Empatbelas: Umbrella

1453 Kata
Hari ini, sepertinya matahari sedang bersemangat untuk memberikan cahayanya pada bumi. Beberapa siswa mengeluh kegerahan sembari mengibaskan tangan mereka. Ada yang meng-alihfungsi-kan buku pelajaran menjadi kipas, ada juga yang berdiam diri di bawah kipas angin, dan ada yang lebih memilih untuk mencari udara segar di luar, mumpung guru yang seharusnya masih mengisi waktu pelajaran sudah meninggalkan kelas sebelum waktunya. Ada urusan mendesak, katanya. Dari dalam kelas saja, teriknya matahari sudah sebegitu menyiksanya, bagaimana dengan mereka yang sedang berlatih di tengah lapangan sana. Ya, Aksa dan beberapa orang lainnya yang kian hari jadwal latihannya kian padat dan tak kenal waktu. Maklum, pertandingan tinggal dua minggu lagi. Eh tapi, bukankah sebaiknya menjelang pertandingan itu mereka justru harus memperbanyak istirahat, ya? Jika terlalu memforsir begitu, khawatir malah kelelahan atau parahnya jatuh sakit ketika hari pertandingan. Tapi entahlah, jangan terlalu dipikirkan, itu hanya pendapat pribadiku saja. "Hey! Aksa!" Pelatih menghampiri lelaki yang tengah menenggak tetesan terakhir dari botol minumnya itu. "Ya?" Sahutnya. "Permainanmu semakin hari semakin bagus! Kau benar-benar berbakat. Kuharap kau bisa mempertahankan itu. Ah, iya satu lagi. Kau bisa masuk kelas setelah jam istirahat, tidak perlu latihan seharian hari ini." Puji sang pelatih sembari menepuk pundaknya. Sedang Aksa hanya menganggukkan kepalanya. Sementara di tempat lain, Disa yang kini sudah berpindah posisi duduk menjadi di dekat jendela, tengah memerhatikan Aksa entah sejak kapan. Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang dagu, kepalanya sedikit dimiringkan, sambil senyum-senyum sendirj tentunya. "Bukankah dia terlihat dua kali lebih tampan saat berada di lapangan?" Ujarnya entah pada siapa. "Hmmm dia memang tampan, tapi aku tidak suka lelaki bau keringat. Lihatlah! Bajunya sampai basah dibanjiri keringat begitu!" Sambar Rita yang kini malah ikut-ikutan Disa memandangi Aksa. "Tapi sepertinya keringat Aksa tidak akan bau seperti yang kau katakan barusan!" Bela Disa. KRIINGGG Dering yang menjadi idaman para siswa pun akhirnya berbunyi. Tidak, tidak. Itu bukan bel pulang, tapi bel istirahat. Tapi benar 'kan? Tak dapat ditampik, bel istirahat juga menjadi dering idaman bagi para siswa selama bersekolah. Begitu mendengarnya, Disa langsung bangkit dan bergegas meninggalkan kelas, mendahului teman-temannya yang juga ingin ke kantin tentunya. "Ada apa dengan dia? Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Rita, yang bingung akan tingkah temannya itu. "Entahlah." Timpal Nana singkat. Sepertinya Nana masih bermasalah dengan pikirannya. Mari kita lihat akan sampai kapan dia seperti ini. Suasana kantin begitu riuh. Maklum, jam istirahat memang selalu begitu. Tak heran lagi kalau di sini sedikit padat dan agak sesak. "Terima kasih!" Seru Disa dengan sumringah. Gadis itu baru saja menyerahkan beberapa lembar uang demi mendapatkan sebotol air mineral. Setelahnya ia segera menyingkir dari kerumunan siswa laininya yang juga hendak melakukan transaksi. Ketika ia baru saja hendak melangkah meninggalkan kantin, matanya lebih dulu menangkap sosok lelaki yang bukan lagi familiar, tapi hampir setiap detik berputar di kepalanya. Disa mencoba melambaikan tangannya, tapi sayang, sepertinya lambaian tangannya itu tak terjamah oleh pandangan lelaki itu. Lantas sesegera mungkin Disa menelusup di antara siswa yang memadati kantin. "Aksa!" Langkah lelaki itu berhasil dihentikannya. "Aku membelikan minuman untukmu!" Tak langsung memberikannya, Disa justru berinisiatif untuk membukakan tutup botol air mineral itu. Namun, yang terjadi selanjutnya, Byurrr Seragam sekolahnya basah terguyur air. Sial. Padatnya kantin malah membuat Disa tersenggol sehingga menyebabkan air mineral yang hendak diberikannya pada Aksa malah tumpah dan mengenai bajunya. Pun hal itu juga membuat dirinya sendiri terkejut. Tak ada satu pun yang memedulikan Disa yang kini sedikit kuyup. Seluruh penghuni kantin sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Bahkan Aksa, yang berdiri tepat di depannya dan benar-benar menyaksikan kejadian itu pun turut tak memedulikan. "Bodoh!" Alih-alih peduli, lelaki itu malah mencibir dan berlalu begitu saja meninggalkan Disa yang masih geming sembari tertunduk. Namun di sisi lain, ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi memerhatikan keduanya. Ia menyaksikan bagaimana Disa yang menyodorkan sebotol mineral hingga pada akhirnya mineral itu tumpah membasahi seragamnya. "Kau baik-baik saja? Apa kau bawa seragam ganti?" Tanyanya, membuat Disa yang semula tertunduk kini mendongakkan wajahnya. Menyimpulkan senyum, yang ia tahu itu hanyalah senyuman yang dibuat demi menutupi apa yang tengah ia rasakan kini. Perasaan malu, dan juga sakitnya atas sebuah penolakan. "Kak Rio? Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Ucap gadis itu. "Aish! Anak itu benar-benar! Baru sekali terpilih ikut pertandingan saja sudah berlagak, bagaimana kalau dia jadi atlet profesional? Astaga!" Gerutu Rio, yang merasa tak terima atas perlakuan Aksa terhadap Disa barusan. "Kalau begitu… Aku ke kelas dulu, ya, Kak. Permisi." Disa terburu-buru membawa kakinya melangkah untuk menuju kelas. Beberapa siswa yang tak sengaja berpapasan dengannya, melirik sekaligus saling berbisik tentang seragam Disa yang basah. Mungkin mereka menerka-nerka, apa yang terjadi pada gadis itu sampai-sampai seragamnya basah begitu. Malu? Tentu Disa merasa malu. Setelah mendapati tulisan 'Toilet' ternyata gadis itu memutuskan untuk singgah di sana. "Aisshh, bagaimana ini aku tidak ada seragam ganti!" Ujarnya di depan cermin, kala mendapati sendiri seragamnya yang ternyata benar-benar basah. "Huhh! Baiklah, mungkin tidak lama lagi akan kering." Pun Disa memutuskan untuk kembali ke kelasnya, dengan keadaan seragam yang masih basah. Hal ini tentu membuat teman-teman di kelasnya kebingungan, tak terkecuali dengan Rita dan juga Nana. "Ada apa denganmu? Kenapa seragammu basah begitu?" Tanya Rita. Alih-alih memberi jawaban, Disa hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Sedang Nana, ia masih dalam rasa penasarannya namun tetap memilih menyimpannya dalam diam. Aksa telah kembali mengenakan seragamnya. Seperti yang pelatihnya katakan, ia bisa masuk kelas setelah jam istirahat. Maka ia mengganti kembali baju yang semula dikenakannya untuk berlatih tennis dengan seragam sekolahnya, agar bisa mengikuti pelajaran di dalam kelas. Lelaki jangkung itu baru saja menginjakkan kakinya di ambang pintu. Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada seorang gadis yang duduk di dekat jendela, baju seragamnya basah, namun gadis itu tetap berusaha tersenyum atas pertanyaan yang diterimanya "kenapa seragammu basah?" Tak mau ambil pusing, Aksa lantas segera menuju kursi yang menjadi tempat duduknya. Mengeluarkan headset dan ponsel, membiarkan dirinya tenggelam dalam alunan lagu yang hanya dapat didengar oleh telinganya. Tak lama berselang, seorang lelaki paruh baya dengan seragam berwarna cokelat memasuki kelas mereka. Kedatangannya membuat seisi kelas yang semula riuh menjadi hening seketika, pun para siswa menjadi tertib dan duduk di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Aksa, yang langsung melepaskan headset dan menyimpan kembali ponselnya. Jarum jam terus berdetik. Disa mencoba untuk tetap fokus mengikuti pembelajaran yang tengah berlangsung kendati seragamnya belum juga kering. "Kau bisa masuk angin kalau tetap dibiarkan seperti itu." Cetus Nana, tapi pandangannya tetap tertuju ke depan, menyimak sang guru yang tengah berceloteh sembari mencorat-coret papan tulis. Mendengar teman sebangkunya bersuara, Disa lantas menoleh. Lagi-lagi ia mengulas senyum. "Tidak apa." Jawabnya. Entah matahari sedang ada masalah apa hari ini. Siang tadi memancarkan sinar yang tak kira-kira, tapi di sore hari malah nampak betul-betul bersedih sampai membuat langit menumpahkan tangisannya. "Ah, bagaimana ini, aku tidak membawa payung!" Keluh Disa. "Disa, aku akan ke bawah membuang sampah dan langsung pulang. Apa kau tidak apa-apa sendirian di sini?" Tanya Alvin, kebetulan mereka mendapat giliran piket kelas hari ini. Dari enam orang yang seharusnya bertugas, hanya Disa dan Alvin yang melaksanakannya. Yang lain? Tentu saja kabur. "Ah, tidak apa. Kau pulang saja. Aku juga akan segera pulang setelah merapikan ini." Jawab Disa, yang tengah menata meja guru. "Baiklah, hati-hati. Dan jangan terlalu lama di sini, sepertinya hujan akan semakin deras!" Ujar Alvin sebelum berlalu meninggalkan Disa sembari membawa sekantong plastik sampah. Seperti ucapannya pada Alvin pada barusan. Setelah selesai membereskan meja guru, Disa langsung membawa tasnya dan melangkah meninggalkan kelas. Mendung semakin menjadi. Rintik gerimis sudah mulai menderas perlahan. "Astaga! Bajuku baru saja kering dan sekarang harus basah lagi terguyur hujan." Ujarnya dan segera menerobos di antara rintik yang turun. Disa melindungi kepalanya dengan tangan, meskipun ia tahu itu tidak berpengaruh apa-apa, tangannya tidak dapat melindungi dirinya dari guyuran air yang terus turun. "Sial! Tali sepatuku!" Gerutunya, kala mendapati tali sepatunya yang entah bagaimana bisa terlepas dari simpulan. Jadilah mau tidak mau Disa harus menghentikan langkahnya di tengah rintik untuk kembali mengikat tali sepatunya. Namun tiba-tiba, Disa tidak lagi merasa rintik hujan membasahi tubuhnya. Padahal jelas, hujan belum juga reda. Pun ia mendongakkan wajahnya. Sebuah payung. Entah dari mana asalnya tiba-tiba saja Disa mendapati sebuah payung yang memayungi dirinya. "Apa ini?" Tanya Disa kebingungan. "Ambil lah." Sebuah suara terdengar dari balik payung. "Tidak perlu, aku baik-baik saja." Jawab Disa. Ia masih belum tahu siapa sosok yang memayunginya itu. "Kau bisa kena flu. Cepat ambil." Pun Disa meraih gagang payung dan segera bangkit untuk melihat siapa sebenarnya sosok yang memayunginya itu, kenapa begitu memaksa agar Disa mengambil payungnya. Namun, setelah gagang payung berpindah tangan kepada Disa, sosok itu malah segera melangkah pergi, berjalan di bawah rintik dan membiarkan hujam membasahi tubuhnya. Disa hanya mampu menatap punggungnya yang perlahan menghilang di tengah hujan yang semakin deras. Keningnya sampai mengerut untuk memastikan apa yang ia lihat. "Bukankah itu Aksa? Kenapa dia malah membiarkan dirinya kehujanan dan memberikan payung ini kepadaku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN