Duapuluhsatu

1182 Kata
Persiapan Festival -Pameran foto -Susunan panggung -Bersihkan lapangan "Baik, kalian tahu bukan kalau festival sekolah akan diadakan sebentar lagi?" Ujar walikelas yang baru saja menuliskan sesuatu di papan tulis. "Ya!" Jawab seluruh siswa serentak. "Kalau begitu, lihatlah apa yang tertulis. Dan angkat tangan untuk hal yang ingin dilakukan," katanya lagi. "Siapa yang mau membantu menyiapkan pameran foto?" Disa dan Nana, tanpa membuat janji terlebih dahulu, dua orang teman sebangku itu mengangkat tangannya bersamaan. "Baiklah, pameran akan diadakan di ruang musik. Kalian bisa mengambil album foto dan menuju kesana untuk mulai menyiapkan." "Siap, Bu!" Ucap keduanya, yang lagi-lagi serentak. Tanpa buang waktu, Disa dan Nana segera melaksanakan apa yang menjadi tugas ya itu. Pertama mereka harus menuju ruang guru untuk mengambil album foto di sana. Album foto yang berisikan foto-foto angkatan dari berbagai generasi. Kemudian barulah mereka menata dan menghiasnya sedemikian rupa di ruang musik. Festival sekolah ini, memang selalu diadakan setiap tahun sekali. Acara tersebut sebetulnya dikhususkan untuk melepas siswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah. Album foto sudah di tangan, kini saatnya Disa dan Nana menuju ke ruang musik dan segera menyulapnya menjadi sebuah ruangan untuk pameran. Namun, ketika baru saja keduanya sampai di ambang pintu, langkah mereka tiba-tiba saja terhenti. "Aksa? Sedang apa kau di sini?" Tanya Nana, kepada seorang lelaki yang tengah duduk menyilangkan kaki pada salah satu kursi yang ada di ruangan itu. "Bu guru bilang barangkali kalian membutuhkan tenaga lelaki," katanya seraya bangkit. "Lalu apa yang bisa ku bantu?" * Pun seluruh siswa sudah mendapat tugasnya masing-masing. Festival akan diadakan kurang lebih seminggu lagi, setelah pertandingan final tennis yang hanya tinggal beberapa hari. Suasana di ruang musik begitu hening. Aksa fokus menempel hiasan-hiasan pada dinding, Nana sibuk dengan sapunya. Sedang Disa, ia sangat fokus dan sangat sibuk memerhatikan Aksa. Disa sama sekali tak berekspetasi kalau pada akhirnya Aksa akan bertugas di sini, bersama Disa. Disa pikir, ia akan menghabiskan sepanjang waktunya hanya bersama Nana. "Disa, kau bagian buang sampah, ya." Kata Nana, dengan pandangan mata yang tak beralih dari sapunya. "Disa?" Mendengar tak kunjung mendapat tanggapan, alhasil Nana pun memalingkan pandangannya ke arah dimana Disa berada. Dan di situlah, ia mendapati temannya yang malah justru fokus memandangi Aksa ketimbang mengelap kaca. "Sampai kapan kau mengelap di bagian yang sama terus menerus, Disa?" Mendengar tanya yang dilontarkan oleh Nana, Aksa pun menoleh. Menoleh ke arah Disa yang tentunya langsung membuat gadis itu gelagapan tertangkap basah tengah memerhatikan dirinya. "Disa apa kau tidak mendengarku?" Tanya Nana. "Hah? Apa? Ada apa?" Balas Disa, yang baru saja mengumpulkan kembali kesadarannya. "Nana memintamu untuk membuang sampah." Ucap Aksa. Tanpa buang waktu lagi, Disa langsung meraih satu plastik besar yang ada di sudut ruang. Karena terlalu besar dan padat muatan, Disa hanya mampu bersusah payah menarik plastik tersebut untuk sampai ke tempat pembuangan di halaman belakang sekolah, yang mana ia mesti menyusuri koridor terlebih dahulu. "Permisi, permisi!" Ucap Disa, agar beberapa siswa yang kebetulan berada di koridor dapat memberinya jalan. Karena jujur, sampah ini sangat berat bagi Disa. "Disa!" Gadis itu sedikit mengumpat sebab kenapa seseorang harus memanggil namanya di saat seperti ini? Di saat ia tengah bersusah payah membawa sampah-sampah ini. Kalau tidak berniat membantu setidaknya tolong jangan memaksa untuk menghentikan langkah, pikir Disa. Dan pada akhirnya langkah Disa terhenti juga. Begitu seorang lelaki kini sudah berdiri di hadapannya. "Kau mau kemana?" Tanyanya. "Buang sampah, Kak." Balas Disa. "Sampah sebanyak ini, dari mana?" Tanyanya lagi. Astaga, Kak Rio. Kau memang teman yang baik, tapi kali ini kau membuatku semakin lama untuk menuju ke tempat pembuangan! Batin Disa. "Aku mendapat tugas membereskan ruang musik dan menjadikannya ruangan pameran foto untuk festival nanti." Jelas Disa. "Ruang musik? Jadi ini alasannya?" Rio berbicara sendiri dalam hatinya. Belum sempat percakapan keduanya berlanjut, bel pertanda masuk pun berbunyi, memaksa Rio harus segera kembali ke kelasnya, padahal ia belum puas berbincang dengan Disa. "Ah, sial. Disa, aku harus kembali ke kelas! Kau jangan kelelahan, jangan sampai harus masuk rumah sakit lagi, mengerti?" "Eung!" Angguk Disa. Benar. Disa yang sempat masuk rumah sakit karena pingsan yang secara tiba-tiba -yaiyalah, memangnya ada pingsan yang direncanakan? Sepertinya tidak ada- kini sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Bahkan keesokan harinya setelah pulang dari rumah sakit, Disa sudah langsung masuk sekolah. Karena Rio sudah tidak lagi berada di hadapan Disa, gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya. Sudah hampir sampai, Disa sudah berada di halaman belakang sekolah. Tapi, sialnya, Disa harus menuruni cukup banyak anak tangga agar bisa mencapai tempat pembuangan. PLUK! Suara botol yang baru saja di lemparkan. Sontak Disa menoleh. "Aksa?" Ujarnya tak percaya, sebab ia yakin sekali kalau dirinya meninggalkan Aksa dan Nana di ruang musik tadi. "Bodoh! Lihat plastik sampah yang kau bawa itu!" Perintah Aksa dengan ketus. Adapun Disa yang langsung mengarahkan kedua matanya ke bagian bawah plastik yang terkena tanah. Astaga. Bolong. Kemudian matanya terarah pada ceceran sampah yang membentuk sebuah jalur. "Ahh bagaimana ini? Aku harus memungutinya lagi!" Keluh Disa, sekaligus merutuki dirinya sendiri yang ternyata memang betul apa yang dikatakan Aksa tentangnya, 'bodoh'. "Kalau merasa tidak bisa, minta bantuan! Kau terlalu sombong seolah bisa melalukan semuanya sendiri padahal kau tak lebih dari sekadar orang bodoh. "Hah?!" Benar, kan. Buktinya sekarang saja ia tak bisa mencerna kalimat Aksa. Disa mulai berlarian, mengumpulkan satu persatu sampah yang berceceran akibat ulahnya. Namun, sesaat ketika Disa hendak meraih sebuah kaleng bekas minuman, Aksa lebih dulu mendapatkannya. "Serahkan padaku, biar aku yang selesaikan." Mendengar itu, jantung Disa seolah tiba-tiba saja berhenti bekerja. Sebaris kalimat yang mungkin terdengar biasa saja jika diucapkan oleh orang yang juga biasa, nyatanya bisa menjadi sangat luar biasa bagi Disa jika Aksa yang mengucapkannya dengan suaranya yang rendah. Disa langsung menyelipkan helaian rambut ke telinga kanannya sendiri, menunduk malu-malu menyembunyikan semburat merahnya. "Benarkah?" Tanya Disa penuh harapan. Aksa hanya memberinya sebuah anggukan. "Aaaa Aksa terima kasih banyak!!" Tanpa disadari, Disa langsung menghambur ke lengan Aksa. Namun sayangnya, momen itu tak bertahan lama, sebab pada detik berikutnya, Disa langsung disadarkan oleh tatapan tajam dari sang empunya lengan. "Kembali saja dan bantu Nana di sana!" Perintah Aksa. "Siap, komandan!" Sahut Disa bersemangat sampai ia membuat gestur memberi hormat dengan tangannya kepada Aksa. Gadis it berlari kecil meninggalkan Aksa yang kini mengambil alih tugasnya. Namun, entah apa yang membuatnya kembali berbalik arah menuju ke tempatnya semula yang juga dengan berlari kecil. "Apa... Kau sengaja melakukannya untukku?" Goda Disa. "Kau mau mati?" Geram Aksa. "Jangan bicara omong kosong dan cepat kembali ke ruang musik!" "Dasar kau menyebalkan!" * "Aksa!" Panggil salah seorang yang Aksa tahu adalah seniornya di club tennis ketika ia baru saja melangkahkan kaki keluar kelas. Lelaki itu memang cukup akrab, eh, ralat, lebih tepatnya, mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Aksa. "Untuk persiapan festival nanti, kau akan bergabung dengan kami membersihkan lapangan, bukan?" Tanyanya. "Tidak. Aku bertugas di ruang musik." Jawabnya singkat. Tanpa ia sadari, ternyata Rio berada di belakangnya dan tanpa sengaja mendengar percakapan antara Aksa dengan temannya itu. Pun kini Rio tahu jawabannya, pasti karena Disa. Lelaki itu pasti ingin selalu berada di dekat Disa, sebab itu ia lebih memilih bertugas di sana. "Permisi, Pak. Izin ke toilet." Ucap Rio, di tengah gurunya yang sedang menerangkan. "Silakan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN