Delapan: Masih Dua Tahun Lalu (a Clown)

1210 Kata
"Ayo, naik!" Ujar Rio dari atas motor ninjanya. "Ah, i-iya, Kak." Kata Disa ragu. Dengan pandangan yang masih melekat pada motor Rio. Astaga, seumur-umur Disa sangat benci kalau harus dibonceng dengan motor yang berukuran besar seperti itu. Ditambah saat mengenakan rok seperti sekarang ini, belum lagi dengan posisi joknya yang tinggi. Ah, merepotkan. "Sudah?" Tanya Rio, sedikit melirik ke belakang untuk memastikan. Disa mengangguk. Gadis itu mencoba berpegangan pada bagian belakang motor. Namun, Rio justru melajukan motornya tanpa aba-aba membuat Disa reflek memeluk pinggangnya erat. Berbeda dengan Disa yang menunjukkan ekspresi sedikit terkejut juga panik, Rio malah melengkungkan senyuman sembari melirik lengan Disa yang melingkar di pinggangnya. Darah Rio berdesir, mencipta sensasi menggelitik sekaligus mendebarkan. Sayangnya sensasi tersebut tak bertahan lama karena Disa buru-buru melepaskan tangannya. Gadis itu malah memilih ujung jaket Rio untuk dijadikan pegangan. Motor Rio membelah jalanan kota, melaju dengan gagahnya bak pangeran yang menunggangi kuda putih bersama tuan putrinya. Angin membelai helai demi helai rambut Disa yang dibiarkan tergerai. "Arah rumahmu kemana?" Tanya Rio dengan sedikit berteriak saat mereka tiba di persimpangan. "Ke kanan," jawab Disa. Alih-alih berbelok sesuai arahan yang Disa beritahu, Rio malah membelokkan motornya ke arah yang berlawanan, membuat Disa celingak-celinguk kebingungan. "Kak, sepertinya kau salah jalan. Harusnya tadi belok kanan!" Ujar Disa sembari menyingkirkan helaian rambut yang bertebaran menutupi wajah. Rio menyunggingkan senyum dengan fokusnya pada jalan yang tak teralihkan. "Tidak! Aku sengaja! Kau pasti lapar, bukan? Jadi aku mau cari makan dulu!" Kata Rio. Pun Disa hanya mampu mengikuti kemana Rio melajukan motornya. *** Sementara di tempat lain, Nana termenung di depan buku fisika yang terbuka lebar menampilkan jajaran materi pembelajarannya. Gadis itu, meski sedang berhadapan dengan buku, tapi pikirannya sedang tidak duduk. Ingatan membawanya saat kali pertama dirinya dipertemukan dengan sang pujaan hati. Hari itu… Beberapa penghuni kelas terpaksa maju ke depan kelas sebab atribut yang mereka kurang lengkap atau menyalahi aturan, tapi tidak dengan Nana, gadis itu beruntung karena semua atribut yang tertera pada peraturan melekat ditubuhnya tanpa kurang satu apapun. "Topi, sabuk, papan nama… apa lagi? Ini sudah lengkap 'kan, Nana?" Kata Disa yang ada di sebelahnya. "Hey, kau! Lihat sepatumu!" Belum sempat Nana membuka mulutnya untuk memberi tanggapan, salah seorang senior yang entah dari kapan berdiri di dekat Disa menyerobot lebih dulu. Pun Nana memerhatikan Disa yang menunduk, membawa pandangannya melihat ke arah sepatu yang ia kenakan. Sial, Disa mengenakan tali sepatu putih, padahal jelas tertulis pada tata tertib kalau sepatu wajib berwarna hitam seluruhnya. "Kalian semua sudah baca tertib belum??" Tanya senior itu pada seisi kelas dengan sedikit berteriak agar suaranya terdengar jelas. "Sudah, Kak!" Nana menjawab pelan di antara suara jawaban teman-teman sekelasnya yang lain. "Peraturannya sepatu itu harus berwarna apa??" "Hitam, Kak!" "Kau dengar itu 'kan? Sekarang lihat tali sepatumu warnanya apa?" Tanya senior itu pada Disa, sementara Nana mendapati gadis itu sudah gemetaran. Pasti dia akan dapat hukuman lagi. "P-putih, Kak." Jawab Disa. "Cepat maju!" Nana pun hanya mampu menyaksikan teman sebangkunya melangkah ke depan kelas, bergabung dengan pelanggar tata tertib lainnya yang sudah lebih dulu ada di sana. Tok tok Ketukan pintu terdengar kala senior-senior yang lain masih sibuk memeriksa atribut, Nana lantas melempar pandangannya ke arah pintu. Seorang lelaki baru saja berdiri di ambang sana, dengan bermandikan pancaran sinar dari teriknya matahari yang seolah tersorot hanya padanya, membuat Nana melabuhkan tatapannya di sana. "Perhatiannya sebentar!" Kata salah seorang senior membuat seisi kelas hening seketika. "Aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian. Ini Rio, Ketua OSIS kita." Pun seseorang pemilik nama Rio tersebut melengkungkan senyuman yang bukan saja berhasil melabuhkan tatapan Nana, tapi mungkin juga hatinya. Ya, entah kenapa pesona yang Rio tawarkan itu benar-benar mampu membuat gadis itu tersihir meski dalam sekali pandang. "Sebagian dari kalian sudah ada yang mengenalku atau sudah bertemu sebelumnya mungkin. Kalian bisa memanggilku Rio. Kalau ada yang ingin ditanyakan seputar kegiatan sekolah atau apapun, bisa langsung tanya saja padaku, ya! Aku pasti menjawabnya, tidak mungkin tidak ku jawab." Kata Rio. Selama Rio berbicara di depan kelas, kedua iris Nana terus melekat seolah tak ingin berpaling. "Dan Kak Rio ini masih jomblo! Siapa tahu salah satu dari kalian ada yabg berminat." Celetukan salah seorang senior lainnya berhasil membuat seisi kelas riuh seketika. Sedang Rio, lelaki itu tersenyum malu-malu sebab rekan sejawatnya itu seolah mempromosikan dirinya yang memang sudah lama menjomblo. Adapun bagi Nana, itu merupakan informasi penting yang betul-betul berarti baginya sampai membuat senyumannya merekah. "Ah, iya. Ini… kenapa mereka berdiri di sini?" Tepat ketika Rio melempar tanya sekaligus membalikkan badannya untuk menatap jajaran siswa yang kena hukuman, Nana lantas membawa tatapnya mengikuti arah pandang Rio, dan entah kenapa, mata itu, mata yang selalu Nana tatap namun tak pernah bertemu tatap, kini malah mengarah pada Disa, teman sebangkunya sendiri. Adapun Disa, Nana mendapati gadis itu yang tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam menyembunyikan semburat merah. Tunggu, semburat merah? Ada apa dengannya? Apa dia tersipu? "Mereka tidak memakai atribut dengan lengkap. Kira-kira harus diapakan?" Kata salah seorang senior kepada Rio. "Tidak pakai atribut, ya? Hmm..." Pun Rio nampak berpikir sejenak. "Tidak perlu dihukum." Sontak apa yang diucapkan Rio itu membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Tak terkecuali Disa, tepat ketika Disa mendongakkan wajah dan menatap ke arah Rio, tatapan mereka bertemu. Rio menyimpulkan seulas senyuman yang sukses berhasil membuat Disa sedikit salah tingkah. Nana menyaksikan itu semua. Adegan yang persis seperti dalam cerita-cerita picisan. Saling bertatapan, salah satunya melengkungkan senyum, dan yang staunya lagi salah tingkah. "Kalian bisa kembali ke tempat duduk masing-masing. Lain kali, tolong taati peraturan dan kenakan atribut dengan lengkap." "Iya, Kak!" Sahut mereka serentak. Rio berbicara untuk semuanya, namun tatapannya tetap tak beranjak daru Disa, Nana sadar sekali akan hal itu. Kemudian saat mereka yang semula harus berdiri di depan kelas membubarkan diri untuk menuju tempat duduk masing-masing. Rio sejenak menghentikan langkah Disa, entah apa yang dibisikkan Rio pada gadis itu sampai membuatnya kembali memunculkan semburat merah, yang jelas, Nana sangat membenci bagian ini. "Kau mengenalnya?" Tanya Nana, ketika Disa baru saja mendaratkan bokongnya di atas kursi miliknya. Ah, tidak. Bukan miliknya, milik sekolah yang kebetulan ia tempati. "Siapa?" Disa malah balik bertanya. Nana menunjuk dengan matanya, "lelaki di depan sana." "Kak Rio?" Kepala Nana terangguk mengiyakan. "Dia yang sempat beberapa kali menolongku saat aku dihukum, bahkan kali ini juga… dia membebaskanku dari hukuman." Jelas Disa. Sedang Nana hanya melirik sekilas gadis di sebelahnya itu. Ah, begitu rupanya. *** Kembali pada Disa dan Rio. Dua manusia yang mengganggu pikiran Nana itu justru tengah saling melempar tawa sambil duduk berdampingan di kursi taman, dengan bertemankan satu cone es krim yang Rio beli barusan. "Lihat hidungmu, Kak! Kau terlihat seperti badut!" Ujar Disa sambil terbahak, ia menunjuk hidung Rio yang terkena es krim. Gadis itu benar-benar sederhana tanpa banyak celah bagi Rio, sementara tawa Disa masih terdengar, Rio malah tenggelam dalam senyum lebar yang menenangkan itu. Entah, selalu ada desir hangat yang mengalir dalam darahnya kala melihat Disa tertawa riang begitu. Ada sepercik hasrat yang muncul untuk selalu membuat gadis itu bahagia, rasanya Rio sangat tidak ingin senyum itu luntur, senyum yang berhasil membawa ingatan Rio akan sosok wanita yang tak tergantikan dalam hidupnya. Sejak detik itu, Rio selalu ingin menjadi alasan bagi gadis itu untuk tersenyum, kendati harus menjadi badut sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN