Tigabelas:

1460 Kata
Aku tidak tahu apa yang menjadi permasalahanmu, tapi, semoga ini dapat sedikit membantu menenangkanmu." Sebuah suara menyapa pendengaran Nana. Sebaris kalimat yang baru saja didengarnya itu lantas membawa Nana mau tidak mau membuka mata. Jus jeruk dalam kemasan kotak. Itulah yang pertama kali tertangkap oleh matanya. Sepertinya segar. Perlahan Nana mendongak, guna melihat wajah lelaki yang berdiri di samping mejanya, lelaki yang memberikannya sekotak jus yang kelihatannya juga baru keluar dari lemari pendingin beberapa saat lalu. "Kau?" Seketika mata Nana terbelalak begitu ia mendapati sosok yang baru saja memberikannya sekotak jus jeruk itu. Berbeda dengan Nana, lelaki itu malah menyimpulkan senyuman di wajahnya. "Ini, ambil lah!" Ujarnya lagi. "Tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya!" Ketus Nana, gadis itu lantas memalingkan pandangannya ke arah lain, seolah begitu enggan melihat sosok lelaki itu berada di dekatnya. "Aku sengaja belikan ini untukm...." "Aku bilang tidak, ya tidak, Alvin!" Alvin belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi Nana sudah lebih dulu membentak. Nada bicaranya naik satu oktaf. Membuat lelaki bernama Alvin itu pun sedikit tersentak. Perlahan kakinya melangkah mundur, bersamaan dengan tangannya memilih untuk tidak lagi terulur. Senyumannya memudar, tergantikan dengan senyuman kecut menahan sakitnya atas penolakan. Sementara Nana, gadis itu memilih bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Alvin yang masih geming. Nana mempercepat laju langkahnya menuju toilet. Entah apa yang ada dalam pikirannya dan yang akan dilakukannya hingga toilet lah yang menjadi tempat pelariannya saat ini. Mungkin Nana akan menumpahkan tangisannya di dalam bilik toilet atau sekadar membasuh wajah aku pun tidak mengerti. Namun, sepertinya Nana harus mengalami malam panjang dengan pikiran-pikiran liar yang menari lagi dalam kepalanya nanti. Langkahnya yang terhenti tanpa aba-aba itu menimbulkan bunyi decit dari sepatunya yang beradu dengan lantai. Kedua matanya tak lagi terbelalak sebab pemandangan yang kini ada di hadapannya itu bukan lagi hal yang mengejutkan baginya. Disa, dan Rio, kembali tertangkap tengah bercengkrama begitu akrabnya. Benar, itu bukan lagi hal yang mengejutkan, melainkan lebih tepatnya menyakitkan. * "Aku tunggu sepulang sekolah di lapangan, kau harus berlatih hari ini. Aku yakin kau pasti mampu, Aksa!" Sesaat hendak memasukkan bukunya ke dalam tas, Aksa kembali terngiang akan kalimat yang diucap seniornya siang tadi. Tentang tawaran untuk berpartisipasi dalam pertandingan yang akan datang. Tentang dirinya yang harus kembali bertanding setelah sekian lama tak berkecimpung dalam olahraga yang sebetulnya menjadi keahliannya ini, pun untuk bergabung pada club tennis, Aksa sedikit memaksa dirinya sendiri. Entah sudah berapa lama Aksa termenung, sampai ketika ia menyadari kini hanya tinggal dirinya yang tersisa di kelas. Tak mau lagi buang waktu, lelaki yang tak suka banyak basa-basi itu segera memasukkan bukunya ke dalam tas dan bergegas meninggalkan kelas. Aksa terus membawa kakinya melangkah menyusuri koridor, sementara pikirannya masih berkelut akan tawaran pertandingan itu. Sampai di saat kakinya berhenti melangkah untuk sejenak, lelaki itu memandang ke arah lapangan. Di sana sudah berada beberapa orang tengah berkumpul bersiap untuk berlatih, yang Aksa tahu mereka adalah senior di club tennis. Alih-alih membawa langkahnya ke lapangan dan berlatih seperti apa yang seniornya katakan, Aksa malah kembali melanjutkan langkah bergegas pulang, setelah satu detik sebelumnya lelaki itu sempat menghela napasnya berat. Tapi entah apa yang berhasil merasuki Aksa, hingga lelaki itu malah kembali berputar arah dan memacu cepat langkahnya menuju lapangan dengan mantap. "Aku akan mengikuti pertandingan itu." * Jam kosong sepertinya cukup menjadi primadona bagi para siswa di sekolah, selain jam istirahat dan jam pulang. Terlebih kalau guru yang bersangkutan tidak memberikan tugas apa pun sehingga para siswa bisa bebas melakukan apa pun yang mereka inginkan di kelas. Ada yang memilih tidur, menonton serial drama melalui ponsel, membaca novel, mendengarkan lagu, juga tak lupa ada yang melakukan studi khusus perbandingan kualitatif alias bergibah ria. Seluruh siswa di kelas Disa terlihat betul-betul santai, terkecuali dirinya. Ia justru nampak gelisah dengan berkali-kali mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, bahkan berulang kali ia melirik ke arah pintu seperti menanti seseorang yang belum kunjung datang. "Apa kalian melihat Aksa? sepertinya aku tidak melihatnya dari tadi." Ujarnya. Entah bicara pada siapa, yang jelas teman-teman di sekitarnya dapat mendengar kalimat Disa barusan. Bahkan Nana yang semula memilih melamun sembari menidurkan kepalanya di atas meja pun kini memilih mengalihkan fokusnya pada teman sebangkunya itu. "Benar juga, rasanya aku belum melihat anak itu dari pagi tadi, apa dia tidak masuk?" Sambar Rita yang juga langsung membalikkan tubuhnya ke arah Disa. "Mungkin sakit." Tebak Nana asal. "Sakit?" Tanya Disa dan Rita berbarengan. Keduanya seolah merasa sedikit heran begitu mendengar kalau kemungkinan Aksa tidak masuk sekolah karena sakit. Sementara Nana malah balik memasang wajah heran kala melihat tanggapan teman-temannya barusan. "Tidak ada yang salah bukan? Manusia pasti bisa sakit." Benar, Aksa juga manusia. Tak mendapatkan jawaban atas tanyanya yang sedari tadi memutar di kepala, lantas Disa hanya mampu menghela napas sembari menatap nanar pada kursi tempat duduk Aksa yang kini kosong tak berpenghuni. "Bukankah itu Aksa?" "Benarkah?" "Ah benar! Itu dia!" "Sedang apa dia?" "Apa dia berlatih untuk tanding?" "Ku dengar dia memang mewakili sekolah untuk pertandingan tennis tahun ini." "Astaga dia benar-benar tampan!" "Ternyata tidak hanya pintar dalam pelajaran dia juga sangat berbakat dalam bidang olahraga!" "Ah dia memiliki postur yang sempurna!" Riuh para siswi yang seketika membuat heboh dari dekat jendela yang langsung menyajikan pemandangan lapangan olahraga. Disa dan kawan-kawannya yang samar mendengar pun tak mau kalah, penasaran sebetulnya apa yang membuat siswi-siswi ini begitu ribut. "Permisi!" Disa dan dua temannya menelusup. Selip sana selip sini demi mendekatkan diri ke jendela dan bisa menyaksikan secara langsung apa yang ada di sana. "Aksa?!" Ketiganya tercengang, terutama Disa. Namun, ekspresi keterkejutan Disa perlahan berubah menjadi simpulan senyum yang menyiratkan kekaguman. Nana yang menyadari perubahan ekspresi itu, hanya mampu menatap Disa dengan tatapan sarat makna. * Entah untuk yang keberapa kali Aksa menghela napas, Lelaki itu baru saja mengganti seragam sekolahnya dengan kaos putih dan celana pendek hitam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin toilet selama beberapa detik, menyiapkan diri sebelum membawa kakinya melangkah menuju lapangan. Di sana sudah ada beberapa orang seniornya yang akan turut serta dalam pertandingan atau sekadar membantunya berlatih, juga ada seorang pelatih yang tentu akan membimbingnya selama sesi latihan berlangsung. Sebelum benar-benar berlatih, Aksa tentu melakukan pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan sebelum melakukan olahraga jenis apapun, tidak hanya tennis. Tujuan utama melakukan pemanasan sebelum berolahraga adalah agar tubuh tidak kaget saat melakukan aktivitas fisik yang berat. Coba bayangkan, otot yang masih dalam kondisi dingin dan rileks, tiba-tiba digunakan untuk berlari kencang. Hal ini meningkatkan resiko mengalami cedera ringan atau kram saat berolahraga. PRIIITTT Peluit panjang telah terdengar. Pelatih mengisyaratkan agar anak didiknya berkumpul di tengah lapangan. "Baik, ini latihan pertama kita. Demi keselamatan dan kelancaran sampai pertandingan nanti, ada baiknya kita berdoa untuk mengawali latihan hari ini," kata sang pelatih. "Berdoa, mulai." Sambungnya. Serentak mereka pun menundukkan kepala, tak terkecuali Aksa. Memohon dengan kesungguhan hati kepada Sang Pencipta. Setelah beberapa detik, "Selesai!" Latihan pun dimulai. Sang pelatih meminta mereka bergiliran menjadi lawan mainnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengukur sampai di mana batas kemampuan anak didiknya masing-masing, dan tentu juga berguna juga untuk pelatih mengenal karakter dan cara bermain mereka. Sampai tibalah giliran Aksa. Yang sedari tadi duduk di pinggir lapangan, mau tidak mau Aksa harus bangkit. Sialnya, kakinya malah terasa berat untuk melangkah sehingga ia harus memaksakan langkahnya. "Ayo! Kau yang serve!" Seru pelatih dari seberang sana, ia sudah dalam posisi siap menerima bola dari Aksa. Sementara Aksa, keringatnya sudah membasahi pelipisnya padahal belum mulai bermain. Pun perlahan ia juga mengambil posisi siap. Aksa berdiri di kotak sebelah kanan, bahu kanannya juga sudah menghadap ke kotak serve lawan sebelah kanan. Bola dipegang di ujung jarinya, bukan di telapak tangan. Aksa mendekatkan tangannya yang digunakan untuk memegang bola ke raket untuk mengarahkan serve, serta memberatkan tubuhnya ke arah depan. Tak lupa juga ia memantulkan bola sebanyak 4 kali sebelum dirinya melakukan serve, hal ini bertujuan agar mendapatkan ritme permainan. Aksa melakukan serve datar, sebab itu ia menggenggam raketnya dengan cengkraman yang disebut dengan cengkraman Continental. Untuk cengkraman ini, Aksa harus menggenggam raketnya tegak lurus dengan tanah, jari telunjuknya berada di sisi miring raket, sehingga jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf "V". Pun ia juga menggenggam raketnya tidak terlalu kuat, karena memang begitulah seharusnya, agar servenya dapat mengalir dan bertambah tenaga. Namun sebelum serve dilakukan, Aksa justru merasa sedikit gugup. Tak seperti pembawaannya yang seperti biasa selalu terlihat tenang. Beruntung, Aksa tidak kehilangan konsenterasinya. "Baiklah, fokus!" Tekadnya dalam hati. Lantas Aksa memejamkan mata, serta menarik napasnya dalam-dalam. Sebelum pada akhirnya beberapa detik kemudian Aksa membuang napasnya kembali. Matanya terbuka. Sorotnya begitu tajam, tidak seperti sebelumnya. Kedua mata Aksa tak lagi menyiratkan rasa gugup di sana. Entah apa yang baru saja merasuki jiwanya hingga dalam hitungan detik, Aksa seperti bukan Aksa yang penuh keraguan untuk bermain. Kali ini, dengan mantap dan ancang-ancang penuh perhitungan, Aksa membawa raketnya berayun, Dan... BOOM! Serve pertama, berhasil dilakukan dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN