Sepuluh

1059 Kata
Aksa meraih sebuah apel merah dari atas mejanya, lelaki yang baru saja tiba di kelas itu lantas kebingungan, bukan hanya sekali dua kali, terhitung sudah hampir seminggu ini ia selalu menemukan sesuatu di atas mejanya setiap pagi. "Apa kau tahu siapa yang menaruh apel ini di sini?" Tanyanya, pada seorang lelaki yang menjadi teman sebangkunya. Meski teman sebangku, tapi nyatanya mereka jarang sekali berkomunikasi. Pun teman sebangku Aksa menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya. "Entah." Aksa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan pada detik yang bersamaan, seorang gadis yang semula tengah melabuhkan tatapannya pada Aksa lantas segera menarik buku yang ada di atas mejanya asal untuk menutupi wajah. Sementara Aksa, lelaki itu kini menoleh pada seseorang yang duduk di belakangnya, lelaki yang tengah asyik mengobrol dengan rekannya. "Hey, mau bertukar tempat duduk denganku?" Mendengar suara Aksa yang sangat jarang terdengar, sontak lelaki itu seketika menoleh dengan mimik terkejut dan mengarahkan jari telunjuknya ke diri sendiri. "Aku?" Tanyanya. Aksa memberikan anggukan. Pun setelah berpikir selama beberapa detik, akhirnya lelaki itu bangkit dari duduknya sambil meraih ransel, bersiap untuk tukar posisi dengan sosok lelaki terdingin seantero sekolah. "Dan ini, ambil saja untukmu." Ucap Aksa datar, seraya meraih tangan si lelaki yang bertukar tempat duduk dengannya, menyerahkan apel merah yang entah dari mana asalnya. Membuat si lelaki tersebut melempar tatapan bingung sekaligus sumringah sebab menadapat apel secara cuma-cuma. "Woah! Untukku? Kau serius?" Ujarnya dengan mata berbinar. Aksa mengangguk, seraya meletakkan ranselnya di kursi kosong yang ada di sebelahnya. "Terima kasih Aksa! Ternyata kau orang yang murah hati!" Katanya sambil menepuk akrab pundak Aksa, sementara sang empunya pundak sama sekali tak menggubrisnya dan memilih untuk segera menempati tempat duduk barunya. Disa yang sedari tadi memerhatikan gerak-gerik Aksa dari balik buku yang ia jadikan sebagai tameng untuk menyembunyikan wajahnya lantas hanya mampu mendengus, kala ia melihat dengan mata kepala sendiri, apel yang secara diam-diam ia berikan pada Aksa, malah diberikan lagi pada orang lain. "Bukumu terbalik." Ucap Nana sembari membetulkan posisi buku yang Disa gunakan untuk bersembunyi. Adapun Nana sedari tadi juga memang memerhatikan teman sebangkunya yang barang sedetik pun pandangannya tak teralihkan dari sosok lelaki di sebelah sana, Aksa. "Bukankah sudah hari ketujuh?" Pertanyaan yang dilempar Nana jelas membuat Disa menoleh seketika. "Apa aku harus memberikannya secara langsung?" Disa melempar tanya balik. Nana terdiam selama beberapa detik, menatap teman sebangkunya itu dengan makna terselubung. "Kau menyukainya?" Kali ini giliran Disa yang seketika membisu, menatap balik Nana sebelum akhirnya gadis itu memilih untuk menunduk menyembunyikan senyum malu-malunya. Tok Tok Belum sempat Disa memberi jawaban atas pertanyaan Nana yang sebenarnya terdengar begitu retorik, pintu kelas sudah lebih dulu diketuk oleh seorang lelaki yang wajahnya tak asing bagi Disa. "Permisi, ada Aksa?" Ujarnya dari ambang pintu. Tak perlu basa-basi lagi, sosok yang dicarinya itu lantas segera bangkit dan menghampiri. Setelah nampak terlibat sedikit pembicaraan, Aksa pun pada akhirnya mengekor, mengikuti langkah lelaki yang mencarinya itu. Ketika yang lain hanya mengiringi langkah Aksa dengan tatapan, Disa malah bergegas bangkit dan mengambil langkah membuntuti Aksa secara diam-diam. *** "Jadi bagaimana? Apa kau bersedia?" Aksa geming. Bola matanya sekilas tetap diam namun pada kenyataannya sedikit bergerak akibat ia terlalu memaksa otaknya berpikir keras atas penuturan seniornya barusan. "Tapi bukankah aku masih baru? Bahkan aku belum mengikuti latihan rutin." Ujar Aksa. "Kemampuan yang mengantarmu ke pertandingan ini." Jawab lelaki yang berdiri di hadapannya. Dari balik tembok, dengan kening yang mengerut Disa terus menajamkan pendengarannya agar pembicaraan antar dua lelaki di sebelah sana dapat tertangkap dan terserap dengan baik. Pertandingan? "Apa ada sesuatu yang seru?" Sebuah suara dari arah belakang berhasil membuat Disa seketika tersentak, suara yang menelisik tepat di sebelah telinganya itu sampai-sampai membuat Disa langsung membalikkan badan. Pun pada detik itulah, pandangannya tak mampu terelakan dari sepasang mata yang selalu menatapnya teduh. Seolah mengerti, jarum jam memperlambat detiknya, membuat adegan temu tatap tersebut menjadi lebih dramatis. Bola mata Disa membulat kala mendapati dirinya yang hanya berada dengan jarak beberapa inchi dari lelaki yang mengejutkannya itu, berbanding terbalik, lelaki itu justru malah menyimpulkan senyum yang bisa membuat jantung melompat dari tempatnya. "K-kak Rio?" Kata Disa kikuk. Entah apa yang membuatnya gugup sampai tergagap begitu, apa karena wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa inchi dari wajah Rio atau karena Rio berhasil memergoki dirinya yang tengah menguntit seseorang di sana. Rio menggeser arah pandangnya, berpaling sejenak dari wajah gadis yang berhasil ia kunci di antara dirinya dan tembok. Pun akhirnya Rio mendapati dua orang lelaki yang dikenalinya tengah berbincang tak jauh dari sana, membuat Rio mengangguk paham akan apa yang membuat Disa bersembunyi di balik tembok seperti tadi. "Sepertinya mendengarkan pembicaraan orang lain sangat seru bagimu, ya?" Celetuk Rio. Lantas Disa segera menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Tidak begitu! Aku hanya kebetulan lewat dan melihat mereka!" Rio terkekeh, "mereka siapa? Berarti benar bukan kau sedang mendengarkan pembicaraan orang lain?" Disa mengumpat dalam batinnya, merutuki kecerobohannya sendiri karena tak bisa melempar alibi. Bel pertanda masuk pun nyaring berbunyi, membuat gadis itu akhirnya menghela napas lega sebab bisa segera melarikan diri dari Rio yang membuatnya kikuk bukan main. "Kau dengar bukan? Kalau begitu, aku harus segera kembali ke kelas, sampai jumpa!" Ujar Disa. Dengan cepat kakinya segera berlari menjauh dari Rio, sementara Rio sendiri yang masih terpatri di tempatnya tanpa sadar menyimpulkan senyuman sambil menatap punggung Disa yang perlahan menjauh dan menghilang di tikungan koridor. *** Ungkapan "masa lalu tidaklah mesti dilupakan, tetapi dijadikan pembelajaran dengan kembali mengingatnya dari sudut pandang yang tidak menyakitkan" agaknya benar juga, terbukti dengan adanya mata pelajaran Sejarah, yang mengungkit kembali masa lalu perjuangan para pahlawan dengan tujuan memupuk sikap nasionalis para generasi penerus bangsa. Namun, tak dapat dipungkiri juga, bagi sebagian orang, terus-terusan mendengar cerita tentang masa lalu terbilang membosankan. Itulah yang dirasakan oleh gadis yang alih-alih menyimak penuturan sang guru di depan kelas, tapi malah melempar pandangannya ke luar jendela. Entah sejak kapan Disa dan teman sebangkunya itu berpindah tempat ke kursi dekat jendela, bahkan Rita dan teman sebangkunya juga ikut-ikutan pindah menempati kursi di depan Disa. Pandangannya tak sedetik pun beralih dari sosok lelaki yang berada di tengah lapangan sana. Peluh keringat membasahi kulit bersihnya, waktu seakan berjalan lambat kala jemarinya mengeratkan genggaman pada ujung raket tenis, bersiap untuk menghantam bola yang akan segera datang ke arahnya. Dan Boom! Tepat ketika bola tersebut berhasil dilambungkan, Disa yang sedari tadi belum juga mengalihkan tatapannya reflek memegangi dadanya sendiri, seolah bola tennis tersebut baru saja mendarat tepat di hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN