Lagi. Aksa mendapati sepotong apel beserta sekotak s**u di atas mejanya. Namun berbeda dari biasanya, Aksa tidak memberikan apa yang ia dapat itu kepada orang lain. Lelaki itu meraih sepotong apel dan sekotak s**u tersebut, membawanya ke dalam genggaman. Pun matanya melirik tajam ke arah seorang gadis yang berada di sudut sana, yang tengah bersembunyi di balik bukunya kala tak sengaja tertangkap mata dengan Aksa.
Aksa menghela napas, sebelum ia membawa langkahnya ke arah gadis itu. Adapun sang gadis yang seketika membelalakan matanya kala mengetahui Aksa yang melangkah ke arahnya.
Brak!
Apel dan s**u kotak yang dibawa Aksa, diletakkannya di atas meja dengan cukup keras. Membuat gadis itu sedikit tersentak. Detik berikutnya, Aksa mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Dengan tatapannya yang begitu tajam, hal itu tentu membuat siapa pun yang berada di posisi sang gadis menjadi kikuk, bahkan ia sampai menahan napas dibuatnya.
"Temui aku sepulang sekolah." Ujar Aksa dengan suara yang pelan namun jelas begitu menusuk dan dingin.
Alhasil gadis itu hanya mampu mengangguk pelan. Pun setelahnya, lelaki itu kembali menjauhkan wajahnya dan beranjak meninggalkan sang gadis yang membuatnya mampu bernapas lega. Namun, baru saja Aksa menjauh dua langkah, lelaki itu malah memutuskan untuk kembali berbalik arah, dan mengambil sepotong apel yang telah ia kembalikan. Tentu membuat gadis itu kembali terbelalak dan menahan napas.
"Hik!"
Yang terjadi selanjutnya setelah Aksa meninggalkannya, gadis itu malah cegukan.
"Astaga, Disa! Apa itu barusan?" Tanya Nana, yang sedari tadi berada di sebelah Disa, dan tentu menyaksikan kejadian tersebut.
"Entahlah!" Ujar Disa dengan tatapan yang kosong, nampaknya ia masih diselimuti euforia terkejutnya.
"Apa aku tidak salah dengar? Dia memintamu untuk menemuinya sepulang sekolah, bukan?" Ujar Rita. Gadis itu langsung berbalik badan setelah Aksa kembali ke tempatnya.
"Iya, Disa. Apa yang akan terjadi? Kenapa dia memintamu untuk menemuinya sepulang sekolah?" Tambah Nana.
"Ah, aku sendiri bahkan tidak tahuu."
Sementara Disa yang masih dalam perasaan terkejut dan bingung, dari tempat duduknya, Aksa malah menyimpulkan senyum melihat gadis itu.
*
Rio baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya di hari ini. Masih sore, pikirnya. Lantas Rio membawa kakinya melangkah dengan bersemangat menuju halaman parkir, tempat di mana motornya berada.
Rio melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya. Pukul setengah empat sore. Masih ada waktu untuk menjemput Disa. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dari sakunya, namun niatnya terurung, hingga ia menyimpan kembali ponsel di dalam sakunya.
"Ini akan menjadi kejutan untuknya!" Ujar Rio. Pun motornya melaju membelah jalanan inti, beradu cepat dengan kendaraan-kendaraan yang lain. Rio tak sabar memberi kejutan untuk Disa. Pikirnya gadis itu pasti akan senang akan kehadiran dirinya yang tiba-tiba ini.
Sebab Rio melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, lantas tak sampai tiga puluh menit ia sudah berada di depan gerbang sekolah Disa.
"Astaga, sudah lama aku tidak masuk ke sana." Ujarnya.
*
Bel pulang pun berbunyi dengan nyaringnya. Seluruh murid lantas segera merapikan alat tulis serta buku-buku pelajaran mereka, mengemasnya ke dalam ransel masing-masing. Tak terkecuali Disa. Begitu selesai, gadis itu langsung membawa kakinya melangkah meninggalkan kelas, disusul oleh kedua temannya. Pun ia tak menyadari kalau ada sepasang mata yang sedari tadi menyapu gerak-geriknya.
"Apa kau benar-benar akan menemuinya?" Tanya Rita.
Ah, benar. Aksa meminta Disa untuk menemuinya sepulang sekolah. Hampir saja gadis itu lupa, mendengar sebaris tanya yang dilempar temannya, langkah Disa lantas seketika terhenti.
"Benar, juga. Apa kalian melihatnya di kelas tadi? Atau sudah pulang lebih dulu?" Ujar Disa.
"Entah, aku tidak melihatnya." Balas Rita.
"Tunggu di gerbang saja. Bukankah ia akan menunggu jika benar-benar ingin kau menemuinya? Pun kalau ia belum meninggalkan sekolah, pasti juga nantinya akan melintasi gerbang dulu, bukan?" Usul Nana.
"Tapi... Tidakkah kau merasa kalau dirinya sangat mempermainkan Disa? Kadang dia bertindak seolah-olah begitu membenci Disa sampai tak jarang juga mempermalukannya di depan banyak orang? Dan, di lain waktu, dia justru seperti bertindak memberi peluang bagi Disa." Nana menambahkan.
Rita memberikan gestur seolah tengah berpikir, bakan keningnya sampai mengernyit. "Kalau dipikir-pikir... Benar juga. Dia seolah berkata 'ayo, jangan berhenti mengejarku!' dia seperti seseorang yang hanya ingin dikejar. Dia hanya senang melihat kau berusaha untuknya." Kata Rita.
"Ey! Mana mungkin! Dia bukan orang yang seperti itu." Tampik Disa.
Tanpa mereka sadari, ternyata orang yang mereka bicarakan berada tak jauh di belakang mereka. Mendengar semua yang mereka bicarakan barusan.
Disa dan dua temannya melanjutkan langkah menuju gerbang, dengan Aksa menutur di belakang tanpa sepengetahuan mereka. Adapun ketika hampir saja ketiganya tiba di gerbang, langkah Rita tiba-tiba saja terhenti.
"O-ow, Disa apa yang akan kau jelaskan pada orang di depan sana?" Ujar Rita, sembari melayangkan tatapannya ke arah seseorang yang duduk di atas motornya di depan gerbang. Pun, Disa dan Nana mengikuti kemana arah mata Rita menatap.
"Kak Rio? Sedang apa dia di sini?" Tanya Disa.
"Sebaiknya kau hampiri dulu." Saran Nana. Gadis yang pernah menaruh hatinya pada Rio. Namun, kini perasaan itu telah dibuangnya jauh-jauh. Ia mencoba untuk menyadarkan dirinya kalau cinta tak semestinya dipaksakan, pun perlahan ia bisa menerima kenyataannya. Kenyataan kalau sampai detik ini Rio masih berjuang atas perasaannya terhadap Disa.
Disa membawa kakinya melangkah menghampiri Rio. Sadar kalau gadis yang sedari tadi ia tunggu sudah hadir, Rio lantas melukiskan senyum terbaiknya, menyambut ramah atas kehadiran gadis itu.
"Kejutan!" Seru Rio. "Aku sengaja datang untuk menjemputmu tanpa memberitahu terlebih dahulu, apa kau senang?"
Belum sempat Disa menanggapi, seseorang meraih tangan Disa terlebih dahulu sampai membuatnya tersentak.
"Aksa?"
*
Nana dan Rita menatap langkah Disa yang tertuju ke arah Rio. Namun, tidak hanya mereka, ada seseorang lain lagi di belakang mereka yang terus menatap Disa sedari tadi.
Benar, Aksa. Lelaki yang sedari tadi menutur di belakang ketiga gadis itu.
Aksa menghela napasnya, pun ia langsung mengambil langkah cepat, bahkan ia sampai tidak sengaja sedikit menyenggol bahu Nana yang masih geming di tempat, membuat gadis itu sedikit meringis.
"Aksa? Apa yang akan dia lakukan?" Tanya Nana. Kedua mata gadis itu seketika terbelalak kala mendapati Aksa yang langsung menghampiri Disa, dan yang lebih membuat mereka terkejut lagi adalah, Aksa yang secara tiba-tiba meraih tangan Disa di hadapan Rio.
"Kalau kau punya janji dengan seseorang, sebaiknya jangan temui orang lain. Ayo!" Ujar Aksa yang langsung menyeret Disa menjauh dari Rio. Namun, setelah beberapa langkah, lelaki itu kembali membalikkan badan.
"Dan kau. Kalau urusanmu sudah selesai di sini sebaiknya kau pulang." Ucap Aksa, pada Rio.