Duapuluhdua

1094 Kata
"Permisi, Pak. Izin ke toilet." Ucap Rio, di tengah gurunya yang sedang menerangkan. "Silakan." Setelah mendapat izin, Rio segera beranjak meninggalkan kelas. Kakinya terus melangkah menyusuri koridor, bahkan kini ia baru saja melintasi sebuah ruang dengan bertuliskan 'Toilet' di depannya. Mau kemana dia sebenarnya? Mata Rio terus menyisir penjuru sekolah yang dilaluinya. Mencari sesuatu entah apa entah siapa. Sampai pada akhirnya, langkahnya terhenti. Mata Rio menangkap sesosok lelaki yang sedang dalam langkah menuju ke arahnya. Namun sebaliknya, sepertinya Rio tak tertangkap dalam pandangannya, hingga ketika mereka berpapasan, lelaki itu terus saja melaju seolah Rio tak kasat mata baginya. "Aksa!" Panggil Rio. Mendengar namanya dipanggil, tentu lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak. Pun ia menoleh kepada yang menyerukan namanya itu. "Kau menyukai Disa?" Tanya Rio langsung pada intinya. Sementara Aksa, lelaki itu hanya mengernyitkan kening. Bukan karena ia tak mengerti bahasa manusia, hanya saja ia tak mengerti apa maksud Rio yang tiba-tiba saja melayangkan pertanyaan seperi itu kepadanya. "Jawab saja. Kau menyukainya 'kan?" Kata Rio lagi. Aksa berdecis. Rupanya ia sudah paham kemana arah dari pertanyaan Rio ini. "Kelihatannya bagaimana?" Aksa malah melempar Rio pertanyaan balik. "Bukankah kau yang menyukainya, kenapa malah menanyakan hal itu padaku? Konyol." Sambungnya. "Ya. Aku menyukainya. Aku menyukai Disa sebagai seorang wanita. Dan tolong jangan berani-beraninya kau mendekati apalagi menyentuh Disa." Ancam Rio. "Memang kau siapanya?" Cibir Aksa. "Disa milikku," ucap Rio. "Sebentar lagi ia akan jadi milikku." "Tingkat kepercayaan dirimu bagus juga." Balas Aksa santai, dan kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Rio yang masih geming di tempatnya sembari menatap punggung Aksa yang kian menjauh. * Hari yang dinanti pun tiba. Acara Festival sekolah. Agaknya festival ini bukan hanya ajang melepas para senior yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah, melainkan juga sebagai ajang perayaan atas keberhasilan Aksa yang memenangkan final pertandingan tennis kemarin. "Tepuk tangannya untuk, Aksa!" Seru kepala sekolah di akhir pidato pembukaan festival yang disampaikannya. Aksa naik ke atas panggung, ia menerima sebuah piala, sertifikat, juga hadiah sejumlah uang tunai. Aku tidak bisa menyebutkan jumlahnya sebab takut menimbulkan rasa iri dengki. "Terima kasih." Ucap Aksa seraya menerima hadiah-hadiah tersebut. Setelah sesi pemotretan, Aksa pun kembali turun. Seperti biasa, ekspresinya selalu datar. Dia baru saja mendapat penghargaan atas kemenangannya tapi dia tetap tidak menunjukkan ekspresi wajah yang bahagia. Di sisi lain, malah Disa yang terlihat begitu bahagia sekaligus atas kemenangan tersebut. Matanya berbinar kala Aksa berada di atas panggung menerima penghargaan dari kepala sekolah. "Dia memang sepantasnya menang!" Ujar Disa, pada dirinya sendiri. Seluruh hadiah serta penghargaannya telah Aksa simpan di kelas. Piala ia letakkan asal di atas meja seperti barang tak berharga. Pun ia kembali meninggalkan kelas untuk menuju lapangan, di sana sangat ramai, ada banyak stan makanan dan minuman yang didirikan oleh para siswa sendiri. Tidak seperti biasanya, kali ini entah kenapa Aksa malah tertarik untuk kesana, padahal biasanya selalu menepi dari keramaian. Namun, ketika baru saja ia melangkahkan kaki keluar kelas. Dirinya hampir bertabrakan dengan seorang lelaki yang langsung berdecis dan buang muka begitu melihat tampang Aksa. Tanpa saling bicara, lelaki itu langsung bergegas melanjutkan langkahnya meninggalkan Aksa yang juga langsung beranjak pergi. Aksa berjalan santai sambil melihat-lihat stan makanan dan minuman yang ada di sekelilingnya, sebelah tangannya ia sembunyikan di balik saku celana. Ia mendapati salah satu stan dengan bertuliskan "Lemon Juice" sepertinya segar. Pikirnya. Lantas Aksa pun membawa kakinya ke sana. Kebetulan di sana juga sedang tidak ramai pembeli. "Lemon juice 1!" "Lemon juice 1!" Aksa menoleh. Sebelum akhirnya ia menghela napas malas dan memilih untuk membuang pandangannya kala ia mendapati seorang lelaki entah sejak kapan berada di sebelahnya dan turut memesan lemon juice secara serentak dengan Aksa barusan. "Apa kau mengikutiku?" Ujar lelaki itu. "Bukankah kau?" Timpal Aksa. Tidak hanya dua kali, Aksa dan Rio berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya ketika Aksa kembali memutuskan untuk kembali berkeliling. Ya, lelaki yang berpapasan dengan di depan kelas dan di stan lemon juice adalah Rio. Entah ada apa dengan keduanya hari ini sampai semesta mempertemukan mereka selalu berkali-kali. "Kau akan kemana?" Tanya Rio. "Kenapa bertanya?" Balas Aksa. "Agar bisa menghindar." Kata Rio lagi. "Pemikiran yang bagus, aku akan ke sana." Ujar Aksa, sembari menunjuk ke arah kanan. Sedang Rio, ia berlalu pergi ke arah yang berlawanan dengan Aksa. Hari sudah semakin gelap, langit mulai memancarkan cahaya jingga yang memberi sentuhan khusus di festival sekolah kali ini. Tiba di penghujung acara, seorang pembawa acara dari atas panggung yang sedari tadi digunakan sebagai ajang pertunjukan bakat serta beragam hiburan, mengumumkan bahwa akan ada acara khusus sebagai penutup festival di tahun ini. Pun riuh sorak sorai terdengar seketika. Namun, pada detik berikutnya malah hening yang mengambil alih ketika alunan musik mulai terdengar. Alunan musik yang begitu romantis dan menyentuh hati. Lalu muncul lah Rio, dari sisi panggung dengan membawa sebuket bunga. Beberapa siswi menjerit histeris di sana, ada juga yang penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya. "Hari ini, di depan kalian semua. Aku akan menyatakan perasaanku kepada seseorang." Ucap Rio. Tentu hal ini membuat para siswi semakin histeria. Sedang Nana yang saat itu sedang bersebelahan dengan Disa, perasaannya mulai tidak enak. Sesekali ia melirik temannya yang nampak begitu antusias menyaksikan aksi Rio. "Kepada gadis yang senyumnya selalu indah. Karena satu alasan, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu belakangan ini. Dan setelah kupikirkan, alasan itu ternyata adalah karena... Aku menyukaimu," Rio menjeda kalimatnya, kemudian matanya mengarah pada Disa, yang masih berada di tengah kerumunan. "Disa," Deg. Raut wajah Disa berubah seketika, bersamaan dengan beberapa siswi yang semakin riuh menjadi-jadi dan mendorong Disa untuk naik ke atas panggung dan berdiri di samping Rio. Alhasil, mau tidak mau, di sinilah Disa sekarang. Di atas panggung, dengan suasana canggung. "Disa, langit sore kali ini akan menjadi saksi atas pengakuan cintaku," lagi, Rio menjeda kalimatnya, kali ini lelaki itu berlutut di hadapan gadis pujaannya sambil mengulurkan buket bunga yang ia bawa. "So, would you be my girlfriend?" Benar-benar di luar dugaan. Disa tak pernah menyangka kalau Rio akan menyatakan cintanya di muka umum seperti ini. Disa terdiam selama beberapa detik, sementara seluruh murid yang menyaksikan sudah berteriak, "terima! Terima!" Pun perlahan jemari Disa meraih buket bunga tersebut, yang langsung bersambut senyuman kebahagiaan di wajah Rio. Seluruh murid pun bersorak atas resminya Disa, menjadi kekasih Rio. Sementara di tengah keramaian itu, Nana, yang semula sudah mulai kembali berbaikan dengan Disa, kini harus menelan pil pahit kalau temannya itu sudah menjadi kekasih dari lelaki yang ia sukai. Rita yang menyadari kalau akan berakhir begini, lantas segera ikut berlari menyusul Nana. Dan di sisi lain, dari kejauhan, Aksa menyaksikan pengakuan cinta yang baginya terkesan kampungan itu dengan ekspresi yang sulit dipahami. Ya, memang Aksa selalu terlalu rumit untuk dipahami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN