Sudah pukul 06.59 artinya Disa hanya punya waktu 1 menit agar ia bisa tiba di sekolah tepat waktu.
"Ayo cepat! Cepat!" Teriak seorang lelaki berbalut kaus dan celana training dengan perut buncit dan kumisnya yang tebal menukik. Beberapa siswa mempercepat laju lari berpacu dengan waktu sebelum gerbang ditutup, tak terkecuali Disa, dengan peluh yang bercucuran gadis itu terus memaksa kaki mungilnya berlari dari ujung jalan sana. Namun sayang, nampaknya hari ini Dewi Fortuna sedang tidak memihak pada Disa, gerbang sudah lebih dulu ditutup membiarkan Disa dan beberapa siswa lainnya yang terlambat harus berdiri di luar pagar dengan napas terengah dan mimik yang panik. Beberapa dari mereka merutuki dirinya sendiri sebab tidur terlalu larut hingga pada akhirnya bangun kesiangan dan jadi terlambat ke sekolah seperti ini.
"Kalian ini, ya! Berniat sekolah tidak, sih?!" Damprat lelaki buncit itu, lelaki yang jika dilihat dari penampilannya adalah guru olahraga yang bertugas memberi hukuman bagi para siswa yang terlambat.
"Sekarang, kalian lari keliling lapangan sebanyak lima putaran!" Perintahnya.
"Iya, Pak!" Jawab mereka serentak. Gerbang pun kembali dibuka, membiarkan para siswa yang kesiangan tersebut memasuki beranda sekolah. Begitu tiba di lapangan, lantas mereka segera menjalani hukuman yang diberikan agar bisa segera masuk kelas.
Disa yang sebelumnya sudah harus berlari dari ujung jalan sampai depan gerbang pun kini harus berlari lagi dengan sisa napasnya, ransel yang di gendongnya di pundak juga mempersulit geraknya, jadilah gadis itu berada di barisan paling belakang dari teman-temannya yang lain yang juga dihukum.
"Hey! Serahkan padaku, biar aku yang bawa!" Ujar Rio, yang tiba-tiba menyamai laju larinya di sebelah Disa seraya meraih ransel merah muda yang Disa gendong itu.
"Oh? Kak Rio? Tidak usah, biar aku saja." Dengan napas terengah, Disa membalasnya dan kembali meraih ransel miliknya itu.
"Ey! Biar saja aku yang bawa, kau pasti sangat kesulitan karena ini!" Kata Rio lagi, yang juga kembali meraih ransel Disa.
"Ah, baiklah. Terima kasih banyak!"
"Kalau begitu tolong bawakan juga ranselku!" Entah dari mana datangnya, tanpa aba-aba Aksa langsung melempar ransel hitam yang dibawanya pada Rio. Sontak lelaki itu langsung memicingkan matanya pada Aksa. Sedang Disa, gadis itu malah terlihat seperti baru saja mendapat suntikan semangat kala mendapati Aksa yang berlari berdampingan dengannya.
Rio membawa kakinya berhenti, meratapi dua insan yang kini berlari mendahuluinya. Kemudian pada detik berikutnya, Rio mengarahkan tatapnya pada dua ransel yang ia bawa. Dengan penuh rasa benci ia melempar ransel yang berwarna hitam itu asal ke tanah dan kembali melanjutkan larinya menyusul Disa. Aksa yang sadar kalau raselnya dilempar lantas menghentikan laju larinya dan mundur beberapa langkah, meraih kembali ransel yang telah Rio lempar, menepuknya dua kali guna membersihkannya dari tanah yang menempel sambil berdecis.
***
Nana melirik arloji biru muda yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya, sudah pukul 7 tapi Disa masih belum juga datang. Sesekali ia melempar pandangannya ke arah pintu, tapi yang ditunggu tidak juga menampakkan batang hidung.
Pun Nana memilih bangkit dari duduk dan membawa langkahnya keluar kelas. Gadis itu menyusuri koridor menuju ke toilet, padahal saat ini ia tidak sedang ingin buang air, hanya saja otaknya memerintah kepada seluruh anggota tubuh Nana untuk beranjak keluar kelas. Namun sepertinya, keputusan Nana untuk keluar kelas bukanlah keputusan yang benar. Sebab kini langkahnya jadi terhenti seketika kala ia melintasi lapangan. Di tengah sana, beberapa murid yang datang terlambat diberi hukuman dengan berlari mengitari lapangan, tapi bukan hal itu yang membuat langkahnya terhenti, melainkan sosok lelaki yang membawakan ransel seorang gadis yang dikenalinya itu lah yang membuat pagi Nana menjadi sendu. Ya, itu Rio, dan… gadis itu, gadis yang ranselnya dibawakan oleh Rio tiada lain ialah Disa.
Nana menghela napas, maniknya masih menatap lekat dua anak manusia di tengah lapangan sana. "Sepertinya memang tak ada celah untukku." Gumamnya.
Sedetik sebelum Nana bertolak dari sana, saat baru saja kakinya hendak melangkah, tokoh lain pun muncul menghampiri keduanya di sana.
"Aksa?" Tanya Nana bingung pada dirinya sendiri. Aksa memang bukan siswa yang rajin, tapi sebelumnya anak itu tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Nana mengurungkan niatnya untuk pergi, rasa penasaran menahannya untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kalau begitu tolong bawakan juga ranselku!" Buah dari penajaman pendengarannya, Nana berhasil mendengar kalimat apa yang Aksa ucapkan pada Rio, adapun Nana melihat dengan jelas Aksa yang melemparkan ranselnya ke arah Rio, membuat ketua OSIS tersebut membawa dua ransel sekaligus. Nana menyaksikan semuanya, sampai ransel Aksa yang pada akhirnya dibuang dan dibiarkan terdampar di atas tanah oleh Rio, juga ekspresi Aksa yang sarat akan makna dalam menatap Rio.
"Apa mungkin…" Gumam Nana lagi dengan spekulasi yang kini memenuhi kepalanya.
"Apanya yang mungkin?" Suara bisikkan dari belakangnya membuat Nana terlonjak dan nyaris saja terjatuh kalau tak ada tangan yang sigap menggenggam pergelangannya.
Pun waktu, berjalan dengan lambat. Menyajikan adegan yang seolah diberi efek slowmotion kala seorang lelaki yang tiba-tiba saja muncul di belakang Nana membuat gadis itu nyaris terjatuh.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
"Kau tidak apa-apa?"
Mata Nana mengerjap dua kali, sebelum akhirnya gadis itu beringsut melepaskan diri dan kembali pada pijakannya. Sementara lelaki yang menyelamatkan Nana barusan menunduk tersipu sambil membenarkan letak kacamata tebalnya yang melorot.
"Apa yang kau lakukan?!" Hardik Nana.
"A-aku… menolongmu yang nyaris terjatuh." Jawabnya dengan sedikit takut.
"Apa kau membututiku?!"
Lelaki itu menggeleng dengan cepat, raut tersipunya berubah menjadi panik.
"T-tidak, aku hanya kebetulan melihatmu di sini j-jadi… aku…."
"Apa?! Jadi kau apa?! Tidak bisa jawab 'kan?!" Cecar Nana, pun sebelum lelaki itu membuka mulut lagi, Nana sudah lebih dulu pergi sambil menghentakkan kaki sebal.
***
"Terima kasih, Kak!" Ucap Disa begitu ia mendapatkan kembali ranselnya, napasnya masih terengah, bahkan rambutnya yang digerai sudah tak lagi keruan.
Rio menyimpulkan senyum, "sama-sama." Katanya.
"Kalau begitu, aku langsung ke kelas ya, Kak. Sampai jumpa!" Setelah menggendong ranselnya, dengan tergesa Disa lantas berlari meninggalkan Rio yang terlihat masih ingin menyampaikan sesuatu.
"Disa tungg--"
Tak lama berselang, seorang lelaki jangkung menepuk pundak Rio dari arah belakang. Pun lelaki itu melempar tatapnya yang selalu terlihat sinis, tapi sepertinya kali ini ia benar-benar sinis menatap Rio. Tak sampai di situ, bahkan lelaki itu menyimpulkan senyuman miring sebelum meninggalkan Rio yang masih terpatri. Lelaki itu melangkah dengan santainya menyusuri jalan yang juga dilalui oleh Disa. Satu tangannya disembunyikan di balik saku, sementara yang satunya lagi memanggul ransel hitam yang sempat dibuang oleh Rio.
Menatap punggung lelaki itu, Rio mengerutkan keningnya, menatap dengan rasa tak percaya sekaligus bingung.
"Ada apa dengan dia?"