas sebuah senyum yang sepertinya membuat Aksa tersadarkan, lantas lelaki itu segera melepaskan tubuh Disa, membiarkan gadis itu berdiri lagi di kakinya sendiri.
"Sudah kubilang itu sangat berbahaya!" Bentak Aksa lagi, dan segera melanjutkan langkahnya meninggalkan Disa yang masih mematung sembari memegangi dadanya yang tengah berdegup tak keruan.
*
Ujian kelulusan pun, sudah di depan mata. Di tengah belajarnya, Disa sibuk melengkapi data dirinya untuk kepentingan pendaftaran universitas. Sampai ia tak sadar kalau sedari tadi Aksa yang duduk di hadapannya ini tengah memperhatikannya.
"Program sarjana universitas?" Aksa membuka dialog dengan sebaris pertanyaan.
"Iya. Sebenarnya tidak ada banyak kemungkinan untukku. Nilaiku benar-benar buruk." Jawab Disa.
"Kau pasti bisa gila bila benar-benar tak mendapat kesempatan itu." Celetuk Aksa.
"Aku masih harus terus berusaha melakukan apa yang aku bisa." Jawab Disa penuh semangat.
Mendengar hal itu, Aksa terdiam sejenak selama beberapa detik, nampak seperti tengah ada yang mengganggu pikiran lelaki itu.
"Kenapa kau ingin kuliah?" Tanya Aksa.
"Huh? Kenapa kau bertanya? Tentu untuk belajar...."
"Nilaimu buruk dan kau tidak suka belajar, bukan? Jadi kenapa?" Belum selesai Disa memberi jawaban, Aksa lebih dulu menyelanya dengan pertanyaan lain.
"Selain untuk belajar, aku bisa menemukan tujuan hidupku di sana. Mencari tahu apa yang aku sukai atau apa yang aku kuasai." Jelas Disa. Gadis yang semula meletakkan fokusnya pada formulir pendaftaran, lantas kini malah mengalihkannya pada lelaki yang duduk di hadapannya itu.
"Bagaimana kau tahu apa yang kau sukai?"
Disa terlihat begitu bersemangat mendengar tanya yang di lempar Aksa kali ini. "Tentu saja kau akan tahu! Jantungmu mulai berdebar dengan kencang. Jika kau menemukan sesuatu yang kau sukai, bagian di sini akan berdetak lebih kencang." Papar Disa, sembari memberikan gestur menyentuh tempat di mana jantungnya berada, tempat di mana ia bisa merasakan debaran itu. Adapun Aksa, yang tanpa sadar mengikuti gestur Disa. Matanya sedikit terbelalak ketika ia mendapati debaran itu di sana.
"Aku ingin merasakan juga, perasaan itu," ucap Aksa. "Ah, cepatlah selesaikan dan segera kembali ke rumahmu!" Ketusnya. Pun ia melangkah meninggalkan Disa, membiarkan gadis itu agar segera menyelesaikan apa yang tengah ia kerjakan.
"Aku tidak pernah memikirkan kenapa aku harus pergi ke universitas, aku tidak pernah dipusingkan dengan hal ini sebelumnya," ucap Disa pada dirinya sendiri. "Pada akhirnya, si jenius itu mungkin memiliki kekhawatirannya sendiri sampai ia menanyakan hal-hal seperti barusan. Atau, mungkinkah ia tengah menunjukkan sedikit perasaannya padaku?"
*
Sebetulnya, ujian kelulusan bukanlah hal yang paling ditakuti bagi para murid, sebab menurut rumor yang tersebar, 95% sekolah pasti akan meluluskan muridnya, ya memang juga, sih, selama bersekolah Disa tak pernah mendengar ada kisah murid yang tak lulus. Sebagai gantinya, para murid justru dibuat khawatir akan ujian masuk perguruan tinggi. Ini kerap kali dijadikan acuan intelektual. Universitas tertentu hanya menerima murid yang betul-betul pandai secara akademis, ada pula universitas dengan bayaran yang selangit, yang menentukan kalau yang mengenyam pendidikan di sana hanyalah orang-orang yang mampu secara finansial. Karena itulah, terkadang orang acap kali memandang sebelah mata bagi murid yang masuk universitas yang terbilang biasa-biasa saja. Begitu juga sebaliknya.
"Kapan hasil seleksi administrasi akan diumumkan?" Tanya Rita pada dua temannya. Mereka baru saja menyelesaikan ujian kelulusan hari pertama.
"Besok pagi." Jawab Nana.
"Bagaimana kalau kita pergi ke kedai kopi dulu? Ah, kepalaku benar-benar sakit setelah berusaha menjawab soal-soal barusan." Usul Disa.
"Setuju! Rita, kau ikut 'kan? Atau papahmu akan menjemput lagi hari ini?" Tanya Nana. Memang, akhir-akhir ini, papah Rita lebih sering menjemput putrinya itu, dengan alasan mereka mesti mengurus berkas keberangkatan ke Berlin yang tinggal sebentar lagi ini.
"Aku ikut! Papahku tidak menjemput hari ini, berkas kami telah selesai diurus, hanya tinggal menunggu hari keberangkatan saja." Jawabnya.
*
Kedai kopi di ujung jalan lah yang menjadi pilihan mereka. Selain tempatnya yang tidak begitu jauh dari sekolah, harganya juga ramah bagi kantong pelajar seperti mereka.
"Terima kasih!" Ucap Rita, ketika seorang wanita baru saja meletakkan tiga kelas latte dan beberapa camilan di atas meja mereka, pun wanita itu memberi senyumannya sebelum ia kembali mengantar pesanan ke meja yang lain.
"Ah! Ini benar-benar segar!" Ujar Disa.
"Benar, kau tahu? Apa yang selama ini aku pelajari seketika lenyap begitu aku membaca soal-soal barusan." Tambah Rita.
"Astaga," Disa terkekeh, "lalu bagaimana kau mengerjakannya?"
"Aku mengerjakan sebisaku, dan berserah diri pada Tuhan untuk hasilnya." Sahut Rita, yang menciptakan gelak tawa di antara mereka. Sepintas kalimat barusan memanglah tidak mengandung unsur lucu, tapi entah kenapa jika berkumpul bersama dengan orang-orang sekubu, pasti apapun itu bisa menjadi candaan.
"Karena memang hanya itu yang bisa kita lakukan," Nana menambahkan.
"Hey, lihat! Bukankah itu Aksa?" Bisik Nana, menunjuk salah satu pengunjung kedai yang berada di sudut sana.
"Benar. Apa yang dia lakukan? Dan... Siapa lelaki yang ada di hadapannya itu?"