Duapuluh

1479 Kata
"Disa!!" Tepat ketika bola berhasil dilambungkan. Disa jatuh tergeletak begitu saja tanpa aba-aba. Dengan sigap Rio berlari dan membawa Disa ke dalam pangkuannya. "Aku akan membawanya ke rumah sakit terdekat!" Ujar Rio, yang tanpa meminta persetujuan kepada sang pelatih terlebih dahulu langsung membopong Disa, berlari meninggalkan lapangan. * "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya ayah Disa ketika seorang pria baru saja keluar dari dalam ruangan tempat Disa berada, kekhawatiran jelas terpancar dari sorot matanya. Pihak rumah sakit langsung menghubungi keluarga Disa saat itu. Beruntung Disa menyimpan ponselnya di dalam saku. "Anak Bapak hanya kelelahan, dan tidak perlu dirawat di rumah sakit. Hanya saja sebaiknya ia harus memperbanyak istirahat untuk sementara waktu," ujar Pria berjas putih itu. "Nanti saya resepkan beberapa vitamin yang bisa dikonsumsi untuk membantu kestabilannya." Sambung pria itu. "Ah, iya. Terima kasih banyak!" Ucap ayah Disa. "Kalau begitu, saya permisi." Setelah pria berjas putih itu berlalu, tinggal lah ayah Disa dengan Rio yang masih berdiri di ruang tunggu. "Nak…" Panggilnya. Rio lantas menoleh. Kendati bukan memanggil namanya, tapi sudah pasti kalau dirinya lah yang dimaksud oleh ayah Disa. Sebab memang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. "Kau yang membawa Disa kemari, bukan? Terima kasih banyak atas pertolonganmu, ya." Ujar ayah Disa, sembari meraih kedua tangan Rio. "Bukan masalah, Pak. Saya juga sangat mengkhawatirkan kondisi Disa, maka dari itu saya langung membawanya kemari." Mendengar jawaban yang diberikan, ayah Disa memberinya simpulan senyum. "Namamu?" "Rio, Pak." "Nak Rio… Sekali lagi terima kasih banyak." Rio malah jadi merasa tidak enak hati akan sikap ayah Disa yang berterima kasih berulang kali kepadanya. Padahal baginya, apa yang ia lakukan tidaklah seberapa. "Saya permisi dulu, Pak. Karena harus segera kembali ke sekolah. Maaf tidak bisa menemani Disa di sini." Sambil tersenyum, Rio pun pamit undur diri. Tubuh Rio hilang ditelan tikungan koridor rumah sakit. Pun saat itulah ayah Disa memilih untuk memasuki ruangan tempat di mana putrinya berada. "Ayah?" Tanya Disa bingung. Gadis itu terduduk di atas ranjang seolah tak terjadi apa-apa dan dirinya baik- baik saja. "Kenapa Ayah bisa ada di sini?" Tanya Disa lagi. "Kau pikir memangnya kenapa? Ayah mana yang tidak panik mendengar putrinya dilarikan ke rumah sakit." Jawab sang ayah, sembari membawa kakinya melangkah semakin mendekat. Mendengar hal itu, Disa hanya cengengesan seakan tak punya dosa. "Lalu bagaimana sekarang? Apa kau sudah merasa baikan?" Disa memberi anggukan mantap, "bahkan aku tidak merasa kalau aku sedang sakit." "Kalau begitu… Ayo, kita pulang. Nenekmu pasti sudah cemas menunggu." Ayah Disa segera membantu putrinya untuk turun dari ranjang rumah sakit, memapahnya, takut kalau saja putrinya itu masih merasa pusing atau lemas dan kembali jatuh pingsan. "Pelan-pelan." Ujar sang ayah. Sembari dibantu berjalan, Disa memerhatikan wajah sang ayah yang sudah tak lagi muda. Sejak kapan keriput-keriput itu menghiasi wajah ayah? Pikir Disa, ia bahkan tak menyadari itu sebelumnya. Ini menandakan kalau, waktu terus berjalan. Perlahan tapi pasti, usia menggerogoti tubuh ayahnya yang selalu nampak gagah di mata Disa. Lelaki yang senantiasa selalu berada di sisinya, lelakinya yang akan selalu siap pasang badan jika ada sesuatu yang menimpanya, lelaki yang selalu dan akan selalu mencintai Disa sampai akhir hayatnya. Bagi Disa, ayah adalah pahlawan sekaligus cinta pertama yang tak akan pernah tergantikan. Tak peduli bagaimana pandangan orang lain terhadap ayahnya, di mata Disa, ayahnya adalah orang yang hebat. Pun begitu juga sebaliknya, bagi sang ayah, Disa akan selalu menjadi putri kecilnya, sedewasa apa pun ia sekarang. Entah bagaimana kalau waktu dengan teganya merenggut sang ayah dari dekapan Disa, agaknya Disa tidak akan pernah siap, tidak akan pernah rela sampai kapan pun. "Disa? Kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" Sang ayah panik seketika kala mendapati air mata menetes membasahi pipi putrinya. Pun Disa hanya menggeleng, "tidak, Yah. Tidak ada yang sakit. Aku… Aku hanya ingin bilang, 'terima kasih'." "Terima kasih? Atas apa?" Tanya sang ayah, keningnya mengernyit kebingungan. "Atas semuanya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupku jika tanpa Ayah di sampingku." Mendengar jawaban putrinya, rupanya sang ayah juga tak kuasa menahan air mata. "Yaaa kau ini! Kasih sayang dan cinta seorang ayah itu tiada batasnya, Disa." Kali ini giliran Disa, mendengar kalimat yang baru dikatakan ayahnya barusan, membuat gadis itu langsung menghambur ke dalam dekapan. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih banyak." Ayah Disa menyambut dekapan putrinya dengan hangat, menepuk sekaligus mengusap lembut penuh kasih punggung Disa. Tanpa ia sadari juga, putrinya kini sudah menjelma sebagai gadis remaja. Kenapa waktu rasanya begitu cepat berlalu? "Sudah, ayo kita pulang. Ayah harus menebus obat dan menyelesaikan administrasi terlebih dahulu." "Ah, benar! Tasku masih di sekolah!" Seru Disa. "Apa kita perlu mengambilnya dulu?" Tanya sang ayah. "Tidak perlu, Yah. Ayah pasti lelah, sebaiknya kita pulang saja. Aku akan menghubungi temanku untuk meminta tolong agar mengamankan tasku terlebih dahulu." Jelas Disa. * Disa terus berkutat pada ponselnya sembari duduk manis di ruang tunggu, menanti sang ayah yang sedang menebus obat dan menyelesaikan administrasi rumah sakit. Setelah menghubungi Nana dan Rita untuk mengamankan tasnya, yang juga kebetulan dua temannya itu masih berada di sekolah. Disa dilanda sedikit kebimbangan. Haruskah ia menghubungi Kak Rio juga untuk mengamankan tasnya? Jaga-jaga kalau Nana dan Rita lupa melakukannya. "Haruskah?" Tanya Disa pada dirinya sendiri. "Apa? Sudah dibayar? Kira-kira… Siapa yang membayarnya?" Samar percakapan sang ayah tertangkap pendengarannya. Namun sayang, Disa tak begitu menyimak dan memang juga tak tertarik untuk mendengarkan. Selang beberapa lama, ayahnya malah menempati kursi kosong di sebelah Disa sembari menghela napas. Disa menoleh, mengisyaratkan sebuah tanya "ada apa?" "Seluruh biaya rumah sakit, sudah dibayarkan." "Terima kasih!" Balas Disa. "Tidak. Bukan Ayah yang bayar." Kali ini Disa dibuat kebingungan. Kalau bukan sang ayah, lalu siapa lagi? "Selain sigap membawamu kemari, ternyata dia juga sudah membayarkan biaya rumah sakit ini." Tutur sang ayah. "Dia? Dia siapa?" "Rio," Mendengar nama itu disebut, Disa sedikit tercengang. Kakak kelasnya itu berhasil membuat Disa merasa hutang budi padanya. "Mereka bilang, seorang lelaki berpakaian seragam sekolah baru saja melunasi semuanya." Tambah sang ayah. Kali ini, tanpa ragu dan rasa bimbang sedikit pun. Disa langsung menghubungi Rio melalui panggilan suara. * Rio sudah kembali berada di sekolah, melanjutkan sesi latihan yang sempat terjeda. Rio yang tengah beristirahat di tepi lapangan, sedikit dikejutkan dengan ponselnya yang tiba-tiba saja berdering. Tulisan "Ayah" tertera jelas pada layad ponselnya. Melihatnya saja sudah membuat Rio berdecak kesal. Lelaki itu memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut sampai terputus dengan sendirinya. Selang beberapa detik, ponselnya kembali berdering. Rio gusar. Kali ini ia memutuskan untuk menjawabnya. "Ada apa sih?!" Hardik Rio. "K-kak Rio?" Mendapat jawaban suara yang begitu lembut dan juga sangat familiar di telinganya, Rio lantas terbelalak seketika. Lelaki itu menjauhkan ponselnya dari telinga untuk menyempatkan diri membaca nama kontak yang tertera. "Disa" Sial. Rio langsung merutuki dirinya sendiri atas kecerobohannya. "Ah, Disa? Ada apa? Maaf tadi kupikir bukan kau yang menelepon." Kata Rio. Di seberang sana, Disa yang sempat sedikit tersentak pun memaklumi. "Tidak apa, Kak. Tidak masalah." "Bagaimana keadaanmu? Apa sudah boleh pulang?" Tanya Rio. "Aku baik, dan ini akan segera pulang. Oh, iya. Terima kasih karena telah membawaku ke rumah sakit, ya." "Sama-sama, Disa. Aku sangat khawatir saat melihatmu tiba-tiba saja tak sadarkan diri, jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit." "Disa, ayo pulang, Nak!" Suara ayah Disa dari seberang sana dapat terdengar oleh Rio. Pun pada detik berikutnya gadis itu berpamitan sebelum ia menutup panggilan teleponnya. "Kak Rio, sudah dulu, ya. Oh, iya, Kak. Boleh aku merepotkanmu sekali lagi? Saat kau membawaku ke rumah sakit, tasku masih tertinggal di sekolah. Aku sudah minta tolong Nana dan Rita, tapi tidak ada salahnya kalau aku meminta bantuanmu juga, kan? Tolong kau simpan saja dulu tasku itu, oke?" Rio terkekeh mendengarnya. Entah kenapa, baginya terdengar sangat lucu dan menggemaskan saat Disa berceloteh seperti itu. "Iya Disa, itu sama sekali tidak merepotkan bagiku." "Yasudah kalau begitu, sampai di sini dulu. Bye-bye!" Pamit Disa. Tut-- Panggilang telepon pun terputus. * Sepulang dari rumah sakit, Disa menghabiskan waktunya dengan tidur. Setelah sebelumnya ia mengisi perut dengan masakan neneknya yang super lezat, juga tak lupa meminum beberapa vitamin yang diberikan oleh dokter. Tidur Disa yang amat lelap itu, harus terusik oleh ponselnya yang berdering sejak lima menit lalu. Dengan malas, gadis itu pun akhirnya membuka mata, meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. "Kak Rio?" "Iya, halo?" Sambut Disa dengan suaranya yang parau. "Eh, apa aku baru saja mengganggu istirahatmu? Maafkan aku." Balas Rio. "Tidak, Kak. Tidak sama sekali. Kebetulan aku baru saja bangun." Jelas Disa. "Bukan karena telepon dariku, kan?" "Bukan." Alibinya. Padahal benar, Disa terbangun karena panggilan telepon dari Rio yang membuat ponselnya terus berdering. "Disa, aku tidak menemukan dimana tasmu." Kata Rio. "Ah, iya, tidak apa-apa. Mungkin sudah ada di Nana atau Rita," Jawab Disa. "Oh,iya, Kak. Terima kasih juga karena telah membayarkan administrasi rumah sakit kemarin. Aku dan ayahku benar-benar berterima kasih untuk it--" Panggilan terputus. Ponsel Disa mati, sebab ia lupa mengisi baterai. Sedang Rio mengernyitkan keningnya, mencoba untuk menelaah apa yang disampaikan Disa barusan. "Membayarkan administrasi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN