Tigapuluhtiga

1044 Kata
Senyum Rio merekah kala ia memandang pantulan dirinya sendiri di cermin kamarnya. Pun lelaki itu membawa kakinya melangkah meninggalkan kamar, terus berjalan menuju garasi tempat di mana motornya tersimpan. Tak pelu pamit pada siapa pun sebab memang ia lebih sering sendiri, sang papah jarang sekali berada di rumah. Mungkin dalam satu bulan, bisa terhitung berapa kali ia pulang. Rio langsung tancap gas, menuju kedai tempat pertemuannya dengan Disa. Ya, kedai yang menang sudah menjadi langganan mereka berdua. Senyumnya yang terlukis sejak tadi tak luntur-luntur. Bukan saja karena ingin menemui Disa yang sudah lama tak ditemuinya itu, melainkan hari ini, ia berencana untuk mengajak Disa ke pemakaman ibunya. Memperkenalkan Disa, yang belum sempat ia lakukan secara langsung selagi sang ibu masih berada di sini, di dunia ini. Setibanya di sana, setelah memarkirkan motornya Rio langsung memasuki kedai. Sepi, hanya ada segelintir orang yang mampir, mungkin karena ini masih terlalu pagi. Seorang gadis melambaikan tangan ke arahnya dari sudut kedai. Tentu saja Rio langsung menghampirinya tanpa ragu-ragu. "Sudah pesan?" Tanya Rio. Gadis itu menggeleng, "belum, aku menunggumu dulu." "Kalau begitu biar aku yang pesan. Kau mau apa?" "Latte." Jawabnya. "Makanan?" Gadis itu kembali memberikan gelengan kepala. "Baik, mohon ditunggu sebentar, Nona." Canda Rio. Gadis itu pun terkekeh kecil dibuatnya. Setelah menyelesaikan pesanannya, Rio kembali ke tempat di mana gadis itu berada. Sembari menunggu pesanannya datang, Rio sibuk memerhatikan tiap inchi wajah sang gadis yang berada persis di hadapannya itu. "Apa? Apa yang kau lihat?" Tanyanya. "Pemandangan." Jawab Rio. "Pemandangan?" "Eung!" Rio menganggukkan kepalanya, "pemandangan yang saaaaangat indah." Ucapnya. "Apa kau baru saja memuji?" "Menurutmu?" "Permisi, ini pesanannya." Perbincangan mereka mesti terjeda oleh seorang lelaki yang membawakan satu cangkir latte dan americano yang Rio pesan sebelumnya. "Ah, iya. Terima kasih!" Ucap Rio. Sesaat setelahnya, lelaki itu berlalu, kembali ke balik meja untuk kembali membuat aneka racikan kopi. "Disa, kau senggang hari ini, bukan?" Tanya Rio. Pun gadis yang tak lain adalah Disa pun memberi anggukan atas jawaban Rio. "Bagus! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat setelah ini." Ujar Rio, dengan penuh antusias. "Kemana?" Tanya Disa penasaran. "Kau akan tahu nanti." Hening. Untuk sesaat, setelah kalimat terakhir yang Rio ucapkan, keduanya pun terdiam. Tak ada satu pun pembicaraan di antara keduanya sampai Disa membuka suara. "Ah, benar. Bisakah kau mampir ke rumahku sebentar saja? Ayahku sangat tidak suka kalau aku pergi denganmu tapi kau tak pernah muncul di hadapannya." Mendengar hal itu, Rio nampak terdiam dan menunduk sejenak selama beberapa detik. Sebelum pada akhirnya ia kembali menatap ke dalam dua manik Disa. "Nanti. Aku pasti akan ke sana." Sesuai perkiraan Disa, seniornya ini pasti akan memberikan jawaban yang sama. Nanti, atau kalau tidak, lain waktu. Pun Disa hanya mampu menghela napasnya. "Aku pasti akan menemui ayahmu, Disa. Tunggu sampai aku benar-benar menyelesaikan pendidikanku, dan menjadi seseorang yang sukses. Maka aku bisa dengan bangganya melamarmu." Batin Rio. "Kudengar, kau berhasil menaikkan peringkatmu di ujian percobaan yang pertama, ya? Kau masuk dua puluh besar, bukan?" Rio mencoba memulai topik baru. Raut Disa pun seketika berubah, ada binar dalam matanya. Ia terlihat begitu antusias dan bersemangat untuk topik ini. "Benar! Kau tahu? Ini semua berkat Aksa!" Lagi-lagi Aksa. Berbeda dengan Disa, Rio malah nampak mengubah ekspresinya menjadi murung. "Hampi setiap hari, Aksa mengajariku meskipun aku tidak paham-paham! Bahkan dia sampai bilang 'sepertinya aku akan meledak' astaga! Aku malu rasanya. Tapi dengan kesabarannya, dia terus menjelaskan padaku sampai aku dapat betul-betul memahaminya," Disa berceloteh dengan begitu semangat. "Ahh, padahal aku berharap Aksa menjadi wali kelasku. Kalau Aksa menjadi wali kelasku, aku yakin pasti nilaiku akan selalu bagus!" Sambungnya. "Siapa pun wali kelasnya, kalau kau tetap malas belajar, bagaimana nilaimu akan bagus?" Timpal Rio. "Aku tidak malas!" Protes Disa. "Lalu apa namanya kalau bukan malas?" "Eum… Entah, aku merasa otak ku menolak untuk menerima pelajaran," jawab Disa. "Ah, iya. Tadi kau bilang akan mengajakku ke suatu tempat, bukan? Kita akan berangkat jam berapa?" Rio melukis kembali senyumnya yang sempat memudar, namun kali ini terkesan seperti dipaksakan. "Eum, itu… Aku lupa kalau hari ini aku ada janji, jadi mungkin lain kali saja." "Ah, baiklah kalau begitu." * Aksa memandangi lampu jalan dan pohon-pohon yang bergerak mundur. Bodoh! Umpatnya dalam hati. Kenapa juga tanpa pikir panjang dirinya harus datang ke kediaman Disa secara tiba-tiba. Jelas-jelas gadis itu sudah punya kekasih, bagaimana kalau kekasihnya memergokinya nanti? Pikir Aksa begitu. Namun, beberapa saat kemudian ia tersadar akan sesuatu. "... Lelaki yang dulu seniornya itu. Padahal saya tidak suka dengan anak itu, tiap antar pulang atau ajak Disa keluar, tidak pernah pamit atau izin dulu pada saya. Dari dulu selalu begitu," Kalimat yang diucapkan ayah Disa kembali terngiang di kepalanya. Itu artinya, Rio belum pernah bertemu dengan ayah Disa, bukan? Itu artinya, ayah Disa tidak senang terhadap Rio, bukan? Dan itu artinya... Ini peluang yang bagus, bukan? Untuk sesaat, di luar dari kesadarannya, sebaris senyum terlukis pada wajah Aksa. Namun pada detik berikutnya, lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menepis pikiran-pikiran yang belakangan ini kerap kali menghantuinya. "Aish! Kurasa aku hampir gila!" Gerutu Aksa. "Tidak, bahkan sepertinya sudah benar-benar gila!" Ralatnya. * "Aku pulang." Kedua orangtua beserta adiknya kembali dibuat bingung, ketika mendapati Aksa yang kembali ke rumah dengan begitu lesu, tidak seperti sebelumnya yang terlihat bersemangat. Seperti suasana hatinya berubah seketika. "Ini benar-benar aneh..." Ucap sang ayah. "Apa aku harus memeriksa keadaannya?" Tanya sang ibu berinisiatif. "Tunggu, Bu!" Cegah Arkan, padahal sang ibu baru saja hendak melangkahkan kaki untuk menyusul putra sulungnya itu. "Bukankah kita akan lebih mudah mengetahuinya kalau Kak Disa berada di sini?" Usul Arkan. Yang mendapat sambutan kebingungan dari kedua orangtuanya. "Disa?" Tanya mereka serentak. * Gadis itu memacu kakinya untuk berlari lebih cepat lagi, tak peduli dengan rintik air langit yang membasahinya tetes demi tetes. Pun tetes itu kian lama kian deras. Disa langsung memutuskan untuk segera menuju kediaman Aksa ketika setibanya ia di rumah, sang ayah mengatakan kalau, lelaki itu tadi datang kemari. Senyum Disa saat itu juga merekah, hatinya berdebar tak keruan, perutnya dipenuhi dengan kupu-kupu. Maka dengan sekuat tenaga ia berlari, menerjang hujan yang kini sudah membuatnya kuyup. Sembari menunggu kedatangan bus yang akan ia tumpangi, gadis itu terduduk di halte sembari memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil. Bus pun berhenti tepat di hadapannya. Perlahan kaki kecilnya melangkah ke dalam bus. * "Astaga, Disa!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN