tigapuluhlima

1045 Kata
Berada di tengah-tengah keluarga Aksa, nyatanya membuat senyuman Disa tak jua luntur. Disa tak pernah menyangka kalau dirinya bisa berada di sini sekarang, menikmati makan siang bersama dengan Aksa dalam jarak yang sedekat ini. Gadis itu tak mungkin melewatkan kesempatan emasnya, sambil menikmati makanannya, Disa sesekali curi-curi pandang pada Aksa yang duduk di hadapannya. "Uhuk! Uhuk!" Terlalu asyik memandangi Aksa dan bermain-main di taman imaji ternyata membuat Disa tak mampu mencerna makanannya dengan baik, sampai-sampai membuatnya tersedak. Malu. Disa benar-benar malu. Ketika semuanya tengah menikmati makanan masing-masing dan membiarkan sunyi menjadi satu-satunya bunyi di antara mereka, Disa malah memecahnya dengan suara batuk. "Pelan-pelan, Kak." Ujar Arkan. "Beri ia air!" Perintah papah Aksa. "Ini, minumlah dengan perlahan." Kata ibu Aksa sembari menyodorkan segelas air mineral. Sedang Aksa, lelaki itu hanya melempar lirikan tajam dan kembali melanjutkan aktivitas makan siangnya. "Disa, kenapa kau jarang kemari lagi? Sering-seringlah datang." Ucap ibu Aksa. "Ekhem! Itu benar. Lagi pula, aku masih harus mengajarimu." Tambah Aksa, padahal baru saja Disa hendak memberikan tanggapan atas kalimat yang diucapkan ibu Aksa barusan. Juga, ada apa dengan Aksa? Apa yang baru ia katakan? Bukankah baru saja ia meminta Disa untuk sering-sering ke rumahnya? Tapi... Dia sendiri yang meminta Disa untuk tidak datang lagi dan belajar dari materi yang sebelumnya sudah ia berikan. "Ah, iya. Aku sengaja membeli banyak apel untukmu. Jadi, sebelum pulang, aku akan membungkus beberapa untuk kau bawa pulang. Makanlah bersama ayahmu di rumah nanti!" Tutur ibu Aksa. "Apel? Bukankah tadi Tante sudah meminta Aksa untuk mengirimkannya padaku?" "Uhuk! Uhuk!" Kini giliran Aksa yang tersedak, setelah mendengar apa yang Disa ucapkan barusan. "Makanlah dengan perlahan." Ucap papahnya. Setelah meneguk segelas air, Aksa malah bangkit dari duduknya. "Aku sudah selesai." Ucapnya, dan mengambil langkah cepat meninggalkan meja makan. Aksa takut, kalau saja alibinya pada Disa tadi terbongkar. Tentang bingkisan apel yang Aksa bilang titipan dari sang ibu, padahal kenyataannya Aksa lah yang sengaja membawakan itu untuk Disa. Adapun ibu Aksa yang mulai menyadari akan gelagat putra sulungnya, lantas menyimpulkan senyum penuh kemenangan. * "Benarkah??" Tanya Rita antusias. Disa mengangguk dengan bangga. "Lalu, apa dia mengantarmu pulang?" Lagi. Disa kembali mengangguk dengan rasa bangga. "Disa, sepertinya kali ini Dewi Fortuna (Dewi Keberuntungan) sedang berpihak kepadamu." Ujar Nana sembari menepuk pundak temannya yang baru saja menceritakan apa yang terjadi di hari minggu kemarin. "Dia datang!" Bisik Rita, ketika seorang lelaki jangkung baru saja memasuki kelas mereka dengan tangan yang disembunyikan di saku celana. Tentu bisikan itu hanya bisa terdengar oleh dua temannya. Sedang lelaki yang dimaksud, baru saja tiba di tempat duduknya. Sebuah apel dan sekotak s**u cokelat tergeletak di atas mejanya. Lelaki itu meraihnya, entah disadari atau tidak, dua garis ujung bibirnya saling tarik membentuk simpulan senyum. Sedikit tersirat kebahagiaan yang seolah berkata 'akhirnya dia kembali!' bersembunyi di balik wajahnya yang datar. "Hey!" Lelaki itu memanggil teman yang duduk di belakangnya. "Untukmu." Katanya, sembari meletakkan apel beserta s**u cokelat tadi di atas meja sang teman. Sementara Disa, gadis itu lagi-lagi harus menelan pil pahit entah yang keberapa kalinya. Pemberiannya, selalu diberikan lagi pada orang lain. * Ujian percobaan kedua sudah di depan mata. Kali ini Disa cukup khawatir akan hal itu. Sebab ia tak pernah lagi belajar bersama Aksa. Kendati lelaki itu telah memintanya untuk kembali datang, agaknya sudah sangat terlambat, karena tinggal beberapa hari saja menuju ujian tersebut. "Ahh, tidak terasa kita sudah tiga tahun bersekolah di sini." Ujar Nana, sembari menyeruput minuman dingin yang baru saja dibelinya dari kantin. Kini, Disa, Nana dan Rita tengah bersantai di bawah pohon besar yang ada di halaman belakang sekolah. Menikmati aroma dedaunan dan sapuan angin yang begitu menyejukkan. "Hanya tinggal melalui dua ujian percobaan lagi, lalu kita akan betul-betul menghadapi ujian yang sesungguhnya." Rita menambahkan. "Dan setelah itu, mungkin kita akan terpisah oleh pilihan universitas masing-masing." Kata Nana lagi. Ah, benar. Universitas. Sejujurnya sampai detik ini ia belum memikirkan universitas mana yang menjadi tujuannya. Kapasitas otak tentu menjadikan satu penghalang besar bagi Disa untuk menuju universitas. Entahlah, sepertinya dirinya tidak terlalu berharap banyak kali ini. "Disa, apa kau akan masuk universitas yang sama dengan Aksa?" Tanya Nana. Helaan napas ketidakyakinan terdengar dari gadis itu, "entahlah..." Ucapnya. "Tapi yang jelas, kita bertiga harus selalu bersama-sama! Bagaimana kalau kita menentukan universitas yang sama?" Dalam sepersekian detik, Disa mengubah modenya kembali ke mode ceria. "Ide bagus! Rita, tentu kau mau, bukan?" Ujar Nana. Sementara Rita, gadis itu sedari tadi hanya tertunduk, pun hanya senyuman kecut yang terlukis di wajahnya. "Aku... Aku tidak akan melanjutkan sekolah di sini," lirihnya. "Aku harus ikut orangtuaku ke Berlin, papahku akan mengelola sendiri anak perusahaannya di sana." Sambung Rita. Hal itu tentu menciptakan raut kesedihan pada wajah dua temannya. "Jadi... Kau tidak akan tinggal di sini?" Tanya Disa. "Eum," Rita mengangguk. "Setelah upacara perpisahan, aku langsung terbang ke sana." Tambahnya. Memang, anak cabang perusahaan papah Rita tersebar di beberapa negara. Dan beginilah resikonya, ia bisa pindah kapan pun tanpa terduga. Mungkin nantinya, anak cabang yang di Berlin itu akan diserahkan pada Rita. Seperti kakaknya yang lebih dulu mengelola anak cabang yang di Korea Selatan. "Tenang saja, aku pasti akan sering sering kemari untuk bertemu kalian." Ucapnya. Disa paham betul itu hanyalah sebuah kalimat penenang. * Hari itu pun tiba. Ujian percobaan yang kedua. Tidak seperti sebelumnya, Disa sedikit gugup. Pun gadis itu hanya mampu berserah. "Entah bagaimana hasilnya nanti, itu urusan belakangan. Terpenting sekarang aku kerjakan saja dulu!" Ujarnya pelan. * Dan seperti biasanya, hasil ujian akan terpampang di mading sehari setelahnya. Ah, melihat banyaknya orang yang mengerubungi mading membuat Disa malas untuk ke sana. Gadis itu sudah menebak, pasti peringkatnya akan turun. Kendati sedikit malas, tapi Disa tetap membawa langkahnya ke sana. "Sudah kuduga... Peringkatnya tidak akan berubah." Gumam Disa setelah mendapati nama Aksa yang tetap berada di barisan paling atas seperti biasanya. "Disa!" Panggil Nana yang baru saja datang. "Ya?" Disa menjawab dengan lesu. "Kau sudah melihat peringkatmu?" Tanyanya. Pun Disa menggeleng lemah. "Sudah pasti turun. Aku yakin itu." Kata Disa, memberikan jawaban. Melihat temannya yang lesu, lantas Nana segera meletakkan tangan kanannya di pundak kanan Disa, membawa Disa ke dalam rangkulannya. "Aih, tenang saja! Masih ada ujian berikutnya. Kau pasti bisa membuatnya naik lagi!" Sementara di sudut lain, dari kejauhan Aksa memerhatikan Disa sedari tadi tanpa gadis itu ketahui. Pun lelaki itu berdecak, "ia memang buruk dalam segala hal." Ujarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN