Tigapuluhempat

1105 Kata
Dan kenapa harus Aksa lagi? Selalu Aksa, Aksa, dan Aksa. Kenapa Aksa harus selalu ada di antara mereka? Bisakah kita bertemu tatap tanpa kau sebut namanya? Suara batin Rio. Namun pada kenyataannya, Rio tak mampu mengeluarkan sebaris kalimat barusan. Memangnya siapa dia sampai berhak bicara begitu? Cintanya saja ditolak, berani-beraninya ia melarang Disa untuk menyebut nama Aksa. Sangat tidak tahu malu bukan kalau ia bertindak begitu? Jadilah Rio hanya memendam amarahnya sendiri, meredam segala rasa sakitnya dalan diam. Motornya melaju di bawah guyuran hujan yang kian deras, menerjang rintikan air langit yang tumpah. Rio menuju suatu tempat yang mana tadinya ia akan membawa Disa kemari, tapi begitu mendengar gadis itu menceritakan Aksa dengan sangat antusias, Rio mengurungkan niatnya. Ia berdalih kalau dirinya sudah terlanjur buat janji, padahal, Rio hanya merasa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ban motornya berdecit, Rio memarkirkannya di sebuah pekarangan pemakaman. Pun lelaki itu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, menuju pusara sang ibunda. Tak peduli hujan, langkahnya tak gentar untuk menemui sang ibu di tempat peristirahatan terakhirnya. "Bu, maaf. Aku belum juga bisa membawanya dan memperkenalkannya pada Ibu." Ucap Rio, di hadapan gundukan tanah yang tentu tidak akan bisa memberinya tanggapan. * "Astaga, Disa!" Ibu Aksa histeris ketika mendapati gadis itu datang dengan basah kuyup dan tubuh gemetar kedinginan. "Pah, bisakah tolong bawakan segelas air hangat? Dan Arkan, tolong ambilkan handuk bersih." Perintah sang ibu. "Baik, Bu!" Arkan, lelaki itu langsung berlari menaiki anak tangga untuk mengambil handuk di tempat penyimpanan. Adapun Aksa yang baru saja keluar dari kamarnya agak dibuat bingung dengan sang adik yang lari-larian begitu. "Arkan, ada apa?" Tanya Aksa, begitu mendapati sang adik dengan handuk bertengger di tangannya. "Itu handuk untuk apa?" Lanjutnya. "Kak Disa kehujanan." Jawab Arkan singkat. Sesaat Aksa hanya ber-oh ria saja, sebelum ia menyadari kalau di luar memang hujan turun dengan begitu derasnya, terlihat jelas dari jendela kamarnya. Tunggu. Siapa tadi yang adiknya bilang? Disa? Kenapa gadis itu kemari? Dengan secepat mungkin Aksa membawa kakinya berlari menyusul sang adik, Arkan yang telah lebih dulu mendahuluinya. "Ini, keringkan dulu lalu ganti pakaianmu, aku sudah siapkan pakaian ganti." Aksa mendengar sebaris kalimat yang baru saja sang ibu ucapkan. Di sana, di dekat pintu masuk. Kedua orangtua beserta sang adik tengah menyambut kedatangan gadis yang basah kuyup. Aksa terhenti di pertengahan anak tangga, lelaki itu memilih untuk menghentikan langkahnya dan memerhatikan mereka dari sini. "Oh, Aksa? Tolong antar Disa ke kamar Ibu, biarkan dia berganti pakaian." Perintah sang ibu, yang tak sengaja melihat putra sulungnya berdiri di sana. Adapun seluruh pasang mata kini tengah menatap ke arahnya, tak terkecuali Disa. Gadis itu melemparkan tatapannya yang terlihat begitu lugu kepada Aksa, membuat Aksa mau tidak mau harus merasakan debaran itu lagi. "Ikuti aku." Ujar Aksa dingin. Lantas Disa segera menutur di belakangnya. Keduanya melangkah dalam hening. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut lelaki yang tengah menunjukkan jalan menuju ke kamar ibunya. Begitu pun dengan gadis di belakangnya, gadis itu hanya menyembunyikan setengah wajahnya di balik handuk yang kini berada dalam genggamannya. "Cepat masuk dan ganti bajumu." Kata Aksa lagi. "Ah, iya. Terima kasih." Balas Disa. "Tapi, kenapa kau datang kesini?" Tanya Aksa, sesaat ketika Disa hendak membawa langkahnya memasuki kamar. "Huh? Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau datang ke rumahku tadi?" "Itu, aku hanya mengantar bingkisan." Balas Aksa sedikit gelagapan mencari alasan. Pasalnya, Aksa sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja pagi tadi ia berkunjung ke rumah Disa. "Oh, apel itu? Dari mamah mu, bukan?" "Ya. Jangan banyak tanya dan cepat ganti bajumu!" Aksa sedikit membentak dan bergegas meninggalkan Disa yang tengah keheranan akan sikap Aksa. "Ada apa dengan dia?" * Di rumah, ayah Disa tak bisa berhenti khawatir. Ia terus memikirkan putrinya yang langsung berlari bahkan ketika hujan turun semakin derasnya begitu mendengar kalau sebelumnya Aksa sempat datang kemari. Ponselnya tak dapat dihubungi. Sebagai orangtua tentunya was-was, takut kalau sesuatu yang buruk menimpa putri sematawayangnya. Dan pada panggilannya yang entah keberapa kali sudah, akhirnya pun bersambut. "Ya, Ayah?" Sapa putrinya dari seberang sana, yang mampu membuatnya bernapas lega. "Kau di mana Disa?" Tanyanya penuh rasa khawatir. "Aku di rumah Aksa, ponselku sempat mati karena kebasahan. Tapi sekarang sudah menyala. Maaf telah membuatmu khawatir." Tutur Disa. "Ayahmu?" Disa mengangguk atas pertanyaan yang dilempar papah Aksa, lelaki itu kini duduk tepat di sebelah Disa. "Boleh aku bicara sebentar?" Ujarnya lagi. "Dengan ayahku?" Tanya Disa sedikit ragu. "Tentu!" Papah Aksa terlihat begitu antusias untuk bicara dengan ayah Disa. Lantas gadis itu pun pada akhirnya mengizinkan. "Oh, Ayah. Sekarang papah Aksa ingin bicara denganmu. Apa Ayah tak keberatan?" Tanya Disa pada sang ayah di seberang sana. "Tentu! Berikan teleponnya!" Setelah mendapat persetujuan, lantas Disa memberikan ponselnya pada papah Aksa yang sudah menunggu sedari tadi. "Halo? Dengan ayah Disa?" Senyum Disa terlukis dengan cerahnya, melihat bagaimana interaksi antara orangtuanya dengan orangtua Aksa sekarang, ini membuat gadis itu membangun imaji sendiri dalam pikirannya. "Iya, iya benar! Saya papahnya Aksa, maaf telah membuatku khawatir, tapi tenang saja, putrimu aman di sini...." Detik selanjutnya, Disa tak bisa lagi mendengar percakapan antar keduanya, gadis itu terlanjur hanyut dalam imajinasinya. Membayangkan segala hal indah tentang dirinya dan juga Aksa yang bersatu dalam manisnya kehidupan pernikahan, memiliki anak, dan hidup bahagia membentuk keluarga yang harmonis. "Apa yang kau lakukan sekarang?" Sebaris kalimat berhasil membuyarkan imajinya. Gadis itu gelagapan, terkejut bukan main ketika mendapati sosok yang tengah ia khayalkan itu berdiri tepat di hadapannya. Astaga. Disa celingukan. Kemana papah Aksa? Bukankah tadi di sini, di sebelahnya? "Apa yang kau lakukan?" Tanya Aksa untuk yang kedua kalinya. Pun gadis di hadapannya itu malah cengengesan. "Papahmu... Kemana?" Tanya Disa. "Bertelepon, di balkon." Jawab Aksa singkat, pun lelaki itu mengambil posisi duduk di sebelah Disa, dan mulai membuka bukunya yang tebal. "Masih?" Disa memberi anggukan sebagai jawabannya. "Apa yang mereka bicarakan sampai belum juga selesai?" Gumam Disa, tapi sepertinya dapat terdengar oleh Aksa. "Memangnya, papahku bertelepon dengan siapa?" Tanyanya. "Ayahku." "Anak-anak! Makanan sudah siap, mari kita makan siang! Disa, Aksa, kemari! Aksa, di mana adikmu?" Ujar ibu Aksa yang baru saja muncul dari dapur. "Mungkin di kamarnya." Balas lelaki itu sembari melangkah menuju makan. Sementara Disa, gadis itu masih terdiam di tempatnya semula. "Disa, ayo makan siang dulu!" Ajak ibu Aksa lagi. "Tidak usah repot-repot, Tante. Kalian makan siang saja, anggap aku tidak ada di sini." Ujar Disa. "Ey! Mana bisa seperti itu! Aku sengaja buatkan makan siang karena ada kau!" "Apa itu? Jadi kalau Kak Disa tidak kemari, Mamah tidak akan membuatkan kita makan siang?" Sambar Arkan yang baru saja turun. Pun Ibu Aksa terkekeh mendengarnya. "Ayo, Disa! Kita makan dulu." Ajaknya sekali lagi, kali ini sambil menggandeng tangan Disa, yang pada akhirnya membuat gadis itu tak kuasa menolak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN